Cerpen Menjenguk Ibu

Ilustrasi dari Republika

Cerpen ini dimuat di Gorontalo Post pada 10 Juli 2021. Cerpen ini awalnya cerita mini yang dihimpun oleh FLP Gorontalo. Selamat membaca!

SultanSulaiman.Id, Sudah sebulan Bapak berpulang. Aku masih kerap mendapati Ibu meringkuk sendirian. Di kamarnya yang remang, Ibu meruahkan air matanya. Tak ada yang bisa mengusir bayangan Bapak. Apalagi kebersamaan yang sudah puluhan tahun, jelas meninggalkan prasasti di benak Ibu. Kepergian Bapak telah merampas sebagian jiwa Ibu. Ibu amat terguncang.

“Bapakmu tidak meninggal Nak!” Ucap ibu terbata-bata.

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya bisa mematung. Jelas, sulit bagi Ibu. Aku kadang ingin bertanya, seperti apa cinta Ibu kepada Bapak. Namun, sikap Ibu setelah kepergian Bapak sudah menegaskannya.

“Jika kamu pulang, terus yang sama Ibu siapa?”

Aku hanya bisa menarik napas panjang. Membiarkan seluruh dadaku disesaki gumpalan entah. Sudah beberapa hari ini, suamiku rajin menelepon. Bertanya pasal kepulangan. Ada banyak pertanyaan menganggu, termasuk pertanyaan ibu barusan. Jika aku pergi, siapa yang akan menemani Ibu? Aku bertanya pada diriku sendiri.
***
Soal kepulanganku ke tanah rantau, sebenarnya Ibu berat memberi izin. Apalagi setelah Ibu tahu masalah rumah tanggaku. Sebulan setelah kelahiran anakku yang pertama, suamiku, yang sebelumnya menjadi menantu tersayang, menikah lagi. Aku, walau memberi restu, tetap memendam pilu. Dengan hati penuh darah, aku menikmati keadaan itu. Perasaan sendu seperti apa yang menghinggapi perempuan yang mendapati anak perempuannya dimadu? Itulah gambaran perasaan Ibu. Maka saran Ibu kepadaku amat beralasan. Buat apa kembali kepada lelaki yang tak memberi setia? Tapi, sebagai bentuk bakti kepada orang tua, aku akan tetap kembali kepada suamiku.

“Jika sudah memungkinkan. Abi akan jemput Umi!”

Pesan suamiku pada sebuah pecakapan. Memungkinkan? Ada banyak yang tidak mungkin saat ini.

“Bapakmu tak pernah tahu. Ibu sengaja tidak memberi tahu! Berusaha keras agar Bapak tidak tahu!”

Maksud kata-kata ibu itu benderang. Ah, suasana amat gerah. Aku bingung, bagaimana mengekspresikan rasa sedih dan jengkel bersamaan. Ingatan tentang Bapak selalu sukses menorehkan air mata. Bayangan suamiku berkelebat, sebiji benci menguar lalu pecah serupa gelas kaca. Benci itu menggunung, sebuah anak panah sesal menikam dadaku.

Ya! Ibu merahasiakan pasal pernikahan kedua suamiku. Tentu, jika saja Bapak tahu, maka seketika itu pula cerita rumah tanggaku berakhir. Aku tak pernah bisa menangkap alasan jelas, mengapa suamiku ingin menikah lagi. Seperti alasan yang diutarakannya kepada Ibuku, aku belum bisa mencerna alasan itu dengan sempurna.

“Abi ingin menjalankan syariat!”

“Syariat? Apa itu berarti setelah yang kedua, akan ada pernikahan ketiga dan keempat?”

Aku membiarkan hening hinggap di siang itu. Kamar ibu terasa pengap. Aku seperti tersekap pada ruang tanpa jendela. Di sinilah aku, dengan perih yang telah kuseret dari jauh. Rumah tanggaku, yang kuimpikan seindah surga, justru penuh air mata. Aku sering dipasung oleh pertanyaan itu. Apakah kini aku bahagia?
***
Bermula dari perjumpaan sesaat yang mengesankan. Saat kami memutuskan menikah. Pernikahan yang diimpikan banyak perempuan. Hingga kebersamaan itu, melewati ratusan purnama. Kebersamaan yang menguji dan mengukir banyak kenangan. Lalu, seonggok kerikil mulai datang. Kerikil yang berubah bongkah batu dan menjadi gunung. Pertanyaan-pertanyaan yang menguji kesabaran namun tak bisa membuat aku dan suami terus berlapang dada. Di tahun kelima pernikahan, aku belum juga hamil.

“Bagaimana jika Abi menikah lagi?” Ungkapku nyaris putus asa.

Itu pertanyaan sekaligus tawaran. Bodohnya, aku seperti memberikan peluang terbuka kepadanya. Tak berselang lama, lelakiku datang dengan beberapa nama perempuan. Katanya itu dari seseorang yang amat dia hormati.

“Ini dari Ustas. Menurut umi, yang mana cocok? Abi terserah pilihan umi saja!”

Laksana gelegar petir hari itu. ucapan yang mekar dari putus asa, dipandang kesempatan suamiku. Aku baru saja memastikan kondisi anehku, melalui alat uji kehamilan. Dua garis itu baru ingin kusampaikan sebagai kabar gembira.

“Abi serius?” Aku memastikan.

“Kan Umi yang bilang. Setelah Umi memilih, taaruf akan dilaksanakan secepatnya. Habis itu lamaran. Harapan Abi, jangan lewat sampai sebulan atau dua bulan!”

Apa yang ada di kepala lelaki ini? Saat itu, aku seperti tidak mengenali sosok di hadapanku. Aku seperti tersekap seketika, jantungku berdebar kencang, napasku tersengal.

“Apa bisa menunggu sampai anak di perut ini lahir?” Aku berusaha menahan air mata.

“Ha? Umi hamil?”
***
Aku hamil. Kehamilan yang tak bisa mencegah langkah suamiku. Aku seperti memutar ulang adegan film itu: seorang suami yang membatalkan kenginannya menikah karena tahu istrinya sedang hamil. Tapi itu tak pernah terjadi, menunda ia, poligami telah menjadi cita-cita.

“Abi akan menikah setelah anak kita lahir insyaallah!”

Ucapan itu renyah sekali!
Lalu semuanya telah terjadi, aku dimadu. Saran untuk menyampaikan ke masing-masing keluarga tak kulakukan. Setelah kami berusaha menyampaikan niatan itu lewat kakak lelakiku, komunikasi kepada kedua orang tua urung kulakukan. Sementara suamiku, jelas tak akan berani menyampaikan itu ke orang tuanya. Lelaki bisa menikah tanpa restu orang tua, walau tidak ada izin dari istri. Itu berlaku untuk pernikahan kedua, ketiga, bahkan ke empat.

“Apa ada masalah di antara kalian? Jika masalahnya keturunan, Allah sudah mengabulkannya kan?” Jejal kakakku.

Meski lewat panggilan telepon, kami berdua tidak bisa menjawab. Aku dan suamiku hanya bisa bersitatap. Sembari terus berusaha menahan gemuruh yang mekar di dadaku. Kutahan semampunya, agar kelopakku tidak basah.

“Insyaallah kami baik-baik saja Kak. Iyakan Mi?” Suamiku memastikan, aku beku.

“Insyaallah kami baik-baik. Selama menikah dengan Umi, masyaallah kami bahagia. Hanya, sudah takdir keluarga kami seperti ini!” Ucapan suamiku mengalir seolah tanpa beban.

“Maksudnya? Jika toh keinginan kalian ini disampaikan ke orang tua, lalu mereka menolak. Poligaminya tetap jalan kan? Artinya, disampaikan atau tidak, keputusan keluarga kalian sudah bulat?” Kakak di sebarang sudah tersulut.

“Jadi, kalau sekadar ingin menyampaikan dan tidak peduli dengan tanggapan dari Ibu atau Bapak. Mending tidak usah. Sangat berisiko. Apalagi Bapak sering sakit. Silakan dijalankan jika memang itu sudah bulat. Tolong disimpan rapat-rapat, pastikan tidak sampai ke telinga Bapak!”
***
Nyatanya, memang begitu. Suamiku menikah dengan seorang janda beranak satu. Aku tidak pernah tahu dia siapa, bagaimana latar belakang keluarganya. Kenapa dia bisa gagal dengan rumah tangganya dulu.

“Tolong jangan tanya tentang masa lalu saya. Cukup itu buat saya simpan sendiri!”

Pernyataan itu, membuat aku enggan memanjangkan kata dengan perempuan yang kupilihkan suamiku. Ya, aku memilihkannya, dari sekitar lima lembar profil nama yang disodorkan dari seseorang yang dipanggil Ustas. Seorang perempuan yang kukenal dari perbincangan jarak jauh lewat ponsel, aku tidak bisa menebak seperti apa orangnya. Sama sekali tidak bisa.

Pernikahan itu, tak bisa kuhadiri, selain karena alasan jarak, ada alasan yang lebih genting. Menyelamatkan hatiku yang kadung perih. Seorang bayi baru saja lahir, lalu ayahnya menikah lagi.

“Mi…Alhamdulillah akadnya sudah, insyaallah pekan depan kami akan datang!”

Kabar itu, merontokkan pertahanan paling kokoh seorang perempuan. Aku menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya, bersamaan dengan lengking tangis sosok mungil yang kudekap.

***

“Bu… Pekan depan Abinya anak-anak sudah mau jemput. Kalau ibu berkenan, kami akan pulang!”

Aku berusaha menyampaikan maksud dengan hati-hati. Kepergian Bapak masih sangat membekas di hati Ibu.

“Jika tahu kamu akan dibeginikan, Ibu sama Bapak tak akan mengizinkan laki-laki itu menikahimu. Silakan pulang, tapi jangan bawa cucu Ibu!”

Artinya? Itu sama saja dengan penjegalan bukan? Ibu tidak setuju jika aku kembali.

Buat apa kembali kepada lelaki yang tak bisa menjaga hatinya.

“Jika kelak benar dia datang! Ibu mau dia berjanji tak akan menyakitimu lagi. Bikin Surat Pernyataan. Biar dia tanda tangan!” Ibu dengan lengking sendunya, bersama putus asa yang mendekapnya.

Nyatanya, suamiku datang. Dia sudah menandatangani Surat Pernyataan di atas meterai sepuluh ribu. Di malam canggung berselimut hening itu, lelaki yang kupanggil Abi mengikat janjinya. Ini yang kedua kalinya. Semoga tak lagi ingkar.

Waktu bergerak melambat tapi tak pernah bisa ditambat. Tibalah, saat kakiku mulai melangkah keluar rumah. Seperti ada bongkahan yang tak bisa kuangkat. Langkah kaki semakin berat. Cucuran air mata laksana hujan. Aku merengkuh Ibu sangat erat. Lengking tangisnya menyuarakan pilu. Entah, setelah kepulanganku kali ini, aku tak pernah tahu apa masih ada kesempatan menjenguk Ibu. Masih adakah Tuhan?*

0 Comments

Posting Komentar