Mengomentari Reaksi Peduli, Emoticon Baru Facebook

sultansulaiman.id, Saya sudah menggunakan reaksi peduli facebook sejak resmi diluncurkan: Bagaimana dengan Anda para facebookers? Wajah memeluk hati: emoticon baru ini hadir dalam suasana pandemi sekarang, maksudnya agar kita bisa saling peduli. Ya! Semua tentu merasakan kesedihan, betapa hari-hari kita tak lagi sama. Akhir-akhir ini, kita akan lebih banyak menemukan wajah penuh luka. Tatapan kosong melompong. Covid-19 telah merebut kehidupan normal kita.

Hikmahnya, biarkan bumi beristirahat sementara. Lalu kita semua, berbenah, dengan membenamkan diri, mengintimkan jiwa raga dengan orang-orang terkasih. Orang yang begitu dekat namun sering dilupakan. Ayah, ibu, suami, istri, saudara, anak, paman, tante, sepupu, semua jalinan dekat yang dulunya renggang, disatukan lagi. Agar kita bisa memupuk kepedulian dari lingkungan paling dekat itu: keluarga. Kalau pun tak bisa bersama, biarkan hati bertaut kembali. Jauh dekat itu bukan soalan jarak, tapi seberapa lengket hati kita satu sama lain.
Dari rumah-rumah kita, terpanjat doa-doa. Semoga Tuhan Yang Maha Kasih Sayang itu melindungi kita semua, segera menyeret Covid-19 sejauh-jauhnya dari muka bumi. Sembari setelah ini, kita berjanji hidup lebih baik, menebar kasih sayang, dan lebih menyayangi bumi.

Saat mencoba emoticon memeluk hati pertama kali, terasa aneh. Pasalnya, itu seperti memeluk beneran. Reaksinya bukan hanya di maya, serasa menembus sampai dunia nyata. Jadi, hati-hati, menunjukkan kepedulian ke lini masa, komentar, takutnya diartikan berbeda.

***
Membedah reaksi peduli ini lebih jauh, kita tentu sudah merasakan segala hal yang serba terbatas, utamanya aktivitas luar. Saya pernah seminggu di zona merah Covid-19. Sepulang ke daerah domisili, menjalani karantina mandiri 14 hari di rumah. Pada momen inilah pelajaran “reaksi peduli” itu tergelar. 
Di masa sebelum pandemi, Senin ke Jumat, pagi dan sore saya enteng saja pulang pergi kantor. Di rumah seolah tak terjadi apa-apa, pulang maunya langsung rebahan, sementara istri sudah mata sayu, dengan senyum hambar. Saya penasaran dengan ekspresi yang gampang berubah itu. Apa yang terjadi sebenarnya di rumah ini?

Tiga personil bocah, 2 orang masih balita dengan kadar adrenalin di atas RON 92. RON: Research Octane Number) mengalahkan pertamax. Si sulung masih relatif stabil, sudah mampu menjadi tangan dan kaki ibunya jika saya sedang tidak ada. Tapi tergantung mood juga.

Kita urai, satu aktivitas saja yang sepaket, menyapu dan mengepel. Keluarga dengan bocah lebih dari dua, rumah bisa seperti kapal pecah atau pesawat kena turbelensi yang berkepanjangan. Pagi, rumah sudah rapi, hanya beberapa menit berantakan lagi. Mainan berserakan, tepung, gula, telur pecah satu rak lumer di lantai, air satu galon ditumpahkan. Karena tidak sigap dibersihkan, si bungsu yang jalannya masih tertatih melangkah lalu terjatuh. 
Tangis melengking, yang tengah tertawa karena puas memasang perangkap. Isi kulkas hampir seluruhnya terburai. Bagaimana reaksi ibu? Tentu gigi taring tiba-tiba memanjang, dan tanduk runcing tumbuh di kepala. Marah dengan membesarkan suara tiada berguna bagi bocah yang menganggap omelan seperti lagu dangdut belaka. Kesal sudah pasti, lelah hati, lelah raga. Di momen seperti itu, para ibu akan merindukan satu sosok, suaminya. Satu hari, seorang ibu rumah tangga bisa menyapu lebih dari 10 kali, dan mengepel berkali-kali. Belum aktivitas lain. Jika kita sering melihat seseorang mengerjakan satu pekerjaan dengan bayaran tertentu, maka seorang ibu atau istri sangat pantas dengan segunung bayaran. Apalagi yang tidak punya asisten rumah tangga, bayarannya bisa nombok karena kenyataannya mereka mengerjakan banyak hal, yang belum tentu bisa dituntaskan suaminya.

Kenyataan yang menguras jiwa raga, melelahkan jasmani dan rohani itu telah saya saksikan amat benderang. Pada momen itu, rekasi peduli, di lingkungan terkecil: keluarga sangat diperlukan. Semangat berbagi harus dipaksa tumbuh agar kelak jadi kebiasaan. Hingga sesimpul ruang hidup bernama keluarga bisa saling menguatkan karena reaksi peduli yang sudah dibiasakan. Dari keluarga, ke masyarakat, hingga menyentuh ekosistem lebih luas: bangsa dan negara. Lebih jauh, satu semesta raya.
***
Selain emoticon reaksi peduli wajah memeluk hati, di messenger ada reaksi peduli menunjukkan hati yang sedang berdetak. Anda sudah coba yang mana? Berani coba?(*)

Simak juga:

2 komentar

  1. Belum pernah coba dan belum berani untuk coba. Hehe

    BalasHapus
  2. Sudah coba sejak pertama kali diluncurkan. Tentunya disesuaikan dengan isi postingan. Harus teliti memang, takutnya ada yang salah mengartikan. 😊

    BalasHapus


EmoticonEmoticon