Kakak dan Pisau di Tangannya


Kemarin, kami meninggalkan Kakak di rumah. Tentu dengan pesan, agar Kakak menjaga rumah dengan baik. Kakak menurut, sembari menyebut jika dia akan bergabung bermain dengan teman-temannya.
“Ayah pulang jam berapa?”
“InsyaAllah sebelum Magrib!”
“Magrib ya Yah? Jangan terlalu lama!” Balas Kakak
“Jangan masukkan teman-temanmu ke rumah ya!” Pesan ibu kemudian.
Kesepakatan telah terjalin. Kami berangkat, meninggalkan Kakak yang sudah berlari menuju kerumunan seusianya. Bermain, tertawa, melakukan apa saja, kadang juga menangis sembunyi-sembunyi, karena dijahili teman-temannya.

***
Kakak saat ini sudah tujuh tahun. Di usianya kini, kami sedikit memberi penekanan soal menjaga salat.
“Bisa bermain, tapi kalau dengar azan langsung siap-siap ke masjid!” Selalu, pesan ibu.
Kakak mengiyakan itu, meski di beberapa keadaan kadang ingkar. Ingkar yang berujung suasana “panas” di rumah. Kakak bersitegang dengan ibu. Ibu sering lapor ke ayah. Ayah akan menengahi. Bertanya ke Kakak, mengapa tidak salat.
“Aku salat kok Yah! Di kamar! Ibu tidak lihat!”
“Betul…?”
Kakak diam. Jika sudah begitu, ayah akan melemah. Ayah kembali memberi penekanan pesan ibu. Pasal salat itu.
***
Kemarin, saya amati. Di kompleks kami, di depan rumah yang tanahnya lapang. Tanah yang banyak ditumbuhi kangkung di antara pohon kelapa tua menjulang, anak-anak komplek bermain penuh warna. Ya! Sebab, tak berselang lama selalu ada yang menangis, ada yang berteriak serupa kesurupan, dan? Banyak lagi ekspresi khas anak-anak. Paling kontras menurut saya adalah terbaginya dua kelompok anak dengan dua titik bermain berbeda. Satu di sebuah rumah kebun tua, kedua di rebahan pohon Jawa. Jaraknya berdekatan saja, sekitar sepuluh meter. Anak-anak kelompok pohon Jawa berteriak ke mereka kelompok rumah kebun. Teriakan yang mengandung makian. Saya merekam beberapa kosa kata yang membuat hati saya ngilu. Sudah serupa adu kata cebong kampret juga rupanya. Akhirnya saya tahu, dari mana Kakak belajar mengumpat. Umpatan yang sesekali terucap jika kesal dimarahi ibu.
“Ibu mau taro rica itu mulut kalau babilang sembarang e!”
Lalu di mana Kakak di antara dua kelompok itu? Dia berada di tengah, kadang bergabung dengan kelompok pohon Jawa, kadang beralih ke rumah kebun. Paginya, Kakak bermain dengan kelompok rumah kebun. Ayah sudah sering melarang.
“Jangan bermain di rumah itu! Kayunya sudah banyak lapuk! Lantai rumahnya rapuh, kalau tidak hati-hati kamu bisa jatuh!”
Larangan yang terlalu sering dilanggar. Hingga tiba…
“Om… Tsaaqif menangis, dipukul sama itu perempuan eee…!”
Salah seorang temannya mengadu. Saya, lekas menghampiri. Anak perempuan yang dimaksud tersenyum kecut. Kakak terjebak di rumah kebun, saya dapati menangis di belakang pintu reot. Ada kesal yang menggantung…
“Ayo pulang…! Ini bermain kok nangis…dan sudah berapa kali ayah larang jangan bermain di sini!”
Lama, Kakak menuntaskan tangisnya.
“Ayo…!”
“Aku malu….!”
“Ayo… kenapa malu?”
“Sini baju ayah! Mau lap air mata!”
“Ha…? Pakai baju kamu sendiri!”
Suasana kondusif kembali. Kakak pulang setelah meniti tangga hati-hati.  Saya mengekor di belakangnya, dua kali lebih waspada. Takut, jika tangga yang dititi, yang terbuat dari batang kelapa itu, tak kuat menahan bobot badan yang kiat bengkak. Tepat ketika kedua kaki menginjak tanah, saya lega. Lalu saya menengok ke tangga rumah kebun ini. Agar anak-anak tak lagi berkerumun di sini, turun naik tangga yang bisa patah kapan saja. Saya…, mengambil tangga rumah kebun, mencopotnya susah payah. Membiarkan telentang di tanah.
***
“Om…Tadi Tsaaqif bawa-bawa piso! Mau nabunuh itu anak perempuan…!” Anak sama, yang mengadu tadi pagi itu.
“Ha…?”
Saya dan istri hanya saling pandang. Kami tiba lebih cepat, Magrib masih 45 menit. Kakak bermain, kali ini bergabung dengan kelompok anak pohon Jawa! Abang, adiknya berlari ikut bergabung. Menangkap belalang, kadang ingin mengusili sapi di belantara kangkung.
“Kak…Jagain Abang ya!” seru ibu.
***
“Tadi kok kenapa bawa-bawa pisau? Itu lihat dari mana?”
“Aku jengkel yah. Tu anak perempuan nakal sekali. Kakak dipukul padahal ga salah!”
“Kalau dipukul dipukul balik toh. Dilawan!”
“Bisa? Dia perempuan!”
“Kenapa kalau perempuan? Kamu takut?”
“Tidak, jadi kalau dia memukul, aku balas saja? Oooo…!”
“Emang siapa namanya?”
“Husna…! Padahal dia teman Kakak waktu di Gorontalo. Sama-sama TK! Dulu dia baik, ini sekarang nakah dia!”
“Ha? Kok bisa sampai di sini? Kamu kenal dia? Dia juga kenal kamu? Orang tuanya kerja di mana memang?”
“Iya, dia kenal Kakak pasti. Itu orang tuanya kerja…Jualan motor sama mobil yah!”
“Oooo…!”
“Lain kali jangan bawa-bawa pisau, bahaya!”
“Itu pisau ada setannya. Kalau melukai orang bisa celaka!” Lanjut ibu.
“Ayah bisa ditangkap polisi, dipenjara, dan…” Masih ibu.
“Dipenjara berapa lama Ibu?” Kakak menimpali.
“Lamaa…bertahun-tahun…!”
***
Soal pisau di tangan Kakak. Ingatan saya terbang ke potongan adegan film televisi swasta. Kakak, saat liburan ke rumah nenek sangat betah berada di depan layar kaca, bersama kakek neneknya, menyaksikan adegan film berbau siksa kubur. Sepertinya itu jenis pelampiasan, sebab dari sejak ia lahir sampai usianya tujuh tahun, di rumah kami tak pernah ada televisi. Ini beralasan karena media kita: pagi taubat, siang taubat, sore taubat, malamnya dangdutan! Tapi tentu tak semua media bukan? (*)


4 komentar

  1. Si kakak adalah cerminan anak2 kita yang begitu suci dan mudah menurut apapun yang ada dan terjadi di sekitarnya. Pesan yang sangat jelas tersirat di tulisan ini bahwa kita harus menghindarkan anak2 kita dari hal buruk yang bisa saja ia turuti.

    BalasHapus
  2. Anak seusia 7 tahun memang harus diawasi dengan baik ya, karena masih di masa-masa mencontoh apa yang dilihatnya, dan belum bisa membedakan baik dan buruk. Cerita ini mencerahkan.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon