Mampus Kau Dikoyak Sepi di Hari Raya

https://konfirmasitimes.com
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
(Sia-sia, Chairil Anwar Februari 1943)

sultansulaiman.id, Idulfitri kali ini, tak ada perayaan di rumah. Tak ada kesibukan di dapur seperti Hari Raya sebelumnya. Burasa, nasu manu, nasu likkua, dan ragam varian hidangan hari raya khas bugis masih bisa dinikmati. Beruntung punya kerabat yang dengan murah hati memasok segala jenis makanan itu.

“Yah, apa tidak digelar di tikar, seperti tetangga sebelah?”

“Buat apa? Kalau makan sisa ambil saja di meja! Kita juga bakalan tidak terima tamu. Pagar dan pintu dikunci!”
Kunjungan dibatasi, salat dilaksanakan di rumah. Tanpa khotbah karena jamaah bertahan hanya dua orang. Dua calon jemaah sibuk ke sana ke mari, sesekali mencipta keributan, membuat ibunya kadang harus menguatkan diri agar tak kelepasan.

Kali ini, Ramadan dan hari raya seolah masa berkabung. Tak ada yang bingar, orang-orang memilih mengunci pagar dan pintu rumah. Namun tetap berusaha meluaskan hati untuk maaf. Melebarkan dada karena sejatinya kita berlebaran, meski ada rasa sempit menghimpit.

Silaturahmi maya, tetap membubungkan haru, perjumpaan menjadi amat berarti walau sebatas suara, gambar yang buram. Tawa masih bisa pecah tapi tak lagi membahana. Pada akhirnya, rasa sepi akan berkarib dengan hari-hari untuk mengoreksi, kealfaan adalah niscaya, dan semoga segala pertalian yang kusut atau putus tersambung kembali. Ada banyak harapan yang terucap dalam doa, selepas hari raya segalanya kembali seperti biasa.

Di hari raya, tentu tak semua orang bersuka cita, pula tak semua bermuram durja. Pandemi seakan ingin menarik dua suasana ekstrim itu ke tengah agar yang bahagia tak terlalu jemawa dan yang bermuram tak mesti harus berduka lama. Sepertinya kondisi semacam itu akan mengarahkan pada kesiapan menyambut “kelaziman baru” versi Ivan Lanin untuk membunyikan New Normal.

Mau tidak mau, masa inkubasi ini akan berakhir. Presiden sudah mengumumkan tentang “berdamai dengan Covid-19”. Meski banyak yang sanksi, tapi segalanya sudah mengarah ke situ. Beredar panduan “New Normal” dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) yang memandu kesiapan kita.

***

Apa yang tersisa dari Ramadan dan hari raya?

Akhir Ramadan, meski ada pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) nyata sebagian besar masyarakat tidak peduli. Hasrat belanja jelang lebaran tak bisa ditahan. Baju baru dan segala aksesori perayaan masih lebih menggiurkan. Sepertinya masyarakat memang sudah tidak peduli. Adakah ini imbas dari kebijakan yang kesannya tarik ulur seolah bermain layangan saja. Atau memang masyarakat yang bebal kepala batu. Atau justru kedua-duanya, kebijakan tarik ulur bertemu dengan masyarakat yang tak mau diatur.

Jadi? Bersiaplah. Pelajari protokol kesahatan seputar “kelaziman baru” itu. Penuhi segala item yang dibutuhkan agar kita bisa imun di tengah genderang perang melawan musuh tak kasat mata bernama: Covid-19. Jika tidak, mungkin kita akan mampus bersama “dikoyak-koyak Covid-19”. Semoga tidak! Semoga hanya sepi yang mengoyak-ngoyak sembari mengaminkan penggalan puisi Chairil Anwar itu! (*)

Simak juga:

0 Comments

Posting Komentar