Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir



SultanSulaiman.Id, Helmy Fauzy, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir menyebut kasus Covid-19 di Mesir terus mengalami peningkatan. Sejak dua bulan lalu, ada sekira 17 ribuan warga Mesir yang sudah terinfeksi. Jumlah itu makin melambung sejak Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini. Fauzy membeberkan, dari seluruh total positif saat itu, belum ada satu pun Warga Negara Indonesia (WNI).


Memasuki Juli, data (19/07), angka positif Mesir sudah di posisi 87 ribu dari total 101,49 juta warga Mesir. Dari jumlah yang positif itu, ada 10 orang WNI. Sepuluh orang itu, menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir diketahui saat hendak mengurus kepulangan ke Indonesia. Karena positif, mereka harus tertahan. Mereka menjalani isolasi mandiri di asramanya masing-masing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Mesir, belum menyiapkan ruang Isolasi khusus bagi WNI positif.

Dari sepuluh, empat orang positif nekat pulang ke Indonesia. Dua orang dinyatakan sembuh, bersisa empat orang lagi yang masih dinyatakan reaktif oleh pihak KBRI.

Bagaimana nasib WNI di tengah terjang badai Covid-19 di Negeri Firaun itu?

Nyatanya, angka empat orang itu sangat meragukan. Mereka yang dinyatakan positif baru diketahui karena hendak pulang ke tanah air. Persyaratan pemeriksaan Covid harus dengan PCR. WNI yang hasil PCRnya positif tak mendapat izin pulang.

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Ada 9.407 WNI di Mesir, 6.896 orang merupakan pelajar/mahasiswa. Karena ketiadaan ruang isolasi mandiri, mereka yang terdeteksi positif tetap tinggal di asramanya masing-masing. Tinggal, tapi tidak berdiam. Kebutuhan harian selalu memaksa mereka keluar asrama, karena bantuan dari pemerintah tidak cukup buat bertahan. Dalam kondisi sakit, lapar, jalan mudahnya keluar asrama, mencari penghiduan. Jika masih ada uang, kebutuhan pokok bisa dibeli, jika tidak tentu akan meminta belas kasih kawan setanah air untuk bertahan hidup. Alasan karena terlalu “sulit” itu yang menjadikan mereka yang harusnya bertahan nekat pulang ke tanah air karena sudah terlanjut beli tiket pesawat.

Ada frase yang berkembang tentang “memfasilitasi” dan menginisiasi wadah “isolasi”. Nyatanya, KBRI dalam Bahasa memfasilitasi itu tetap memungut bayaran untuk pemeriksaan PCR. Salah seorang mahasiswa menyebut angkanya pada kisaran 70 dolar. Jika memilih memeriksakan diri secara mandiri di Rumah Sakit Mesir pungutannya mencapai tiga ripu pound. Bagi mahasiswa tunggal, apalagi yang berkeluarga dengan satu, dua, tiga bahkan lebih anak, itu memberatkan. Belum untuk tiket kepulangan yang juga harus ditanggung sepenuhnya. Dari Mesir ke Jakarta, jika dirupiahkan sekitar Rp. 7 juta per orang. Butuh setidaknya Rp. 13-14 juta untuk tiket pulang-pergi Mesir-Jakarta

Pihak KBRI telah menyalurkan paket bantuan sosial berupa bahan pokok yang nilainya Rp. 300 ribu per orang. Sejauh ini, KBRI sudah dua kali menggelar paket bantuan. Hanya tak semua WNI dapat dari total sembilan ribuan orang sejagat Mesir.
Melalui laman resmi KBRI, ada siaran tentang Menjawab Isu yang Berkembang di Kalangan Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir Mengenai Penanganan COVID-19





KBRI mencoba mengelak dan menggunakan hak jawabnya berkaitan ragam isu yang diserbukan oleh WNI, khususnya mereka yang berstatus sebagai mahasiswa dan pelajar. Ada selentingan suara nyaring tentang: kami butuh makan dan uang, bukan masker. Suara-suara nyaring semacam itu jelas bisa dipahami, hidup di negeri orang dalam kondisi serba tidak pasti akan memancing banyak persoalan yang lebih runyam. Muhammad Rizal Fachriyan, mahasiswa Hukum dan Syariah Al-Ahzar pada laman PPMI Mesir menulis tentang beberapa soalan yang rabun: dana bantuan sosial, alat pelindung diri, dan tempat isolasi WNI yang mestinya bisa dipenuhi oleh KBRI Mesir. Bahkan lebih jauh, M. Rizal menuding pihak KBRI Mesir seolah menyepelekan pandemi Covid-19 yang sudah meneror ribuan WNI Mesir.

Sebagai upaya pencegahan, ada juga pertanyaan tentang: mengapa KBRI tidak melakukan tes PCR gratis kepada seluruh WNI? Seperti yang dilakukan oleh KBRI Iran. Setidaknya hal tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah simpang-siurnya kondisi Mesir paska kudeta Militer beberapa tahun lalu. KBRI Mesir justru beranggapan bahwa yang paling berhak melakukan proteksi dan penanggulangan Covid-19 di Mesir adalah Pemerintah Mesir itu sendiri. Pernyataan seperti itu jelas bentuk abai terhadap tanggung jawab. Masa iya tugas KBRI hanya update status Covid-19 setiap hari? Semetara ribuan WNI Mahasiswa terancam hidupnya akibat asupan makanan minim gizi di tengah kepungan teror pandemi.
Simak Juga:

Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

https://www.mainmain.id

SultanSulaiman.Id. Saat ini, di seluruh dunia. Kasus Covid-19 semakin bertambah. Data (22/07) Covid-19 sudah menjangkiti 15 juta orang menurut laman Worldometers yang dikutip kompas.com.

Sejak diumumkan Desember tahun lalu, Covid-19 menjadi momok yang (banyak) menciutkan nyali. Covid-19 menjadi teror baru bagi kehidupan manusia abad modern. Dari Negeri Tirai Bambu, di kota kecil bernama Wuhan, sejak diumumkan kasus pertama, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, Corona memaksa dilazimkannya pola hidup baru yang membatasi akses antar-manusia.

Namun demikian, di negeri kita, sejak diumumkan kasus pertama pada Februari lalu, sikap sebagian besar masyarakat Indonesia setidaknya terbagi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang merespon Corona sangat berlebihan alias hiperaktif. Kelompok ini yang mendesak lebih awal penutupan seluruh akses perjumpaan manusia. Bahwa lockdown harus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek lain, termasuk perlambatan ekonomi yang berujung pada timbulnya masalah sosial lainnya.

Kedua, kelompok penganut teori konspirasi. Bahwa Corona tak lebih dari sekadar akal-akalan yang memiliki muatan bisnis belaka. Virus ini hadir dalam rangka melanggengkan motif ekonomi di belakangnya. Ada virus pasti ada vaksin. Virus sengaja disebar agar vaksin bisa dijual. Kelompok ini mengaminkan pernyataan Bossman Mardigu dan Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Ketiga, kelompok santai euy alias santuy. Kelompok ini, baik sebelum pandemi Covid-19 menyerang hingga saat ini Corona sudah memakan korban, masih tetap menjalani aktivitas semau dia. Seolah tak terjadi apa-apa. Mereka menolak apa yang disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tetap berpegang pada kebebasan dan kemerdekaan ekspresi yang di anut. Bukan tidak percaya tentang Covid-19, mereka tahu dan bahkan memiliki informasi memadai, hanya saja seruan #dirumahaja bagi mereka tak menarik. Mereka memilih mengabaikan segala hal yang menakutkan tentang Corona dan memilih bersikap tak acuh. Kelompok ini paling mengaminkan pernyataan “Sekolah sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah diatur Sang Pencipta. Bersikap biasa saja adalah bagian dari upaya mempercayai takdir.”

Adapun kelompok terakhir adalah mereka yang waspada. Mereka mengindahkan seluruh himbauan pemerintah tentang pembatasan akses, menjaga jarak, melaksanakan protokol kebersihan sebagai bagian dari pencegahan, memilih di rumah aja sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Atau jika harus beraktivitas di luar rumah, tetap berusaha maksimal untuk membekali diri dengan pelindung, minimal masker. Mereka memilih membantu pemerintah dengan segenap usaha. Meski dari mereka kadang banyak dicibir karena dianggap amat “penakut” oleh kelompok yang lain. Kelompok ini melihat bahwa Corona virus adalah pandemi yang nyata, bukan akal-akalan. Sebab korbannya saat ini ada di mana-mana. Tenaga kesehatan sudah berusaha sungguh menjadi garda terdepan, dan sebagian dari bahkan menjadi korban. Bagi kelompok ini, menganggap Corona sekadar basa-basi jelas keterlaluan.
***
Data terakhir kasus Corona di Indonesia menyebut ada 27,5 ribu orang yang sudah terinfeksi dengan korban meninggal mencapai 1.6 ribu jiwa. Walau angka ini masih lebih kecil dari besaran angka yang diprediksi oleh beberapa pihak yang menyebut korban bisa sampai jutaan, tapi tak bisa dinafikan bahwa rangkaian kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April lalu dapat dikatakan “agak berhasil”, karena memang terbukti tak semua masyarakat patuh. Dahlan Iskan, dalam kolomnya menyebut bahwa angka kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan Corona berada di kisaran 70%. Dengan angka itu, laju penyebaran virus ini bisa sedikit dieliminasi.

Nufransa Wira Sakti, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak di laman kompas.com menyebut bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2020. Angka pertumbuhannya terjun bebas jika dibanding kuartal 4 tahun 2019, dari 4,97 turun ke 2,97. Jika tren terjun bebas ini terus berlanjut, maka tentu akan semakin menyulitkan di masa datang. Sejak Maret hingga saat ini, bisa dipastikan ada kemandegan dari roda perekonomian kita yang menciptakan ceruk dalam, dari angka 2,97 itu bisa lebih menukik lebih rendah lagi.

Angin segarnya, memasuki bulan Juni Pemerintah sudah mulai membuka beberapa akses penting dalam upaya penormalan kembali. Sarana transportasi dibuka, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sudah dipertimbangkan dibuka kembali dengan mempertimbangkan protokol Covid-19. Tentu kita berharap bahwa, kurva Covid-19 sudah mereda, sesuai analisis dari The Singapore University of Technology and Design yang disebut Nufransa bahwa puncak Covid-19 di Indonesia berada di bulan April 2020. Jika demikian maka masa puncak itu sudah berlalu. Kita tentu sangat berharap, bahwa masa-masa setelah April adalah masa kelaziman baru, yang diharapkan dapat memperbaiki ragam hal yang babak-belur akibat Covid-19.
***
Mas Muliadi seorang pedagang kecil, kehilangan tempat bekerja. Sehari-hari menjual “makanan jadi” di beberapa kantor dan sekolah. Corona menyebabkan kantor ditutup dan sekolah diliburkan. Mas Mul pasrah ditinggal pelanggan dan penghasilan. Pria paruh baya ini tak kehabisan akal, pantang kalah dengan Corona. Dia tetap berjualan berkeliling, dari satu kompleks perumahan ke kompleks yang lain. Masa-masa orang di rumah tentu butuh makan, Mas Mul memilih mendatangi dan menawarkan jualannya. Tak jarang dia menjajakannya lewat media sosial, walau pengetahuannya terbatas. Mas Mul tak menyerah. Membekali diri dengan masker, Mas Mul menyambangi banyak tempat. Sehari dia berjualan dua kali, pagi dan sore. Dia mengaku pendapatnnya justru meningkat di masa pandemi,

Beda cerita dengan Pung Fitrah. Seorang sopir antar kabupaten yang mengaku penghasilannya banyak tergerus di masa pandemi. Agar dapur tetap mengepul, Pung Fitra tetap memilih keluar rumah, mengemudikan mobil angkutan agar tetap mendapatkan penghasilan untuk makan keluarganya.

“Jarang orang mau keluar sekarang, tapi banyak yang mau kirim-kirim barang. Jadi barang lagi yang dimuat!” Kata Puang Fitra dengan logat Bugis Makassar yang khas kala bertemu saat mengantar barang kiriman dari seorang kawan.

Ada lagi, cerita tentang Maci Upa, yang memilih memutar otak mengamankan agar dapurnya tetap mengepul. Perempuan janda ini membuat panganan setiap pagi dan sore. Momen puasa kemarin dia berjualan sore hingga malam dibantu oleh anaknya yang baru menikah.

“Semua orang takut. Tapi takut saja tidak cukup. Kita butuh makan, berharap bantuan pemerintah jelas kurang. Ya, mau tidak mau harus jualan. Semua saya suruh jualan daripada hanya tidur. Alhamdulillah hasilnya lumayan.”

Maci Upa memang agak diuntungkan, hanya dia satu-satunya penjualan panganan di tempat tinggalnya yang membatasi akses masuk. Di rumahnya, di pinggiran pantai di Kab. Polewali Mandar Maci Upa menggelorakan perlawanan. Seolah ia hendak mengaminkan tentang adagium: pertahanan paling baik adalah menyerang. Musuh kali ini terbilang tangguh, karena menyerang tanpa terlihat. Memilih berpangku tangan bukan pilihan tepat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, Maci memilih caranya dengan melihat sedikit peluang. Jika harus kalah, jangan terlalu telak. Minimal dengan menunjukkan usaha bahwa pintu rezeki tidak berakhir dengan pandemi.

Sepertinya, pandemi Covid-19 datang untuk memaksa manusia melakukan penyesuaian. Ada banyak hal yang akhirnya berubah dengan Corona. Meski gerak terbatas tapi terbukti orang bisa tetap berinteraksi dengan bantuan teknologi. Efisiensi terjadi, birokrasi dipaksa berbenah dan kita sebagai entitas manusia berusaha memikirkan cara lain untuk menjaga eksistensi. Bahwa manusia dan pergulatannya melawan wabah bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu ada banyak kematian yang disebabkan oleh wabah, kali ini jangan sampai kecolongan lagi. Kebijakan dikeluarkan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya kita sebagai bangsa dan negara, harus menang melawan Corona.

Memang, di sisi lain, bahkan sebelum Covid-19 mendera, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sudah terjadi. Resesi ekonomi sudah dimulai, sejak bergulirnya perang dagang Amerika-Cina, Indonesia mendapat imbas yang tidak menguntungkan dari semua itu. Ditambah mewabahnya Covid-19 justru memperparah keadaan. PHK kembali bergulir dan gelombangnya makin besar. Banyak yang terjatuh akhirnya tertimpa tangga. Pilihan makin sulit dan terbatas, resiko paling berat, nyawa jadi taruhan.

Bahwa pada periode kuartal kedua April-Juni, Indonesia tentu tak terlalu berharap banyak. Ini masa-masa sulit. Tentu diperlukan pertimbangan yang matang agar perlambatan ekonomi tidak terjadi terlalu lama. Sebab, bisa dipastikan pihak yang paling rentan adalah masyarakat menengah ke bawah. Meninjau rentetan kebijakan yang berimbas pada kelompok rentan ini perlu dilakukan. Termasuk menunda diberlakukannya kenaikan tarif dan menekan kenaikan harga-harga. Jika itu terjadi, merosotnya daya beli masyarakat bisa sedikit terbantu dengan hadirnya pemerintah dengan kebijakannya yang berpihak. Itu berarti, dapur masih bisa mengepul meski dengan kepulan yang sayu.

Kita bersyukur sebab, ragam spekulasi horor tentang Corona yang menyerang Indonesia tidak terbukti. Politico, media asal Amerika dalam risetnya terhadap 30 negara berkaitan dengan penanganan Covid-19 dari segi kinerja kesehatan dan ekonomi, seperti yang dikutip cnnindonesia.com, walau Indonesia termasuk kacau dalam hal penanganan pandemi ini, tapi diprediksi bisa keluar dari resesi. Hal ini dikuatkan oleh Fithra Faisal Hastiadi Ekonom Universitas Indonesia dan dikuatkan oleh Pieter Abdullah dari Center of Reform on Economicsangin sega (CORE) masih dari sumber CNN Indonesia. Artinya kita masih bisa bertahan meski terlihat kewalahan dan ngos-ngosan. Ini tentu angin segar di tengah limbungnya beberapa negara maju karena Covid-19, termasuk Amerika.
***
https://www.cnbcindonesia.com

Adakah badai pasti berlalu?

Di beberapa keadaan, terbukti ada yang bertahan dan ada yang kalah. Masa-masa sulit membutuhkan penyesuaian ekstra-cepat dan menuntut manusia menjadi pembelajar aktif supersonik. Lambat bisa jadi berarti tertinggal dan kalah!? Apakah itu sepenuhnya benar? Mari melirik kehidupan nelayan yang saya sambangi tempo hari, berdekatan dengan kediaman Maci Upa penjual panganan itu. Para praktisi digital bisa saja menyebut bahwa Covid-19 telah mempercepat laju revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bekerja. Hanya saja itu berlaku bagi sebagian kalangan yang dihantui ragam teror tentang Corona.

“Tidak ada Corona di sini! Jadi santaimaki Nak!”

Ucap Maci Upa kemudian dengan memamerkan giginya disertai suara gelak tawa. Di kediaman Maci, orang-orang tetap pergi melaut dan masih bebas saling mengunjungi. Rumah ibadah masih tetap dibuka dan orang tetap lalu-lalang datang dan pergi. Benar, ada pembatasan hanya bagi orang-orang yang datang.

Tampaknya, masyarakat kalangan menengah ke bawah ini sudah sangat terbiasa dengan beragam ancaman. Covid-19 adalah horor, tapi ada yang lebih menakutkan dari sekadar Corona, yaitu matinya api di dapur-dapur mereka. Maka jangan heran jika, di tengah seruan untuk pembatasan aktivitas berkaitan dengan pandemi kalangan ini masih saja aktif dan wara-wiri mendatangi perkumpulan manusia. Mereka santai ke pasar, menggelar jualan, menarik pembeli. Jika ditanya kenapa begitu? Mereka akan menjawab: kami lebih takut tidak makan.

Agar dapur tetap mengepul di tengah kepungan pandemi, perlu untuk melihat celah yang bisa digunakan dalam rangka membalikkan keadaan. Saya rasa, pemerintah telah melihat celah itu, bahkan jauh hari sebelumnya, para pengusaha mendesak agar pembatasan segera diakhiri. Para pengusaha sudah tidak kuat, bayang-bayang kebangkrutan mengancam di depan mata.

Lembaran “New Normal” sudah tersiar ke mana-mana. Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) yang menyiarkan lembaran ‘New Normal” itu sebagai tafsir dari pernyataan Presiden Jokowi tentang: bersahabat dengan Corona. Maksud Presiden sepertinya bisa dijelaskan dari deretan peribahasa bugis: Itau i’ balimmu ekke seddi si esso, iyanekkia itau i sibawammu ekke sisabbu si essoe. Artinya, kita perlu menanamkan kewaspadaan seribu kali kepada kawan atau sahabat dibanding kepada musuh. Kepada musuh kita cukup waspada sekali dalam sehari.

Bahwa yang berpeluang menjadi musuh dalam selimut dan menggunting dalam lipatan itu adalah kawan atau sahabat. Bersahabat bagi Presiden adalah berkawan dengan menerapkan seribu kewaspadaan. Ke depan Covid-19 tidak akan lenyap dan semoga vaksinnya lekas ditemukan. Kita tidak ingin menangisi keadaan dan merutuki kondisi tapi mempersiapkan mental untuk kelaziman baru yang disebut “New Normal” tampak semuah keniscayaan. Ucapkan “Selamat Datang!” (*)
Simak Juga:

Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

https://cdn2.tstatic.net/

SultanSulaiman.Id, Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie selalu lekat dengan pesawat terbang. Habibie dijuluki Bapak  Teknologi Indonesia. Lelaki Gorontalo kelahiran Parepare Sulsel ini tersohor karena rekam jejaknya memajukan industri strategis tanah air. Ia telah berpulang dan mimpinya mengembangkan Industri Pesawat Terbang Nasional sepertinya akan kandas. Presiden Jokowi telah mendepak Proyek R80 dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Padahal Tahun 2017, R80 masuk PSN melalui Peraturan Presiden Nomor 58. Serasa lirik lagu ini pas: kau yang memulai kau yang mengakhiri.


Mari mengenang hari itu, Kamis 10 Agustus 1995. Sejarah spektakuler telah tercatat, mengundang decak kagum jutaan pasang mata. Hari yang menorehkan rekor kesuksesan anak bangsa. Bumi pertiwi telah memiliki generasi yang mampu mengembangkan teknologi canggih. Teknologi yang bukan saja membuat Indonesia terpandang, tetapi “kuat” di mata dunia.

Kenanglah hari itu. Hari ketika N-250 “Gatotkaco” terbang pertama kali. Pesawat itu terbang membawa harapan, rasa bangga, haru, sekaligus membuang stigma yang kerap mengerdilkan potensi anak bangsa. Lihatlah, N-250 bukti jika bangsa ini mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang sudah mengembangkan teknologi pesawat terbang lebih dulu. Habibie menulis dalam bukunya Habibie & Ainun:

“Tidak ada yang meragukan N-250 Gatotkoco gagal terbang kecuali mereka yang tidak suka dengan penguasaan Iptek oleh bangsa sendiri, semua orang menginginkan N-250 bisa terbang dengan mulus.”

N-250 menjadi bukti keperkasaan bangsa  kita. Melalui tangan BJ Habibie, pesawat itu lahir sebagai wujud sumpahnya kepada pertiwi. Gemilang.

“Pesawat N-250 adalah pesawat pertama di kelasnya (subsonic speed) –yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan secara komputerisasi)."

“Pada saat itu, tahun 1995, di jajaran pesawat komersial, N-250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi fly by wire setelah Airbus A-340 dan Boing 767.” (Buku Habibie & Ainun hal. 166)


Semua itu benar-benar terjadi. Sebuah inovasi yang berkorelasi keinginan mempersembahkan cinta terbaik untuk negeri. Profesor Habibie telah menunjukkan karya dan dedikasi terbaiknya mengantarkan Indonesia menuju negara mandiri yang disegani. Namun, ikhtiar suci itu akhirnya menemui sandungan, setelah IMF melanggengkan intervensi. Industri Pesawat Terbang kita tak dibiarkan bertumbuh unjuk gigi. Satu babak kebangkitan paling berharga negeri ini mengalami masa kelam. Bahkan untuk sekadar berterima kasih, negeri ini seolah enggan. Saat menjabat sebagai Presiden RI III, Profesor Habibie mengakhiri sejarah pengabdiannya dengan penolakan laporan pertanggungjawabannya di hadapan Sidang Paripurna. Sejak saat itu pula, BJ Habibie kadung bersumpah tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden. Ia mengukuhkan dirinya sebagai negarawan sekaligus Bapak Bangsa.

Dok. Pribadi Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun
di Parepare Sulsel

Sumpah Mengangkasa Membumi
Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah Tumpah darahku makmur dan suci
..........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU!
(Buku Habibie & Ainun hal. 41-42)

Film Habibie & Ainun bukan sekadar membawa kita pada plot romantisme cinta. Lebih jauh, film ini ingin menunjukkan, juga mendeklamasikan secara nyata, bahwa kita sebagai bangsa, sebagai negara memiliki putra terbaik yang begitu menyejarah. Bahwa, energi kehidupan bahkan telah menggerakkannya untuk berbuat lebih banyak. Habibie plus Ainun telah menunjukkan sebuah kolaborasi atraktif, dua jiwa menyatu, mengangkasa, saling menguatkan, lalu membumi. Bahwa kembali untuk mengabdi kepada bangsa dan negara adalah pilihan sadar, panggilan cinta yang tak bisa ditawar, apalagi sekadar ditukar materi.

https://statik.tempo.co

Dua jiwa, sejuta harapan, bertemu mempersembahkan karya terbaiknya bagi kemanfaatan berjuta-juta manusia negeri ini bahkan semesta. Maka kisah cinta itu, laiknya pertemuan dua kutub perubahan yang melahirkan ledakan besar dalam batu bata sejarah kebangkitan Indonesia. Hanya saja, keluarbiasaan itu telah terlanjur diabaikan, bahkan dicampakkan sebelum benar-benar diberikan kesempatan berbuah sempurna.

Lalu, mari meraba ke kedalaman jiwa kita. Menemukan keIndonesiaan, dan bertanya sudah seperti apa kontribusi kita? Profesor Habibie telah membentangkan sebuah pilihan-pilihan hidup yang dilandasai idealisme tinggi, keyakinan, semangat pengabdian, juga rasa cinta luar biasa pada negeri. Maka dia, memilih meninggalkan segala kegelimangan materi untuk kembali ke negerinya. Seperti katanya, “Saya pulang ke Indonesia untuk mengabdi, bukan cari uang”

BJ Habibie tidak sekadar dikarunia usia yang panjang, tetapi juga padat dalam penggunaannya. Rasanya, sulit dibayangkan bagaimana dia akhirnya mampu membumikan mimpi-mimpi, walau mungkin tak sesempurna yang diingini. Tapi yang pasti, sejarah perjalanan kehidupannya adalah rentetan catatan kerja keras, yang lahir dari energi cinta, lalu mengilhami inovasi luar biasa yang hampir tak memiliki banding. Lelaki Gorontalo itu hanya menjalankan takdirnya. Setelah BJ Habibie, siapa lagi?

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Menunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun Manunggal dengan saya Sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat
(Habibie & Ainun hal. 323 )


Tahun ini (2020), pemerintah menganulir proyek pesawat R80 dan pesawat rancangan Habibie yang lain, seperti N245 dari Proyek Strategis Nasional. Jokowi beralasan, pandemi memaksa mimpi Habibie itu disingkirkan karena krisis. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penghapusan proyek Habibie itu karena ada proyek pengganti berupa pengembangan drone yang dinilai lebih cocok dengan situasi sekarang. Bukan hanya Habibie, kita yang sebelumnya meghayalkan menaiki pesawat terbang buatan dalam negeri pun harus gigit jari. Mungkin pemerintah beranggapan, membeli pesawat luar negeri jauh lebih praktis dan murah. Daripada harus buat sendiri toh? 

(Doa-doa terangkai. Untuk Habibie Ainun kami sampaikan salam hormat, semoga ditempatkan dalam kedamaian selalu dan selamanya.)
Gorontalo-Polewali, 13 Februari 2013-Juli 2020

Cerpen: Bara Ibu


Genggam Bara Api

SultanSulaiman.Id, Setiap pukul 05.00 pagi, ibu terjaga. Gelap masih tergantung di cakrawala. Kantuk memelukmu, erat sekali. Tapi bangunnya ibu pertanda jika hari akan lekas bergegas. Keriuhan dan kesibukan, plus teriakan menggema. Kau tak kuasa meringkuk, tak bisa memanjangkan tidur, tak kuat memanjakan mata yang masih ingin terpejam. Jika itu kau lakukan, berarti cari masalah. Cari masalah dengan ibu di pagi buta berarti merintis jalan ke neraka. Sangat mengerikan.


“Kak…Bangun! Salat, mandi, entar lagi mobil jemputan tiba!”

Kalimat itu selalu kau dengar setiap pagi. Sampai jelas, segala lekuk intonasinya telah kau pahami di luar kepala. Ah! Kau masih ingin memeluk guling. Melampiaskan rasa kantuk yang menyerangmu.

“Kaaak…! Banguunnn….!”

Kali ini suara ibu terdengar mengerikan, serupa singa betina siaga menerkam mangsa. Kau sudah bisa membayangkan raut muka pemilik suara itu. Melanjutkan tidur bukan pilihan tepat. Jika kau lakukan, tentu jadi bulan-bulanan. Kau akan ditertawakan sang fajar yang sebentar lagi terbit. Ah pagi penuh nelangsa. Muntahan amarah ibu pagi ini pembukaan yang tragis.

“Iya Ibu…!”

Kau melangkah. Tentu masih malas. Tatapanmu redup, belum menguasai suasana. Langkah kaki berat yang jelas amat dipaksakan. Di dalam hati, kau mengutuk. Kenapa harus ada makhluk bernama ibu? Bagimu, ibu adalah sumber kekacauan setiap hari.

“Eh…Eh…Masih berdiri. Sana cepat…!!!”

Kali ini kesadaranmu pulih. Tatapan matamu seketika benderang. Kakimu melangkah cepat. Bayangan dinginnya air kamar mandi kini sirna. Di kepalamu hanya ada wajah ibu penuh taring.

“Sikat gigi jangan lupa…! Malu kalo mulutmu bau… Mandi jangan lama-lama…!”

Ibu lagi. Kau membayangkan di dalam tubuh bernama “ibu” ada pabrik yang terus berjalan. Pabrik kata-kata. Membuat ibu tak pernah kehabisan kata-kata. Pabrik itu yang membuat ibu selalu mengoceh. Ocehan yang membuat telingamu perlahan menebal. Lalu menganggap ocehan ibu serupa angin lalu, walau lebih sering membadai.

Kau abai dengan ocehan itu. Air di kamar mandi membuatmu selalu tergoda berlama-lama. Apalagi, dari saku celana kau sudah menyiapkan lego. Sudah kegemaranmu, mandi, bermain air bersama lego. Membuat kamar mandi semacam pelampiasan rindumu pada kolam renang atau laut.

“Kaaaaak….Kakak….!”

Melengking lagi suara ibu. Kau bergegas. Lengkingan itu alamat, jika tak digubris maka ibu akan muncul secepat kilat di depan pintu kamar mandi. Kau tergesa.

“Ah….Selesai!” Lirihmu

“Ibu…Handuk…!” Kau balas berteriak. Tapi itu jelas keliru karena…

“Itu kebiasaan. Mandi ga bawa handuk. Eh, kamu ini sudah besar. Masih mau diurus-urus. Harusnya kamu malu sama adik-adikmu…!” Rentetan kata-kata ibu.

Kau sudah menduga jawaban sederas apa yang dimuntahkan ibu. Akhirnya menyesal bukan? Perkara handuk telah melebar ke mana-mana. Kau berdiri mematung dalam kondisi kuyup. Lalu pikiranmu terbang. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah.

“Eh…Eeeee…! Masih berdiri di situ, belum salat kamu. Sudah hampir datang mobil jemputan! Belum sarapan, bisa telat loh ya!”

Ibu berhasil membuatmu menginjak bumi lagi. Ah ibu, bukannya langsung ambilin handuk ini malah ngoceh aja…!

Kau melihat sosok ayah hanya bisa tersenyum. Ah Ayah, belain kek. Tapi kau sepertinya tahu. Tak ada yang bisa membantah ibu. Termasuk ayah! Lalu, meski amarah ibu sudah tumpah sepagi ini, adik-adikmu tetap tidur, pulas sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Kau sepertinya ingin kembali ke masa sebelum sekolah. Seperti adik-adikmu
***
Pulang sekolah. Kau sedang merencanakan kekacauan itu lagi. Melepas sepatu semaunya. Masuk rumah sesukanya. Menaruh tas sembarang dan melepas pakaian sekolah secara brutal. Kau sedang ingin memancing amarah ibu agar siang itu tak perlu ada tidur siang. Amarah ibu bisa jadi alasan kau lekas hengkang. Berkunjung ke rumah temanmu, membawa serta lego, main sepuasnya hingga sore tiba.

Hening!

Kau mulai bertanya ibu ke mana. Tapi pagar dan rumah tak terkunci. Tak mungkin tak ada orang. Tapi ibu benar-benar tak ada. Keramaian adik-adikmu juga sirna. Ada apa, kau lagi-lagi bertanya.

“Oh sudah pulang?”

Kau terkejut dengan suara ayah dari balik pintu.

“Ayo berpakaian. Ikut ayah ke kantor!”

Kau makin penasaran. Namun lekas terjawab saat ayahmu kembali bertutur.

“Ibu, Abang, dan Lena harus jenguk Bapu!”

“Ke Gorontalo?” Selamu penasaran

“Iya…Kalau ga ke sana ke mana lagi?”

Tiba-tiba ada mendung yang hinggap di matamu. Kenapa ibu ga tunggu aku pulang sekolah dulu baru pergi? Apakah saking marahnya ibu?

“Ibu buru-buru. jika harus menunggu Kakak pulang sekolah, akan ketinggalan pesawat!”

Sepertinya ayahmu tahu sangka yang tumbuh di dadamu. Namun begitu, kau melayangkan prasangka baru. Ibu tidak sayang padaku!
***
Malam berlalu tanpa ibu. Hari belum berganti. Detik ke menit serasa hitungan ratusan hari. Kau lebih sering bertanya dalam hati. Sembari merutuki rasa kehilangan yang amat tiba-tiba. Bukankah bisa menghubungi ibu dengan panggilan video? Urung kau lakukan. Tepatnya enggan karena kau tak ingin jika ibu tahu pasal rindu. Kau tak ingin membocorkan perihal di balik kebandelanmu itu ada rapuh bersemayam di ragamu. Rapuh yang hanya bisa diusir oleh makhluk bernama ibu. Meski begitu, ibu selalu tahu. Akan selalu tahu.

Panggilan masuk di ponsel ayah. Saat melihat nama ibu di sana, kau melonjak. Kau buru-buru mengangkat.

“Halo…Ibu kapan pulang?” Kau tergesa menyerang Ibu bahkan sebelum ia mengucapkan salam.

“Ayah di mana Kak?” Suara ibu lembut.

Kau buru-buru mencari ayah. Lalu menyerahkan ponsel panggilan dari ibu. Ayah berhenti dari urusan dapurnya. Terlihat ayah terlibat pembicaraan serius. Tumben ibu tidak video call?

“Kak…! Ini ibu mau bicara!”

Ayah menyerahkan ponselnya kepadamu. Suara ibu mengalun lembut, menyampaikan beberapa petuah yang telah kau khatamkan sejak lama. Ibu meski jauh, tapi kehadirannya tetap terasa. Ibu juga berkabar jika kepergiannya mendadak, seperti yang disampaikan ayah kepadamu. Kamu berusaha maklum.

“Kenapa nda video call Bu?” kamu menggugat.

“Di sini jaringan jelek Nak!” Jawab ibu. Lalu melanjutkan pesan-pesan panjangnya tentang apa yang harus kau lakukan bersama ayah, selama ibu tidak ada. Tak lupa ibu berucap, kepergiannya bakal lama. Bapu sakit parah. Ada yang tampaknya akan tumpah dari balik kelopakmu. Setengah mati kau menahannya, namun ia menyembul hangat. Kau menangis. Berusaha kau sembunyikan dari ayah, tapi tak bisa. Ayah melihatmu, seraya menggoda. Kau makin berkabung.
***
Pagi yang damai. Tak ada kegaduhan seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, kau otomatis bisa terbangun. Bisa melakukan segala instruksi ibu secara tepat. Tak ada amarah, tak ada keributan, namun tingkahmu seperti disulap. Kau melakukan perintah ibu cekatan, meski ia tidak di rumah. Kau merasa aneh saja.

Setiap rumah butuh ibu. Itu kau simpulkan sejak melihat ayah yang wara-wiri di dapur namun belum terlalu sukses mengeksekusi apapun sesuai gubahan tangan ibu. Itu bahasa lebih halus sebenarnya. Bahasa kasarnya: gagal total. Tapi tetap saja, yang tersaji di meja makan berusaha kau nikmati. Terpaksa. Lalu kau akan mengucap syukur jika jemputan tiba. Itu berarti siksaan di meja makan berakhir. Kau pamit, menuju jemputan yang akan membawamu ke sekolah. Ayah berdiri di depan rumah, melepasmu dengan senyum yang selalu rekah.

Di atas mobil jemputan, kau menikmati canda, tawa, dan kata-kata yang berbenturan di udara dengan bisu. Udara pagi masih sangat dingin. Kau menahan gigil di balik jaket yang kau kenakan. Sepanjang jalan menuju sekolah, ingatan memaksamu menghadirkan wajah ibu. Ada yang mulai menyusup di balik dadamu. Merembes hingga begitu dalam, memaksa hatimu berucap lirih: ibu aku rindu.

Sesampainya di sekolah, keriuhan menguar di mana-mana. Anak-anak saling berkejaran, segala tingkah tumpah merayakan masa bersekolah. Kau melangkah gontai, beranjak menuju kelas. Memang tak biasa, kau dihinggapi rasa kehilangan yang menjadi-jadi. Ah! Betapa kepergian ibu benar-benar telah membawa suasana riangmu. Kau melepas tas dan duduk beku sendirian di kelas hingga bel masuk berbunyi.

Jam pertama akan diisi Pak Umar. Guru Agama sepuh itu membawamu menjejaki pelajaran berbakti kepada orang tua. Kenapa harus tentang itu sih? Pak Umar tentu tak mendengar protes batinmu. Dia terus membahanakan suara. Mengajakmu berkenalan dengan beberapa sosok di masa lalu yang menunjukkan bakti terbaiknya kepada orang tua. Terutama ibu, diperkenalkan sosok Uwais Al-Qarni yang memanggul ibunya menuju tanah suci. Berpeluh ia dan melepuh punggungnya, namun tetap tak sebanding sebagai balas budi. Kau jatuh dalam ingatan yang panjang, lalu sosok ibu kembali hadir di hadapanmu. Untungnya pelajaran lekas berlalu, berganti dengan kehadiran guru muda yang memesona: Ibu Yusmira.

Jika setiap pelajaran Bu Yusmira kau antusias, kali ini tidak. Kau kehilangan selera, seperti raibnya nafsu makan. Bu Yusmira menyampaikan pengajaran dengan gayanya yang khas.

“El…Bisa diulangi apa yang barusan ibu jelaskan?!” Ibu Yusmira sepertinya menguji konsentrasimu.

“Ya Bu…?!” Kau terkejut.

Ada jeda lama. Kau berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin Aini bisa bantu?!”

Bu Yusmira sudah paham kondsimu. Ia melempar kesempatan. Seketika kelas riuh. Aini, nama itu sering dilekatkan padamu. Beberapa temanmu yang jahil bahkan telah menjodohkan kalian berdua. Meski, kau jelas menolak, tidak terima sebab bagimu itu memalukan. Maksudnya, memalukan bagi naka-anak seusiamu yang sudah main jodoh-jodohan.

Ibu Yus jelas paham, ada sesuatu yang berkejaran di benakmu. Seorang guru bisa dengan mudah menerka isi kepada muridnya, hanya dengan memperhatikan gerik. Kau tak bisa bersembunyi.

Jam pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Enggan dan malas. Seseorang mendekat.

“El…Yuk ke kantin…” Aini mengajak. Ajakan yang memelas.

“Nggak ah…Kamu duluan aja!” Kau menolak.

“Ayo…!”

Aini kini menarik tanganmu. Tapi buru-buru kau tepis. Kali ini kau benar-benar tak ingin memenuhi ajakan siapa pun, termasuk Aini.

“Cie…Ada yang lagi marahan nih ye…!”

Tiba-tiba suara Abi menggoda. Si bocah jahil itu nampak berulah.

“Atau jangan-jangan sudah cerai ya…?”

Bocah tengik itu makin menyebalkan. Tak butuh waktu lama, kau merangsek maju, hendak menggapai Abi yang sempurna meledekmu. Keributan di ruang kelas. Anak-anak lain bersorak. Aini mencoba menahanmu. Ibu Yusmira yang sudah beranjak menjauh kini mendekat lagi. Keributan itu tak berlangsung lama karena kehadiran Bu Yus. Wajahmu sempurna berubah warna. Mirip warna nasi goreng khas Makassar: Nasi Goreng Merah.

Kau digelandang Ibu Yusmira bersama Abi ke ruangannya. Di sana, kalian berdua mendapat petuah. Guru berhati teduh itu mengulik beberapa hal terkait keributan itu. Kau menjelaskan. Abi membela diri. Ibu Yus menengahi. Perbincangan itu menemui akhir. Titik damai disepakati. Ada perjanjian yang terikrar antara kau dan Abi. Masing-masing berjanji akan lebih memperhatikan sikap dan belajar lebih giat mengendalikan amarah. Kalian bersalaman disaksikan Bu Yus.

Abi berlalu lebih dulu, kau hendak menyusul tapi masih diminta bertahan.

“El…Sebenarnya kamu kenapa? Tadi ibu perhatikan kamu sepertinya ada masalah ya?” serang Bu Yus.

Serangan yang kau balas gelengan lalu buru-buru beranjak setelah pamit secara paksa. Sebenarnya, Ibu Yus masih ingin mengomongkan sesuatu. Tapi ia mengerti, kau tak ingin diganggu kali ini.
***
Kabar keributan itu sampai juga di telinga ibu. Di Negeri Serambi Madinah, saat sedang sibuk mengurus keperluan bapu: kakek, Ibu Yus mengabarkan kejadian di sekolah. Ibumu terlihat menahan sesuatu. Lekas ia menghubungi ayahmu dan membeberkan kejadian sekolah itu. Ayah, seperti biasa selalu tampak tenang dengan segala jenis cuaca.

Di rumah, ayah mendapatimu tak seperti biasa. Saat diajak ke kantor pun, kau tak berselera. Kau tentu sudah tahu, ayahmu pasti akan mengulik masalah di sekolah. Hanya, ayah menahan diri. Ayah membiarkanmu yang memang ingin sendiri. Momen istirahat siang itu membuat ayah tak lagi balik ke kantor. Lelaki itu ingin menemanimu, melewati masa sunyi yang ingin kau akrabi. Kalian akhirnya jatuh tertidur, hingga senja muncul di balik cakrawala.

Ponsel berdering. Panggilan dari ibu. Ayah terbangun dengan bunyi nada dering yang makin nyaring. Sepertinya ada yang genting.

“Yah…! Suara ibu berat! Bapu Yah!”

Suara ibu yang terbata-bata telah membuat ayah mengerti. Ayah bergegas membangunkanmu. Menyuruhmu berbenah, cuci muka, lalu menyalin pakaian seadanya. Kalian tergesa mencari tumpangan menuju Makassar. Ada sesuatu yang harus lekas ditunaikan.

“Yah…Ada apa? Kita mau kemana? Ibu kenapa yah?”

Rentetan pertanyaan kau hamburkan. Ayah masih mencoba mengatur irama napasnya, hingga telepon genggamnya kembali berdering. Panggilan dari ibu lagi.

“Ayah sama El sudah di jalan. Acara persemayamannya kapan?”

Dari ptongan pembicaraan itu, kau tentu sudah bisa menyimpulkan.

“El…Bapu meninggal!” Ucapan ayah lirih kemudian.

Ingatanmu tentang bapu kembali melayang. Sesosok ringkih yang selalu baik. Memberikan uang jajan tanpa diminta dan juga sepeda baru hadiah ulang tahunmu kala itu. Rasanya, baru sekejab kau sekeluarga meninggalkan Gorontalo, kini takdir membawamu kembali beserta suasana berkabung itu.
***
Suasana berkabung sudah tertinggal agak jauh. Luka selalu butuh jarak agar kelak bisa dilupakan. Bukan dilupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Kau masih bisa melukis sosok ibu saat hari berkabung itu. Kau menderma rasa iba. Ibu yang sejak kecilnya telah piatu, kini sempurna statusnya menjadi yatim piatu. Hanya kau, ayah, dan kedua adikmu yang menjadi keluarga terdekat ibu sekarang.

Sebenarnya, beberapa pekan sepeninggalan bapu, kau sekeluarga harusnya sudah meninggalkan Negeri Serambi Madinah. Tapi kabar telah meneror di mana-mana. Sedang ada pandemik. Kau akhirnya sedikit memahami, kabar-kabar mengerikan tersiar. Akses vital mulai diketatkan. Pergerakan manusia terbatas. Memilih pulang atau bepergian di tengah merebaknya wabah jelas sangat berisiko. Apalagi, dua adikmu masih balita, tentu sangat rentan.

Di banyak tempat, sekolah sudah diliburkan. Sekolahmu juga, itu kau tahu karena beberapa orang menghubungimu, termasuk Bu Yus dan seorang yang sulit lepas dari ingatnmu: Aini. Tempo hari, gadis manis itu menelepon, berkabar seadanya dan menanyakan kabarmu. Kau tentu tersanjung dan ayah usil menggodamu,

Makin ke sini, pandemi makin menakutkan. Pembatasan gerak manusia sudah dilakukan. Kebijakan agar semua orang berdiam diri di rumah berlaku. Atas dasar itulah ibu memproteksimu sangat ketat. Ada aturan-aturan baru yang mulai berlaku.

“Kalau masuk rumah cuci kaki, cuci tangan, pakai sabun!”

“Ke luar rumah pakai masker!”

“Adik-adikmu jangan dibawa ke mana-mana. Sekarang rawan, virus korona ada di mana-mana!”

Ada banyak lagi jejalan aturan yang sering diulang-ulangi ibu. Sama persis dengan petunjuk pencegahan Covid-19 yang disebar pemerintah. Bahkan ibu bisa menjelaskan seluruh istilah terkait pandemi di luar kepala. ODP, PDP, Covid-19, dan banyak lagi istilah yang sudah dikhatamkan ibu. Di matamu, ibu bahkan lebih mahir menjelaskan dari Ketua Tim Satuan Tugas Covid-19 mana pun. Ditambah dengan angka-angka jumlah korban, dari yang positif, sembuh, dan meninggal. Bukan hanya itu, informasi kasus di seluruh dunia ibu tahu. Dahsyat bukan?

Tapi, beberapa kesempatan kau melihat ibu amat berlebihan. Sikap itu makin nampak, setelah ibu tahu kabar soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mendera ayahmu. Apakah itu berarti kalian akan mendekam di Gorontalo lebih lama? Entahlah! Berita PHK ayah alamat duka di benak ibu, dan keluargamu.

‘Sudah dibilangin kalau ke luar pake masker. Ini malah bawa adik-adiknya lagi!” Sungut ibu dengan wajah yang selalu sangar.

“Kamu tidak takut korona?” Tambah ibu dengan wajah yang jauh lebih menggidikkan.

“Itu…Sudah dibilangin kalau masuk rumah cuci tangan, cuci kaki, pake sabun. Ini…Kakak…cuci tangan…!” Lengkingan nyaris lima oktaf. Hampir memecah rekor suara Mariah Carey.

Kau bergegas mengikuti instruksi ibu, lalu berlalu, masuk ke kamar dan mengunci diri. Di sudut lain kau dapati ayah menerawang. Baru kali ini ayah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tetap saja berlalu. Di kamar, ada bayang berkelebat, sesungging senyum milik gadis rambut ekor kuda. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah. Tiba-tiba kau rindu sekolah.(*)
Simak juga:

Resensi Novel: Dulu Lontara Rindu, Kini Sajak Rindu

Tapi tak ada yang bisa menampik takdir, Halimah? Mengapa kau tak bersabar saja? Dulu saat kebun jambu metemu terbakar, kamu bersabar bahkan bersyukur karena Vito masih bersamamu, Allah langsung membalik keadaan dengan menyelamatkan bagian tengah kebun jambu metemu? Harusnya sekarang kamu berperan seperti dulu, Halimah! Bersabar! Karena selalu ada buah ranum nan lezat yang menggantung di pohon kesabaran. Silakan bersedih, tapi apa gunanya kamu merutuki takdir?(Lontara Rindu, hal. 303)

SultanSulaiman.id, S. Gegge Mappangewa, nama itu kembali menjadi ”raja” setelah memenangi Lomba Menulis Novel Republika tahun 2011. Sebelumnya, S. Gegge Mappangewa pernah berjaya dengan ratusan cerpennya yang pernah nangkring di media remaja nasional. Bukan hanya cerpen, bahkan 12 judul bukunya pernah menghiasi banyak toko buku di tanah air. Tapi itu dulu, sebelum seluruh waktunya tersita dengan aktivitas baru, menjadi Oemar Bakrie, mengurusi ratusan siswa hingga mengubur namanya lamat-lamat sebagai penulis beken yang pernah punya banyak pembaca.

Tapi, seolah takdir tak ingin menjauhkan dirinya dari bintang. Menulis masih terus digeluti meski harus mencuri-curi waktu dari kerjaan utamanya sebagai guru. Gegge, begitu panggilan akrabnya, meski mengaku hanya menggunakan waktu sisa untuk menulis, namun waktu sisa itu justru kembali mengudarakan namanya. Gegge kembali menggema, mengubur kutukan penulis “tak produktif” yang melekati namanya beberapa tahun. Gegge membuktikan, jika pilihannya banting setir jadi guru bukan alasan tepat untuk memutuskan benar-benar berhenti menulis.

Lontara Rindu, judul novel yang mengantarkan namanya kembali mengudara. Gegge yang redup kembali bersinar. Kemarau telah berganti musim, langit menyingkap tabir harapan, mematenkan satu kepastian pada asa yang tak lagi pudar. Karena apa yang dialaminya adalah buah ranum dari jalan panjang berdarah-darah. Gegge butuh belasan tahun untuk bisa seperti dirinya yang sekarang. Karena resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata!

Gegge benar-benar telah memanah bintang, bukan hanya sampai tapi juga tepat sasaran. Ada 458 naskah yang masuk ke meja panitia. 393 naskah lulus seleksi administratif dan akhirnya bersaing menuju 25 besar. Selanjutnya diseleksi hingga menyisakan sepuluh naskah terbaik. Dari sepuluh besar menuju tiga besar. Lontara Rindu akhirnya dipilih menjadi naskah terbaik, mengalahkan ratusan naskah lain yang dirakit oleh ratusan model tangan dengan latarbelakang kultur, strata, profesi, dan usia yang berbeda.

Lokalitas yang Sempurna

Takkan mati kejujuran itu,
Takkan runtuh yang datar,
Takkan putus yang kendur,
Takkan patah yang lentur (Nenek Mallomo).

Membaca Lontara Rindu bukan hanya menemukan pesan tokoh legendaris cendikiawan muslim dari Sidenreng Rappang yakni Nenek Mallomo, tapi juga memaksa naluri meletup-letup dengan terus menyelami eksotisme kisah tentang awal munculnya agama Hindu Tolotang di Sidenreng Rappang, kisah tentang ‘manusia reptil’ yang beberapa orang Bugis mengakui keberadaannya, dan beberapa kisah lain yang pernah terjadi di tanah Bugis kemudian dipermak dengan konflik fiktif yang endingnya susah ditebak. Dugaan saya, ini menjadi salah satu takaran pemberat yang mengantarkan Lontara Rindu berada di tahta tertinggi Lomba Novel Republika 2011.

Selain itu, suguhan awal sejarah yang ditampilkan justru hadir sebagai bagian yang memendam ragam tanda tanya. Ragam tanda tanya itu yang menimbulkan rasa “penasaran kronik” yang terus memaksa pembaca menyelami kisah Lontara Rindu sampai akhir ceritanya. Pembaca dipaksa mengambil kesimpulan setelah menyudahi seluruh isi cerita. Penulis menggunakan jurus piawainya sebagai penulis dengan tidak meletakkan daya tarik Lontara Rindu hanya pada ending, namun sukses menjadikan seluruh bagian ceritanya sebagai daya penarik yang sempurna. Penulis benar-benar sukses mengaduk-aduk perasaan bening pembaca dalam ragam artikulasi konflik yang disuguhkan. Konflik dalam konflik mem-posisikan Lontara Rindu bukan sekadar cerita fiktif biasa.

Priyantono Oemar dalam tulisannya Mencari Karya-karya yang Tidak “Cerewet” berpendapat bahwa dalam cerita, yang penting bukan pada bagian akhirnya, melainkan kisah kejadian yang diceritakan. Penulis berhasil menyuguhkan kisah kejadian yang akhirnya mengajak pembaca menyelami seluruh nuansa lokalitas Bugis-Makassar secara utuh. Pembaca bukan sekadar dihidangkan menu yang lezat, namun sekaligus ditunjukkan cara memasak yang tepat, hingga memeroleh hasil sempurna yang benar-benar nikmat.

Isu-isu lokalitas, termasuk adat-kebiasaan, lengkap dengan mitos-mitos budaya Bugis telah dipotret penulis dalam angle yang sangat apik yang membuat pembaca mengerti tentang keluhuran tradisi Bugis yang kadang banyak dicibir karena hanya mengumbar sesuatu yang berbau “onar”. Pembaca justru akan mengerti bahwa “onar” adalah buah dari keluhuran menjaga martabat dan harga diri. Kisah ini akan ditemukan pada bagian “Mempelai Sunyi”.

Lalu pilihan menjadikan kata “Lontara” sebagai judul yang disandingkan dengan kata “Rindu” nampaknya memang ingin menegaskan bahwa cerita ini akan megeksploitasi sisi unik terhadap banyak hal yang masih menimbun tanya tentang orang-orang Bugis. Kata Lontara mewakili seluruh batang-tubuh Bugis yang ingin diselami, bukan hanya menampilkan sisi manusia bugisnya, tetapi juga menyuguhkan tentang karakter, adat-kebiasaan, dan segala hal tentang Bugis. Dan kata “rindu” melengkapi bahasan cinta yang ingin ditampilkan penulis, bukan sekadar menampilkan sisi intim antara lelaki dan perempuan, namun lebih luas, rindu menjadi penegas cinta yang universal, antara anak dan orang tua, cucu dan kakek, adik dan kakak, guru dan murid, manusia dalam interaksi lingkungan (alam dan segala isinya), bahkan antara hamba dan Tuhannya.

Kemiripan tak Berarti Mengekor

Sekilas, kisah Lontara Rindu mungkin akan terasa sama dan dianggap mengekor pada Laskar Pelangi. Dugaan itu bisa ditelusuri dalam suguhan sembilan tokoh anak dengan ragam karakternya yang juga jadi siswa paten sekolah yang diceritakan. Vito, Anugerah, Adnan, Bimo, Alauddin, Irfan, Alif, Sarah, dan Mawaddah mengajak kita menghadirkan sosok Lintang, Ikal, Kucay, Harun, dan teman-teman Laskar Pelanginya. Ya! Sekilas penulis akan tampak mengekor karya besutan Andrea Hirata, lalu menambahinya dengan ragam pendekatan kreatif yang membuat cerita Lontara Rindu makin menarik. Sekali lagi hanya sekilas, karena sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam mungkin tokoh atau kisahnya serupa namun jelas tetap tidak sama. Lontara Rindu benar-benar berbeda.

Dugaan itu bisa ditampik dengan menelusuri aktivitas penulis beberapa tahun terakhir dan memang pernah menjadi wali kelas yang jumlah siswanya hanya sembilan. Kesembilan siswa itulah kemudian menginspirasinya untuk menulis Lontara Rindu. Interaksi intens dengan ratusan siswa di tempat penulis mengabdi tentu menghadirkan pengalaman otentik yang beragam. Penulis bisa secara bebas mengonstruksi karakter yang didapatkan secara rill di tempatnya bekerja. Ini sekaligus sebagai bantahan bahwa “mengekor” seolah tak dikenal dalam kamus S. Gegge Mappangewa!

https://cf.shopee.co.id
Jawaban-Jawaban

Setelah rampung menampik tentang isu mengekor, rasanya menarik mengapresiasi Lontara Rindu sebagai cerita yang tega membiarkan pembaca memendam penasaran terlalu lama. Hal ini wajar sebagai satu pendekatan kreatif penulis dalam bercerita, di sini sisi unggul dari penulis. Jawaban atas banyak dugaan-dugaan pembaca terhadap kisah awal yang kesannya berserakan akhirnya bisa di temukan di bagian “Hadiah Terindah”. Akhirnya bukan hanya Vito yang berbahagia karena mendapat hadiah ulang tahun spesial dari mamanya, namun pembaca juga turut mengulum senyum karena telah menemukan simpul cerita yang telah terlanjur dibuat berserakan.

Guru sebagai profesi pelarian juga merupakan jawaban yang paling pasti bagi banyak pencari kerja yang tak juga mendapat tempat. Lagi-lagi sekilas, hal ini terlihat sederhana. Namun penulis menghadirkan penggalan ini bukan sekadar pengingat tapi juga kritik terhadap banyak “anak muda” yang buta tentang pilihan profesi prestisius yang hendak dipilihnya, yang bisa dipastikan bahwa “menjadi guru” tak pernah jadi pilihan yang sungguh diinginkan, seperti yang terjadi pada tokoh Ibu Guru Maulindah.

Juga jawaban lain tersibak, tentang bagaimana ketatnya orang tua Bugis menjaga anak perempuannya. Karena lebih baik menggembalai seribu ekor kerbau, daripada menjaga satu anak gadis. Jawaban lainnya akhirnya mesti dinikmati laiknya buah ranum yang mesti dipetik. Seperti I Cinnong yang menikmati jerih-payah kesabaran dari ladangnya emasnya yang terjual murah. Meski sempat melayangkan nota protes membatin pada suratan takdirnya, namun I Cinnong memilih lapang dan melakoni kembali profesi menjual dan membagikan jadde gratis.

Akhirnya, saya yakin, setelah jutaan penikmat sastra menoleh ke Belitong karena Laskar Pelangi, maka Lontara Rindu akan membuat orang mengalihkan pandangannya ke Desa Cenrana, sebuah perkampungan Bugis di daerah pegunungan di Panca Lautang- Sidenreng Rappang, yang menjadi latar novel yang insyaallah akan Best Seller ini. Amiin.(*)

Simak juga:

Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

dok. pribadi www.sultansulaiman.id

Anakku, hidup ini tidak bisa kau kendalikan sepenuhnya hanya karena perasaan!

SultanSulaiman.id, Saya menghabiskan kisah kumpulan cerita pendek Ketika Saatnya dan Nasu Likku sembari mendengar lagu Ziana Zain. Dua buku ini terasa pas ditakzimi dengan menyetel alunan patah hati penyanyi Negeri Jiran itu.

Banyak yang bergentayangan di kepala, rentetan kejadian masa lalu. Di sisi lain, kerinduan kepada Gorontalo membuncah. Seorang lelaki senja seperti menuntun tanganku. Mengajakku menjenguk kolam belakang rumahnya sambil memancing di air bening itu. Lelaki yang suara paraunya masih terus terngiang di hampir setiap pagi atau di ujung sore. Lelaki itu telah berpulang. Ia yang kupanggil Papa, ayah dari istriku.

Adakah yang menandingi sedihnya orang terkasih berpulang sedang kau tak mampu merengkuh mendekapnya? Di negeri rantau, kau hanya bisa membahanakan tangis, meluruhkan air mata, karena kepulangan sudah terlambat bagi pertemuan. Begitulah.

***

Kak Sulaiman

Sebelum dihimpun jadi buku, cerita Kak Sulaiman sudah mencuri perhatian sejak dulu. Penulisnya, Darmawati Madjid seperti telah meramunya pada ruang renung yang mistis lalu menyuntikkan suara kerinduan yang mengajak menepi, menikmati luruhan air mata, dari hati yang kadung lara. Kisah Kak Sulaiman seperti merampas paksa sebagian ruang jiwa, tergulung bersama deru ombak membadai yang telah melumatnya. Makanya ia membekas luka, sejauh mana pun kenangan dilarikan, ia akan tetap menyembul tiba-tiba tanpa harus dipanggil. Ada banyak pemantik yang bisa dengan mudah membuat kenangan kembali bertakhta.

“…Untuk lupa, dibutuhkan tahun-tahun yang berat, karena yang kau lawan adalah dirimu sendiri.” (Kumcer Nasu Likku Hal. 3)

Tokoh aku, walau telah jauh merantau, tak bisa mengusir bayang Kak Sulaiman. Masa kecil yang tergelar itu, bermain bola-bola dan kenangan masakan yang berpancikan kaleng mentega. Aroma tubuh, lekuk wajah saat tersenyum dan tertawa, semuanya akan hadir sebab hippocampus akan setia menyimpannya. Adegan di depan warung itu penegas tentang yang lekang adalah kenangan.

***

Bagi orang-orang bugis, Nasu Likku atau Nasu Likkua dalam penyebutan bugis Pinrang merupakan jenis makanan yang dinantikan. Ada masa-masa tertentu, makanan itu akan murah hati tersaji di banyak rumah. Saat lebaran misalnya, atau perayaan besar lainnya. Ia akan hadir sebagai bagian dari salah satu menu utama sekaligus pengusir rasa rindu. Nasu likkua selalu pas diasup dengan buras, atau sepiring nasi hangat. Mengasupnya, akan melupakan besaran uang panaik yang kerap mengandaskan banyak pasangan Bugis sebelum tiba di pelaminan. Alasan itulah yang membuat Nurma ingin berpayah menyuguhkan Nasu Likku untuk Danu lelakinya. Di perantauan, ada yang selalu ingin hadir secara tiba-tiba, salah satunya aroma masakan ibu. Celakanya, bagi banyak perantau, resep dari masakan itu kadang gagal diturunkan.

Di Losari

Di Losari, ingatan dan hubungan dengan mudah terempas. Seolah Losari memang meneguhkan diri sebagai tempat untuk mengenang sekaligus berkabung lalu memanggil ingatan-ingatan yang luka. Anto kepada Ida, perjanjian yang saling memunggungi. Cinta pecah bersama empasan ombak, yang berusaha memoles wajah Losari seperti dulu. Ah Losari, perkakas beton telah menyulapnya menjadi palsu. Tak ada aroma laut, hanya sehimpun kolam raksasa berair pekat menguarkan bau comberan.

Keberanian macam apa yang dimiliki Anto? Ia meniti rumah panggung Puang Massaniga untuk mendengar langsung kabar penghianatan itu. Ida, yang membuatnya pergi menyabung hidup di tanah rantau, kini memaksanya kembali. Kepulangan itu semestinya dirayakan, namun hatinya berkabung dengan kenyataan Ida dipersunting orang lain.
Di beberapa keluarga Bugis, warna darah masih kerap menjadi pertimbangan ikatan pernikahan. Jika dulu warna darah harus berarti ningrat, kini ketebalan isi kantong juga menjadi penegas. Semakin tebal isi kantongnya, semakin jelas pula kastanya. Pernah santer istilah: sikola sibawa sikola’.

Sebuah lamaran tak pernah benar-benar ditolak, caranya dengan memberatkan syarat. Bisa dengan angka uang panaik yang melambung tinggi, atau ragam permintaan lain yang dianggap sulit dipenuhi si pelamar. Sayangnya, angka uang panaik itu tak membuat Anto surut langkah. Padahal, itu sinyal penolakan secara halus dari keluarga Puang Massaniga.

***

Darmawati Majid

Darmawati Majid, seperti pernyataan dari Mother of Makassar Lily Yulianti Farid telah memotret “beban sosial dan kultural yang melekat pada perempuan Bugis-Makassar yang menjadi bahan utama kumpulan cerpen ini!” Si Anak Ajaib Faisal Oddang menyebut “…saya menjumpai keragaman gagasan dan peristiwa sederhana, yang lekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi dengan kemasan yang menarik.”

Ada beragam tentang Bugis-Makassar yang bisa dengan mudah dipahami dengan membaca dua buku Kumpulan Cerpen penulis yang kini menetap di Gorontalo ini. Seperti banyak pembaca, dalam sehimpun cerita tentu ada beberapa cerita yang menjadi unggulan. Kak Sulaiman, Nasi Likku, dan Losari yang saya unggulkan. Ketiganya memiliki ruang keintiman yang khas. Mungkin alasan itu pula yang menyebabkan penulis memunculkan tiga cerita tersebut dalam dua kumcernya. Ditambah satu judul lagi yang jelas dijagokannya: Pelahap Telinga.

Bagi saya, Daster Berkibar adalah pembuka yang mengesankan. Itu semacam teriakan khas ibu-ibu, atau emak-emak dengan Bahasa kekinian. Seperti kata penulis, daster tak pernah disebutkan dalam cerita tapi ia menjadi saksi seluruh pergulatan ekspresif ibu dengan empat bocah ini. Anda penasaran?(*)

Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

SultanSulaiman.Id, Senyum itu selalu kutemukan kala menyusuri setiap ruang kota. Di sudut jalan, di emperan toko, di angkot, seolah semua ruang telah disesakinya. Namun seperti musim hujan ataupun kemarau, senyum-senyum itu juga punya musim. Setelah musimnya selesai, senyum itu akan pudar sendiri dimakan hari. Bahkan lusuh tak terurus hingga musim berganti jubah.


Setiap hari, kota semakin disesaki dengan senyum-senyum itu. Bertambah rupa juga berganti sketsa dengan kostum warna-warni. Senyum-senyum itu berjejer rapi dalam kotak-kotak. Menjadi ikon semarak bersama iklan rokok dan iklan seluler. Seperti hari ini, ketemukan berpuluh senyum menghias elegan di ruas-ruas jalan. Dan oho...? Senyum itu juga menempel anggun di ransel kawan kampusku.

Bukan hanya senyum yang dijajakan. Berbagai tagline retoris juga turut menyertai. Ada senyum yang dibubuhi dengan kalimat “Melanjutkan Pembangunan”. Yang lain memakai “Mohon Dukunganta Sayang!”. Ada yang pake “Mantap Mentong”. Yang lain lagi...? Huwah...! Terlalu banyak.

Miris. Bahkan membuat hati perih. Kala rupa-rupa itu berlomba menjual senyum, di sana, di sebuah ruas jalan ibu kota. Kutemukan Indo Tija masih saja setia mengipasi jagung jajanannya. Berharap dagangannya laku untuk bekal hidup diri juga anak cucu. Tubuhnya yang ringkih dipaksa bertarung melawan biadab zaman. Indo Tija, seorang korban gusur penjual senyum yang kini kembali menjajakan senyumnya.

Di tengah maraknya senyum gombal itu, amat jelas gurat kemiskinan membingkai wajah kota. Orang-orang lapar bergentayangan. Pengemis makin sesak. Rakyat jelata harus menyabung nyawa di pintu-pintu rumah sakit. Parade pengangguran menampakkan wajah miris mengoyak batin. Lalu aku bertanya. Apa arti senyum dalam kotak itu? Ah...! betul gombal!

***

Ya...! Seperti musim penghujan maupun kemarau, senyum itu juga punya musim. Puncak musim ada dalam bingkai “pemilu”. Para pemilik senyum itu akan dipilih di sana. Setelah terpilih, seperti lakon lumrah yang pernah ada, pemilik senyum itu akan menyembunyikan senyumnya lantaran telah duduk di kursi empuk yang diincarnya. Butuh lima tahun waktu untuk bisa melihat kembali senyumya bertengger di seluruh ruang-ruang kota.

Ada pemilik senyum yang pandai membual. Mungkin juga semua pemilik senyum itu pembual. Bualannya nampak pada tagline pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Semua terdengar gratis. Mulai lahir hingga mati semua gratis. Aku lagi-lagi bertanya. Apa iya? Rakyat banyak tertipu oleh para penipu pemilik senyum dalam kotak. Lagi-lagi jelata jadi tumbal tipuan senyum yang sedikit dibubuhi kata “gratis” itu. Indo Tija, masih juga seorang penjual jagung bakar yang ditikam rintih lantaran hidup tak memihak rezeki mumpuni. Harusnya, orang seperti Indo Tija yang menjual senyum dalam kotak itu, sembari mengipasi jagung bakarnya. Itung-itung promosi. Aku yakin, dagangannya bakal banyak yang laku. Mungkin bisa menembus rekor MURI juga.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini kutemukan lagi Indo Tija mengipasi jagung bakarnya. Kuhampiri. Memperhatikan setiap geraknya. Kutangkap aroma letih tatapannya. Matanya yang senja memendam gurat luka. Tubuh ringkihnya telah cukup memberi definisi jika Indo Tija adalah puing melarat kota ini. Tapi siapa yang peduli?

Dalam sibuknya. Kucaba membuka percakapan. Aku penasaran, ingin menanyakan kenapa ada senyum kotak-kotak yang tertempel di kipas anyaman bambunya. Setengah keheranan sambil memamerkan gigi tanggalnya, Indo Tija membuka percakapan.

“Anakku...! Sengaja Indo membiarkan senyum itu tertempel di sini. Dari banyak pemilik senyum hanya dia yang sudi menjenguk Indo. Bahkan sebelum dia memutuskan menempel senyumnya di mana-mana”
Aku terperangah.

Debaran Bulan Juni


“Jadi ceritanya, Indo jadi tim suksesnya?”
Bukannya menjawab. Indo Tija malah terkekeh. Keras sekali. Hingga mengusik beberapa pembeli yang asyik menikmati jagung bakarnya. Indo Tija menyembunyikan kedua matanya lantaran tawanya yang dahsyat.

“Apa katamu tadi anakku? Nakke tim sukses?” Mengulang tanya lalu tertawa lebar.
“Apa Indo tidak takut dibohongi? Pemilik senyum itu rata-rata pembual Indo...!”

“Anakku! Percuma membohongi orang tua bau tanah sepertiku. Percuma anakku! Tapi Indo tetap percaya! Puang Allah Ta’ala akan menyelamatkan hidup kita dengan mendatangkan pemimpin yang mapaccing na malempu. Setidaknya begitu kearifan Bugis mengajarkan.

“Saya tahu anakku! Kita memang jelata yang sering ditipu. Kita teramat sering dikibuli. Tapi apa daya kita? Apa kuasa kita? Selain berharap doa dari setiap rintih yang kita ukir dari tetesan air mata. Bukankah orang seperti kita doanya mudah terkabul?”

“Ehh....haaaaaaaaaaa....”
Aku mengembuskan napas panjang. Kutemukan ketegaran dari tubuh ringkih ini. Aku menengadah. Menatap bulan. Kerlip bintang-gemintang menebar panorama malam. Kuarahkan tatap di sekelilingku. Sudah hampir larut. Namun sketsa kota yang lain masih menampakkan kesibukannya. Sangat sibuk. Selain Indo Tija, ada banyak pekerja malam yang selalu tegar mengumpulkan mimpi-mimpi. Saat semua terlelap, kala pemimpin terempas dalam alam tidur yang panjang, saat para pemilik senyum nyenyak bersama alunan dengkurnya. Masih ada. Masih ada yang mengumpulkan puing kehidupan. Mengumpulkan harapan yang berserakan. Di antara rintih, di antara resah, mungkin juga di antara tangis kering air mata.

“Haaaa...!”
Kuempaskan lagi napas itu. Agak sesak. Namun kencang menabrak udara jalan. Debu-debu kota terkaget-kaget dengan derasnya empasan itu. Cuma seketika, lalu kembali menari di tengah ketimpangan hidup alam kota. Mereka tak pernah peduli, seperti tak pedulinya pemilik senyum yang senang mengumbar janji masa depan. Utopis!

***

Seperti kataku, mirip musim penghujan dan kemarau. Senyum itu punya musim. Tinggal menunggu hari menjejaki bulan. Seyum itu akan berjejer rapi dalam surat suara yang akan dilukai dalam bilik suara. Tapi luka yang mengenai pemilik senyum itu tanda baik dan bahagia. Semakin banyak luka yang mengoyak senyum, maka pemilik senyum makin melebarkan senyum yang sesungguhnya. Merekah. Sumringah. Bahkan sampai kuluman senyum berubah tawa. Berisik dan terbahak tentunya.

Ya...! Tinggal menghitung hari.
Entah kenapa. Aku dijajaki jengkel luar biasa. Sudah berpuluh tahun aku berdiam di kota ini, tapi tak juga menemukan berkas perubahan. Hingga sistem berganti karena konsekuensi demokrasi. Tetap saja. Wajah manis kota memendam tangis luar biasa. Tangis Indo Tija, bocah-bocah jalanan, para ibu dan lelaki renta yang terpasung karena biadab modernitas yang melumat tempat tinggalnya. Ah...! Terlalu banyak yang membuat hati berdarah-darah. Belum lagi ketika menemukan adik kecil yang tercekat karena lapar dan dahaga. Para orang tua yang merintih karena tingginya biaya pendidikan. Rakyat jelata yang ditikam mahalnya tuntutan hidup. Huwaaaah...!

Kutatap lagi senyum dalam kotak itu. Masih seperti biasa, senyum kotak itu tetap asyik dengan dirinya. Cuek. Sama cueknya ketika sudah terpilih nanti. Aku kini menyalakan bara. Menggenggam amarah. Minyak tanah. Kulumuri senyum kotak itu dengan guyuran minyak. Bara yang kugenggam tertiup angin. Api kecil menjalar dari tanganku hingga menjilati senyum kotak itu. Berubah kobaran. Seketika. Sekejap. Kota benderang. “Kebakaran....!” Orang-orang berteriak.

“Nnnn....iuuuung....nnn..uuuuung”
Aku masih menangkap serine mobil saat tubuhku juga ikut terbakar. Gelap. Hitam. Cahaya. Mungkinkah?(*)

Mengenang Cekgu Zaki, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Aceh

https://cdn2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images

SultanSulaiman.Id, Tak ada yang bisa mengukur, sedalam apa luka dialami Dahniar. Anaknya, Muhammad Zaki meninggal di Tanah Papua. Kabar kematian Cekgu Zaki menyebar sesaat setelah kepergiannya. Adalah T Syahrurrazi disapa Shahroel Undock yang membagikannya lewat grup WhatsApp di Komunitas Awak Droe Only (ADO) Aceh for Papua. Sebuah komunitas berangggotakan perantauan Aceh di Papua.


Bagi yang mengenalnya, Zaki adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tanah Rencong. Ia memilih mengabdikan diri di Nabire Papua, meninggalkan kampung halamannya Krueng Mane, Aceh Utara. Setelah sepekan dilarikan ke rumah sakit, Senin (29/06) Zaki mengembuskan napas terakhir. Dia kembali dalam pangkuan Tuhan dengan penuh penghormatan. Zaki dielukan sebagai pahlawan masa kini.

Dahniar sudah hendak menjenguk anaknya ke Papua, saat awal dikabarkan masuk rumah sakit. Apalah daya, jarak tempuh yang jauh dan kondisi pandemi kian meraja. Papua sulit ditembus, dengan pembatasan ketat, orang non-Papua tidak mendapatkan izin masuk. Zaki, sejak dikabarkan masuk rumah sakit sepekan lalu. Dia mendekam tanpa keluarga, di RSUD Kabupaten Nabire.

Di negeri rantau, kesepian adalah karib paling setia. Rindu makin merdu jika kemalangan bertamu. Wajah keluarga akan muncul tiba-tiba. Di tengah sakitnya, Zaki tentu terkenang wajah Dahniar. Alasan itu pula mungkin yang mendorong Zaki ingin pulang ke Aceh. Berkali-kali ingin pulang, apa daya, ada banyak yang tiba-tiba tidak bisa dengan kepungan halang rintang. Dari kerusuhan hingga pandemi, Zaki melawan sakitnya di tengah tikaman rindu yang membiru. Mungkin ada lebam di hatinya yang suci mengabdi bagi pertiwi di Timur Indonesia.

Zaki guru honor di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kab. Intan Jaya, Papua. Lelaki Kreung Mane ini mengabdikan diri di tanah yang jauh dari halamannya. Entah apa di benaknya, yang jelas semangat pengabdiannya tiada dua. Sepertinya ia terlalu dalam mencintai Papua, menyayangi murid-muridnya yang bahkan belum terlalu fasih berbahasa Indonesia.

Dari keterangan Rahmat Idris dari Aceh, dapat diketahui jika Zaki mestinya sudah menuntaskan pengabdiannya sejak 2018 silam. Hanya dia tak pulang. Setahun berikutnya, Zaki tetap bertahan. Sebenarnya konflik berdarah 2019 sudah cukup kuat jadi alasan untuk meninggalkan Papua yang diamuk amarah. Ya! Zaki memilih bertahan. Rahmad Idris menulis: Zaki memilih bertahan mengabdikan diri bagi saudara jauh sesama Indonesia. Ia begitu dalam mencintai Papua. Ia menggenggam amanah delapan kelapa suku di Mbiandoga untuk menunjukkan jalan cahaya bagi bocah-bocah polos, anak kandung ibu pertiwi di negeri jauh itu.
https://aceh.tribunnews.com

Pulang

Muhammad Zaki akhirnya pulang. Kepulangannya tidak disertai raga, tapi nama yang semerbak. Amukan sakitnya memaksa tubuhnya kalah, lalu ia pergi dengan ragam kenangan manis bagi orang-orang yang mengenalnya. Dahniar, patutlah meredam perihnya. Anaknya, gugur di medan pengabdian yang semoga mengantarnya pada amal jariah tanpa batas. Ya, tak banyak yang bisa mengikuti jejak Zaki.

Tentulah, bukan sebab materi yang menuntunnya menjenguk saudara jauh sesama Indonesia di Papua. Bukan, Zaki tentu bisa memilih, ada banyak sekolah di kota-kota, atau di kampung halamannya sendiri yang membutuhkan guru. Pula ia bisa dibayar dengan nilai yang lumayan, tapi nuraninya seperti tak bisa menolak, ia kadung memilih jalan terjal untuk kemanusian. Ia seperti menunaikan janji yang banyak diselisihi negara. Papua dan wilayah lain Indonesia selain Jawa, telah lama menjadi anak tiri bagi bumi pertiwi kita.

Lahir di Cok Kruet pada 22 Maret 1984, Zaki barulah usai merayakan hari lahirnya yang ke-36 tahun. Dia masih muda, namun ajal telah menjemputnya. Rahmat Idris menulis lebih lanjut sekaligus sebagai penutup bagi goresannya tentang Cekgu Zaki.

Debaran Bulan Juni

Kepada ureung syik kamoe ban mandum, Bu Dahniar, jangan bersedih hati. Ibu berhasil melahirkan dan mendidik seorang pahlawan di saat negeri ini dipenuhi pemuda pecundang yang memilih menghabiskan waktunya di kedai kopi sambil main game online

Selamat jalan adoe Zaki, selamat jalan pahlawan muda tanpa tanda jasa. Kami bangga memilikimu di barisan sejarah bangsa Aceh nan mulia.

Ah Aceh, memang sejak dulu telah menjadi pahala-wan. Para pendahulunya, sudah jauh hari menyerahkan bongkah emas bagi kemerdekaan negeri ini tanpa pamrih. Di Negeri Serambi itu, orang-orang seperti ditempa untuk merasai kemalangan, mengamalkan pepatah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Indonesia tetap saudara, walau jarak membentang jauh, dari rawa, lembah, gunung, laut, di segala penjuru. Aceh, Negeri Serambi Mekah yang selalu meredeka itu, telah lebih dulu paham arti berbagi

Guru Honorer

Yang disebut guru honorer di negeri ini adalah pekerjaan tanpa kejelasan. Mereka hanya bisa menerima honorarium, bukan gaji tetap laiknya Pegawai Negeri Sipil atau pekerja kantoran lainnya. Meski, ada kehormatan dari profesi guru itu, faktanya banyak guru honorer yang menderita. Besaran honor yang diterima tak sebanding dengan peluh yang dikeluarkan. Semasa masih di Gorontalo, saya pernah menanyakan besaran honor yang diterima para guru itu saat menggelar demonstrasi di kantor DPRD. Ada yang dibayar Rp. 150.000 per bulan, dan diberikan per tiga bulan. Anda bisa bayangkan, dengan kemurahan hati mereka untuk mengabdi, mereka diganjar dengan besarapan pendapatan yang jauh dari harapan, bahkan sangat minim.

Sementara…

Sementara, ada banyak anggaran negara yang dihamburkan untuk urusan yang sepele. Menggaji staf khusus milinial di lingkaran istana itu yang muasalnya memang sudah kaya raya. Menghamburkan triliunan rupiah untuk pembelian video pelatihan yang bahkan bisa didapatkan gratis di platform media sosial. Anggaran lain menguap digasak para bedebah. Kemana alokasi anggaran 20% itu untuk pendidikan, sebagaimana undang-undang sudah mengamanatkan. Negeriku, serupa anak yang kehilangan orang tua. Negeri para yatim piatu. Ah sudahlah!(*)

Debaran di Bulan Juni

Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Adalah cinta mulai tumbuh, dari Makassar ke Serambi Madinah. Aku menyeret langkah itu, tertatih mendatangi kotamu yang tak pernah terlintas dalam imaji. Lalu, sebiji rindu mulai mencari muara dari deretan kemalangan.

Di Jakarta, aku nyaris lenyap dimakan deru ganas ibu kota. Tiba dini hari, menumpang pesawat yang sering telat waktu keberangkatannya, lalu hujan deras membuat ruas-ruas jalan tergenang parah. Aku yang buta jalan, tak tahu harus ke mana. Satu-satunya harapan, deretan angka-angka dari ponsel yang mulai sekarat. Ponsel itu benar-benar payah…

Ke mana aku? Satu-satunya cara, sekaligus langkah penghematan kelas wahid, menumpang ojek mencari alamat rabun. Kampung Makassar, ya, akhirnya sampai juga dengan meraba-raba disertai banyak bertanya. Sepasang sepuh menyambut, seorang keluarga bugis Bone yang luar biasa baik. Seorang kawan pondokan, Imran namanya. Lulusan Fakultas Ekonomi yang sedang magang di Bank ternama yang mengajakku menyabung hidup di Jakarta. Beberapa hari, makan-minum, tidur gratis di rumah seseorang yang disapa Puang, tante kawan kami Imran.

Hanya bilangan hari saja. Mengikuti rangkaian seleksi di intansi pemerintah pusat. Sambil terkantuk-kantuk mengisi lembar jawaban di Gelora Bung Karno. Hujan masih awet, namun ribuan butir peluh memasungku di antara ribuan orang yang meniti jalan masa depannya.
***
Parepare selalu menjadi tempat kembali yang dirindukan. Jalan-jalan beraspal meliuk hingga ke perbukitan. Dari ketinggian, menatap jauh hamparan laut biru. Kapal-kapal raksasa melepas sauh. Pertemuan dan perpisahan tergelar dari Pelabuhan Tua Kota kelahiran Habibie. Ah…Di sini aku dilahirkan.

Cerpen: Seikat Satu

Di Serambi Madinah seorang kawan (pernah) satu pondokan mengabarkan peluang. Ke sanalah akhirnya langkah diseret. Peluang bertepuk, meski ada ragu. Dari negeri Fadel Muhamad, bergeser ke Utara di tanah Nyiur Melambai. Manado selalu pemurah dan gadis-gadisnya ramah dengan paha dan dada yang nyaris selalu terbuka. Seperti namanya, stereotype tentang Manado: Mana doi. Asal ada uang, seketika yang terlarang bisa dengan mudah dinikmati. Ada banyak wajah mirip Luna Maya di sana, mereka bisa menyerahkan apa saja asal ada uang.
Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

“Di Gorontalo saja, jangan di Manado. Bahaya!” Petuah Tante, saudara ibu.

Terbukti, Manado memang amat menggiurkan bagi mata yang kelaparan dan selangkangan yang kehausan. Manado adalah surga cadeko dan intelek. (Silakan cari apa, kepanjangan dari dua akronim itu. Nyatanya begitu.)

Beruntung bisa mengendara ke Tomohon, merasai sejuknya udara pagi dan menikmati rimbunnya bunga-bunga yang bermekaran.

Dari kejauhan Gunung Lokon selalu angkuh, dengan semburan asapnya yang seperti sedang merokok saja. Aku menyapanya sembari meruahkan segala yang tertinggal. Di Kota Daeng, di beberapa tempat yang telah kudatangi. Akhirnya luruh bersama panorama Tomohon yang membawanya menemui Gunung Lokon yang perkasa itu. Jika perjalananku harus berhenti di Tomohon atau Manado, mungkin kita tak akan bertemu.

***

Pesawat baling-baling membawaku kembali ke kotamu. Ada perasaan campur aduk, saat menumpang pesawat mini. Ada puluhan penumpang, dengan wajah-wajah cemas. Pesawat ini mirip bus yang dipasangi baling-baling. Benar, saat mulai lepas landas, kecemasan berubah ketakutan. Beberapa kali pesawat oleng, mengalami turbulensi, ditampar angin berkali-kali. Seingatku, ada dua kali kesempatan pesawat itu seperti terjun bebas. Dan aku mulai sangat memahi bahwa tutorial doa di buku petunjuk keselamatan yang disimpan di kantong kursi sangat berguna. Di belakang kursi dudukku, ada suara yang mulai sesenggukan sembari melirihkan doa-doa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Ah! Jika tiba masanya, mungkin kita benar-benar tidak akan bertemu. Namun pertemuan laiknya perpisahan adalah rahasia Tuhan. Pesawat mini itu tiba dengan selamat di Bandara Jalaluddin.

***

Juni menjadi mendebarkan sebab ianya penanda penyatuan kita kemudian. Berbekal modal pas-pasan, lamaran ditunaikan dan aku akhirnya punya teman. Dalam artian, teman yang menggenapkan bagi perantau yang kesepian. Dua Puluh Sembilan Juni Dua Ribu Sebelas, tepat di momen Isra Mikraj kala itu, kita benar-benar bertemu. Debaran di dadaku lebur dengan getar di hatimu. Adakah getar itu benar adanya?

Bagi perantau, mendapatkan keluarga tentu amat menggembirakan. Merantau seperti menuntun pada pengembaraan lain, bahwa sesuatu yang tertinggal akan terbayar dengan sesuatu yang ditemukan kemudian. Malam-malam kita mafhumi sebagai ikhtiar merekatkan penyatuan.

Pada sepi yang menikam, kau hadir membawa bingar, pada hati yang memilukan, kau menyuguhkan penawar. Adalah tawa menggema yang sesekali mengibas-ngibaskan air mata di rumah mungil itu. Hawa kemarau yang dingin dan hujan-hujan gerimis mengukir kisah-kisah yang jauh lebih mendebarkan.

Dua Puluh Tujuh Juni, Dua Ribu Dua Belas, ia yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (memasung) itu telah hadir. Lelaki mungil yang lucu. Beragam warna kuak bersamaan dan kita mencernanya dengan terus belajar. Lelaki yang kemudian dipanggil Kakak. Dia yang penyayang, yang sudah bisa membuatkan adiknya susu, merebus dan menggoreng telur, membuatkanmu secangkir teh hangat, atau menyuguhkan teh hijau dingin. Dia yang sudah bisa disuruh-suruh, kini.

Lima tahun setelahnya, lelaki lain, tepat di perayaan tujuh tahun pernikahan menambah skuad kita. Lelaki yang saban hari membuatmu memanjangkan tangis. Lelaki itu, dengan rasa penasaran yang buncah, seperti kehilangaan rasa takut, melukis pengembaraan dengan langkah-langkah kecilnya. Hingga dua orang asing mengantarnya kembali ke rumah kita. Dia Abang kita.

Inilah rentetan perkara Juni yang selalu membuat mentakziminya. Selamat sembilan tahun, semoga betah dan seikat satu selamanya, menyertai perjalanan rantau yang entah akan berakhir di mana! Asal ada kau di sampingku bukan?(*)

Popular Posts

Arsip Blog