Khutbah Idul Fitri: Ramadan dengan Segala Cinta Itu Kini Telah Pergi

SultanSulaiman.Id, Berikut naskah khutbah yang ditulis oleh ustas Abdullah Hulalata, S.Pd.I. Ustas Abdul merupakan Anggota Komisi Dakwah MUI Kota Gorontalo, Konselor Rumah Keluarga Indonesia, Pengurus Kimunitas Cinta Masjid Gorontalo, dan Penulis Buku yang inspiratif. 

 RAMADAN DENGAN SEGALA CINTA ITU KINI TELAH PERGI

الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. وَ قَالَ تَعَالَى: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.

Ramadan tahun ini, sangatlah spesial. Berbeda dengan Ramadan tahun lalu di awal pandemi korona. Dulu, kita tidak bisa salat Tarawih bersama, bahkan salat Idul Fitri pun sama. Seolah ada yang hilang di Ramadan tahun itu. Jangankan ahli ibadah, ahli maksiat pun merindukan salat berjamaah di masjid. Maka di tahun ini, kerinduan itu terobati. Kita dibolehkan salat bersama, bahkan Idul Fitri pun diizinkan.

Betapa kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah kaum muslimin. Terlihat senyum mereka menunjukkan rasa bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seolah mereka mendapatkan kembali yang selama ini telah hilang.

Betapa bersyukurnya kita yang diberi kesempatan bertemu bulan Ramadan, padahal banyak saudara, teman dan kerabat kita yang mungkin umurnya lebih muda, namun lebih dulu dipanggil Allah. Sehingga, mereka tidak berkesempatan untuk melakukan amaliah di bulan suci ini.

Beruntunglah orang-orang yang telah beramal di bulan Ramadan ini. Tarawih bersama, salat lima waktu berjamaah, mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an berkali-kali, memperbanyak sedekah, bahkan amalan-amalan kecil lainnya. Sungguh amalan-amalan itu kelak akan menjadi tabungan di sisi Allah. Entah sedikit maupun banyak.

Maka wahai kaum muslimin, Ramadan tahun ini adalah Ramadan dengan segala cinta.  
 
1. Cinta Allah Kepada Kita
 
Dia tidak wafatkan kita di masa pandemi ini, Dia beri kesempatan kepada kita untuk bertobat dan kembali merasakan nikmatnya ibadah, itu adalah cinta-Nya. 
Betapa banyak maksiat yang telah kita lakukan, betapa banyak kedurhakaan yang telah kita perbuat, namun Allah tidak menghukum kita. Allah tidak mematikan kita sebelum Ramadan ini. Hal itu karena Allah selalu menanti kita di pintu tobat-Nya dengan segala cinta.

Meskipun kita selalu membangkang perintah-Nya, melampaui batas dalam kehidupan ini, namun dengan penuh kelembutan Dia seru kita dengan panggilan “hamba-Ku.”

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)
 
Coba rasakan nafas kita, detak jantung kita, bahkan aliran darah dan oksigen dalam tubuh kita, semuanya masih baik-baik saja. Tidakkah kita berpikir, andai Allah hentikan semua itu, kita pasti sudah tidak berada di dunia ini. Namun itu Allah tidak lakukan. Maka, masih kurangkah cinta-Nya? Lantas apa yang kau tunggu dari-Nya agar engkau mau mendekat kepada-Nya?
 
Wahai kaum muslimin yang merindukan berkah dan rahmat-Nya. Dengarlah seruan Allah yang penuh kelembutan. Dia selalu membuka pintu-Nya kepada kita.
 

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

 
Anas bin Malik ra. berkata,  Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: “Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak mensekutukan sesuatu dengan-Ku niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

Saudaraku sekalian... 
Terkadang kita menganggap bahwa tanda cinta Allah kepada hamba-Nya hanya berupa nikmat saja. Kalau kita diberi karunia rezeki berarti Allah mencintai kita. Padahal musibah dan ujian pun tanda cinta dari-Nya.
Maka jangan pernah putus asa hanya karena musibah yang menimpa kita, apalagi di masa pandemi yang entah kapan berakhir, jadikan semua musibah ini sebagai wujud cinta-Nya kepada kita. Sebab, jika dalam tawa kita tidak mendekat kepada-Nya, maka Dia akan memaksa kita agar mendekat kepada-Nya dalam tangis. Oleh karena itu, musibah ini adalah surat cinta dari Allah agar kita tidak menjauh dari-Nya. Musibah yang mendekatkan diri kepada Allah lebih baik daripada nikmat yang menjauhkan kita dari-Nya. 
 
2. Cinta Kita Kepada Sesama 
 
Ramadan telah melatih kita untuk berbagi kepada sesama. Ada yang memberi makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa, ada yang mengantarkan bingkisan sebagai hadiah, entah dia teman satu organisasi atau pun tidak, orang berpuasa maupun tidak, orang muslim maupun tidak, semua dia santuni. Hal itu pun sejalan dengan karakter Islam rahmatan lil alamin.
 
Islam rahmatan lil ‘alamin itu bukanlah milik kelompok tertentu. Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Itu adalah milik semua kaum muslimin. Di mana pun dia berada, selama mengucapkan kalimat tauhid, maka dia adalah pemilik Islam itu. Selama kiblat kita sama, Al-Qur’an kita sama, dan rukun Islam dan Iman kita sama, maka berarti kita bersaudara. Maka, sesama saudara seharusnya saling mencintai karena Allah. Bahkan lebih dari itu, persaudaran dalam keimanan itu mahal tak ternilai harganya. Sebab, di hari kiamat kelak saudara sesama muslim bisa saling memberi syafaat.

حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ فِي النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتْ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ

Sehingga ketika orang-orang mukmin terbebas dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian yang begitu gigih memohon kepada Allah di dalam menuntut hak  pada hari kiamat untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka, mereka berseru, “Ya rabb, mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka, “Keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah dimakan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. (HR. Muslim)
 
Saudaraku muslim... 
Sungguh pemandangan yang sangat indah. Betapa sahabat itu sangatlah kita butuhkan syafaatnya kelak di hari kiamat. Maka perbanyaklah bersahabat dengan orang-orang saleh, siapa pun dia dan dari organisasi manapun dia berasal. Sebab, kita tidak tahu teman mana yang akan menyelamatkan kita dari neraka. Boleh jadi sahabat kita dari Muhammadiyah yang kita benci karena tidak qunut dan tidak tahlilan, boleh jadi dari kalangan Nahdatul Ulama yang sering kita anggap mengamalkan bid’ah. Bahkan boleh jadi orang yang tidak berorganisasi sekali pun, selama dia saleh, berkemungkinan bisa menyelamatkan kita dari neraka. Maka solusinya, pandanglah orang lain dengan pandangan ahli surga. Bahkan ahli maksiat pun yang selama ini kita cela dan anggap rendah boleh jadi di akhir hayatnya Allah mengampuni dosanya, lalu dia masuk surga. Sementara kita yang merasa seolah akan masuk surga dengan amalan kita saat ini, boleh jadi di akhir hayat justru Allah halangi dari ampunan-Nya.
 
Saudaraku muslim... 
Marilah kita membayangkan sejenak, andai kita yang di neraka itu, lalu yang menyelamatkan kita adalah orang yang kita benci dulu di dunia. Betapa menyesalnya kita. Untungnya dia memaafkan kita ketika di dunia, andai tidak, maka tidak mustahil kita akan lebih lama lagi di neraka. Maka solusinya, jadikan semua sebagai saudara, jangan membenci orang lain, bahkan kepada orang yang membencimu sekalipun.
 
3. Cinta Ibunda dan Ayah 
 
Ada satu cinta lagi yang tidak bisa kita lupakan di bulan Ramadan, bahkan sampai kapan pun. Cinta yang tidak bisa dibayar dengan harta sepenuh bumi pun, yaitu cinta sang ibunda. Dari sejak mengandung; betapa sulitnya bergerak, bahkan sekadar memiringkan badan pun sangatlah sulit. Dia rela untuk menahan rasa sakit, yang penting bayinya sehat-sehat. Dia bahagia dalam isak tangisnya ketika mengetahui bayinya baik-baik saja. Lebih dahsyat lagi ketika detik-detik melahirkan; tulang terasa akan patah, pedihnya sampai ke ubun-ubun, sekadar menelan ludah pun seolah tak mampu. 
Sakitnya tak terbayangkan, perasaannya seakan-akan menuju pada kematian. Namun, dalam kepayahan di atas kepayahan itu harapannya hanya satu, yaitu agar bayinya lahir dalam keadaan selamat. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi anak tercinta.
Hal ini menjadi alasan Ibnu Umar tatkala mendapat pertanyaan dari seseorang yang baru selesai menggendong ibunya mengelilingi Ka’bah, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”Ibnu Umar lalu menjawab, “Belum, walau sekadar satu nafas ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberi balasan yang baik kepadamu terhadap sedikit amal yang telah engkau lakukan.” (Kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi).
 
Hadirin sekalian,

Lihatlah ibumu yang kini telah menua. Tulang-tulangnya tak sekuat dulu. Namun, cintanya kepadamu tak berkurang sedikit pun, bahkan bertambah. Setiap hari dia merindukan hadirmu. Setelah engkau berkeluarga, meninggalkannya sendiri di rumahnya, lalu tak lagi menanyakan kabarnya. Mungkin engkau akan datang tatkala butuh bantuannya saja, atau mungkin setahun sekali saja ketika hari raya.

Dan lihatlah pula ayahmu yang kian hari semakin lemah. Dulu dia begitu gagah, kuat fisiknya mencari nafkah demi membeli susu untuk istri dan bayinya, demi makanan untuk anak-anaknya, demi sepatu dan baju sekolah, bahkan dia rela untuk menahan lapar yang penting keluarganya kenyang.

Mungkin ketika dia bekerja pernah kakinya terkilir, tangannya terluka dan menjadi kasar, atau bahkan pernah jatuh dari tempat yang tinggi. Dia tidak peduli dengan semua itu, yang ia pikirkan adalah kebutuhan istri dan anak-anaknya. Lalu dalam keadaan sulit seperti itu, ketika sampai di rumah justru dimarahi istrinya, dibentak anak-anaknya, tidak dihargai jerih payahnya. Meskipun begitu, ia tetap melakukan rutinitas hariannya, berangkat kerja lalu pulang ke rumah, besok, lusa pun begitu.

Kemudian dalam sakratul mautnya tatkala hendak pergi untuk selamanya, sang ayah menitikan air matanya, memberi pesan bahwa tanggung jawabnya belumlah selesai. Istrinya belum dibelikan beras untuk dimasak, anak-anaknya belum dibelikan baju baru, betapa sedihnya ayahmu.

Maka, selama mereka masih hidup, ibumu juga ayahmu, pergilah temui mereka. Cium tangannya, tumpahkan air matamu, menyesallah sebelum sesal yang sesungguhnya. Doakan mereka dengan penuh harap agar Allah mengampuni dan memasukkan mereka ke surga-Nya.

Bagi orang tuanya yang telah pergi untuk selamanya, datangi kuburannya. Ucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaikum wahai ayah, Assalamu ‘alaikum wahai ibu, anakmu datang mengunjungimu. Telah lama tidak pernah kudatangi kuburanmu, maafkan anakmu ini.”

Lalu memohonlah kepada Allah agar kelak dikumpulkan bersama mereka di surganya.

Hadirin jamaah idul fitri yang berbahagia...

Begitulah Ramadan mengajari kita tentang cinta yang hakiki. Cinta Allah kepada kita, cinta kita kepada sesama, dan cinta tulus sang Ayah dan Bunda.

Namun, Ramadan dengan segala cinta itu, kini telah pergi. Entah kita masih bisa bertemu dengannya. Ataukah kita telah tiada tatkala dia kembali tahun depan. Semoga Allah menerima ibadah kita semua dan menganugerahi istiqamah kepada kita hingga akhir hayat. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

وقال تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَاراً

"Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami, serta kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami sewaktu kecil."

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

“Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa.”

ربنا غْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang,"

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Simak Pula

Khutbah Idul Fitri 1442 H

1 komentar


EmoticonEmoticon