Pak Jokowi, Berdirilah Bersama Rakyat!

foto miks dari voi.id dan m.mediaindonesia.com

SultanSulaiman.Id, Untuk rakyat pelupa seperti kita, “citra” selalu menjadi senjata ampuh mendulang suara. Lihatlah, bagaimana jutaan rakyat Indonesia tersihir citra SBY di masa dulu. Dua periode, dagelan prestasi terpoles manis, SBY bertakhta mulus ke tampuk kepemimpinan tertinggi negeri ini. Meski, menjelang akhir masa jabatannya, SBY menerima caci-maki, karena mereka yang memilihnya dulu merasa telah salah pilih. Kasus besar mencuat akhirnya, Century, Hambalang, lalu parade Cicak vs Buaya yang melelahkan itu. Tapi, apa guna segala cari-maki bagi kita yang memang amat “pelupa” ini?

 
Banyak wajah-wajah yang tampil mengesankan. Di mana-mana, ruang-ruang publik berhias meriah wajah-wajah baru yang sebenarnya usang. Dari sekian banyak wajah itu, bagi banyak orang, ada satu rupa yang jelas membuat publik jatuh hati. Dialah Jokowi, lelaki kerempeng Penguasa Ibukota itu hadir bak nabi, kemunculannya seolah mengusir dahaga rakyat yang telah “sakau” dikibuli politisi.

Jokowi tampil kontras di tengah keumuman wajah politisi kita. Kekontrasan ini melahirkan “harapan baru” untuk Indonesia yang lebih baik. Jokowi yang apa adanya, sederhana, lugas, bertindak cepat, dekat dengan rakyat telah mengesankan perhatian publik. Jokowi dielu-elukan. Dia adalah representasi rakyat yang telah lama merindukan dewa penolong di tengah hidup yang semakin nelangsa. 
 
Setelah mendapat mandat dari Ketua Umum PDI-P untuk maju sebagai calon presiden 2014, Jokowi mengumumkan kesiapannya melalui televisi. Berlatar rumah Si Pitung, dan selembar kain merah-putih, Jokowi dengan mantap bersuara lalu mencium bendera. Lirih suara wartawan yang meliput mengucap “amin”. Sontak, pengumuman pencapresan itu ditengarai akan mengubah konstalasi politik kita. Jokowi dipastikan akan melanggeng mulus ke pucuk pimpinan tertinggi negeri ini. Hampir dipastikan, Jokowi tak terkejar wajah-wajah lain yang terlalu sering mejeng di layar kaca. Partai Golkar melempar sinyal akan menganulir Ketua Umumnya Abu Rizal Bakri karena tidak juga menunjukkan kenaikan angka elektabilitas memadai. PDI-P lihai membaca peluang, momentum ini tidak bisa dilewati jika Partai Banteng itu ingin mendulang suara dominan di pemilu mendatang.

Jalan yang Tak Mulus

Sebelum keluarnya nama calon presiden dari PDI-P, telah merebak kabar soal “Perjanjian Batu Tulis” antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Sang Jenderal menagih janji, pada pemilu tahun ini Megawati harus mendukungnya menuju takhta kepresidenan. Dasar perjanjian itu tentu kuat, karena berbubuh tanda tangan di atas meterai. Nyatanya, perjanjian itu telah dilanggar dengan keluarnya mandat pencapresan Jokowi oleh PDI-P. Mungkin, akan ada langkah hukum yang akan ditempuh selanjutnya, mengingat Prabowo dan Gerindra merasa dikhianati. Jika proses ini berlanjut, tentu akan jadi sandungan bagi Jokowi dan PDI-P.

Di sisi lain, adalah Ade Ardiansyah Utama, mantan Ketua Tim Relawan Jakarta Baru yang mendukung Joko Widodo pada Pilkada Jakarta lalu mengungkapkan kekecewaannya. Bersama sekitar 180 Perwakilan Tim Relawan, Ade mencabut mandat Jokowi sebagai Gubernur pada Senin (17/03) (m.jpnn.com) juga berencana memolisikan Jokowi. Tak hanya itu, Ade juga menyerukan kepada seluruh khalayak Jakarta agar mengosongkan Jakarta dari PDI-P. Partai Banteng itu dinilai bertanggung jawab karena telah merampas Jokowi dari posisinya sebagai Gubernur untuk diserahi mandat baru. Sebagai calon presiden. Tertuduhlah Jokowi sebagai kutuloncat, pengkhianat, tidak menepati janji, dan ragam label negatif lainnya.

Pendapat senada keluar dari Rahmad M Arsyad, direktur Riset IDEC juga dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta dalam tulisannya “Jokowi, Mega, dan Politik Machiavelli”. Rahmat menilai keputusan PDI-P mencalonkan Jokowi jelas pragmatis. Keputusan itu mengambil dasar dari angka tinggi elektabilitas Jokowi yang dirilis oleh banyak lembaga survei. Oleh Rahmad, Jokowi dinilai telah melabrak aspek etika, kehormatan, juga tanggung jawab, dan amanah kepemimpinan yang diembannya. Praktek semacam itu dalam bahasa Machiavelli sebagaimana dikutip Rahmad disebut impetuous.

Sandungan selanjutnya yang bisa saja jadi penghalang adalah adanya dugaan kuat bahwa para penyandang dana penyokong pencapresan Jokowi ditengarai merupakan jaringan komlomerat hitam. Ada nama James Riady yang memiliki rekam buruk, termasuk aktif dalam mengampanyekan doktrinasi aliran agama dan ideologi tertentu yang mengusik kalangan mayoritas (Islam) di negeri ini. Suara-suara yang mengebiri Jokowi bermunculan, mulai dari pentolan Muhammadiyah juga politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amin Rais, mantan Ketua Umum PB NU KH. Hasyim Muzadi, terakhir suara keras dilantangkan oleh Sekretaris Jend. Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nassir.

Suara-suara tersebut jelas menunjukkan representasi kalangan mayoritas yang telah membaca adanya motif lain di balik mendadaknya PDI-P mengajukan Jokowi sebagai calon presiden. Jokowi meski berulangkali telah menyatakan menolak, namun pernyataan kebersediaannya jelas mengandung makna tersirat. Amat misteri tentunya. Jokowi berbalik arah, berselisih dengan janjinya sendiri pada Rakyat Ibukota.

Tak Terbendung

Hanya saja, Jokowi diakui hampir tak terbendung. Drama ini jelas telah dapat diprediksi akhirnya. Hal ini dikuatkan oleh Eep Saefulloh Fatah, Pendiri dan Pemimpin PolMark Indonesia Inc, dalam tulisannya “Momentum Politik Jokowi?” bahwa Jokowi telah diasosiasikan sebagai “Pembuka Jalan Keluar” terhadap ragam persoalan kebangsaan yang saat ini kita hadapi. Jokowi adalah sang superhero penghapus dahaga juga air mata rakyat kita yang telah lama berkabung lara.

Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan sosok-sosok calon presiden yang telah lebih dulu mangkal di layar kaca, Jokowi jelas merepresentasikan kelompok baru karena usianya jauh lebih muda. Oleh Eep Jokowi disebut sebagai perwakilan “Generasi Baru” Indonesia. Jokowi dianggap lebih bisa mewujudnyatakan harapan-harapan perbaikan karena sosoknya yang terlanjur diasosiasikan bersih, jujur, berani, tegas, dan sederhana. Ya! Dari segi rekornya, Jokowi hampir tidak bermasalah, beda dengan calon-calon lain yang memiliki beban sejarah yang berat. Akhir cerita Jokowi berakhir di Istana Negara sebagai Presiden Ketujuh Republik ini. Tidak sampai di situ, seperti yang disaksikan, Jokowi bisa melenggang dua periode.

Prahara

Hari ini dan hari-hari ke depan, bahkan jika Tuhan mengizinkan sampai 2024, Jokowi telah menjadi panglima tertinggi, menyayomi dua ratus juta jiwa rakyat negeri ini yang menggantungkan harapan dari janji-janji manis, sejak menjabat di periode pertamanya, hingga periode kedua.

Ada banyak suara-suara nyaring yang mulai berdengung, laksana lebah yang beterbangan menyengat ke banyak sudut. Gerakan massif akhirnya menguar di mana-mana. Adalah Undang-udang Cilaka Omnibus Law tampak membentangkan petaka di tengah gempuran pandemi yang masih meraja. Rakyat, seperti terjatuh, tertimpa tangga, lalu terinjak-injak. Suara-suara orang lapar akhirnya mengaung. Ada yang menyebut jika gelombang protes massa ini akan berujung pada peristiwa yang lebih besar. Semoga tidak.

Atas desakan suara-suara itu, Pak Presiden Jokowi harusnya sudah menemuka titik krusial yang terjadi. Bahwa lingkaran oligarki saat ini makin rakus dan tumbuh-subur. Saatnya Jokowi berdiri bersama rakyat dan melakukan pembersihan total. Sudah saatnya Presiden memiliki sikap mandiri yang kokoh atas segala yang terjadi selama ini. Sudah masanya presiden, meredam segala ragam suara sumbang yangberbicara atas nama pemerintah. Semestinya, taka da suara lain yang lebih nyaring dari suara Presiden.

Di arus bawah, aparat dan rakyat berhadap-hadapan. Jika dibiarkan, prahara akan bergerak ke mana-mana. Berbahaya bila, prahara ini menemukan momentum konsolidasinya. Lalu rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Hanya soal waktu saja. Pak Presiden, berdirilah bersama rakyat!(*) 

9 komentar

  1. Semua pemimpin punya jalan buruk, nggak ada yg bener2 baik, tp masak iya sih nggak ada sumbangsihnya buat bangsa, masak buruk trus 🤣🤣 yah ambil yg baik, buang yg buruk gtu aja

    BalasHapus
  2. Semoga dibaca ini tulisannya, dishare tag ke Pak Jokowi deh ya, soalnya emang perlu ada masukan buat pemerintahan.

    BalasHapus
  3. Iya semoga ada perbaikan ya di pemerintahan, lebih berpihak ke rakyat kebijakannya, semoga Allah menolong kita, melepaskan kita dari pandemi ini aamiin

    BalasHapus
  4. Baca paragraf terakhir, kenapa saya malah jadi inget film standbyme. *tepokjidat*

    Btw, yg saya pelajari selama menjadi guru TK, ternyata kita perlu menanamkan diri kita sedari dini, utk mau 'bicara'

    Bicara ketika mengapresiasi orang lain, pun bicara ketika kita merasa tidak nyaman

    Yg penting bicaranya tetap disampaikan dg baik dan bijak

    Maka, saya pribadi mengucapkan terima kasih Sultan sudah 'bicara' di blog ini ya!

    Semoga Allah berkahi negara ini aamiin ya Allah


    BalasHapus
  5. Semoga banyak orang baik yang berada di sekitar Jokowi yang bisa mengingatkan beliau. Kalo aku sih sekali aja deh pak. Biar ganti suasana juga

    BalasHapus
  6. Aku bingung mau komen apa wekekek, Pakdeee, turunkan harga bahan pokok

    BalasHapus
  7. dari sini aku jadi tau, ternyata prabowo itu diajari mega. eng ing eng!

    BalasHapus
  8. Mengikuti dinamika politik emang begitu bikin dagdigdug derrr. Sebenarnya pilihan ada ditangan rakyat. Pemimpin hari ini pun pilihan rakyat. Wajah pemimpin pun menunjukan wajah rakyat saat ini.

    BalasHapus
  9. Doa terbaik untuk semua pemimpin kita. Jika pemimpin baik maka sebuah negeri juga akan baik. Amin. Maju Indonesia, maju pemimpinnya.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon