Cerpen: Terempas di Balik Jeruji

https://rmol.id/images

sultansulaiman.id Sorot mentari pagi nampak samar. Sisa hujan semalam masih terlihat di beberapa ruas jalan. Seseorang telah siaga, bahkan sebelum kokokan ayam terdengar. Namun, hingga pagi menjelang, saat aktivitas sudah mulai ramai, yang ditunggu tidak juga datang. Sepertinya, informasi sudah bocor. Itu berarti, penantian semalam suntuk tak membuahkan hasil. Baru saja ia berbalik, menyetel kendaraan dan bersiap melaju. Sebuah pesan penting masuk. “Tetap di tempat! Target merapat!”

Lelaki itu menarik napas panjang. Ia bersiaga di mobil mengamati lalu-lalang kendaran dan setiap orang yang lewat. Dia berusaha melawan kantuk. Ini penantian paling lama, setelah sebelumnya hanya hitungan jam. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk.

“Maju sampai perempatan, di sana ada anggota yang menunggu” Instruksi dari seseorang.

Dia mengikuti perintah, membunyikan kendaraan, dan melaju pelan. Sekira dua ratus meter, perempatan dimaksud sudah terlihat. Ia buru-buru mengirim pesan siaga ke sosok penting saat kendaraannya sudah merapat di perempatan. Ada dua orang yang sedang menunggu di dekat motor sport yang diparkir gagah. Lelaki di dalam mobil sekali lagi meyakinkan diri. Diraihnya sebuah amplop berisi segepok uang. Ia membuka pintu mobil lalu berjalan pelan.

***

Ram terus berusaha meyakinkan diri. Dia berjanji, ini aksinya yang terakhir. Sepekan lalu, lamaran sudah disampaikan, dan disambut suka-cita keluarga pujaan hatinya. Setelah pernikahannya, dia bertekad mengakhiri semuanya. Membawa Isna kekasihnya meninggalkan tanah Mandar dan mulai hidup normal di perantauan. Semalam dia tidak bisa tidur. Entah mengapa, kali ini degup jantungnya makin kencang. Menimbulkan debaran hebat di dadanya. Hujan semalam seolah membawa pesan juga penegas tentang firasat.

Deru motor meraung-raung dari jauh. Ram memastikan jika itu Rei. Dugaannya terbukti saat raung motor itu berhenti tepat di depan Ramahnya. Ram bergegas, menyalin pakaian seadanya, lalu sigap menuruni anak tangga. Lelaki di depan Ramahnya menyambut dengan senyum tipis.

“Barangnya ada?” Ram memastikan.

Rei menyerahkan sebuah tas punggung dan disambut Ram.

“Ayo cabut…!” Perintah Ram.

Motor sport berwarna darah itu melaju kencang. Membelah jalan sunyi, meliuk-liuk di atas aspal yang masih basah. Ada ketakutan yang seketika buncah di dada Ram dan Rei, tapi keberanian telah membunuh rasa takut. Apalagi, kali ini jika aksinya sukses ada keuntungan menggiurkan menanti.

“Di perempatan!” Instruksi dari seseorang lewat panggilan ponsel. Singkat, padat, jelas!

Ram mengarahkan Rei ke titik perempatan dimaksud. Laju motor dipelankan lalu berhenti. Keduanya turun memotret suasana. Sebuah mobil berwarna silver merapat. Ram tahu, inilah calon pembeli!

***

Isna tak menyangka jika hubungannya dengan Ram akan terjalin sejauh ini. Hatinya diliputi bunga, apalagi sepekan lalu lamaran sudah dilaksanakan. Keluarganya sepakat, akad nikah digelar dua pekan setelah lamaran. Tak perlu lama-lama. Begitu ucap ayahnya saat menerima rombongan Ram. Sepertinya, ayahnya tahu isi hati gadis pemilik lesung pipi ini tak sanggup didera rindu dalam bilangan terlampau lama. Mengulur-ngulur waktu, sama saja memanjangkan resah. Jelas itu tidak baik bagi kesehatan.

Dara manis bermata teduh ini tiada henti berucap syukur. Rasanya, masih terngiang awal perjumpaan itu. Di Taman Kota, saat senja mulai turun. Ram tak sengaja menabraknya. Lalu tatapan bertemu, disorot sinar keemasan senja sore itu. Getaran dari balik dada masing-masing mengirim pesan. Pertemuan itu berlanjut perjumpaan demi perjumpaan di waktu yang lain. Hingga hati keduanya saling menyelami. Lalu ada ikrar yang ingin ditegaskan, setelah Isna dan Ram tak lagi mampu memendam rasa rindu. Keduanya ingin bersatu. Segera! Aku, kamu menjadi kita.

Tinggal menghitung hari. Undangan sudah disebar, berbagai keperluan sudah dipesan. Perayaan raja ratu semalam akan menjadi kenangan paling manis dalam hidupnya. Oh rindu. Isna masih ingat puisi paling gombal yang pernah dibacakan Ram.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

(Sapardi Djoko Damono)

Isna tak pernah tahu, jika puisi itu milik penyair kawakan tanah air. Ram asal mencomotnya dari mesin pencari dan belajar mendeklamasikannya. Hari itu, saat pertemuan kembali terjadi. Ram dengan percaya diri membacakan puisi di hadapan orang terkasihnya. Isna memang merasa menjadi perempuan paling tersayang kala itu!

"Puisi Aku Ingin, karya Ram Manunggal!"

Suara Ram membual. Isna masih ingat setiap intonasi kata demi kata yang keluar dari lelakinya. Juga gaya paling nyentrik nan gombal Ram. Isna benar-benar tidak bisa melupakannya. Hingga malam-malam menjadi penantian panjang. Hingga tidurnya semakin koyak karena tidak nyenyak. Hingga segala pikirannya hanya tercurah pada satu sosok: Ibrahim Manunggal alias Ram.

***

Lelaki itu keluar dari mobilnya, melangkah pelan sembari mengawasi keadaan. Lakonnya sebagai umpan harus sukses. Dari arah berlawanan Ram mulai mendekat. Rei memilih berjaga di motor mengamati situasi.

“Barangnya?” Tanya lelaki itu.

Ram memberi isyarat dan lelaki itu membalas menunjukkan sesuatu di tangannya. Ada beberapa mata mengawasi dari jauh: sosok serupa elang siap menerkam. Hanya dalam hitungan detik. Kala Ram dan lelaki itu berada pada jarak yang rapat. Saat barang dan uang berpindah tangan. Suasana menjadi genting. Puluhan orang berseragam menyergap bersenjata lengkap.

“Polisi! BNN! Jangan bergerak!”

Ram terdesak namun tak bisa berbuat banyak. Posisinya sulit, sementara Rei berusaha kabur. Rei tak berkutik, tembakan peringatan melesat ke udara. Baik Ram maupun Rei, keduanya bergidik. Ada sosok lain yang menjadi pengamat setia bahkan sebelum Ram, Rei, dan lelaki itu tiba di lokasi. Dia sang pemberi petunjuk, yang memastikan bahwa transaksi kali ini aman-aman saja. Dia luput meski sebelumnya sudah curiga. Dia mendengus kesal, sembari mengeluarkan ponsel dan mencopot Sim Card-nya. Dia tak menduga, pemilihan perempatan yang cenderung ramai terendus petugas. Strateginya mental: tempat paling aman di keramaian. Dia dipecundangi karena bertransaksi dengan petugas yang menyamar. Bayangan segepok uang kini raib, dan barang haram nyaris satu kilogram kini jadi barang bukti. Dia melangkah penuh amarah.

Ram dan Rei digelandang. Keduanya tak menyangka jika situasi sulit semacam ini akan mendera pada akhirnya. Interogasi dilakukan, Ram dan Rei terancam petugas jika berani menyangkal. Keduanya dijembloskan ke tahanan.

Malang bagi Rei, baru kali ini dia turut serta. Sementara Ram? Pikirannya mengembara ke mana-mana. Bayangan tegas kedua orang tuanya hadir di depan mata. Dia menimbang banyak hal, termasuk rasa malu yang akan bersemayam bagi keluarganya. Wajah Isna hadir benderang seterang matahari. Tak ada jalan, Ram meraung dengan air mata yang terus menderas. Sementara Rei terduduk kuyu merutuki keadaan.

Isna baru saja mencoba gaun pengantinnya saat kabar Ram tiba di telinganya. Kedua orang tuanya tak menyangka akan dipermalukan sehebat itu. Tinggal menghitung hari, dia dan Ram akan menjelma ratu-raja semalam. Entahlah, perempuan ayu ini masih menimbang, apakah setelah hari ini dia akan kuat menemui kenyataan: Calon suaminya ditangkap karena narkoba!(*)

Simak juga:

0 Comments

Posting Komentar