Resensi Buku: Kisah Orang-Orang Biasa di Rumah Tepi Kali

Resensi Buku: Kisah Orang-Orang Biasa di Rumah Tepi Kali

Judul : Rumah Tepi Kali 
Penulis : Dedy Vansophi 
Tebal :183 halaman
Penerbit : Brave Inti Gagasan
ISBN : 978-623-95066-9-8
EISBN : 9786239506698
Harga : Rp.79.000,00
Cetakan I : April 2021
SultanSulaiman.Id, Tulisan Tuhan yang Terpojok saban hari banyak dibagikan di kanal media sosial. Kisah sederhana tentang seseorang yang menagih Tuhan membalas kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan ibunya karena kelaparan. Tulisan itu setidaknya menginspirasi tentang: Tuhan tidak pernah tidur dan Tuhan selalu membalas doa-doa pada waktu paling pas kepada orang yang senantiasa memupuk kebaikan. Tuhan menjamin rezeki setiap makhluk di muka bumi, persoalan perut sangat buih di mata-Nya.

Membaca kisah itu, saya menemukan relasi rekat Tuhan dan hamba-Nya. Bahwa Tuhan benar-benar sangat dekat, seintim urat leher setiap makhluk. Saya seperti terlempar dan mengenang kisah tentang tiga orang hamba yang terperangkap dalam gua. Setiap orang berdoa dengan perantara kebaikannya masing-masing. Hingga gua yang tertutup batu itu perlahan terbuka. Mereka yang terperangkap akhirnya bisa keluar gua dengan lega. Intinya, tak ada yang mustahil jika Tuhan berkenan. Tuhan gampang terpojok dengan kebaikan yang dilakukan hamba-Nya. 
Dedy Vansophi kerap menuliskan kisah-kisah sederhana dan inspiratif di media sosialnya. Sejak membaca Tuhan yang Terpojok, saya mengikuti Romo Vanshopi di media sosial. 
 
Cerita-cerita yang kerap dibagikannya amat renyah, makanya gampang viral. Dalam kumpulan Rumah Tepi Kali, Romo Vansophi berkisah tentang orang-orang biasa yang sarat makna. Bahwa pada diri manusia memang akan selalu bersemayam dua potensi: baik dan buruk. Bahasa qurannya fujuraha wa taqwaha. Tak ada manusia yang malaikat seluruhnya, tak ada pula yang iblis selamanya.

Sebab itulah, kisah Dedy Vansophi disebut membumi dan mudah ditemui di sekitar kita. Tokoh-tokoh yang dihadirkan, merupakan replika dari sosok-sosok yang sehari-hari mungkin berkubang dengan getirnya hidup, ia ada di mana-mana. Di Atap Padang Mahsyar misalnya, kita diajak untuk menemukan alasan paling logis tentang mengapa seseorang bisa berbuat jahat dan brutal. Setiap orang bisa mengandalkan kebaikannya masing-masing untuk mendapatkan Atap Padang Mahsyar. Kehadiran Kiyai Bukhori membalikkan logika umum tentang bagaimana semestinya rumah ibadah difungsikan sebagai bagian dari solusi kepailitan kehidupan masyarakat. Rumah ibadah bukan hanya jadi tempat ibadah, ia bisa difungsikan lebih luas, termasuk memberi makan orang-orang yang lapar. Karena kelaparan kerap menjadi alasan paling luhur seseorang terjerembab pada kejahatan.

Setali tiga uang pada Pertarungan di Kebun Tebu. Subarkah, alias Barkah, alias Barong sebelumnya kerap mencuri kelapa milik Lik Dayat, di kemudian hari sudah berubah rampok kelas wahid. Namanya menjadi hantu dan teror bagi banyak orang.

“Maling itu jahat, tapi kita juga jahat jika membiarkan orang lain kelaparan. Coakan ini, insyaallah akan membebaskan kita semua. Dia tidak lagi dikatakan mencuri karena kita sudah mengikhlaskannya. Kita pun tak kejam membiarkan orang kelaparan.” (Rumah Tepi Kali Hal. 172).

Pesan semacam itu sangat mudah ditemukan dalam 19 Cerita Rumah Tepi Kali. Ada pesan sarat makna. Persahabatan Botol dan Tasbih memotret relasi kontras antara Nurdin dan Mail. Nurdin si pemabuk dan Mail yang ahli ibadah, namun keduanya lekat bagai perangko. Susah dipisahkan. Hingga kedekatan itu mengusik beberapa orang. Mail diminta memilih, kembali ke Masjid atau Nurdin. Mail memilih Nurdin lantaran alasan kalau bukan dia, siapalagi yang akan menjadi penerang kehidupan kawannya yang terlanjur gelap.
“Kalau tidak kukasih, nanti dia nyuri. Dosanya jadi dua, dosa mabuk sama dosa nyuri.”

“Nurdin sahabat saya. Memang saya belum bisa menghentikan kebiasaannya. Saya baru bisa menemani, menjaga agar mabuknya tak melebar ke mana-mana, merembet ke perbuatan yang bukan-bukan.” (Rumah Tepi Kali Hal. 134-135)

Ending kisah ini membuat pembaca teriris lantaran pertaubatan Nurdin. Nurdin bertaubat atas khilaf demi memohon kesembuhan bagi sahabatnya Mail yang kecelakaan. Tampak, pada cerita ini, penulis hendak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang pendakwah. Posisinya sebagai penyambung lidah kebenaran, bukan sebagai hakim yang hendak memberi vonis benar salah. Sebab, sejauh mana pun seseorang tersesat, kelak akan ada penggilan untuk kembali, meniti jalan selamat.
 
Rumah Tepi Kali adalah kisah tentang “keluarga besar” yang diperankan orang-orang kecil. Keluarga yang bukan hanya dipersatuan oleh pertalian darah, tapi juga nasib dan keadaan. Mereka kerap bertemu di masjid dengan mempraktikkan cara beragama yang sederhana namun mengena. Mengena sebab ada banyak pelajaran dari sosok-sosok unik itu, yang seperti kata Budiman Hakim “karya-karya Dedy Vanshopi selalu outstanding!”
 
Saya menebak, cerita Dedy Vansophi layak disebut cerpen non-fiksi, karena muasalnya dan pendekatan ceritanya berasal dari bangunan fakta. Bukan hanya itu, tokoh, latar, dan banyak hal detail terkait cerita sepertinya dipindahkankan utuh dari fakta ke cerita. Terima kasih karena, saya seolah menemukan bacaan SMP pada sampul buku ini (seperti terlempar ke masa lalu untuk mengenang). Alangkah syahdunya jika setiap cerita dilengkapi ilustrasi (Sepertinya akan ada versi ini).
 
Tapi, mengapa judul kumpulan ini Rumah Tepi Kali? Sedang, dalam 19 cerita dalam kumpulan ini tak ada yang berjudul: Rumah Tepi Kali. Mungkin, karena sentrum cerita ini berasal dari bangunan Rumah Tepi Kali di Desa Serang di tepi Kalijati yang menghadap Gunung Slamet, tempat Dedy Vansophi dilahirkan. Selamat membaca.(*)
Sultan Sulaiman Lahir di Parepare, Sulsel 11 November. Menulis opini, esai, puisi, cerpen, berita sejak 2005. Beberapa karyanya dimuat di majalah Sabili (2006-2007), Koran Seputar Indonesia (SINDO), Koran Jakarta, Radar Gorontalo, Gorontalo Pos, Koran Harian FAJAR Makassar, dan Majalah Femina. Pemenang I dan IV Sayembara Bahan Bacaan SD dan SMP untuk karya Polahi dan Dua Pangeran Dua Sayembara yang diadakan Kantor Bahasa Gorontalo Tahun 2017. Sultan pernah berdomisili di Gorontalo pada 2010-2018. Saat ini bekerja sebagai buruh negara di Badan Narkotika Nasional Kab. Polewali Mandar. Bisa dihubungi lewat WA: 085397367787, Instagram: @sult4nsulaiman, twitter: @iinsulsulaiman, facebook: Sultan Sulaiman, dan blog: www.sultansulaiman.id.
Cerpen Menjenguk Ibu

Cerpen Menjenguk Ibu

Ilustrasi dari Republika

Cerpen ini dimuat di Gorontalo Post pada 10 Juli 2021. Cerpen ini awalnya cerita mini yang dihimpun oleh FLP Gorontalo. Selamat membaca!

SultanSulaiman.Id, Sudah sebulan Bapak berpulang. Aku masih kerap mendapati Ibu meringkuk sendirian. Di kamarnya yang remang, Ibu meruahkan air matanya. Tak ada yang bisa mengusir bayangan Bapak. Apalagi kebersamaan yang sudah puluhan tahun, jelas meninggalkan prasasti di benak Ibu. Kepergian Bapak telah merampas sebagian jiwa Ibu. Ibu amat terguncang.

“Bapakmu tidak meninggal Nak!” Ucap ibu terbata-bata.

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya bisa mematung. Jelas, sulit bagi Ibu. Aku kadang ingin bertanya, seperti apa cinta Ibu kepada Bapak. Namun, sikap Ibu setelah kepergian Bapak sudah menegaskannya.

“Jika kamu pulang, terus yang sama Ibu siapa?”

Khutbah Idul Adha 1442 H/Juli 2021 M: Bekal Perjalanan Ke Kampung Abadi

Khutbah Idul Adha 1442 H/Juli 2021 M: Bekal Perjalanan Ke Kampung Abadi


 Oleh: Abdullah Hulalata, S.Pd.I

(Anggota Komisi Dakwah MUI Kota Gorontalo, Konselor Rumah Keluarga Indonesia, Pengurus KCM Gorontalo, Penulis Buku)

الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. وَ قَالَ تَعَالَى: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah...

Pada hakikatnya, kita adalah makhluk surga. Manusia pertama, Nabi Adam a.s. diciptakan di sana. Beliau diciptakan di tempat terindah yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata, tak terlintas dalam pikiran, dan belum pernah terdengar oleh telinga kita. Itulah surga yang menjadi tujuan perjalanan akhir kehidupan kita. Namun, di tengah perjalanan panjang dan melelahkan itu, banyak godaan yang akan menghalangi langkah kita. Bahkan boleh jadi akan membelokkan arah kita ke jurang neraka.

  Ramadan dan Kenangan yang Hadir Bersamanya

Ramadan dan Kenangan yang Hadir Bersamanya

SultanSulaiman.Id, Deretan saf itu, pernah diisi Bapak. Saya tahu persis, posisi Bapak: di saf terdepan, sebelah kanan mimbar khutbah. Selalu di situ, di setiap salat lima waktunya. Bapak jarang berpindah tempat. Meski Bapak datang terlambat (tapi sebelum ikamah), jamaah lain akan tetap menyisakan ruang untuk Bapak. Kecuali jika Bapak tidak sedang mukim, barulah diisi orang lain. Di tempat itu, usai salat Bapak terpaku: berzikir atau tilawah, sering-sering melirihkan doa.

Khutbah Idul Fitri: Memaknai Idul Fitri yang Penuh Kasih Sayang

Khutbah Idul Fitri: Memaknai Idul Fitri yang Penuh Kasih Sayang


SultanSulaiman.Id, Ramadan sebentar lagi akan pergi. Idul Fitri sudah di depan mata. Tentu sudah banyak persiapan yang kita lakukan menyambut Syawal dalam hitungan beberapa hari ke depan. Bagi yag bertugas menjadi khatib Idul Fitri, berikut kami sampaikan naskah Khutbah Hari Raya Idul Fitri yang ditulis oleh Ust. Muhammad Agus, M. Th. I. 

Khutbah Idul Fitri 2021: Ramadan Mengantar Manusia ke Fitrahnya

Khutbah Idul Fitri 2021: Ramadan Mengantar Manusia ke Fitrahnya

 
SultanSulaiman.Id, Lebaran sebentar lagi. tentu, rasa haru akan meruak bersama air mata yang jatuh. di Hari Raya ada banyak rindu yang akan menyatu. orang jauh mengenang, orang yang pergi dikenang. Semoga kita termasuk hambaNya yang mendapat kemuliaan dan ampunan di bulan Ramadan. Mari sambut Syawal penuh suka cita. Berikut kami bagikan Khutbah Idul Fitri 2021 yang ditulis oleh Ust. Nur Hidayat Muh. Said. 
 
Kepala BNNP Sulawesi Barat Dorong Sinergitas Antar Lembaga Perangi Narkoba di Polewali Mandar

Kepala BNNP Sulawesi Barat Dorong Sinergitas Antar Lembaga Perangi Narkoba di Polewali Mandar

Kepala BNNP Sulbar saat lawatan ke Kantor DP2KBP3A Polman
www.sultansulaiman.id, Kunjungan Kepala BNNP Sulawesi Barat, Sumirat Dwiyanto ke Polewali Mandar dalam rangka membangun sinergitas antar lembaga untuk perangi narkoba, khususnya di Polewali Mandar (25/02). Didampingi oleh Kepala BNNK Polewali Mandar dan jajaran, Kepala BNNP Sulbar yang hadir bersama ibu dan Kasi Pasca Rehab dr. Caesar Indra Putra mengunjungi Kantor Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kab. Polman. Pada lawatan tersebut, Sumirat diterima langsung oleh Kepala DP2KBP3A, H. Ahmad Killang.

Ahmad Killang dalam sambutan penerimaannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas kunjungan tersebut.

“Dinas P2KBP3A akan terus mendorong pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan perempuan dan anak khususnya yang berkaitan dengan penyalahgunaan Napza.”

Menurut Kepala BNNP Sulbar, permasalah narkoba saat ini sudah sangat mengkhawatirkan dan solusi paling efektif untuk mencegah dan memberantas adalah mengajak sebanyak-banyaknya pihak untuk terlibat langsung mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

“Masalah narkoba ini menjadi tanggung jawab kita semua. BNN harus mengajak sebanyak-banyak orang dan lembaga untuk terlibat aktif mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, termasuk di Polewali Mandar” Ungkap Sumirat di ruang kerja Kepala DP2KBP3A.”

Pada kesempatan yang sama, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Dinas P2KBP3A dengan BNNK Polewali Mandar. Nota Kesepahaman tersebut memuat tentang Pencegahan dan Perlindungan Tindak Kekerasan Penyalahgunaan Narkotika dan Prekursor Narkotika Terhadap Anak.

“Saat ini, anak dan remaja kerap menjadi sasaran penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Kita tentu harus waspada dan sedapat mungkin menutup celah agar tidak anak-anak dan keluarga kita terlindungi dari bahaya narkotika!”

Dalam kunjungan tersebut, Sumirat Dwiyanto menyempatkan memberikan wejangan kepada Forum Anak yang berkegiatan di Kantor DP2KBP3A. Menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Hj. Harsani, Forum Anak sedang ada suksesi pergantian kepengurusan. Di hadapan pengurus Forum Anak, Sumirat mengajak para pengurus untuk aktif memerangi narkoba. Apalagi saat ini perkembangan narkotika jenis baru terus bertambah dan cenderung mengkhawatirkan.

“Data United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) menyebut ada sekitar 950 jenis narkotika baru di dunia dan sekira 77 jenis saat ini sudah masuk di Indonesia. Anak dan remaja menjadi sangat rentan, kita berhadapan dengan sesuatu yang memiliki daya rusak luar biasa.” Papar Sumirat yang ditakzimi oleh para pengurus Forum Anak yang hadir.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNNP Sulbar juga menyampaikan motivasi agar para pengurus Forum Anak dapat memberikan kontribusi terbaiknya dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

“Saat ini kita menuju Indonesia Emas Tahun 2045. Di tahun itu, tentu kita berharap yang ada di sini akan menjadi pemimpin. Ada yang menjadi Kepala Dinas, Bupati, Pejabat Negara, atau bisa saja Presiden. Tapi tentu hal itu tidak akan terjadi jika kita terjerat narkoba. Tak ada masa depan bagi mereka yang telah menyalahgunakan, apalagi terlibat dalam peredaran gelap narkotika!” Pungkas Sumirat.

Kepala BNNK Polewali Mandar, Syabri Syam yang didampingi Sub Koordinator Rehabilitasi dan Subkordinator Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat menyatakan bahwa antara DP2KBP3A Polman dan BNNK Polman telah lama menjalin sinergi P4GN.

“Penandatanganan Nota Kesepahaman dalam rangka menguatkan sinergitas yang selama ini telah terbangun.” 
 
Simak juga: