Debaran di Bulan Juni

Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Adalah cinta mulai tumbuh, dari Makassar ke Serambi Madinah. Aku menyeret langkah itu, tertatih mendatangi kotamu yang tak pernah terlintas dalam imaji. Lalu, sebiji rindu mulai mencari muara dari deretan kemalangan.

Di Jakarta, aku nyaris lenyap dimakan deru ganas ibu kota. Tiba dini hari, menumpang pesawat yang sering telat waktu keberangkatannya, lalu hujan deras membuat ruas-ruas jalan tergenang parah. Aku yang buta jalan, tak tahu harus ke mana. Satu-satunya harapan, deretan angka-angka dari ponsel yang mulai sekarat. Ponsel itu benar-benar payah…

Ke mana aku? Satu-satunya cara, sekaligus langkah penghematan kelas wahid, menumpang ojek mencari alamat rabun. Kampung Makassar, ya, akhirnya sampai juga dengan meraba-raba disertai banyak bertanya. Sepasang sepuh menyambut, seorang keluarga bugis Bone yang luar biasa baik. Seorang kawan pondokan, Imran namanya. Lulusan Fakultas Ekonomi yang sedang magang di Bank ternama yang mengajakku menyabung hidup di Jakarta. Beberapa hari, makan-minum, tidur gratis di rumah seseorang yang disapa Puang, tante kawan kami Imran.

Hanya bilangan hari saja. Mengikuti rangkaian seleksi di intansi pemerintah pusat. Sambil terkantuk-kantuk mengisi lembar jawaban di Gelora Bung Karno. Hujan masih awet, namun ribuan butir peluh memasungku di antara ribuan orang yang meniti jalan masa depannya.
***
Parepare selalu menjadi tempat kembali yang dirindukan. Jalan-jalan beraspal meliuk hingga ke perbukitan. Dari ketinggian, menatap jauh hamparan laut biru. Kapal-kapal raksasa melepas sauh. Pertemuan dan perpisahan tergelar dari Pelabuhan Tua Kota kelahiran Habibie. Ah…Di sini aku dilahirkan.

Cerpen: Seikat Satu

Di Serambi Madinah seorang kawan (pernah) satu pondokan mengabarkan peluang. Ke sanalah akhirnya langkah diseret. Peluang bertepuk, meski ada ragu. Dari negeri Fadel Muhamad, bergeser ke Utara di tanah Nyiur Melambai. Manado selalu pemurah dan gadis-gadisnya ramah dengan paha dan dada yang nyaris selalu terbuka. Seperti namanya, stereotype tentang Manado: Mana doi. Asal ada uang, seketika yang terlarang bisa dengan mudah dinikmati. Ada banyak wajah mirip Luna Maya di sana, mereka bisa menyerahkan apa saja asal ada uang.
Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

“Di Gorontalo saja, jangan di Manado. Bahaya!” Petuah Tante, saudara ibu.

Terbukti, Manado memang amat menggiurkan bagi mata yang kelaparan dan selangkangan yang kehausan. Manado adalah surga cadeko dan intelek. (Silakan cari apa, kepanjangan dari dua akronim itu. Nyatanya begitu.)

Beruntung bisa mengendara ke Tomohon, merasai sejuknya udara pagi dan menikmati rimbunnya bunga-bunga yang bermekaran.

Dari kejauhan Gunung Lokon selalu angkuh, dengan semburan asapnya yang seperti sedang merokok saja. Aku menyapanya sembari meruahkan segala yang tertinggal. Di Kota Daeng, di beberapa tempat yang telah kudatangi. Akhirnya luruh bersama panorama Tomohon yang membawanya menemui Gunung Lokon yang perkasa itu. Jika perjalananku harus berhenti di Tomohon atau Manado, mungkin kita tak akan bertemu.

***

Pesawat baling-baling membawaku kembali ke kotamu. Ada perasaan campur aduk, saat menumpang pesawat mini. Ada puluhan penumpang, dengan wajah-wajah cemas. Pesawat ini mirip bus yang dipasangi baling-baling. Benar, saat mulai lepas landas, kecemasan berubah ketakutan. Beberapa kali pesawat oleng, mengalami turbulensi, ditampar angin berkali-kali. Seingatku, ada dua kali kesempatan pesawat itu seperti terjun bebas. Dan aku mulai sangat memahi bahwa tutorial doa di buku petunjuk keselamatan yang disimpan di kantong kursi sangat berguna. Di belakang kursi dudukku, ada suara yang mulai sesenggukan sembari melirihkan doa-doa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Ah! Jika tiba masanya, mungkin kita benar-benar tidak akan bertemu. Namun pertemuan laiknya perpisahan adalah rahasia Tuhan. Pesawat mini itu tiba dengan selamat di Bandara Jalaluddin.

***

Juni menjadi mendebarkan sebab ianya penanda penyatuan kita kemudian. Berbekal modal pas-pasan, lamaran ditunaikan dan aku akhirnya punya teman. Dalam artian, teman yang menggenapkan bagi perantau yang kesepian. Dua Puluh Sembilan Juni Dua Ribu Sebelas, tepat di momen Isra Mikraj kala itu, kita benar-benar bertemu. Debaran di dadaku lebur dengan getar di hatimu. Adakah getar itu benar adanya?

Bagi perantau, mendapatkan keluarga tentu amat menggembirakan. Merantau seperti menuntun pada pengembaraan lain, bahwa sesuatu yang tertinggal akan terbayar dengan sesuatu yang ditemukan kemudian. Malam-malam kita mafhumi sebagai ikhtiar merekatkan penyatuan.

Pada sepi yang menikam, kau hadir membawa bingar, pada hati yang memilukan, kau menyuguhkan penawar. Adalah tawa menggema yang sesekali mengibas-ngibaskan air mata di rumah mungil itu. Hawa kemarau yang dingin dan hujan-hujan gerimis mengukir kisah-kisah yang jauh lebih mendebarkan.

Dua Puluh Tujuh Juni, Dua Ribu Dua Belas, ia yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (memasung) itu telah hadir. Lelaki mungil yang lucu. Beragam warna kuak bersamaan dan kita mencernanya dengan terus belajar. Lelaki yang kemudian dipanggil Kakak. Dia yang penyayang, yang sudah bisa membuatkan adiknya susu, merebus dan menggoreng telur, membuatkanmu secangkir teh hangat, atau menyuguhkan teh hijau dingin. Dia yang sudah bisa disuruh-suruh, kini.

Lima tahun setelahnya, lelaki lain, tepat di perayaan tujuh tahun pernikahan menambah skuad kita. Lelaki yang saban hari membuatmu memanjangkan tangis. Lelaki itu, dengan rasa penasaran yang buncah, seperti kehilangaan rasa takut, melukis pengembaraan dengan langkah-langkah kecilnya. Hingga dua orang asing mengantarnya kembali ke rumah kita. Dia Abang kita.

Inilah rentetan perkara Juni yang selalu membuat mentakziminya. Selamat sembilan tahun, semoga betah dan seikat satu selamanya, menyertai perjalanan rantau yang entah akan berakhir di mana! Asal ada kau di sampingku bukan?(*)

0 Comments

Posting Komentar