Review Film: The Miracle in Cell No. 7

https://www.idntimes.com

“Dia anak seorang Komisaris Polisi! Apa kamu tahu polisi?”
“Oh ya...Tahu, seseorang yang menakutkan...?!”

sultansulaiman.id. Film drama komedi The Miracle in Cell No. 7 kembali hit setelah Falcon Fictures merilis poster remake Indonesia baru-baru ini melalui laman instagramnya. Versi aslinya, film yang disutradarai Lee Wang-kyung ini tayang perdana pada 28 Maret 2013 dan mendapat respon yang sangat positif di negeri asalnya, Korea Selatan.

Bukan hanya di negeri asalnya, banyak penonton dari mancanegara memberikan komentar baik film yang dibintangi Ryoo Seung-Ryong ini. Karena sambutannya yang positif itu, The Miracle in Cell No. 7 akhirnya diadaptasi oleh beberapa negara. Turki, India, Filipina, dan terakhir Indonesia mencoba melakuan adaptasi. Tentu dengan penyesuaian tertentu tapi tidak bergeser jauh dari cerita awalnya.

Versi asalnya, film ini bercerita tentang seorang ayah penderita down syndrome Lee Yon Go yang memiliki anak perempuan centil, manis, dan cerdas Ye Sung. Walau memiliki kekurangan, sang ayah adalah tipikal orang tua yang selalu berusaha memberikan curahan kasih sayang terbaik bagi sang buah hati. Lee Yon Go dan Ye Sung setiap hari melewati jalan dan akan selalu berhenti pada sebuah toko yang menjual tas cantik berwarna kuning: Tas Sailor Moon. Hingga pada salah satu potongan adegannya, tas itu laku terjual. Dibeli oleh seorang Komisaris Jenderal Polisi untuk anaknya.

Lee Yon Go tidak terima. Baginya tas itu hanya pantas buat anak tersayangnya. Penolakannya berujung protes, imbasnya Lee Yon diperlakukan semena-mena di muka umum, disaksikan oleh anaknya. Betapa orang yang merasa memiliki kuasa selalu memantaskan diri untuk aksi intimidasi semacam itu.

Pada momen selanjutnya Ji Yeong yang kembali bertemu dengan Lee Yon. Lee membujuk agar Ji Yeong mau menjual Tas Sailor Moon itu kepadanya. Jelas Ji Yeong menolak, namun anak kecil itu bisa menunjukkan toko yang menjual tas serupa. Tentu Lee Yon sangat senang. Dia mengikuti langkah kecil Ji Yeong. Meliuk-liuk di antara gang sempit, melewati jalan-jalan dengan genangan air membeku. Saat itu musim dingin, genangan air di jalan-jalan membatu dan tentu sangat licin. Naas, tepat pada beberapa langkah setelah belokan. Kaki mungil Ji Yeon menjejak genangan air beku dan terpeleset.

Malang bagi anak itu, dia terjatuh, lalu repleks kepalanya terbentur di jalan beraspal setelah tangannya berusaha menggapai tali yang terkait pada sebuah batu bata. Bocah kecil itu bersimbah darah. Lee Yon berusaha memberi pertolongan. Di ingatan yang rabunnya, tergelar petunjuk pertolongan pertama bagi orang yang kehilangan napas, didapatinya saat mengikuti training sebagai tukang parkir.

Lee Yon hendak melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP)/Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR). Ia meregangkan celana sang anak, negecek nadi, memeriksa napas, lalu melakukan kompresi dadanya, memberikan napas buatan. Adegan itu dia lakukan sepenuh hati hingga seeorang mendapatinya seperti sedang mengeksekusi seorang bocah. Lee Yon Go dilaporkan dengan tiga tuduhan sekaligus: Penculikan, Kejahatan Seksual, dan Pembunuhan.

Lee Yon Go dijebloskan ke penjara. Tentu Ye Sung sangat kehilangan. Ayah yang selama ini selalu menemani hari-harinya harus direnggut paksa oleh tuduhan salah sangka. Betul-betul naas, kematian Ji Yeong tak diterima orang tuanya. Lee Yon tertuduh dan sangat mudah melampiaskan seluruh keburatalan hukum kepadanya, apalagi dalam kondisinya yang cacat seperti itu, ia melawan orang yang memiliki pasukan yang mudah diarahkan hanya dengan telunjuk. Gelar perkara digelar, Lee Yon terpojok. Tak tanggung-tanggung, Lee Yon akhirnya pasrah dengan vonis hukuman mati yang dieksekusi amat cepat setelah putusan ditetapkan. Intimidasi, ancaman pembunuhan putrinya, membuat Lee Yon memilih mengakui seluruh tuduhan, sesuai keinginan ayah Ji Yeong yang bengis itu.

Lee Yon Go digiring ke Sel Tahanan No. 7 yang berisi orang-orang dengan kasus kejahatan luar biasa. Kehadiran Lee Yon Go disambut dengan upacara tahanan baru pada umumnya. Namun, karena jenis kasus yang menjerat Lee Yon termasuk yang paling parah dan dibenci hampir seluruh narapidana: penculikan, pembunuhan dan pencabulan, korbannya anak-anak pula. Lee Yon jadi bulan-bulanan, dia dikeroyok beramai-ramai.

Dari Sel Tahanan No. 7 Lee Yon berkenalan akrab dengan So Yang Ho gangster penyelundup tapi buta huruf yang memimpin Sel No. 7. Bong Sik si pencopet, Chun Ho si penipu, Man Beom tukang zina alias penjahat kelamin dan Kakek Seo juga seorang penipu. Awal hubungan erat itu terjadi saat Lee Yon Go berhasil menjadikan dirinya tameng dari aksi serangan yang nyaris melukai So Yang Ho. Sebagai bentuk balas jasa dan apresiasi atas sikap tersebut, So Yang Ho berjanji akan memenuhi seluruh permintaan Lee Yon Go. Yon Go menginginkan anaknya Yee Sun. Permintaan yang jelas rumit dan sangat berisiko.
***
https://cdn2.tstatic.net/wartakota

Ada trauma masa lalu bersemayam di benak Jang Min Hwang saat mendapati Lee Yon Go digiring pertama kali ke lapas yang dipimpinnya. Saat catatan kasus dibacakan, dia tak bisa menahan amarahnya. Dia tumpahkan hampir seluruhnya kepada sosok lugu yang ada di hadapannya saat hendak meraih telepon di meja kerja. Namun, makin ke sini ada yang berubah dengan sikapnya. Kebakaran di ruang tahanan itu menjadi alamat jika ke depan dia akan menginterupsi seluruh rasa benci-nya pada tahanan 5482.

Sel No. 7 telah dicurigai menyembunyikan sesuatu dan akhirnya ketahuan setelah Jang Min dan petugas jaga memergoki Yee Sun. Lee Yon Go dijebloskan ke ruang isolasi dan intruksi inspeksi mendadak dilakukan.

Kekacauan terjadi, ada kebakaran akaibat aksi protes narapidana saingan So Yang Ho. Kekacauan itu hampir melenyapkan nyawa Min Hwang karena nekat menerobos untuk meredam nyala. Lee Yon Go yang berusaha mengevakuasi diri mendapati Min Hwan tak berdaya. Dia berusaha menolong walau api hampir melumatkan seluruh tubuhnya. Jang Min Hwang selamat dan mulai membaca ada sesuatu yang lain dengan tahanan 5482.

Memanfaatkan otoritasnya sebagai Kepala Lapas, Jang Min Hwang berusaha menelususri kasus yang menjerat 5482. Ia mengendus ada tindakan di luar batas yang telah dilakukan oleh aparat penegak hukum terkait kasus tersebut.

Di sisi lain, para teman satu sel 5482 telah melakukan rekonstruksi mandiri untuk mempersiapkan 5482 menghadapi persidangan. Persiapan itu amat matang, Lee Yon Go hanya butuh menjelaskan segala yang terjadi dan meyangkal seluruh tuduhan. Jang Min Hwan juga telah bertemu langsung dengan Komjen orang tua Ji Yeong, mengiba pengampunan. Hanya saja, “entah apa yang merasukimu Jenderal?” Mungkin begitulah kira-kira.

Film ini menampilkan awal Yee Sung dewasa, dengan setumpuk berkas yang diserahkan oleh Jang Min Hwan, lalu berpilin adegan peninjauan kembali kasus Lee Yon Go di mana Yee Sung tampil sebagai pembela di ruang persidangan. Para saksi hadir, mereka adalah para mantan narapidana yang telah menjalani hidup baru: new normal istilah sekarang. Ada adegan yang menggelitik saat jaksa penuntut umum mengulik kisah masa lalu para saksi.

“Apakah ada larangan mantan narapidana untuk bersaksi?”

“Apakah seseorang yang selalu berbohong dalam hidupnya akan selamanya berbohong?”

Begitulah kira-kira pembelaan yang diungkap So Yang Ho.

The Miracle in Cell No. 7 ditutup dengan kemenangan Yee Sung, ayahnya akhirnya divonis tidak bersalah dan hakim mengumumkan dilakukan penyelidikan ulang. Adegan paling meremukkan tentu, momen perpisahan Yee Sung dan ayahnya Lee Yon Go yang akan menjalani eksekusi mati. Betapa film ini hendak menegaskan tentang hukum yang selamanya akan menindas orang-orang lemah tak berdaya. Runcing ke bawah tumpul ke atas, begitulah kira-kira. Juga tentang gambaran silang sengkarut persoalan hukum dan para aktor yang terlibat di dalamnya. Ada banyak kepentingan, ada banyak instruksi yang kadang memaksa hukum berada di luar jalur.

***
Versi Koreanya oleh banyak pengakuan orang yang menontonnya berhasil mengoyak kelopak mata dan mengobrak-abrik perasaan. Berulangkali ditonton tapi tidak membuat bosan bahkan selalu sukses membuat haru penontonnya.

Bagaimana dengan versi Indonesianya? Sang sutradara, Hanung Bramantyo yang ditunjuk Falcon Fictures untuk menggarap film ini melakukan penegasan. Benar bahwa film ini menyentil tentang persoalan hukum, tapi dalam versi Indonesia, Hanung menegaskan bahwa hukum yang terjabar dalam film tersebut tetap mengadopsi negara asalnya. Tampak jika Hanung sangat berhati-hati saat membeberkan pernyataan tersebut dalam sebuah Konferensi Pers.

Mari menunggu aksi kocak aksi kocak Indro Warkop, Tora Sudiro, Vino Bastian, Bryan Domani, Mawar De Jongh, pemeran cilik cilik Graciella Abigail, Deni Sumargo, Rigen dan Indra Jegel dalam Miracle In Cell No.7 versi Indonesia.(*)
Simah juga:

0 Comments

Posting Komentar