Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

SultanSulaiman.Id, Senyum itu selalu kutemukan kala menyusuri setiap ruang kota. Di sudut jalan, di emperan toko, di angkot, seolah semua ruang telah disesakinya. Namun seperti musim hujan ataupun kemarau, senyum-senyum itu juga punya musim. Setelah musimnya selesai, senyum itu akan pudar sendiri dimakan hari. Bahkan lusuh tak terurus hingga musim berganti jubah.


Setiap hari, kota semakin disesaki dengan senyum-senyum itu. Bertambah rupa juga berganti sketsa dengan kostum warna-warni. Senyum-senyum itu berjejer rapi dalam kotak-kotak. Menjadi ikon semarak bersama iklan rokok dan iklan seluler. Seperti hari ini, ketemukan berpuluh senyum menghias elegan di ruas-ruas jalan. Dan oho...? Senyum itu juga menempel anggun di ransel kawan kampusku.

Bukan hanya senyum yang dijajakan. Berbagai tagline retoris juga turut menyertai. Ada senyum yang dibubuhi dengan kalimat “Melanjutkan Pembangunan”. Yang lain memakai “Mohon Dukunganta Sayang!”. Ada yang pake “Mantap Mentong”. Yang lain lagi...? Huwah...! Terlalu banyak.

Miris. Bahkan membuat hati perih. Kala rupa-rupa itu berlomba menjual senyum, di sana, di sebuah ruas jalan ibu kota. Kutemukan Indo Tija masih saja setia mengipasi jagung jajanannya. Berharap dagangannya laku untuk bekal hidup diri juga anak cucu. Tubuhnya yang ringkih dipaksa bertarung melawan biadab zaman. Indo Tija, seorang korban gusur penjual senyum yang kini kembali menjajakan senyumnya.

Di tengah maraknya senyum gombal itu, amat jelas gurat kemiskinan membingkai wajah kota. Orang-orang lapar bergentayangan. Pengemis makin sesak. Rakyat jelata harus menyabung nyawa di pintu-pintu rumah sakit. Parade pengangguran menampakkan wajah miris mengoyak batin. Lalu aku bertanya. Apa arti senyum dalam kotak itu? Ah...! betul gombal!

***

Ya...! Seperti musim penghujan maupun kemarau, senyum itu juga punya musim. Puncak musim ada dalam bingkai “pemilu”. Para pemilik senyum itu akan dipilih di sana. Setelah terpilih, seperti lakon lumrah yang pernah ada, pemilik senyum itu akan menyembunyikan senyumnya lantaran telah duduk di kursi empuk yang diincarnya. Butuh lima tahun waktu untuk bisa melihat kembali senyumya bertengger di seluruh ruang-ruang kota.

Ada pemilik senyum yang pandai membual. Mungkin juga semua pemilik senyum itu pembual. Bualannya nampak pada tagline pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Semua terdengar gratis. Mulai lahir hingga mati semua gratis. Aku lagi-lagi bertanya. Apa iya? Rakyat banyak tertipu oleh para penipu pemilik senyum dalam kotak. Lagi-lagi jelata jadi tumbal tipuan senyum yang sedikit dibubuhi kata “gratis” itu. Indo Tija, masih juga seorang penjual jagung bakar yang ditikam rintih lantaran hidup tak memihak rezeki mumpuni. Harusnya, orang seperti Indo Tija yang menjual senyum dalam kotak itu, sembari mengipasi jagung bakarnya. Itung-itung promosi. Aku yakin, dagangannya bakal banyak yang laku. Mungkin bisa menembus rekor MURI juga.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini kutemukan lagi Indo Tija mengipasi jagung bakarnya. Kuhampiri. Memperhatikan setiap geraknya. Kutangkap aroma letih tatapannya. Matanya yang senja memendam gurat luka. Tubuh ringkihnya telah cukup memberi definisi jika Indo Tija adalah puing melarat kota ini. Tapi siapa yang peduli?

Dalam sibuknya. Kucaba membuka percakapan. Aku penasaran, ingin menanyakan kenapa ada senyum kotak-kotak yang tertempel di kipas anyaman bambunya. Setengah keheranan sambil memamerkan gigi tanggalnya, Indo Tija membuka percakapan.

“Anakku...! Sengaja Indo membiarkan senyum itu tertempel di sini. Dari banyak pemilik senyum hanya dia yang sudi menjenguk Indo. Bahkan sebelum dia memutuskan menempel senyumnya di mana-mana”
Aku terperangah.

Debaran Bulan Juni


“Jadi ceritanya, Indo jadi tim suksesnya?”
Bukannya menjawab. Indo Tija malah terkekeh. Keras sekali. Hingga mengusik beberapa pembeli yang asyik menikmati jagung bakarnya. Indo Tija menyembunyikan kedua matanya lantaran tawanya yang dahsyat.

“Apa katamu tadi anakku? Nakke tim sukses?” Mengulang tanya lalu tertawa lebar.
“Apa Indo tidak takut dibohongi? Pemilik senyum itu rata-rata pembual Indo...!”

“Anakku! Percuma membohongi orang tua bau tanah sepertiku. Percuma anakku! Tapi Indo tetap percaya! Puang Allah Ta’ala akan menyelamatkan hidup kita dengan mendatangkan pemimpin yang mapaccing na malempu. Setidaknya begitu kearifan Bugis mengajarkan.

“Saya tahu anakku! Kita memang jelata yang sering ditipu. Kita teramat sering dikibuli. Tapi apa daya kita? Apa kuasa kita? Selain berharap doa dari setiap rintih yang kita ukir dari tetesan air mata. Bukankah orang seperti kita doanya mudah terkabul?”

“Ehh....haaaaaaaaaaa....”
Aku mengembuskan napas panjang. Kutemukan ketegaran dari tubuh ringkih ini. Aku menengadah. Menatap bulan. Kerlip bintang-gemintang menebar panorama malam. Kuarahkan tatap di sekelilingku. Sudah hampir larut. Namun sketsa kota yang lain masih menampakkan kesibukannya. Sangat sibuk. Selain Indo Tija, ada banyak pekerja malam yang selalu tegar mengumpulkan mimpi-mimpi. Saat semua terlelap, kala pemimpin terempas dalam alam tidur yang panjang, saat para pemilik senyum nyenyak bersama alunan dengkurnya. Masih ada. Masih ada yang mengumpulkan puing kehidupan. Mengumpulkan harapan yang berserakan. Di antara rintih, di antara resah, mungkin juga di antara tangis kering air mata.

“Haaaa...!”
Kuempaskan lagi napas itu. Agak sesak. Namun kencang menabrak udara jalan. Debu-debu kota terkaget-kaget dengan derasnya empasan itu. Cuma seketika, lalu kembali menari di tengah ketimpangan hidup alam kota. Mereka tak pernah peduli, seperti tak pedulinya pemilik senyum yang senang mengumbar janji masa depan. Utopis!

***

Seperti kataku, mirip musim penghujan dan kemarau. Senyum itu punya musim. Tinggal menunggu hari menjejaki bulan. Seyum itu akan berjejer rapi dalam surat suara yang akan dilukai dalam bilik suara. Tapi luka yang mengenai pemilik senyum itu tanda baik dan bahagia. Semakin banyak luka yang mengoyak senyum, maka pemilik senyum makin melebarkan senyum yang sesungguhnya. Merekah. Sumringah. Bahkan sampai kuluman senyum berubah tawa. Berisik dan terbahak tentunya.

Ya...! Tinggal menghitung hari.
Entah kenapa. Aku dijajaki jengkel luar biasa. Sudah berpuluh tahun aku berdiam di kota ini, tapi tak juga menemukan berkas perubahan. Hingga sistem berganti karena konsekuensi demokrasi. Tetap saja. Wajah manis kota memendam tangis luar biasa. Tangis Indo Tija, bocah-bocah jalanan, para ibu dan lelaki renta yang terpasung karena biadab modernitas yang melumat tempat tinggalnya. Ah...! Terlalu banyak yang membuat hati berdarah-darah. Belum lagi ketika menemukan adik kecil yang tercekat karena lapar dan dahaga. Para orang tua yang merintih karena tingginya biaya pendidikan. Rakyat jelata yang ditikam mahalnya tuntutan hidup. Huwaaaah...!

Kutatap lagi senyum dalam kotak itu. Masih seperti biasa, senyum kotak itu tetap asyik dengan dirinya. Cuek. Sama cueknya ketika sudah terpilih nanti. Aku kini menyalakan bara. Menggenggam amarah. Minyak tanah. Kulumuri senyum kotak itu dengan guyuran minyak. Bara yang kugenggam tertiup angin. Api kecil menjalar dari tanganku hingga menjilati senyum kotak itu. Berubah kobaran. Seketika. Sekejap. Kota benderang. “Kebakaran....!” Orang-orang berteriak.

“Nnnn....iuuuung....nnn..uuuuung”
Aku masih menangkap serine mobil saat tubuhku juga ikut terbakar. Gelap. Hitam. Cahaya. Mungkinkah?(*)

5 komentar

  1. Idenya menarik, endingnya juga menarik. Delivery-nya mungkin yang perlu diperhalus. Mangatt kakakk!

    BalasHapus
  2. i feel close when I read the story every tima. I will try to undestand about the massage in to the story. to be honest i feel so missing my father

    BalasHapus
  3. seneng deh, ketemu juga blog yg nulis cerpen. kirain aku doang yg masih setia dg fiksi

    BalasHapus


EmoticonEmoticon