8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19

8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19

Pelaksanaan Rapid Tes.

SultanSulaiman.Id., Angka positif Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan dan menuju fase mengkhawatirkan. Kita nyaris ingin mengakhiri pandemi, namun nyatanya jumlah positif kembali melonjak. Bukan salah bunda mengandung, hanya saja penegakan aturan yang bablas dan tidak konsisten, di tengah terpuruknya ekonomi membuat ragam skenario yang diberlakukan pemerintah mental di tengah jalan. Ada ragam muataan kepentingan yang menyebabkan Covid-19 pada satu kesempatan di kesampingkan, padahal pandemi ini nyata memakan korban. Lantas apa yang akan kita lakukan?

Ada angin segar setelah pemerintah mengumumkan bahwa vaksin covid-19 sudah ada. Hanya perdebatan makin sengit sebab, suara tentang vaksin pun terbelah. Pro kontra mencuat, banyak yang menolak sebab menganggap vaksin tak ubahnya lahan bisnis baru menggemukkan kantong-kantong kaum oportunis. Faktanya, kita sedang amat berduka sebab bantuan sosial yang harusnya digunakan untuk stimulus pemulihan ekonomi masyarakat justru digasak koruptor. Disunat per paketnya untuk keperluan entah.

Makin ke sini, varian baru Covid-19 kini muncul dan memaksa banyak negara menutup akses bagi warga negara asing. Kita patut mengapresiasi langkah Menteri Luar Negeri yang menerapkan kebijakan yang sama bagi Warna Negara Asing. Selain mawas diri, kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan segala yang menyangkut pencegahan penularan covid-19 harus dan mesti dilakukan. Lantas, jika semua usaha itu sudah dilaksanakan dan ternyata kemudian hari terkonfirmasi positif covid-19, harus menjalani isolasi mandiri di rumah sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) misalnya, apa yang harus dilakukan? Pastikan Anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang Positif Covid-19. Berikut 8 Formula Anti Baper Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19.
Dok. Pribadi. Persiapan Petugas Swab Test di Puskesmas Pekkabata.

1. Ikhlas Menerima Kenyataan
Sebagai mantan positif Covid-19, saya pernah merasakan betapa hari-hari isolasi mandiri itu berubah mencekam jika tak ada formula khusus. Saat pertama dinyatakan reaktif rapid tes, saya enteng saja, hingga diminta menjalani isolasi mandiri dan mengikuti swab test di Pusat Kesehatan Masyarakat dekat domisili. Dua kali pengambilan sampel lendir dari hidung dan tenggorokan yang melelahkan air mata. Dua hari berselang, Tim Dokter menyatakan bahwa saya positif Covid-19.

Saya sudah menduga bakal positif, semacam firasat saja. Saat dinyatakan positif istri luar biasa paniknya, orang tua saya (ibu) tak kalah cemasnya. Langkah pertama yang kami ambil adalah segera melakukan isolasi terpisah. Semestinya, istri dan anak-anak juga diswab test, hanya saja rentang waktu swab masih agak lama sementara saya sudah dinyatakan positif. Jadilah saya isolasi di tempat domisili sementara istri dan anak-anak diungsikan di tempat yang lain sembari terus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 jika kemudian hari istri dan anak-anak saya mengalami gejala mirip covid-19.

Sejatinya, inilah masa paling berat, harus berpisah dengan keluarga. Istri sudah menyiapkan segala kebutuhan sandang-pangan selama Isolasi. Sembari memberikan pengertian ke anak-anak, kami akhirnya menjalani isolasi terpisah. Ikhlas berarti mengjak diri berkompromi dengan keadaan. Meski merasa baik-baik saja, namun hasil tes menunjukkan saya terkonfirmasi positif covid-19. Maka ditetapkanlah sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berpotensi menularkan virus ke orang lain. Saya amat mencemaskan istri dan anak-anak, namun alhamdulillah semua bisa dilewati dengan mulus hingga masa isolasi berakhir dan hasil swab test negatif.

2. Sembahyang Mengaji 
Ingat kerjaan Si Doel kan? Bagi muslim, ini adalah formula yang lumrah. Ibu saya menyarankan agar bisa khataman quran dalam masa isolasi. Termasuk pula, menjaga sembahyang tepat waktu. Ada perubahan yang berarti, utamanya dari segi keteraturan waktu. Tiba-tiba momen isolasi menjadikan saya dekat dengan Pemilik Segala, setelah sekian lama terjebak dalam kubangan lupa. Maka isolasi menjadi semacam jalan untuk menemukan diri dan mengeratkan jiwa kepada Pemiliknya. Jadi ingat, sembahyanglah sebelum disembahyangi, mengajilah sebelum kembali terjebak bejibun kesibukan. Mumpung masih ada waktu.

3. Memasak
Isolasi mengharuskan segala sesuatu dilakukan mandiri. Jika tak memiliki keterampilan dapur memadai, tak apa mencobanya. Dari pada harus nelangsa karena tidak mengasup apa-apa toh. Berharap dari makanan kiriman tentu tak terlalu baik, utamanya bagi isi dompet. Beruntung, karena istri sudah menyiapkan segalanya. Bahan mentah dan instan cukup selama masa isolasi. Minimal pandai bakar, goreng, dan rebus. Itu sudah sangat memadai Bakar ikan, goreng tempe, rebus telur atau mie instan. Simple bukan? Bahkan beberapa kesempatan, saya mencukupkan diri hanya dengan rebusan telur, nasi, dan sedikit kecap. Toh itu tetap nikmat. Jika butuh dipadupadankan dengan yang lain, setiap pagi puluhan penjual sayur lewat dan bisa disetop kapan saja. Dengan uang Rp. 10.000, sudah sangat longgar buat makan 1-2 hari, intinya masak sendiri.

Soal memasak ini, ada banyak tutorial yang bisa diikuti. Keterempalinan mencampur bahan dan mengeksekusinya tak jadi masalah. Toh yang makan kita sendiri, jadi tak akan ada protes dari orang ketiga. Nikmati sendiri meski akhirnya rasa yang digubah jadi unik atau bahkan aneh.
Dok. Pribadi

4. Memiliki Peliharaan
Untungnya memiliki peliharaan berupa hewan atau ternak menjadi jalan hiburan di masa isolasi. Anak saya senang ikan hias jenis guppy, molly, komet, dan ikan konsumsi. Isolasi menjadi jalan hubungan intens dengan peliharaan itu. selain sebagai pelarian kejumudan, setidaknya mereka menjadi teman yang baik di kala sendiri. Ada banyak manfaat kesehatan dari memiliki hewan peliharaan. Selain tentunya, merupakan formula penambah imun yang sangat baik. Apalagi jika peliharaan sudah diarahkan untuk bisnis, formula imunnya bisa kuadrat. Anda bisa cek sendiri.
Dok. Pribadi

Hanya berbekal foto dan video, trasaksi bisa saja terjadi. saya menjual koleksi ikan hias itu dari rumah, dengan memanfaatkan kurir.

5. Bercocok Tanam
Efeknya tentu sama, tanaman bisa menjadi pelampiasan kebosanan dan pengusir segala derita. Apalagi bunga? Ga percaya, tanyakan pada emak-emak. Ada efek mistis yang terjadi pada tubuh ketika melihat tanaman. Mungkin karena memang kita asalnya dari tanah, bermain tanah dengan bercocok tanam sensasinya luar biasa. Anda bisa coba.

6. Membaca Buku
Selain sudah jungkirbalik dengan lima formula di atas, membaca buku bisa jadi pertimbangan baik. Saya punya beberapa daftar buku terbeli yang belum dibaca. Buku bisa mendekatkan yang jauh dan merekatkan yang dekat. Buku dari dulu jendela bagi dunia. Banyak yang rumit dalam hidup kita asalnya karena ketidaktahuan dan kefakiran pikir dan ilmu. Buku hadir sebagai peta, menjadi penunjuk jalan, sebagai cahaya bagi gelap, sekaligus pengusir kesuraman. Carilah jenis bacaan yang menyenangkan. Novel bisa salah satunya. 
Dok. Pribadi

7. Menonton Film
Saat menjalani isolasi, menonton film salah satu aktivitas yang mendobrak imunitas. Saya menamatkan serial drama Korea Start-Up tanpa harus berkutat dengan kebisingan jelang akhir tahun. Menonton menjadi jalan mereguk inspirasi dan menemukan ragam makna yang terserak. Film Alone yang disutradarai Johny Martin menjadi salah satu tontonan inspiratif. Film yang mengisahkan bagaimana Aidan (Tyler Posey) menghadapi masa isolasi dalam gempuran wabah di sekelilingnya. Aidan baru saja ingin mengakhiri hidupnya ketika tanpa sengaja bertemu dengan Eva (Summer Spiro). Pertemua yang melahirkan semangat baru untuk tetap hidup dan bertahan di tengan kiamat zombie itu. film Alone terasa menjadi penghubung kondisi saat ini dengan pandemi. 
Dok. Pribadi Drakor Start-Up

8. Menulis
Saat positif, saya memang berencana merilis diari dan menyampaikan pengalaman lewat tulisan. Urung saya lakukan sebab, ada banyak penghakiman yang berseliweran. Mereka yang positif masih dipandang membawa “aib” dan kerap diperlakukan diskriminatif. Saat petugas kesehatan melakukan kontrol ke rumah dan hanya berdiri bergerombol di depan pagar, hebohlah satu kompleks. Ditambah, para petugas ini hanya lebih penasaran memotret dibanding lebih dalam mengorek kondisi pasien positif Covid-19.

Menulis aktivitas yang merdeka. Tentu ada banyak hal yang bisa disampaikan lewat tulisan. Tulisan menjadi jembatan ekspresi sekaligus saran berkirim makna dengan orang lain. Dari tulisan kita bisa lebih mengerti dan memahami.

Itulah 8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19. Apapun itu, jangan pernah kehilangan rasa bahagia dan berusahalah melakukan hal-hal menyenangkan. Mereka yang positif Covid-19 lalu akhirnya sembuh adalah anugerah tak terkira. Ada banyak orang yang masih berjuang melawan Covid-19, di tengah bejibun yang masih tidak percaya jika Covid-19 benar-benar ada.(*)
 

Baca Juga:


Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19

Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19

Obat dan Suplemen Covid-19 dari Puskesman
SultanSulaiman.Id, Sudah jelang tutup buku tahun 2020, namun kita masih berkutat dengan penanganan Covid-19. Ada banyak harapan yang bersemayam di dada kita. Salah satunya tentu, tahun depan semoga Covid-19 telah sirna di negeri kita. Data Covid-19 di Indonesisa menunjukkan bahwa angka positif nyaris meyentuh 700 ribu jiwa dengan 500-san ribu sekian yang sudah sembuh dan sekira 20 ribu orang meninggal. Persoalannya, apakah data ini memiliki presisi yang memadai? Sementara hanya sebagian kecil saja rakyat negeri ini yang melakukan Swab Test. Pemerintah tampak tidak berdaya untuk melakukan Swab Test massal. Memang harus dites seuruhnya, agar kita dapat menemukan angka tepat Covid-19 di Indonesia. 
Sejak awal kemunculannya, dari desas-desus Wuhan hingga sampai juga di negeri kita. Covid-19 tampak diremehkan. Hingga muncul kasus yang menyebabkan banyak tenaga medis tumbang dan rumah sakit mulai kewalahan. Tidak serumpunnya suara pemerintah menelorkan kebijakan sporadis dan cenderung amatiran. Covid-19 gagal dibelenggu akibat tarik ulur kebijakan dan penerapan aturan yang sepertinya memang masih sarat kepentingan. Pada satu titik kerumunan dilarang, pada titik yang lain dibiarkan bahkan dibablaskan. Hasilnya kluster baru bermunculan dan kita benar-benar nyaris kalah oleh Covid-19. Mau tidak mau prediksi tentang herd immunity telah terjadi. Hari ini, Covid-19 menjadi sangat samar dan setiap orang sudah berpotensi menularkan virus ke orang lain. Tak ada jalan, selain menguatkan imunitas dan tetap disiplin pada protokol kesehatan. Nampaknya euphoria Wuhan tidak akan terjadi di negara kita, sebab kita benar-benar bebal.

Pada akhirnya, kita hanya menunggu giliran. Jika menemui gejala yang mengarah kepada ciri penderita covid-19, segera melaporkan diri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Melaporkan diri sebagai jalan konfirmasi agar jelas apakah Anda terpapar atau tidak.

Bagaimana jika Anda akhirnya dinyatakan positif Covid-19 meski merasa tidak apa-apa alias Orang Tanpa Gejala (OTG)? Anda bisa melakukan 5 hal ini sebagai bekal perang melawan Covid-19.

1. Memastikan Kesehatan Mental Terjaga
Kesehatan mental itu penting, OTG akan menjalani masa “berat” selama 14 hari tanpa siapa-siapa. Maksudnya, karena berstatus OTG, keluarga tentu diungsikan sementara waktu sebab tinggal serumah jelas berisiko. Kecuali Anda OTG satu keluarga maka tentu, masa isolasi akan dijalani secara bersama-sama. Memastikan kesehatan mental tetap terjaga harus dan mesti, karena jika itu bermasalah, maka akan menyebabkan kekacauan pikiran yang berujung pada menurunnya kondisi fisik. Di sini, mereka yang OTG berpotensi mengalami degradasi imunitas yang bisa berujung masalah. Agar itu tidak terjadi, berpikiran positif dan menerima diri sebagai orang yang positif meski OTG dengan selapang-lapangnya akan membantu setiap diri menjalani hari-hari isolasi meski sendiri.

2. Berdoa
Sebagai insan beragama, tentu kita mengetahui bahwa diri tak bisa sepenuhnya diandalkan dalam kondisi-kondisi sulit. Hampir setiap orang berharap pada satu kekuatan dan itu diantarkan lewat doa. Jika kita tak mampu menyelesaikannya, biarlah Sang Maha yang menunjukkan jalan keluar dengan cara-Nya. Atau biarlah Dia yang memberi sembuh dengan jalan-Nya, tanpa obat jika Tuhan mengizinkan seseorang bisa sembuh dari segala jenis penyakit, termasuk covid-19. Maka masa isolasi itu sejatinya adalah ruang membangun keintiman dengan Sang Pemilik Hidup, Sang Pemberi Sehat. Selama ini mungkin kita banyak lupa, cara mengingat paling ampuh dengan membiarkan seseorang sendiri agar dia tahu batas kemampuan dirinya. Agar ia mulai bergantung kepada Tuhan-Nya.

3. Melakukan Kegiatan Positif
Kegiatan positif penuh faedah tentu banyak macamnya. Bisa membaca buku, menulis, menonton, memasak, mengaji, berzikir, atau aktivitas fisik yang memastikan anda tetap bergerak dan bugar. Sehat mentalnya, bugar fisiknya, dan cemerlang pikirannya. Membagi porsi makanan untuk kesehatan fisik, pikiran, dan mental sangat penting. Dengan begitu kita akan merasakan keseimbangan dalam menjalani hidup. Memulai pagi dengan ibadah, olahraga, sarapan, dan berjemur akan memberikan sentuhan kebugaran jasmani dan rohani. Hiruplah udara pagi perawan itu, rasai sengatan metahari, dan jalani hari-hari seperti biasa. Meski tentu, ada banyak gunjingan yang tiba-tiba menguar, entah dari tetangga atau siapa saja. Ada sesuatu yang lebih berat dan berbahaya dari covid-19 yaitu gunjingan dan omongan orang lain. Jangan biarkan itu merusakan suasana hatimu sebab akan berujung bahaya. Anda bisa saja kehilangan banyak hal, termasuk kesempatan sembuh dari Covid-19.

4. Bangun Suasana Nyaman
Menjalani isolasi mandiri bagi OTG itu berat apalagi sendiri. Anda bisa bayangkan, selama 14 hari hanya berkutat di rumah atau di lokasi isolasi, tanpa siapapun yang menjenguk. Kalaupun ada yang menjenguk tentu jarak dan akses terbatas. Anda akan merasa sangat dihindari. Intinya, kita tak bisa menikmati kebebasan dan keleluasaan saat diisolasi. Cara mengatasi itu dengan membangun suasana nayaman. Penting ikhlas menerima keadaan dan kenyataan. Bahwa yang terjadi tentu sudah suratan Tuhan. Dengan begitu,, kita telah mengajak diri berdamai, yang perlu dilakukan menemukan suasana nyaman. Jika merindukan pertemuan, bisa dilakukan dengan bertemu daring dengan memanfaatkan perangkat yang ada. Gawai bisa membantu mewujudkan itu, yang jelas Anda bisa menjalani masa isolasi dengan segenap rencana. Itu berguna untuk mengusir rasa bosan.

5. Mengkonsumsi Makanan Sehat Penambah Imun
Bagi sebagian OTG, Covid-19 justru menambah nafsu makan. Itu amat baik dengan mengasup makanan penambah imun. Bisa dengan mengikuti pola makan empat sehat lima sempurna, diimbangi dengan konsumsi vitamin yang direkomendasikan dokter. Dengan memperhatikan asupan makanan secara ketat, proses pemulihan menuju negatif bisa lebih cepat. Sarapan utama, makan siang jangan terlambat, dan makan malam jangan terlalu larut lalu sempurnakan dengan istrahat yang cukup.

Jadi, Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19 agar memiliki amunisi memadai. Sebagai mantan positif covid-19, tentu hal tersebut saya rekomendasikan karena memang telah saya lakukan. Tambahan sebagai penutup, saat terkonfirmasi covid-19 Anda wajib menghubungi setiap orang yang melakukan kontak 7 terakhir dengan Anda. Itu untuk memudahkan penanganan agar penularan tidak semakin meluas. Semoga kita terjaga dan terhindar dari keburukan Covid-19. Tetap sadar, sehat, produktif, dan bahagia.
7 Manfaat Menjadi Anggota Forum Lingkar Pena

7 Manfaat Menjadi Anggota Forum Lingkar Pena

Pengurus FLP Wilayah Gorontalo Periode 2016-2018

SultanSulaiman.Id, Forum Lingkar Pena adalah Lembaga pencetak Penulis Cerita di Indonesia. Klaim itu tidak mengada-ada, selama dua dekade terakhir, penulis Forum Lingkar Pena memenuhi kanal media cetak dan elektronik, serta menjadi kampiun lomba-lomba kepenulisan. Di banyak tempat, dari nusantara hingga ke mancanegara organisasi ini eksis di mana-mana. Liputan tirto.id menyebut FLP merupakan markasnya Penulis Cerita. Dari masa Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Maimon Herawati, dan kini Afifah Afrah, FLP adalah gudangnya penulis di tanah air.

Sejarah Forum Lingkar Pena dimulai dari perkumpulan di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia yang diinisiasi oleh beberapa mahasiswa Fakultas Sastra UI. Perempuan luar biasa itu: Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati bersama beberapa aktivis leterasi saat itu tampil untuk menjawab masalah krusial tentang kurangnya bacaan berkualitas bagi generasi muda. Pada tanggal 22 Februari Tahun 1997, FLP terbentuk dengan Helvy Tiana Rosa sebagai ketua pertamanya. Tercatat ada sekitar 30 orang yang menjadi anggota pertama forum ini.

Sejarah berlanjut, Muthi Masfufah, penulis berbakat asal Kalimantan membentuk kepengurusan pertama di tingkat provinsi. FLP Kalimantan Timur terbentuk dan berpusat di Bontang, diikuti dengan terbentuknya cabang di Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, dan Sangata. Pada Tahun 1999, permintaan pembentukan kepengurusan di FLP terus meningkat, hal ini dipicu oleh semakin produktifnya penulis-penulis FLP dalam melakukan ekspansi kepenulisan. Mereka menyasar para remaja dengan semangat profetik dan memberikan tawaran bacaan yang mencerahkan. Dengan meramu ide-ide tentang Palestina dan semangat kebangkitan Islam, FLP sukses menjadi idola baru bagi banyak kalangan, khusunya remaja. Tak salah jika Taufiq Ismail menyebut “FLP adalah anugerah Tuhan untuk Indonesia!”
Bersama Kang Abik Saat Kunjungan Media ke Harian Gorontalo Post

 
Saat ini, sudah ribuan orang yang terdaftar sebagai anggota Forum Lingkar Pena. Hal ini yang mendasari kenapa lembaga kepenulisan ini tidak pernah kekurangan stok penulis yang mengusung ide-ide pencerahan bagi masyarakat. Jika dibandingkan dengan banyak komunitas kepenulisan yang ada di tanah air, forum ini tidak bisa dipandang sebelah mata. FLP bukan sebatas komunitas biasa. Lembaga ini sudah menjadi wadah kaderisasi penulis pemula yang kadung bercita-cita menjadi penulis. Sekali lagi, ini tidak mengada-ada.

Visi Misi Forum Lingkar Pena pada lembaran Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangganya, pada Pasal 4 menyebut:
  1. FLP memiliki visi untuk menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan.
  2. FLP memiliki misi:
    • Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
    • Membangungan jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan. 
    • Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat. 
    • Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis.
Dari Visi Misi Forum Lingkar Pena sudah jelas perbedaan FLP dan lembaga kepenulisan lain yang ada di tanah air. Visi Misi FLP mengharuskan setiap anggotanya berkarya dengan mengusung tema yang memberikan pencerahan. Maksudnya, anggota FLP seyogyanya menjadi obor di tengah kegelapan. Mereka adalah para pembawa cahaya di tengah gelap pekatnya kehidupan masyarakat modern. Tentu dalam kerangka literasi yang beradab, sesuai dengan visi-misi yang diemban.

Nah, bagi kamu yang belum bergabung, namun memiliki mimpi menjadi penulis, FLP pilihan tepat. Komunitas ini sudah berdiri di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tinggal cek di daerahmu masing-masing. Di Sulsel, ada Forum Lingkar Pena Makassar yang sukses mengorbitkan penulis-penulis berbakat dari Timur. Misalnya, S. Gegge Mappangewa Si Raja Lomba dengan karya terbarunya Ayah, Aku Rindu. Karya novel remaja tersebut berhasil memenangkan Kompetisi Menulis Indiva yang diterbitkan Maret 2020. Ada nama Yanuardi Syukur yang sering mejeng di layar kaca dengan analisisnya seputar terorisme dan radikalisme.

Demikian pula di daerah lain, Forum Lingkar Pena memiliki total 46 wilayah yang tersebar di seluruh provinsi dan luar negeri. Adapun di tingkat kabupaten atau kota, organisasi ini memiliki 143 Cabang dan Perwakilan.
Serba-serbi FLP Wilayah Sulsel Periode 2008-2010

Apa saja manfaat yang bisa kamu dapatkan jika bergabung dengan forum ini? Berikut 7 Manfaat Menjadi Anggota Forum Lingkar Pena:

1. Akses Belajar Kepenulisan Tanpa Batas


Karena menjadi gudangnya para penulis, kita memiliki akses tanpa batas dengan dunia kepenulisan. FLP seperti yang telah disebutkan di awal adalah lembaga yang fokus melaksanakan kaderisasi calon penulis masa depan. Kita bisa berproses dengan mudah sehingga mimpi menjadi penulis akan lebih mudah menemukan muara.

2. Bekenalan Dengan Banyak Penulis


FLP itu gudangnya penulis. Hampir semua jenis penulis bisa ditemukan di sini. Dari yang serius sekelas karya ilmiah atau jurnal, sampai yang menggeluti fiksi dan cerita lucu. Bahkan yang sudah terjun ke dunia perfilm juga ada. Pokoknya penulisnya komplit. Tinggal pilih mau berkenalan dengan jenis penulis yang mana. Ada nama beken dua bersaudara yang juga adalah pendiri Forum Lingkar Pena, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Keduanya adalah penulis top yang bahkan sudah merambah ke industri perfilman. Helvi Tiana Rosa sukses mengangkat karya cerpennya Ketika Mas Gagah Pergi ke layar lebar dengan sistem crowdfunding. Asma Nadia? Jangan ditanya. Sudah puluhan buku dan filmnya yang diangkat ke layar lebar dan kaca, seperti Cinta Laki-laki Biasa, Emak Ingin Naik Haji, dan karya lainnya.

3. Jalan Tol Jadi Penulis Best Seller.


Siapa yang mau jadi penulis best seller? Karena stok penulisnya banyak, menjadi anggota Forum Lingkar Pena makin jelas manfaatnya. Anda tentu pernah membaca nama-nama kader FLP yang karyanya best seller? Selain dua nama yang disebutkan di poin 2, ada nama Habiburrahman El-Shirasy. Kang Abik dengan novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih bahkan sukses menjadi megabestseller. Karyanya tersebut juga diangkat ke layar lebar dan layar kaca dengan jutaan penonton. Mereka adalah para senior yang tidak pelit berbagi ilmu. Kalau mereka bisa, tentu kita juga bisa!

4. Belajar Berorganisasi


Manfaat lain yang bisa dirasakan ketika menjadi anggota Forum Lingkar Pena adalah anda memiliki kesempatan mengasah kemampuan untuk belajar berorganisasi. Anggota FLP merupakan para organisatoris kawakan yang dapat ditempati untuk berguru dan belajar. Ada banyak hal yang berkaitan dengan organisasi yang bisa kita dapatkan, sekaligus mengamalkan prinsip manajemen POACE yang terdiri dari Planning (perencanaan), Organizing (persiapan), Actualizing (Pelaksanaan), Controling (pengontrolan) dan Evaluating (evaluasi). Berani coba? Jadi organisasi ini menawarkan belajar tak sekadar teori.

5. Menemukan Keluarga Rasa Saudara


Anggota FLP antara satu dengan lainnya adalah keluarga. Kamu bisa menemukan anggota keluarga laiknya saudara kandung. Bisa menjadi sarana saling berbagi dan bertukar cerita. Di FLP, kita diajarkan secara alamiah untuk berbagi suka, duka, dan senang selalu bersama. Asyik bukan?

6. Menduplikasikan Kebaikan


Ada banyak ruang kebaikan yang bisa dieksploitasi dengan menjadi anggota forum ini. Melalui jalan menulis, setiap kita dapat dengan mudah menduplikasikan kebaikan ke banyak kepala. Menulis untuk mencerahkan, kita akan berupaya menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Bukan sekadar karya menghibur, tetapi juga menggerakkan kemampuan kolektif berbuat baik bagi sesama.

7. Belajar Berjejaring


Manfaat lain yang bisa didapatkan adalah belajar berjejaring. Bayangkan, anda bisa berkenalan dengan saudara sebangsa-setanah air, bahkan yang berada di luar negeri dengan memanfaatkan pertemanan di FLP. Karena anggotanya tersebar di mana-mana, jelas ini peluang untuk memperluas jaringan . Jumlah Anggota aktif lembaga ini yang tercatat sebanyak 3.271 orang dan akan terus bertambah. Diperkirakan, anggota yang tidak tercatat ada di angka 4.000 orang yang tersebar di 46 wilayah dan 143 cabang di Indonesia dan luar negeri. Dahsyat bukan? Ini kesempatan bagi kamu yang ingin menjadi anggota Forum Lingkar Pena. Apalagi di masa sekarang, jaringan memiliki pengaruh besar dalam menunjang jalan kesuksesan seseorang, termasuk kesuksesan menjadi penulis.

Luar biasa bukan? Itulah 7 manfaat Menjadi Anggota Forum Lingkar Pena. Tunggu apalagi. Segera bergabung menjadi anggota dengan mendaftarkan diri di Cabang/Wilayah di daerahmu. Untuk berkenalan lebih jauh, kamu bisa membuka website flp.or.id dan berselancarlah tanpa batas untuk mewujudkan mimpimu menjadi penulis masa depan. 

Simak juga:

Pak Jokowi, Berdirilah Bersama Rakyat!

Pak Jokowi, Berdirilah Bersama Rakyat!

foto miks dari voi.id dan m.mediaindonesia.com

SultanSulaiman.Id, Untuk rakyat pelupa seperti kita, “citra” selalu menjadi senjata ampuh mendulang suara. Lihatlah, bagaimana jutaan rakyat Indonesia tersihir citra SBY di masa dulu. Dua periode, dagelan prestasi terpoles manis, SBY bertakhta mulus ke tampuk kepemimpinan tertinggi negeri ini. Meski, menjelang akhir masa jabatannya, SBY menerima caci-maki, karena mereka yang memilihnya dulu merasa telah salah pilih. Kasus besar mencuat akhirnya, Century, Hambalang, lalu parade Cicak vs Buaya yang melelahkan itu. Tapi, apa guna segala cari-maki bagi kita yang memang amat “pelupa” ini?

 
Banyak wajah-wajah yang tampil mengesankan. Di mana-mana, ruang-ruang publik berhias meriah wajah-wajah baru yang sebenarnya usang. Dari sekian banyak wajah itu, bagi banyak orang, ada satu rupa yang jelas membuat publik jatuh hati. Dialah Jokowi, lelaki kerempeng Penguasa Ibukota itu hadir bak nabi, kemunculannya seolah mengusir dahaga rakyat yang telah “sakau” dikibuli politisi.

Jokowi tampil kontras di tengah keumuman wajah politisi kita. Kekontrasan ini melahirkan “harapan baru” untuk Indonesia yang lebih baik. Jokowi yang apa adanya, sederhana, lugas, bertindak cepat, dekat dengan rakyat telah mengesankan perhatian publik. Jokowi dielu-elukan. Dia adalah representasi rakyat yang telah lama merindukan dewa penolong di tengah hidup yang semakin nelangsa. 
 
Setelah mendapat mandat dari Ketua Umum PDI-P untuk maju sebagai calon presiden 2014, Jokowi mengumumkan kesiapannya melalui televisi. Berlatar rumah Si Pitung, dan selembar kain merah-putih, Jokowi dengan mantap bersuara lalu mencium bendera. Lirih suara wartawan yang meliput mengucap “amin”. Sontak, pengumuman pencapresan itu ditengarai akan mengubah konstalasi politik kita. Jokowi dipastikan akan melanggeng mulus ke pucuk pimpinan tertinggi negeri ini. Hampir dipastikan, Jokowi tak terkejar wajah-wajah lain yang terlalu sering mejeng di layar kaca. Partai Golkar melempar sinyal akan menganulir Ketua Umumnya Abu Rizal Bakri karena tidak juga menunjukkan kenaikan angka elektabilitas memadai. PDI-P lihai membaca peluang, momentum ini tidak bisa dilewati jika Partai Banteng itu ingin mendulang suara dominan di pemilu mendatang.

Jalan yang Tak Mulus

Sebelum keluarnya nama calon presiden dari PDI-P, telah merebak kabar soal “Perjanjian Batu Tulis” antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Sang Jenderal menagih janji, pada pemilu tahun ini Megawati harus mendukungnya menuju takhta kepresidenan. Dasar perjanjian itu tentu kuat, karena berbubuh tanda tangan di atas meterai. Nyatanya, perjanjian itu telah dilanggar dengan keluarnya mandat pencapresan Jokowi oleh PDI-P. Mungkin, akan ada langkah hukum yang akan ditempuh selanjutnya, mengingat Prabowo dan Gerindra merasa dikhianati. Jika proses ini berlanjut, tentu akan jadi sandungan bagi Jokowi dan PDI-P.

Di sisi lain, adalah Ade Ardiansyah Utama, mantan Ketua Tim Relawan Jakarta Baru yang mendukung Joko Widodo pada Pilkada Jakarta lalu mengungkapkan kekecewaannya. Bersama sekitar 180 Perwakilan Tim Relawan, Ade mencabut mandat Jokowi sebagai Gubernur pada Senin (17/03) (m.jpnn.com) juga berencana memolisikan Jokowi. Tak hanya itu, Ade juga menyerukan kepada seluruh khalayak Jakarta agar mengosongkan Jakarta dari PDI-P. Partai Banteng itu dinilai bertanggung jawab karena telah merampas Jokowi dari posisinya sebagai Gubernur untuk diserahi mandat baru. Sebagai calon presiden. Tertuduhlah Jokowi sebagai kutuloncat, pengkhianat, tidak menepati janji, dan ragam label negatif lainnya.

Pendapat senada keluar dari Rahmad M Arsyad, direktur Riset IDEC juga dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta dalam tulisannya “Jokowi, Mega, dan Politik Machiavelli”. Rahmat menilai keputusan PDI-P mencalonkan Jokowi jelas pragmatis. Keputusan itu mengambil dasar dari angka tinggi elektabilitas Jokowi yang dirilis oleh banyak lembaga survei. Oleh Rahmad, Jokowi dinilai telah melabrak aspek etika, kehormatan, juga tanggung jawab, dan amanah kepemimpinan yang diembannya. Praktek semacam itu dalam bahasa Machiavelli sebagaimana dikutip Rahmad disebut impetuous.

Sandungan selanjutnya yang bisa saja jadi penghalang adalah adanya dugaan kuat bahwa para penyandang dana penyokong pencapresan Jokowi ditengarai merupakan jaringan komlomerat hitam. Ada nama James Riady yang memiliki rekam buruk, termasuk aktif dalam mengampanyekan doktrinasi aliran agama dan ideologi tertentu yang mengusik kalangan mayoritas (Islam) di negeri ini. Suara-suara yang mengebiri Jokowi bermunculan, mulai dari pentolan Muhammadiyah juga politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amin Rais, mantan Ketua Umum PB NU KH. Hasyim Muzadi, terakhir suara keras dilantangkan oleh Sekretaris Jend. Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nassir.

Suara-suara tersebut jelas menunjukkan representasi kalangan mayoritas yang telah membaca adanya motif lain di balik mendadaknya PDI-P mengajukan Jokowi sebagai calon presiden. Jokowi meski berulangkali telah menyatakan menolak, namun pernyataan kebersediaannya jelas mengandung makna tersirat. Amat misteri tentunya. Jokowi berbalik arah, berselisih dengan janjinya sendiri pada Rakyat Ibukota.

Tak Terbendung

Hanya saja, Jokowi diakui hampir tak terbendung. Drama ini jelas telah dapat diprediksi akhirnya. Hal ini dikuatkan oleh Eep Saefulloh Fatah, Pendiri dan Pemimpin PolMark Indonesia Inc, dalam tulisannya “Momentum Politik Jokowi?” bahwa Jokowi telah diasosiasikan sebagai “Pembuka Jalan Keluar” terhadap ragam persoalan kebangsaan yang saat ini kita hadapi. Jokowi adalah sang superhero penghapus dahaga juga air mata rakyat kita yang telah lama berkabung lara.

Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan sosok-sosok calon presiden yang telah lebih dulu mangkal di layar kaca, Jokowi jelas merepresentasikan kelompok baru karena usianya jauh lebih muda. Oleh Eep Jokowi disebut sebagai perwakilan “Generasi Baru” Indonesia. Jokowi dianggap lebih bisa mewujudnyatakan harapan-harapan perbaikan karena sosoknya yang terlanjur diasosiasikan bersih, jujur, berani, tegas, dan sederhana. Ya! Dari segi rekornya, Jokowi hampir tidak bermasalah, beda dengan calon-calon lain yang memiliki beban sejarah yang berat. Akhir cerita Jokowi berakhir di Istana Negara sebagai Presiden Ketujuh Republik ini. Tidak sampai di situ, seperti yang disaksikan, Jokowi bisa melenggang dua periode.

Prahara

Hari ini dan hari-hari ke depan, bahkan jika Tuhan mengizinkan sampai 2024, Jokowi telah menjadi panglima tertinggi, menyayomi dua ratus juta jiwa rakyat negeri ini yang menggantungkan harapan dari janji-janji manis, sejak menjabat di periode pertamanya, hingga periode kedua.

Ada banyak suara-suara nyaring yang mulai berdengung, laksana lebah yang beterbangan menyengat ke banyak sudut. Gerakan massif akhirnya menguar di mana-mana. Adalah Undang-udang Cilaka Omnibus Law tampak membentangkan petaka di tengah gempuran pandemi yang masih meraja. Rakyat, seperti terjatuh, tertimpa tangga, lalu terinjak-injak. Suara-suara orang lapar akhirnya mengaung. Ada yang menyebut jika gelombang protes massa ini akan berujung pada peristiwa yang lebih besar. Semoga tidak.

Atas desakan suara-suara itu, Pak Presiden Jokowi harusnya sudah menemuka titik krusial yang terjadi. Bahwa lingkaran oligarki saat ini makin rakus dan tumbuh-subur. Saatnya Jokowi berdiri bersama rakyat dan melakukan pembersihan total. Sudah saatnya Presiden memiliki sikap mandiri yang kokoh atas segala yang terjadi selama ini. Sudah masanya presiden, meredam segala ragam suara sumbang yangberbicara atas nama pemerintah. Semestinya, taka da suara lain yang lebih nyaring dari suara Presiden.

Di arus bawah, aparat dan rakyat berhadap-hadapan. Jika dibiarkan, prahara akan bergerak ke mana-mana. Berbahaya bila, prahara ini menemukan momentum konsolidasinya. Lalu rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Hanya soal waktu saja. Pak Presiden, berdirilah bersama rakyat!(*) 
Cerpen: BiroCrazy

Cerpen: BiroCrazy


SultanSulaiman.Id, Kau membuka lembaran surat itu. Surat teguran yang dilayangkan kepadamu karena vonis melanggar aturan. Ada rentetan alasan yang membuat keningmu berkerut. Kau mencoba mencerna lebih dalam. Pertama, ketidakpuasan atas pelayanan. Kedua, tidak loyal kepada pimpinan. Ketiga, perbuatan melawan hukum. 


Ada yang bergemuruh di balik dadamu. Dituding semacam itu membuat darahmu mendidih. Tak butuh waktu lama, kau membawa serta surat itu. Langsung menghadap pimpinan tertinggi. Kau butuh penjelasan atas tuduhan yang bagimu mengada-ada. Bersisa beberapa langkah lagi. Seseorang mencegatmu.

“Bapak tidak bisa diganggu!”

Protokol khas ala sekretaris pribadi.

“Saya ingin klarifikasi ini?!”

Kau menunjukkan surat itu. Sembari sedikit memaksa, mencoba menerobos.

“Nanti ditunggu saja Pak. Akan ada rapatnya hari ini. Di agenda Bapak Kepala, Pukul 16.00!” Jelas perempuan mirip Raisa sambil mengulum senyumnya tipis.

Kau mengalah. Sembari mencerna pasal rapat. Belum ada yang memberitahumu, selain sang sekretaris. Kau memilih mundur. Meski ada kejanggalan yang kau cium di balik rencana rapat itu.

Hingga waktu yang ditentukan tiba, saat senja sudah turun. Tanda-tanda rapat digelar belum tampak. Kau gelisah. Seorang sudah menghubungimu berkali-kali. Ah! Mestinya, pukul segini kau sudah di rumah. Bermain dengan para bocah dan mengurangi beban istrimu yang lelah karena urusan rumah tangga. Kau mencoba mengecek, menyambangi meja sekretaris. Perempuan ayu itu asyik memperbaiki riasan dan baru selesai memoles bibirnya dengan lipstik.

“Jadiji ini rapat?”

Kau mulai memberi penekanan suara pada pertanyaanmu. Sontak sang sekretaris mengalihkan perhatiannya kepadamu.

“Iye Pak…Sebentar lagi. Bapak masih ada urusan!” ucapnya setelah itu bergeming.

Kau sepertinya tak lagi sanggup menahan diri. Kau balik kanan, pulang ke rumah. Tak menghiraukan rapat yang ngaret terlampau lama. Rapat akhirnya digelar, saat senja telah sirna. Rapat tanpa kehadiranmu dengan agenda membahasmu!

***

Hari sudah gelap, saat kau memutuskan menghubungi seseorang. Masa-masa genting akan kau hadapi sejak saat ini dan beberapa waktu ke depan. Ada banyak hal yang ingin kau bagi. Birokrasi tak seindah imaji kala kau memutuskan berkarier pertama kali. Wajah-wajah peninggalan Orde Baru, tingkah laku feodalistis, dan mental asal bapak senang. Kau hadapi semua itu dengan idealismemu. Idealisme yang bagi banyak orang hanya tahi kucing. Sepertinya, kau tak akan sanggup bertahan. Apalagi, kau sendiri.

“Tunggu…! Saya ingin ketemu!” Katamu…

“Oh boleh…Gunakan SOP Covid-19 ya. Pakai masker dan jaga jarak!” Pemilik suara nyaring itu berkelakar.

Setelah memesan angkutan, kau menyiapkan bawaan. Beberapa potong pakaian kau masukkan ke ransel. Cukup. Tak lama, angkutan yang akan membawamu sudah tiba. Kau pamit kepada istri dan anak-anakmu. Kali ini kau akan tega membiarkan dua bocah yang tak ingin melepaskan pelukan ayahnya!

“Ayah tidak akan lama kok…!” Ucapmu menenangkan.

Pelukan itu akhirnya meregang dan kau melangkah pergi. Mini bus membawamu melintasi jalan darat lintas provinsi.

Pokoknya tunggu! Kita harus ketemu. Ini penting! Siapkan perjamuan terbaik.

Lelaki yang kau hubungi masih menganggapmu bercanda. Setelah menerima pesan darimu. Dia memilih melanjutkan tidur. Tidur yang meski pulas tetap dibaluri tanda tanda. Apakah kau serius akan pulang kali ini.

***

Pertemuan dihangatkan seduhan kopi. Kepulan asapnya menguar ke udara membawa aroma semerbak menggoda. Di sudut kota, lalulang manusia tetap saja ramai. Tampaknya, seperti dirimu, semua orang mulai tak peduli wabah. Ada suguhan bolu paranggi. Penganan khas Mandar yang bisa melelehkan air liur. Kopi hitam tanpa gula sangat pas menemani suasana pagi semacam ini. Di depanmu, lelaki yang sangat ingin kau temui setia mendengar rentetan kata-kata yang kau muntahkan.

Sama sepertimu, kawan itu sudah merasai dunia birokrasi sejak lama. Sejak hengkang dari kampus, takdir membawanya menyusuri lika-liku birokrasi yang dulu sering jadi pelampiasan kemarahan demonstran. Lalu, kisah belasan tahun itu kembali tergelar. Lelaki di depanmu itu yang mengajakmu merasai parlemen jalanan. Berjalan berpeluh menyusuri jalan-jalan kota, menumpahlampiaskan amarah di depan gedung-gedung megah.

Pengalaman yang tak mungkin kau lupakan: orasi, bakar ban, memblokir jalan, dan bersitegang dengan petugas. Kau dan gerombolan demonstran tak pernah bisa bersahabat dengan birokrasi yang penuh aroma Korupsi Kolusi dan Nepotisme itu.

Kini, lelaki di hadapanmu sesekali membuang napasnya berat. Kau masih saja menuturkan apa yang kau alami.

“Saya tidak bisa mengikuti pola birokrasi yang ambigu. Bagi saya, kalau hitam ya hitam, kalau putih ya putih. Tak bisa dicampur-adukkan! Saya sulit berkompromi. Apalagi diminta membuat sesuatu yang melanggar aturan!” Kau menggebu-gebu,

“Yang kau lawan adalah gerombolan bukan? Dan kau hanya sendiri? Mereka itu punya akses ke banyak pemangku kepentingan dan orang-orang berpengaruh!” Lelaki itu mulai menjejalimu, sebenarnya ia ingin kau jeli membaca situasi.

“Iya saya sendiri, makanya saya mau cari teman!” Kau mempertegas.

“Makanya bantu saya. Bapak kan masih punya banyak jaringan yang bisa digerakkan!?” Kau menambahkan.

Lelaki di depanmu nampak berpikir. Memang, kau melihat ada banyak perubahan yang terjadi pada sosoknya. Bentuk badannya sudah semakin bulat dan kau masih konsisten dengan bodi ramping. Kau menduga daya kritisnya sudah hilang.

“Di lingkungan sekarang. Kita tak hanya butuh benar tapi juga pasukan. Sendiri benar akan mudah disingkirkan karena kita berhadapan dengan banyak orang!” Kalimat itu kembali dipertegas.

“Saya tetap akan lawan. Apa ada yang bisa disambungkan dengan jaringan lama semasa di kampus dulu?” Kau mendesak.

Lalu lelaki itu menghubungi seseorang. Setelahnya kau diminta berbicara langsung.

Kau sedikit tergagap menyampaikan maksud. Tapi bagimu, perang ini sudah berkobar. Kompromi bukan jalan aman menurutmu.

“Memang agak sulit. Tapi, untuk kondisi sekarang bersabar jauh lebih baik. Orang-orang ini akan lekas berganti, entah masa tugas berakhir atau pergi sebelum waktunya!” Lelaki di hadapanmu berceramah.

“Tapi tak bisa terus-terus dibiarkan. Saya sudah cukup bersabar!” Kilahmu

Terngiang lagi perlakuan itu. Kau yang sudah bersungguh-sungguh menunjukkan pelayanan terbaik. Mencapai target pekerjaan tiga kali lipat dari target sebelumnya. Hanya karena satu laporan dari klien yang menurutmu mengada-ngada. Kau diperkarakan, dianggap mempersulit pelayanan, melawan perintah atasan, dan melanggar aturan. Padahal yang kau lakukan menegakkan aturan.

Prosedur yang kau lakukan sudah benar. Tapi benar saja tidak cukup. Saat melakukan verifikasi berkas, ada yang mesti dibenahi. Kau meminta yang bersangkutan melakukan perbaikan. Celaka. Sebab kau tak pernah tahu. Siapa sosok yang telah kau tolak itu. Dia yang lulusan doktor luar negeri dan memiliki akses langsung ke lingkaran kekuasaan. Tak ada jalan lain selain kau dipaksa menurut, divonis abai menjalankan pelayanan prima. Jelas kau tak terima, kau melawan. Surat teguran itu hadir sebagai jawaban.

“Itu kebijakan. Ada banyak kebijakan yang kadang melanggar aturan. Itu dianggap biasa dalam birokrasi. Aturan dibuat buat dilanggar kan? Di situlah celahnya. Pasti mengerti?” Lelaki itu sudah hampir menandaskan kopinya.

Kau masih belum bisa menerima dikorbankan semacam ini. Semangat parlemen jalanan masih membara di dadamu.

“Berikan saja kontak kawan aktivismu. Saya akan lawan!” Kau berapi-api.

Sorot mentari sudah menghangat. Sudut kota kian ramai. Ada banyak kehidupan piatu di sini. Kehidupan yang berjalan apa adanya bahkan tanpa mesin birokrasi mengaturnya. Semuanya kacau sejak dalam pikiran. Kau menyaksikan dunia terbelah. Ketimpangan di mana-mana. Rakyat dan penguasa sama-sama lapar. Dua kelompok ini menghabisi apa saja asal bisa makan dan kenyang. Kau merasakan segalanya nyata sebab kau menjelma sebenar-benar aktor dan menjadi bagian pencipta ketimpangan.

“Tambah segelas lagi!” Kawanmu bersuara.

“Saya juga!” Kau menambahkan. Padahal maksud kawanmu itu sudah jamak dipahami.

“Saran saya, ikuti iramanya. Berkarierlah. Apa yang bisa kau lakukan jika hanya menjadi pegawai rendahan?!” Saran yang menohok.

Lelaki demonstran di depanmu sudah memilih jalan itu. Dia sadar, yang dihadapinya begitu digdaya. Maka ia menyampaikan saran karena sadar yang kau hadapi nyaris sama besarnya. Bahkan mungkin lebih parah.

Ritual kopi dan perbincangan itu berakhir. Lelaki itu membawamu menyusuri jalan-jalan kecil, hingga tiba di tepi pantai reklamasi. Orang masih saja sibuk lalu-lalang. Di depanmu, desau angin membawa gulungan ombak kecil kemudian pecah di bibir pantai. Suara gemuruh ombak seakan lebur bersama debur di dadamu.

“Tadinya…Saya menganggap idealisme itu bisa menyelamatkan. Melawan terang-terangan terlihat hebat, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ada banyak gerombolan yang terancam. Memperkarakan orang yang merasa hebat sendiri itu sangat mudah. Hanya dengan memanfaatkan celah. Semuanya bisa tamat.

“Saya pernah diinterogasi masalah anggaran. Dituduh korupsi. Yang menjijikkan dari birokrasi itu, orang-orang yang suka menuduh-nuduh justru pelahap uang negara paling rakus. Itu terjadi…!

“Lantaran karena yang dinikmatinya mulai berkurang, orang-orang ini berang. Membangun koalisi untuk menyingkirkan. Sehari, berjam-jam, di hadapan tiga polisi, saya dipaksa untuk takluk oleh sejumlah tuduhan.

“Padahal. Saya memanfaatkan kebijakan. Seluruh sisa anggaran yang tak diserap kegiatan disimpan untuk dikembalikan ke masyarakat. Para mahasiswa yang kerap datang bawa proposal kegiatan, tak mungkin melulu didonasi dengan gaji. Sisa anggaran digunakan untuk itu. Untuk pos kegiatan yang tak dibiayai negara. Tapi orang-orang yang terbiasa kenyang, akan nyaring berteriak jika mulai sedikit kelaparan. Bedebah bukan? Sialnya, orang-orang macam itu terlalu banyak!”

Kau sedikit memahami, tapi terlanjur mengikrarkan perlawanan. Bagimu, bara sudah terlanjur menggeliat dalam sekam. Prinsipmu, tak apa dikalahkan asalkan kukuh dalam kebenaran. Lalu, perjumpaan lekas berakhir. Kau teitu supamit kembali. Sebentar lagi tumpangan akan membawamu ke Kota Daeng.

***

Ada beberapa bukti yang kau serahkan kepada lelaki yang kau akrabi lewat ponsel. Kawanmu yang memperkenalkannya kepadamu. Lelaki yang sudah lama menjadi pengintip kesewenangan birokrasi. Dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat dan membantu tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Kau bertemu. Ada tiga tumpukan berkas yang kau serahkan. Pertama, pemanfaatan isu pandemi untuk menarik iuran yang tidak sedikit. Kedua, pemangkasan nominal beasiswa mahasiswa kurang mampu di salah satu kampus. Ketiga, para dosen di beberapa universitas swasta yang menggunakan ijazah palsu.

Lelaki itu menerima tumpukan berkas penuh sumringah. Dia mendapati bahan renyah untuk menciptakan teror. Sedang kau serasa sudah lepas beban. Kalian berpisah. Kau memilih berjalan menyusuri jalanan ramai Kota Daeng. Ada notifikasi yang masuk di teleponmu. Sebuah surat elektronik dari Kantor Pusat di Jakarta. Sebentar lagi, keributan akan pecah di kantormu. Kau tersenyum dan mengabaikan panggilan telepon. Kau tahu, yang menelpon itu, seseorang yang melayangkan surat teguran kepadamu. Tentu surel itu sudah sampai kepadanya. Dia punya sekretaris cekatan, yang mirip Raisa itu.(*)

Simak juga: 
BNN Kabupaten Polewali Mandar Latih Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Swasta

BNN Kabupaten Polewali Mandar Latih Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Swasta

SultanSulaiman.Id, Badan Narkotika Nasional Kab. Polewali Mandar melaksanakan Kegiatan Pengembangan Kapasitas dan Pembinaan Masyarakat Anti Narkoba dalam bentuk Workshop yang menyasar lingkungan swasta dan pelaku dunia usaha di Kab. Polewali Mandar. Kegiatan ini digelar pada Rabu (12/08) di Warung Kopi Kanneq Kompleks Alun-Alun Polewali.


“Ada 20 orang Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Swasta dan Dunia Usaha yang direkrut oleh BNN Kab. Polewali Mandar yang diharapkan akan bersinergi dengan BNN dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN) di Kab. Polewali Mandar” papar Kepala BNNK Polman, Syabri Syam, S. Pd., M. Si.

Workshop Lingkungan Swasta menjadi wadah pembekalan awal bagi para Penggiat Anti Narkoba di Kab. Polewali Mandar. Penggiat Anti Narkoba merupakan individu yang dibina dan dilatih oleh BNN yang berfungsi membantu dan mendukung BNN untuk melaksanakan tugas dan fungsi BNN bidang pencegahan dan rehabilitasi. Tujuan pembentukan Penggiat Anti Narkoba adalah untuk membangun budaya hidup sehat anti narkoba dengan menunjukkan bahwa masyarakat adalah subyek yang memiliki peran penting dalam mendukung program P4GN.

Hadir sebagai narasumber dari Polres Polewali Mandar, Aipda Ibrahim, SH selaku Kanit Idik I Satuan Narkoba Polres Polman. Dalam penyampaiaannya, Aipda Ibrahim memaparkan tentang Aspek Hukum P4GN dan membedah lebih jauh tentang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dalam sesi diskusi, Hasbi salah seorang peserta mempertanyakan tentang perbaikan UU No. 35 Tahun 2009 agar lebih memiliki efek jera.

Peserta lainnya, Febri Mahara Yuni membeberkan bahwa dalam beberapa kasus, sesuai dengan pengalamannya sebagai apoteker. Yuni kerap menemukan adanya modus yang digunakan oleh penyalahguna dengan mencampurkan obat deuretik untuk menetralisis sabu dalam urine agar menyamarkan hasil pemeriksaan untuk mengelabui petugas. Dengan begitu hasil pemeriksaan urine bisa saja negatif.

Kepala BNNK Polewali Mandar, Syabri Syam, S. Pd., M. Si membawakan materi tentang Narkoba dan Permasalahannya. Dalam paparannya, Kepala BNNK Polman menyebut bahwa ada kecenderungan peningkatan prevalensi penyalah guna narkoba dari tahun ke tahun. Di Kab. Polman sendiri kehadiran BNN adalah kabar baik sekaligus peringatan karena status Polewali Mandar sebagai Kabupaten dengan angka penyalahgunaan dan kasus narkoba paling tinggi di Sulawesi Barat.

Taufan, Owner Warkop Klasik Polewali Mandar mempertahanyakan tentang kaitan Undang-Undang No. 97 tentang Psikotropika dan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009. Lelaki yang berprofesi sebagai advokad ini mengulik banyaknya narkoba jenis bahan adiktif yang belum dimasukkan di dalam lampiran aturan yang ada, sehingga berpotensi menjadi celah bagi penyalah guna dan pengedar narkoba. Apalagi saat ini bermunculan jenis narkotika baru yang memang belum dimasukkan dalam lampiran undang-undang yang ada.  
Kegiatan Workshop Lingkungan Swasta juga menghadirkan narasumber dari Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kab. Polewali Mandar. Drg. Chareiah Dahlan Saleh, M. Kes yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Pekkabata menyampaikan tentang Efektivitas Program Rehabilitasi Medis Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Obat-Obat Terlarang di Tengah Pandemi Covid-19. Dalam paparannya, dokter sepuh ini membahas lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan aspek adiksi dan rehabilitasi, mengingat status PKM Pekkabata sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) di Kab. Polman.

Febri Nahara Yuni dari Warkop F & B mempertanyakan tentang kandungan kafein pada kopi. Apa dengan adanya kafein dalam kopi itu berarti bahwa kopi termasuk jenis narkoba.

Pertanyaan ini dijawab narasumber dengan menyebut bahwa seluruh jenis narkoba apa pun itu memiliki efek adiksi dan psikoaktif, artinya berpotensi menimbulkan kecanduan dan perubahan perilaku. Termasuk penggunaan berkepanjangan akan merusak jaringan sistem saraf pusat penggunanya. Hal ini akan menimbulkan dampak fisik, psikis, dan sosial yang lebih parah.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNK Polman, Sultan Sulaeman, S. Sos sebagai narasumber penutup menyampaikan tentang Peran Penggiat Anti Narkoba, Rencana Aksi, dan Simulasi Program. Sultan menyebut bahwa, kehadiran penggiat anti narkoba sangat dibutuhkan dalam rangka membangun jejaring dan kerja sama dengan seluruh pihak dalam upaya P4GN di Kab. Polewali Mandar.

“Dengan adanya penggiat, upaya menciptakan lingkungan yang sehat bersih narkoba bisa terwujud di Kab. Polewali Mandar!” Ungkapnya.

Workshop Lingkungan Swasta BNNK Kabupaten Polewali Mandar ditutup dengan penyerahan sertifikat Penggiat Anti Narkoba secara simbolis kepada dua orang peserta oleh Kepala BNNK Polewali Mandar. Dalam sambutan penutupnya, Kepala BNNK Polman berharap kehadiran penggiat anti narkoba lingkungan swasta dan dunia usaha dapat mendorong dan memberikan kontribusi efektif bagi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Kab. Polewali Mandar. (*)
Simak Juga:
Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir

Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir



SultanSulaiman.Id, Helmy Fauzy, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir menyebut kasus Covid-19 di Mesir terus mengalami peningkatan. Sejak dua bulan lalu, ada sekira 17 ribuan warga Mesir yang sudah terinfeksi. Jumlah itu makin melambung sejak Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini. Fauzy membeberkan, dari seluruh total positif saat itu, belum ada satu pun Warga Negara Indonesia (WNI).


Memasuki Juli, data (19/07), angka positif Mesir sudah di posisi 87 ribu dari total 101,49 juta warga Mesir. Dari jumlah yang positif itu, ada 10 orang WNI. Sepuluh orang itu, menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir diketahui saat hendak mengurus kepulangan ke Indonesia. Karena positif, mereka harus tertahan. Mereka menjalani isolasi mandiri di asramanya masing-masing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Mesir, belum menyiapkan ruang Isolasi khusus bagi WNI positif.

Dari sepuluh, empat orang positif nekat pulang ke Indonesia. Dua orang dinyatakan sembuh, bersisa empat orang lagi yang masih dinyatakan reaktif oleh pihak KBRI.

Bagaimana nasib WNI di tengah terjang badai Covid-19 di Negeri Firaun itu?

Nyatanya, angka empat orang itu sangat meragukan. Mereka yang dinyatakan positif baru diketahui karena hendak pulang ke tanah air. Persyaratan pemeriksaan Covid harus dengan PCR. WNI yang hasil PCRnya positif tak mendapat izin pulang.

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Ada 9.407 WNI di Mesir, 6.896 orang merupakan pelajar/mahasiswa. Karena ketiadaan ruang isolasi mandiri, mereka yang terdeteksi positif tetap tinggal di asramanya masing-masing. Tinggal, tapi tidak berdiam. Kebutuhan harian selalu memaksa mereka keluar asrama, karena bantuan dari pemerintah tidak cukup buat bertahan. Dalam kondisi sakit, lapar, jalan mudahnya keluar asrama, mencari penghiduan. Jika masih ada uang, kebutuhan pokok bisa dibeli, jika tidak tentu akan meminta belas kasih kawan setanah air untuk bertahan hidup. Alasan karena terlalu “sulit” itu yang menjadikan mereka yang harusnya bertahan nekat pulang ke tanah air karena sudah terlanjut beli tiket pesawat.

Ada frase yang berkembang tentang “memfasilitasi” dan menginisiasi wadah “isolasi”. Nyatanya, KBRI dalam Bahasa memfasilitasi itu tetap memungut bayaran untuk pemeriksaan PCR. Salah seorang mahasiswa menyebut angkanya pada kisaran 70 dolar. Jika memilih memeriksakan diri secara mandiri di Rumah Sakit Mesir pungutannya mencapai tiga ripu pound. Bagi mahasiswa tunggal, apalagi yang berkeluarga dengan satu, dua, tiga bahkan lebih anak, itu memberatkan. Belum untuk tiket kepulangan yang juga harus ditanggung sepenuhnya. Dari Mesir ke Jakarta, jika dirupiahkan sekitar Rp. 7 juta per orang. Butuh setidaknya Rp. 13-14 juta untuk tiket pulang-pergi Mesir-Jakarta

Pihak KBRI telah menyalurkan paket bantuan sosial berupa bahan pokok yang nilainya Rp. 300 ribu per orang. Sejauh ini, KBRI sudah dua kali menggelar paket bantuan. Hanya tak semua WNI dapat dari total sembilan ribuan orang sejagat Mesir.
Melalui laman resmi KBRI, ada siaran tentang Menjawab Isu yang Berkembang di Kalangan Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir Mengenai Penanganan COVID-19





KBRI mencoba mengelak dan menggunakan hak jawabnya berkaitan ragam isu yang diserbukan oleh WNI, khususnya mereka yang berstatus sebagai mahasiswa dan pelajar. Ada selentingan suara nyaring tentang: kami butuh makan dan uang, bukan masker. Suara-suara nyaring semacam itu jelas bisa dipahami, hidup di negeri orang dalam kondisi serba tidak pasti akan memancing banyak persoalan yang lebih runyam. Muhammad Rizal Fachriyan, mahasiswa Hukum dan Syariah Al-Ahzar pada laman PPMI Mesir menulis tentang beberapa soalan yang rabun: dana bantuan sosial, alat pelindung diri, dan tempat isolasi WNI yang mestinya bisa dipenuhi oleh KBRI Mesir. Bahkan lebih jauh, M. Rizal menuding pihak KBRI Mesir seolah menyepelekan pandemi Covid-19 yang sudah meneror ribuan WNI Mesir.

Sebagai upaya pencegahan, ada juga pertanyaan tentang: mengapa KBRI tidak melakukan tes PCR gratis kepada seluruh WNI? Seperti yang dilakukan oleh KBRI Iran. Setidaknya hal tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah simpang-siurnya kondisi Mesir paska kudeta Militer beberapa tahun lalu. KBRI Mesir justru beranggapan bahwa yang paling berhak melakukan proteksi dan penanggulangan Covid-19 di Mesir adalah Pemerintah Mesir itu sendiri. Pernyataan seperti itu jelas bentuk abai terhadap tanggung jawab. Masa iya tugas KBRI hanya update status Covid-19 setiap hari? Semetara ribuan WNI Mahasiswa terancam hidupnya akibat asupan makanan minim gizi di tengah kepungan teror pandemi.
Simak Juga:
Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

https://www.mainmain.id

SultanSulaiman.Id. Saat ini, di seluruh dunia. Kasus Covid-19 semakin bertambah. Data (22/07) Covid-19 sudah menjangkiti 15 juta orang menurut laman Worldometers yang dikutip kompas.com.

Sejak diumumkan Desember tahun lalu, Covid-19 menjadi momok yang (banyak) menciutkan nyali. Covid-19 menjadi teror baru bagi kehidupan manusia abad modern. Dari Negeri Tirai Bambu, di kota kecil bernama Wuhan, sejak diumumkan kasus pertama, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, Corona memaksa dilazimkannya pola hidup baru yang membatasi akses antar-manusia.

Namun demikian, di negeri kita, sejak diumumkan kasus pertama pada Februari lalu, sikap sebagian besar masyarakat Indonesia setidaknya terbagi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang merespon Corona sangat berlebihan alias hiperaktif. Kelompok ini yang mendesak lebih awal penutupan seluruh akses perjumpaan manusia. Bahwa lockdown harus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek lain, termasuk perlambatan ekonomi yang berujung pada timbulnya masalah sosial lainnya.

Kedua, kelompok penganut teori konspirasi. Bahwa Corona tak lebih dari sekadar akal-akalan yang memiliki muatan bisnis belaka. Virus ini hadir dalam rangka melanggengkan motif ekonomi di belakangnya. Ada virus pasti ada vaksin. Virus sengaja disebar agar vaksin bisa dijual. Kelompok ini mengaminkan pernyataan Bossman Mardigu dan Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Ketiga, kelompok santai euy alias santuy. Kelompok ini, baik sebelum pandemi Covid-19 menyerang hingga saat ini Corona sudah memakan korban, masih tetap menjalani aktivitas semau dia. Seolah tak terjadi apa-apa. Mereka menolak apa yang disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tetap berpegang pada kebebasan dan kemerdekaan ekspresi yang di anut. Bukan tidak percaya tentang Covid-19, mereka tahu dan bahkan memiliki informasi memadai, hanya saja seruan #dirumahaja bagi mereka tak menarik. Mereka memilih mengabaikan segala hal yang menakutkan tentang Corona dan memilih bersikap tak acuh. Kelompok ini paling mengaminkan pernyataan “Sekolah sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah diatur Sang Pencipta. Bersikap biasa saja adalah bagian dari upaya mempercayai takdir.”

Adapun kelompok terakhir adalah mereka yang waspada. Mereka mengindahkan seluruh himbauan pemerintah tentang pembatasan akses, menjaga jarak, melaksanakan protokol kebersihan sebagai bagian dari pencegahan, memilih di rumah aja sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Atau jika harus beraktivitas di luar rumah, tetap berusaha maksimal untuk membekali diri dengan pelindung, minimal masker. Mereka memilih membantu pemerintah dengan segenap usaha. Meski dari mereka kadang banyak dicibir karena dianggap amat “penakut” oleh kelompok yang lain. Kelompok ini melihat bahwa Corona virus adalah pandemi yang nyata, bukan akal-akalan. Sebab korbannya saat ini ada di mana-mana. Tenaga kesehatan sudah berusaha sungguh menjadi garda terdepan, dan sebagian dari bahkan menjadi korban. Bagi kelompok ini, menganggap Corona sekadar basa-basi jelas keterlaluan.
***
Data terakhir kasus Corona di Indonesia menyebut ada 27,5 ribu orang yang sudah terinfeksi dengan korban meninggal mencapai 1.6 ribu jiwa. Walau angka ini masih lebih kecil dari besaran angka yang diprediksi oleh beberapa pihak yang menyebut korban bisa sampai jutaan, tapi tak bisa dinafikan bahwa rangkaian kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April lalu dapat dikatakan “agak berhasil”, karena memang terbukti tak semua masyarakat patuh. Dahlan Iskan, dalam kolomnya menyebut bahwa angka kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan Corona berada di kisaran 70%. Dengan angka itu, laju penyebaran virus ini bisa sedikit dieliminasi.

Nufransa Wira Sakti, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak di laman kompas.com menyebut bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2020. Angka pertumbuhannya terjun bebas jika dibanding kuartal 4 tahun 2019, dari 4,97 turun ke 2,97. Jika tren terjun bebas ini terus berlanjut, maka tentu akan semakin menyulitkan di masa datang. Sejak Maret hingga saat ini, bisa dipastikan ada kemandegan dari roda perekonomian kita yang menciptakan ceruk dalam, dari angka 2,97 itu bisa lebih menukik lebih rendah lagi.

Angin segarnya, memasuki bulan Juni Pemerintah sudah mulai membuka beberapa akses penting dalam upaya penormalan kembali. Sarana transportasi dibuka, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sudah dipertimbangkan dibuka kembali dengan mempertimbangkan protokol Covid-19. Tentu kita berharap bahwa, kurva Covid-19 sudah mereda, sesuai analisis dari The Singapore University of Technology and Design yang disebut Nufransa bahwa puncak Covid-19 di Indonesia berada di bulan April 2020. Jika demikian maka masa puncak itu sudah berlalu. Kita tentu sangat berharap, bahwa masa-masa setelah April adalah masa kelaziman baru, yang diharapkan dapat memperbaiki ragam hal yang babak-belur akibat Covid-19.
***
Mas Muliadi seorang pedagang kecil, kehilangan tempat bekerja. Sehari-hari menjual “makanan jadi” di beberapa kantor dan sekolah. Corona menyebabkan kantor ditutup dan sekolah diliburkan. Mas Mul pasrah ditinggal pelanggan dan penghasilan. Pria paruh baya ini tak kehabisan akal, pantang kalah dengan Corona. Dia tetap berjualan berkeliling, dari satu kompleks perumahan ke kompleks yang lain. Masa-masa orang di rumah tentu butuh makan, Mas Mul memilih mendatangi dan menawarkan jualannya. Tak jarang dia menjajakannya lewat media sosial, walau pengetahuannya terbatas. Mas Mul tak menyerah. Membekali diri dengan masker, Mas Mul menyambangi banyak tempat. Sehari dia berjualan dua kali, pagi dan sore. Dia mengaku pendapatnnya justru meningkat di masa pandemi,

Beda cerita dengan Pung Fitrah. Seorang sopir antar kabupaten yang mengaku penghasilannya banyak tergerus di masa pandemi. Agar dapur tetap mengepul, Pung Fitra tetap memilih keluar rumah, mengemudikan mobil angkutan agar tetap mendapatkan penghasilan untuk makan keluarganya.

“Jarang orang mau keluar sekarang, tapi banyak yang mau kirim-kirim barang. Jadi barang lagi yang dimuat!” Kata Puang Fitra dengan logat Bugis Makassar yang khas kala bertemu saat mengantar barang kiriman dari seorang kawan.

Ada lagi, cerita tentang Maci Upa, yang memilih memutar otak mengamankan agar dapurnya tetap mengepul. Perempuan janda ini membuat panganan setiap pagi dan sore. Momen puasa kemarin dia berjualan sore hingga malam dibantu oleh anaknya yang baru menikah.

“Semua orang takut. Tapi takut saja tidak cukup. Kita butuh makan, berharap bantuan pemerintah jelas kurang. Ya, mau tidak mau harus jualan. Semua saya suruh jualan daripada hanya tidur. Alhamdulillah hasilnya lumayan.”

Maci Upa memang agak diuntungkan, hanya dia satu-satunya penjualan panganan di tempat tinggalnya yang membatasi akses masuk. Di rumahnya, di pinggiran pantai di Kab. Polewali Mandar Maci Upa menggelorakan perlawanan. Seolah ia hendak mengaminkan tentang adagium: pertahanan paling baik adalah menyerang. Musuh kali ini terbilang tangguh, karena menyerang tanpa terlihat. Memilih berpangku tangan bukan pilihan tepat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, Maci memilih caranya dengan melihat sedikit peluang. Jika harus kalah, jangan terlalu telak. Minimal dengan menunjukkan usaha bahwa pintu rezeki tidak berakhir dengan pandemi.

Sepertinya, pandemi Covid-19 datang untuk memaksa manusia melakukan penyesuaian. Ada banyak hal yang akhirnya berubah dengan Corona. Meski gerak terbatas tapi terbukti orang bisa tetap berinteraksi dengan bantuan teknologi. Efisiensi terjadi, birokrasi dipaksa berbenah dan kita sebagai entitas manusia berusaha memikirkan cara lain untuk menjaga eksistensi. Bahwa manusia dan pergulatannya melawan wabah bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu ada banyak kematian yang disebabkan oleh wabah, kali ini jangan sampai kecolongan lagi. Kebijakan dikeluarkan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya kita sebagai bangsa dan negara, harus menang melawan Corona.

Memang, di sisi lain, bahkan sebelum Covid-19 mendera, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sudah terjadi. Resesi ekonomi sudah dimulai, sejak bergulirnya perang dagang Amerika-Cina, Indonesia mendapat imbas yang tidak menguntungkan dari semua itu. Ditambah mewabahnya Covid-19 justru memperparah keadaan. PHK kembali bergulir dan gelombangnya makin besar. Banyak yang terjatuh akhirnya tertimpa tangga. Pilihan makin sulit dan terbatas, resiko paling berat, nyawa jadi taruhan.

Bahwa pada periode kuartal kedua April-Juni, Indonesia tentu tak terlalu berharap banyak. Ini masa-masa sulit. Tentu diperlukan pertimbangan yang matang agar perlambatan ekonomi tidak terjadi terlalu lama. Sebab, bisa dipastikan pihak yang paling rentan adalah masyarakat menengah ke bawah. Meninjau rentetan kebijakan yang berimbas pada kelompok rentan ini perlu dilakukan. Termasuk menunda diberlakukannya kenaikan tarif dan menekan kenaikan harga-harga. Jika itu terjadi, merosotnya daya beli masyarakat bisa sedikit terbantu dengan hadirnya pemerintah dengan kebijakannya yang berpihak. Itu berarti, dapur masih bisa mengepul meski dengan kepulan yang sayu.

Kita bersyukur sebab, ragam spekulasi horor tentang Corona yang menyerang Indonesia tidak terbukti. Politico, media asal Amerika dalam risetnya terhadap 30 negara berkaitan dengan penanganan Covid-19 dari segi kinerja kesehatan dan ekonomi, seperti yang dikutip cnnindonesia.com, walau Indonesia termasuk kacau dalam hal penanganan pandemi ini, tapi diprediksi bisa keluar dari resesi. Hal ini dikuatkan oleh Fithra Faisal Hastiadi Ekonom Universitas Indonesia dan dikuatkan oleh Pieter Abdullah dari Center of Reform on Economicsangin sega (CORE) masih dari sumber CNN Indonesia. Artinya kita masih bisa bertahan meski terlihat kewalahan dan ngos-ngosan. Ini tentu angin segar di tengah limbungnya beberapa negara maju karena Covid-19, termasuk Amerika.
***
https://www.cnbcindonesia.com

Adakah badai pasti berlalu?

Di beberapa keadaan, terbukti ada yang bertahan dan ada yang kalah. Masa-masa sulit membutuhkan penyesuaian ekstra-cepat dan menuntut manusia menjadi pembelajar aktif supersonik. Lambat bisa jadi berarti tertinggal dan kalah!? Apakah itu sepenuhnya benar? Mari melirik kehidupan nelayan yang saya sambangi tempo hari, berdekatan dengan kediaman Maci Upa penjual panganan itu. Para praktisi digital bisa saja menyebut bahwa Covid-19 telah mempercepat laju revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bekerja. Hanya saja itu berlaku bagi sebagian kalangan yang dihantui ragam teror tentang Corona.

“Tidak ada Corona di sini! Jadi santaimaki Nak!”

Ucap Maci Upa kemudian dengan memamerkan giginya disertai suara gelak tawa. Di kediaman Maci, orang-orang tetap pergi melaut dan masih bebas saling mengunjungi. Rumah ibadah masih tetap dibuka dan orang tetap lalu-lalang datang dan pergi. Benar, ada pembatasan hanya bagi orang-orang yang datang.

Tampaknya, masyarakat kalangan menengah ke bawah ini sudah sangat terbiasa dengan beragam ancaman. Covid-19 adalah horor, tapi ada yang lebih menakutkan dari sekadar Corona, yaitu matinya api di dapur-dapur mereka. Maka jangan heran jika, di tengah seruan untuk pembatasan aktivitas berkaitan dengan pandemi kalangan ini masih saja aktif dan wara-wiri mendatangi perkumpulan manusia. Mereka santai ke pasar, menggelar jualan, menarik pembeli. Jika ditanya kenapa begitu? Mereka akan menjawab: kami lebih takut tidak makan.

Agar dapur tetap mengepul di tengah kepungan pandemi, perlu untuk melihat celah yang bisa digunakan dalam rangka membalikkan keadaan. Saya rasa, pemerintah telah melihat celah itu, bahkan jauh hari sebelumnya, para pengusaha mendesak agar pembatasan segera diakhiri. Para pengusaha sudah tidak kuat, bayang-bayang kebangkrutan mengancam di depan mata.

Lembaran “New Normal” sudah tersiar ke mana-mana. Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) yang menyiarkan lembaran ‘New Normal” itu sebagai tafsir dari pernyataan Presiden Jokowi tentang: bersahabat dengan Corona. Maksud Presiden sepertinya bisa dijelaskan dari deretan peribahasa bugis: Itau i’ balimmu ekke seddi si esso, iyanekkia itau i sibawammu ekke sisabbu si essoe. Artinya, kita perlu menanamkan kewaspadaan seribu kali kepada kawan atau sahabat dibanding kepada musuh. Kepada musuh kita cukup waspada sekali dalam sehari.

Bahwa yang berpeluang menjadi musuh dalam selimut dan menggunting dalam lipatan itu adalah kawan atau sahabat. Bersahabat bagi Presiden adalah berkawan dengan menerapkan seribu kewaspadaan. Ke depan Covid-19 tidak akan lenyap dan semoga vaksinnya lekas ditemukan. Kita tidak ingin menangisi keadaan dan merutuki kondisi tapi mempersiapkan mental untuk kelaziman baru yang disebut “New Normal” tampak semuah keniscayaan. Ucapkan “Selamat Datang!” (*)
Simak Juga:
Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

https://cdn2.tstatic.net/

SultanSulaiman.Id, Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie selalu lekat dengan pesawat terbang. Habibie dijuluki Bapak  Teknologi Indonesia. Lelaki Gorontalo kelahiran Parepare Sulsel ini tersohor karena rekam jejaknya memajukan industri strategis tanah air. Ia telah berpulang dan mimpinya mengembangkan Industri Pesawat Terbang Nasional sepertinya akan kandas. Presiden Jokowi telah mendepak Proyek R80 dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Padahal Tahun 2017, R80 masuk PSN melalui Peraturan Presiden Nomor 58. Serasa lirik lagu ini pas: kau yang memulai kau yang mengakhiri.


Mari mengenang hari itu, Kamis 10 Agustus 1995. Sejarah spektakuler telah tercatat, mengundang decak kagum jutaan pasang mata. Hari yang menorehkan rekor kesuksesan anak bangsa. Bumi pertiwi telah memiliki generasi yang mampu mengembangkan teknologi canggih. Teknologi yang bukan saja membuat Indonesia terpandang, tetapi “kuat” di mata dunia.

Kenanglah hari itu. Hari ketika N-250 “Gatotkaco” terbang pertama kali. Pesawat itu terbang membawa harapan, rasa bangga, haru, sekaligus membuang stigma yang kerap mengerdilkan potensi anak bangsa. Lihatlah, N-250 bukti jika bangsa ini mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang sudah mengembangkan teknologi pesawat terbang lebih dulu. Habibie menulis dalam bukunya Habibie & Ainun:

“Tidak ada yang meragukan N-250 Gatotkoco gagal terbang kecuali mereka yang tidak suka dengan penguasaan Iptek oleh bangsa sendiri, semua orang menginginkan N-250 bisa terbang dengan mulus.”

N-250 menjadi bukti keperkasaan bangsa  kita. Melalui tangan BJ Habibie, pesawat itu lahir sebagai wujud sumpahnya kepada pertiwi. Gemilang.

“Pesawat N-250 adalah pesawat pertama di kelasnya (subsonic speed) –yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan secara komputerisasi)."

“Pada saat itu, tahun 1995, di jajaran pesawat komersial, N-250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi fly by wire setelah Airbus A-340 dan Boing 767.” (Buku Habibie & Ainun hal. 166)


Semua itu benar-benar terjadi. Sebuah inovasi yang berkorelasi keinginan mempersembahkan cinta terbaik untuk negeri. Profesor Habibie telah menunjukkan karya dan dedikasi terbaiknya mengantarkan Indonesia menuju negara mandiri yang disegani. Namun, ikhtiar suci itu akhirnya menemui sandungan, setelah IMF melanggengkan intervensi. Industri Pesawat Terbang kita tak dibiarkan bertumbuh unjuk gigi. Satu babak kebangkitan paling berharga negeri ini mengalami masa kelam. Bahkan untuk sekadar berterima kasih, negeri ini seolah enggan. Saat menjabat sebagai Presiden RI III, Profesor Habibie mengakhiri sejarah pengabdiannya dengan penolakan laporan pertanggungjawabannya di hadapan Sidang Paripurna. Sejak saat itu pula, BJ Habibie kadung bersumpah tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden. Ia mengukuhkan dirinya sebagai negarawan sekaligus Bapak Bangsa.

Dok. Pribadi Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun
di Parepare Sulsel

Sumpah Mengangkasa Membumi
Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah Tumpah darahku makmur dan suci
..........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU!
(Buku Habibie & Ainun hal. 41-42)

Film Habibie & Ainun bukan sekadar membawa kita pada plot romantisme cinta. Lebih jauh, film ini ingin menunjukkan, juga mendeklamasikan secara nyata, bahwa kita sebagai bangsa, sebagai negara memiliki putra terbaik yang begitu menyejarah. Bahwa, energi kehidupan bahkan telah menggerakkannya untuk berbuat lebih banyak. Habibie plus Ainun telah menunjukkan sebuah kolaborasi atraktif, dua jiwa menyatu, mengangkasa, saling menguatkan, lalu membumi. Bahwa kembali untuk mengabdi kepada bangsa dan negara adalah pilihan sadar, panggilan cinta yang tak bisa ditawar, apalagi sekadar ditukar materi.

https://statik.tempo.co

Dua jiwa, sejuta harapan, bertemu mempersembahkan karya terbaiknya bagi kemanfaatan berjuta-juta manusia negeri ini bahkan semesta. Maka kisah cinta itu, laiknya pertemuan dua kutub perubahan yang melahirkan ledakan besar dalam batu bata sejarah kebangkitan Indonesia. Hanya saja, keluarbiasaan itu telah terlanjur diabaikan, bahkan dicampakkan sebelum benar-benar diberikan kesempatan berbuah sempurna.

Lalu, mari meraba ke kedalaman jiwa kita. Menemukan keIndonesiaan, dan bertanya sudah seperti apa kontribusi kita? Profesor Habibie telah membentangkan sebuah pilihan-pilihan hidup yang dilandasai idealisme tinggi, keyakinan, semangat pengabdian, juga rasa cinta luar biasa pada negeri. Maka dia, memilih meninggalkan segala kegelimangan materi untuk kembali ke negerinya. Seperti katanya, “Saya pulang ke Indonesia untuk mengabdi, bukan cari uang”

BJ Habibie tidak sekadar dikarunia usia yang panjang, tetapi juga padat dalam penggunaannya. Rasanya, sulit dibayangkan bagaimana dia akhirnya mampu membumikan mimpi-mimpi, walau mungkin tak sesempurna yang diingini. Tapi yang pasti, sejarah perjalanan kehidupannya adalah rentetan catatan kerja keras, yang lahir dari energi cinta, lalu mengilhami inovasi luar biasa yang hampir tak memiliki banding. Lelaki Gorontalo itu hanya menjalankan takdirnya. Setelah BJ Habibie, siapa lagi?

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Menunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun Manunggal dengan saya Sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat
(Habibie & Ainun hal. 323 )


Tahun ini (2020), pemerintah menganulir proyek pesawat R80 dan pesawat rancangan Habibie yang lain, seperti N245 dari Proyek Strategis Nasional. Jokowi beralasan, pandemi memaksa mimpi Habibie itu disingkirkan karena krisis. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penghapusan proyek Habibie itu karena ada proyek pengganti berupa pengembangan drone yang dinilai lebih cocok dengan situasi sekarang. Bukan hanya Habibie, kita yang sebelumnya meghayalkan menaiki pesawat terbang buatan dalam negeri pun harus gigit jari. Mungkin pemerintah beranggapan, membeli pesawat luar negeri jauh lebih praktis dan murah. Daripada harus buat sendiri toh? 

(Doa-doa terangkai. Untuk Habibie Ainun kami sampaikan salam hormat, semoga ditempatkan dalam kedamaian selalu dan selamanya.)
Gorontalo-Polewali, 13 Februari 2013-Juli 2020