Cina Melawan Amerika

https://statik.tempo.co/data/2018

(Artikel ini ditulis Tahun 2012. Semoga masih relevan dengan kondisi terkini)

sultansulaiman.id, Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina kembali bergemuruh. Hal ini dipicu dengan munculnya kebijakan pembatasan ekspor mineral langka yang diberlakukan oleh Pemerintahanan Republik Rakyat Cina terhadap beberapa negara, termasuk AS. Melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Amerika mendesak agar Cina membuka keran ekspor bahan baku mineral langka untuk keperluan industri mereka. Dengan begitu, kelesuan industri strategis dalam negeri AS akibat krisis global bisa diatasi.

Kebijakan yang mulai diberlakukan Cina September tahun lalu (2011) itu memang cukup membuat AS keteteran. Pasalnya, pasokan mineral langka atau sering disebut Logam Tanah Jarang (LTJ) berupa lanthanum, cerium, neodymium, dan dysprosium menyebabkan industri AS mengalami kemandegan. Jika kondisi ini terus berlanjut, industri perminyakan, industri otomotif, industri elektronik, industri persenjataan, hingga sektor indutri strategis lain yang dipunyai Amerika akan kehilangan daya saing bahkan bisa gulung tikar.
Dominasi Cina terhadap 93 persen LTJ yang dibutuhkan dunia menyebabkan Cina bisa lebih luasa melakukan monopoli ekspor. Namun beredar asumsi, jika kebijakan pembatasan tersebut adalah bentuk aksi balas dendam atas hal serupa yang pernah dilakukan AS. Amerika Serikat pernah memberlakukan kenaikan tarif impor ban karet Cina pada 2009 hingga 35 persen.

Namun Menteri Luar Negeri Cina, melalui juru bicaranya Liu Weimin menampik dugaan tersebut. Liu menyebut bahwa munculnya kebijakan pembatasan ekspor LTJ merupakan langkah antisipatif untuk mencegah kerusakan lingkungan sekaligus melestarikan sumberdaya langka yang tidak bisa diperbaharui.

Konfrontasi Sosialisme (pasar) Komunisme Versus Kapitalisme Liberal

Rivalitas Cina dengan Amerika Serikat merupakan bentuk konfrontasi baru perang ideologi dunia. Pasca runtuhnya Uni Soviet, AS hampir tak memiliki pesaing berarti. Hal ini yang membuat AS seolah di atas angin. Namun dominasi ini nampaknya akan mengalami mimpi buruk setelah munculnya berbagai kekuatan baru dunia. Kemunculan beberapa negara yang mengalami lompatan kemajuan yang sangat pesat mengindikasikan akan adanya rivalitas era baru.

Cina tampil gagah, melanggengkan dominasi kekuatan baru di Asia. Keberhasilan Cina dalam menobatkan diri sebagai negara maju membuatnya tak bisa dipandang sebelah mata. Kemajuan dalam berbagai sektor, termasuk sektor ekonomi dan industri menjadikan Cina memiliki peran strategis dalam percaturan global. Apalagi, ekplorasi dalam bidang pertahanan semakin mengokohkan martabat Cina sebagai negara yang disegani.

Mungkin, Soviet telah runtuh, namun sistem ideologinya telah diadopsi oleh Cina, bahkan digunakan sebagai ideologi negara. Namun Cina telah belajar dari keruntuhan Soviet. Komunisme dalam terminologi Cina berusaha dikawinkan dengan kapitaslisme. Hasilnya, Komunisme menjadi nafas ideologi negara, sementara Sosialisme Kapitalis (sosialisme pasar) mengakar praktis dalam sistem ekonominya. Cina akhirnya tampil sebagai kekuatan Komunisme baru di dunia.

Keunikan dari sistem ideologi ganda ini nampaknya ingin mendobrak hegemoni Liberalisme Kapitalisme Amerika. Juga hadir sebagai penanda bahwa rezim Liberalisme-Kapitalisme mendekati keruntuhannya. Dalam kasus pembatasan ekspor LTJ, AS tak bisa berbuat banyak. Ketergantungan AS terhadap komoditi LTJ Cina justru menjadi indikasi kuat, bahwa Cina telah menggempur AS dalam bentuk “perang dagang”.

AS dan Gejala Ketergantungan

Amerika Serikat sebagai negara adidaya tak bisa menampik jika gejala “ketergantungan” telah menjalar di hampir seluruh sektor industri dalam negerinya. Pasokan bahan baku yang bergantung pada ekspor negara lain justru menjadi bumerang terhadap posisi AS sebagai adidaya. Kemunculan berbagai embrio kekuatan baru dengan ragam ideologi yang dibawanya seolah menabuh genderang perang abad baru. Embrio kekuatan baru ini lahir sebagai indikasi kejenuhan terhadap monopoli kebijakan internasional yang banyak dimainkan oleh AS yang dianggap merugikan banyak negara pemasok bahan baku.

Tapi AS tak bisa berbuat banyak. Biasanya, gejala ketergantungan AS selalu dibawa dalam dua logika yang umum dilakukan. Dua logika itu adalah perang dan pendudukan, penguasaan dan pencaplokan. Namun kebijakan politik luar negeri ini terkesan sangat arogan, justru mematenkan ragam antipati yang menyebabkan banyak negara justru meneriakkan perlawanan. Cina, sedang melawan, meski membungkus perlawanannya dengan cara halus namun tetap frontal.


Cina saat ini berada pada posisi “aman”. Jika kepada Iran, AS berani menabuh genderang perang, tetapi untuk Cina tidak. Meski AS melakukan tekanan politik melalui WTO atas kebijakan LTJ, Cina tetap melanggengkan diri sebagai negara yang memiliki kedaulatan, termasuk menetapkan kebijakan luar negerinya. Cina memiliki sikap sendiri. Serupa Iran, Cina tak pernah takut terhadap ragam intervensi AS.

Perbedaan Sikap terhadap Penetapan Sanksi Iran

Penolakan Cina untuk ikut-ikutan melakukan embargo terhadap minyak Iran yang diserukan AS jelas mementahkan tekanan AS terhadap negara lain dalam melanggengkan kepentingannya. Wakil Menteri Luar Negeri Cina, Cui Tiankai mengatakan secara gamblang bahwa kerjasama Cina-Iran murni kerjasama perdagangan dan energi, tidak ada hubungannya dengan nuklir.Cui berkomentar tentang proyek pengembangan nuklir Iran harusnya sesuatu yang dihormati sebagai bentuk kebijakan dalam negeri negara yang berdaulat. Pernyataan itu disampaikan Cui saat menerima Menteri Keuangan AS Timothy Geither yang berkunjung ke Beijing untuk mendapatkan dukungan terkait sanksi anti-minyak Iran.

Sikap yang ditunjukkan Cina bentuk gaya elitis diplomasi negara papan atas. Hendaknya ini menjadi “pesan” bagi AS bahwa posisinya saat ini berada dalam wilayah yang gamang. Cina mampu menampik ragam pergolakan wacana internasional yang dimainkan AS dengan memeroduksi wacana tandingan. Cina yang memihak ke Iran terbaca sebagai gerakan membentuk klan kekuatan baru dunia untuk mematahkan hegemoni AS. Amerika Serikat harus semakin hati-hati karena Cina telah mengirim “pesan perang dagang”.

Penulis meyakini, cepat atau lambat dominasi AS akan runtuh seperti runtuhnya Soviet di masa lalu, dan Cina nampaknya akan menjadi salah satu kandidat kuat super power baru dunia. Meminjam teori peradaban Ibnu Khaldun yang termaktub dalam Mukadimahnya, peradaban seperti siklus yang memiliki masanya sendiri, peradaban pasti akan menemui kejayaan dan keruntuhannya. Cina membawa gerbong Komunisme baru dan melanggeng penuh percaya diri, menantang keangkuhan Kapitalisme yang kini bak telur di ujung tanduk.

*Penulis adalah Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo 2011-2013.

Simak juga:

5 komentar

  1. saat ini emang kayaknya kita hanya menunggu waktu saja, saat nya ASIA yang bangkit, dan itu terlihat dari sekarang

    BalasHapus
  2. zaman dulu banget pernah baca, setelah AS jadi preman dunia, ganti Cina. nantinya India, terus Dunia Islam.

    BalasHapus
  3. Dg memiliki sebagian besar LTJ, Cina bisa banyak tingkah ya. Bahkan negara adidaya seperti Amerika pun keteteran.

    BalasHapus
  4. Apa apa sekarang tu Cina ya, luarbiasa kekuatan negara Asia satu itu

    BalasHapus
  5. Amerika belingsatan sekarang ya, benci pada Cina tapi masih sangat membutuhkan berbagai produk dan bahan baku dari sana jadi lucu lihatnya nggak berdaya

    BalasHapus


EmoticonEmoticon