Hari Sendu dan Malam Seribu Bulan yang Terlewatkan

https://alfahmu.id/
sultansulaiman.id, Saat tiba di kantor, saya mengontak istri, adakah ia merasakan sesuatu yang beda? Katanya, semalam itu rada aneh, ada yang ganjil, beda dari malam-malam sebelumnya. Sore kemarin, langit mendung, usai magrib hujan turun amat deras, berhenti, lalu hening. Aroma tanah yang baru dibaluri hujan meruak. Tak ada ceracau yang mengacau, serasa ada yeng sedang mentakzimi keadaan. Malam inikah?

Lalu pagi, semburat mentari terhalang awan tipis di langit. Cahayanya sendu, tak menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Tergelarlah beberapa tanda yang diungkapkan para ahli hikmah. Malam seribu bulan jika telah bertandang, akan meninggalkan ragam jejak yang bisa dikenali. Sebiji sesal buncah, mengapa tak merapal doa-doa panjang, tak menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah: baca quran, salat, zikir, sedekah, apa saja kebaikan. Oh, sebiji sesal berubah gumpalan. Kami hamba-hamba yang lalai.

Empat belas abad lalu, lelaki itu telah menunjukkan caranya. Sepuluh malam terakhir dihadapinya dengan mengencangkan ikat pinggang. Tak ada santai sebab, yang diburunya adalah rida Tuhannya. Ia menyambut kedatangan malam seribu bulan dengan kesungguhan, penghambaan terbaiknya ditunjukkan, meski namanya sudah tercatat sebagai penghuni surga pertama. Tak ada jemawa, ia total menunjukkan kesyukurannya. “Adakah aku hamba bersyukur? Dengan seluruh yang telah dijaminkam Tuhanku?” maka, disaksikan istrinya Ya Khumairah, Sang Nabi tetap berdiri menunaikan salatnya, hingga telapak kakinya melepuh dan betisnya bengkak karena lama berdiri dalam salat.

***

Ujung ramadan, masih serupa dulu. Meski wabah meneror di mana-mana, jalan-jalan kembali ramai. Orang-orang sibuk memusingkan hal-hal baru yang dipakainya di hari raya, dibanding menyiapkan sesuatu di dalam dirinya: sepotong hati yang baru. Hari-hari ramadan, pula malam-malamnya dimaksudkan untuk menempa, agar diri lebih sabar, lebih bisa berdamai dengan ragam keadaan. Di siang hari orang rela berlapar-lapar, saat berbuka tiba, ia semacam perayaan, pelampiasan rasa lapar. Orang-orang menjadi amat rakus. Makanya lingkaran perut tak juga turun meski sudah berpuasa sebulan penuh. Padahal pesan nabi, sedikit yang manis-manis dan seteguk air sudah cukup.

Di malam hari, meski keramaian tempat ibadah dibatasi, tapi pintu keramaian lain terbuka lebar. Adakah pengabaian semisal ini kelak akan ditangisi?

Orang-orang sudah lama berdiam sejak pandemi diumumkan, imbauan agar berdiam mulai tak mempan sebab pusat perbelanjaan mulai terbuka. Pandemi memasuki masa paling ambigu, orang-orang memilih apatis.

***

Saya kembali menengok sorotan cahaya matahari. Sorotannya lembut, ada awan tipis menyelimutinya. Inikah tanda?

“Allah menurunkan Al-Quran di malam kemuliaan. Pahamkah kamu dengan malam kemuliaan? Ia lebih baik dari seribu bulan. Malam itu malaikat turun ke langit dunia, jumlahnya serupa pasir di bibir pantai dan Jibril dengan izin Tuhannya mengatur segala urusan. Di malam itu bertabur kesejahteraan hingga pagi tiba” (Al-Qadr, 1-5)

Di sepuluh malam terakhir, di kampung kami bacaan Al-Qadr akan sering diulang-ulang, berharap berkah dan kemurahan hati Tuhan, agar menggolongkan hamba beruntung. Pandemi membawa setiap diri pada ruang perenungan, di balik pintu rumah-rumah, mari menyambutnya, ataukah kita benar-benar telah melewatkannya tanpa sadar. Tapi, ada harapan dari ucapana Sang Nabi yang diterakan Ibnu Umar: "Barang siapa yang ingin menjumpai malam qadar, hendaklah ia mencarinya pada malam dua puluh tujuh" (Riwayat Ahmad dengan sanad yang sahih). Bersisa lima malam lagi, mari bersungguh-sungguh mencarinya.(*)
Simak juga:

4 komentar

  1. Merinding. Ya Allah, semoga kami bukan termasuk orang-orang yang lalai. 😢😢😢

    BalasHapus
  2. Semoga kita bisa mengecap manisnya malam itu 😇😇

    BalasHapus


EmoticonEmoticon