Ramadan dan Kenangan yang Hadir Bersamanya

SultanSulaiman.Id, Deretan saf itu, pernah diisi Bapak. Saya tahu persis, posisi Bapak: di saf terdepan, sebelah kanan mimbar khutbah. Selalu di situ, di setiap salat lima waktunya. Bapak jarang berpindah tempat. Meski Bapak datang terlambat (tapi sebelum ikamah), jamaah lain akan tetap menyisakan ruang untuk Bapak. Kecuali jika Bapak tidak sedang mukim, barulah diisi orang lain. Di tempat itu, usai salat Bapak terpaku: berzikir atau tilawah, sering-sering melirihkan doa.

Ramadan dua tahun lalu Bapak masih di situ, tahun kemarin masjid ditutup dan Bapak jatuh sakit. Tahun ini, masjid sudah dibuka dan tak kudapati lagi Bapak di deretan saf itu. Setiap melangkahkan kaki ke pintu masjid, kuusahkan sebisa mungkin tak menjatuhkan pandangan ke saf terdepan. Sebisa mungkin, namun selalu gagal karena bayangan punggung Bapak seakan selalu kutemukan. Bapak sepertinya masih tetap di posisi duduknya, dengan gayanya yang khas.

Hari pertama puasa tahun ini, kami pulang. Sahur pertama membiaskan rindu kepada Bapak. Di depan nampan hanya ada Mama, kami (anak-anak) berusaha menahan haru dan menguatkan diri agar air mata tak jatuh. Walau berusaha, nyatanya bulir bening itu tetap merembes bersama suapan menu sahur.

Ramadan selalu datang setiap tahunnya, hanya suasana menyambutnya akan selalu berubah. Mereka yang ditakdirkan bertemu bulan suci termasuk beruntung. Apalagi jika masih berliput karunia, berkumpul bersama keluarga.

Pandemi sudah dua tahun menerpa, ibadah dibatasi dan pertemuan dihalangi. Kebersamaan keluarga salah satu yang langka di masa seperti ini. Bersyukur masih bisa berkirim kabar lewat panggilan telepon sembari bertatap muka virtual. Tapi rindu selalu menuntut, tak ada yang bisa menggantikan pertemuan, saling menjabat dan mendekap, meruahkan perasaan lalu berbagi cerita. Perpisahan selalu pas jika dirayakan. Cara merayakannya dengan bertemu.

Ramadan tanpa kehadiran orang-orang yang kita cintai tentu amat ganjil. Saya bahkan setiap kali Ramadan akan berlalu, selalu mengkhususkan doa:

“Ya Allah, Ya Tuhanku. Sebagaimana Kau telah mempertemukan dengan RamadanMu kali ini, takdirkanlah kami kembali berjumpa dengan RamadanMu tahun depan bersama orang-orang yang kami kasihi…”

Di ujung doa itu, saya akan menyebut nama orang-orang terkasih satu per satu. Bapak, Mama, istri, anak-anak, saudara, dan deretan namanya lain yang kadung meranumkan rindu. Namun Tuhan selalu punya rencana, Dia yang menggenggam takdir. Ramadan tahun ini kami sambut tanpa kehadiran Bapak lagi.

Kami sangat tahu, menu buka puasa kesukaan Bapak. Pula paham kebiasaan Ramadan Bapak. Lepas berbuka manis-manis, Bapak tak langsung makan “berat”. Jeda Magrib ke Isya digunakan buat mengasup makanan ringan. Bapak hanya akan menyentuh nasi usai tarawih. Dari hari pertama puasa hingga genap sebulan, Bapak sangat konsisten dengan kebiasaan itu.

Kebiasaan lain: konsistensi sedekah. Setiap malam, bapak menyisihkan uang hasil penjual es batu atau jasa fotocopy buat sedekah. Jumlahnya tak banyak, tapi rutin setiap malam. Ada lagi, satu hari dalam bulan Ramadan akan digunakan Bapak menggelar perjamuan: buka puasa bersama dengan tetangga dan keluarga terdekat.

Kebiasaan-kebiasaan ini diteruskan Mama. Semoga jadi jariah, dan selalu akan sukses melukis sosok Bapak, apalagi jika Ramadan tiba.

Ah Ramadan, ia telah pergi, tahun depan ia akan datang bertamu namun punya hak memilih tuannya. Tuan Ramadan tahun depan telah ditetapkan di malam seribu bulan. Semoga kita Tuan yang beruntung menjamu sang tamu. 

Di Hari Raya, kami menyalami Mama di antara tangis sendu yang ruah...

Simak juga:

Memaknai Idul Fitri yang Penuh Kasih Sayang

0 Comments

Posting Komentar