Khutbah Idul Adha 1442 H/Juli 2021 M: Bekal Perjalanan Ke Kampung Abadi


 Oleh: Abdullah Hulalata, S.Pd.I

(Anggota Komisi Dakwah MUI Kota Gorontalo, Konselor Rumah Keluarga Indonesia, Pengurus KCM Gorontalo, Penulis Buku)

الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. وَ قَالَ تَعَالَى: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah...

Pada hakikatnya, kita adalah makhluk surga. Manusia pertama, Nabi Adam a.s. diciptakan di sana. Beliau diciptakan di tempat terindah yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata, tak terlintas dalam pikiran, dan belum pernah terdengar oleh telinga kita. Itulah surga yang menjadi tujuan perjalanan akhir kehidupan kita. Namun, di tengah perjalanan panjang dan melelahkan itu, banyak godaan yang akan menghalangi langkah kita. Bahkan boleh jadi akan membelokkan arah kita ke jurang neraka.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah...

Melalui kisah Nabi Ibrahim, kita akan mengambil hikmah sebagai bekal perjalanan panjang menuju Allah. Agar dengan bekal itu, kita akan sampai ke kampung asal yang sebenarnya, yaitu surga seluas langit dan bumi.

1.    Taat kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah sosok yang sangat taat kepada Allah. Beliau mendahulukan ketaatan itu di atas segalanya. Meskipun harus mengorbankan keluarga yang dicintainya. Asalkan itu perintah Allah, pasti beliau laksanakan.

Mari kita membayangkan, nabi Ibrahim yang lama menanti keturunan, beliau memohon dengan penuh kekhusyukan, sampai rambut memutih, tulang-belulang merapuh, tenaga melemah. Akan tetapi, pada puncak kelemahan itulah, Allah memberikan seorang bayi yang sangat mungil. Betapa bahagianya beliau dengan kehadiran bayi yang bernama Ismail itu. Namun Allah masih tetap ingin menguji kekasih-Nya ini, sampai di mana batas ketaatannya kepada Allah.

Di saat-saat bahagianya, Allah memerintahkannya untuk meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang tandus. Tempat yang tidak ada penghuni. Jangankan penghuni, bahkan sehelai rumput pun tak ada yang tumbuh di sana. Allah membahasakan dalam Al-Qur’an,

غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ

Yang bermakna tak ada yang bisa tumbuh di sana. Tak layak huni.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Nabi Ibrahim tidak memilih lahan yang subur untuk keturunannya. Tidak pula memilih tempat yang ramai, namun beliau pilih adalah tempat yang dekat dengan Baitullah, agar anak keturunannya kelak menjadi ahli ibadah. Dengan ibadah salat, maka Allah akan memudahkan segala urusan. Manusia akan condong dan cinta, dengan begitu rezeki juga akan mudah didapatkan.

Maka, sebagai orang tua seharusnya memperhatikan masalah ibadah anaknya, mendekatkan mereka dengan Al-Qur’an, agar kelak mereka menjadi pemberi syafaat kepada orang tuanya. Namun, kenyataannya banyak yang tidak peduli. Mereka membiarkan anak-anaknya berfoya-foya, tenggelam dalam kehidupan dunianya, hanyut dalam permainannya. Kita lupa, bahwa kelak kita dipanggil Allah, merekalah yang akan membacakan surat Yasin kepada kita. Mereka yang akan mendoakan di setiap salatnya. Mereka pula yang akan menyelamatkan kita kelak di yaumil akhir.

Maka wahai jamaah sekalian, jagalah anak keturunan kita dari godaan dunia yang hanya sementara ini. Jangan biarkan mereka tertipu dengan keindahannya. Dan lebih dari itu, ingatlah pesan Allah dalam Al-Quran,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)

Solusinya, dekatkan mereka dengan ilmu agama, ajari mereka nilai Islam yang hakiki, dan perintahkan mereka untuk melaksanakan salat, agar mereka memahami bahwa ketaatan kepada Allah adalah bekal perjalanan panjang ke kampung abadi.

2.      Taat dan cinta kepada kedua orang tua

Bekal kedua perjalanan ke kampung abadi adalah taat dan cinta kepada kedua orang tua. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh hina, sungguh hina, sungguh hina, beliau ditanya: “Siapakah dia wahai Rasulullah?”, beliau bersabda, “siapa yang mendapati kedua orang tuanya, tatkala tua renta, baik salah satu dari keduanya atau keduanya, lalu tidak memasukkannya ke dalam surga (karena ia tidak berbakti).” (HR. Muslim)

Kaum muslimin yang berbahagia...

Semestinya cinta dan bakti kita kepada kedua orang tua, tidak boleh memiliki syarat apa pun. Sebab, mereka telah mencintai kita sejak kecil dengan begitu tulus. Mereka tidak hitung-hitungan mengeluarkan biaya demi menyenangkan sang buah hati. Ayahnya membanting tulang mencari nafkah ke sana-ke mari. Dia tidak peduli hujan dan badai, panas matahari membakar kulit, asalkan bisa mendapatkan uang walau sekadar membeli sepiring nasi, mereka tetap bekerja. Terkadang dihina dan dicemooh orang, ditipu dan dibohongi, bahkan sampai rela memikul beban yang tiga kali lipat beratnya. Itu semua tidak dipedulikannya. Dalam ngiang telinganya ada tangisan anak-anaknya yang lapar, dalam pikirannya ada istri yang juga belum menyentuh walau sesuap nasi. Mereka rela tidak makan, mereka rela berkorban, yang penting anak-anaknya bisa senang.

Begitu pun dengan sang ibu. Ia rela menahan sakit tatkala mengandung, bergerak saja sangat sulit, semua serba sulit. Apalagi saat-saat akan melahirkan, sekujur tubuhnya merasakan perih yang tak tertahankan, nafasnya tidak karuan, bahkan ia rela mati sekalipun, asalkan anaknya lahir dengan selamat. Maka betapa tulusnya mereka, cinta mereka selalu ada tanpa syarat.

Namun, cinta tulus itu tidak mendapatkan balasan dari sang buah hati. Mereka hanya akan cinta jika ada maunya. Mereka akan bertanya kabar kedua orang tuanya ketika bekal makanan sudah habis, ketika persediaan sudah menipis. Bahkan ada yang berani membentak keduanya, malu dengan kehadiran mereka tatkala berkumpul dengan teman-temannya.

Ingatlah kembali kisah heroik ibunda Hajar, ia rela berlari mencari sumber air, ia rela berlelah-lelah demi sang bayi yang dicintainya. Dan pada puncak letihnya itu, Allah pancarkan mata air zam-zam untuk mereka. Ingatlah kembali perjuangan dan pengorbanan itu, agar cinta kita kepada kedua orang tua akan hadir tanpa syarat apa pun.

Lihatlah sang anak yang berbakti itu, Ismail as. Dengan lembutnya ia menjawab saran dari sang ayah. Padahal yang sedang mereka bahas adalah terkait mimpi penyembelihan sang anak.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Hadirin kaum muslimin...

Tataplah anak-anak kita dalam-dalam, lihatlah wajahnya dengan penuh ketulusan, tegakah kita menyembelih mereka? Kuatkah hati kita membunuh anak yang bertahun-tahun ditunggu kehadirannya? Mampukah kita membayangkan bagaimana keteguhan Nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah?

Sang buah hati yang lama dinanti, ketika lahir diperintahkan untuk ditinggalkan di lembah yang kering dan tandus, lalu tatkala sudah mampu menemani sang ayah dalam mencari nafkah, meringankan beban kerja, dan sudah mampu menjadi teman berbicara, kemudian tiba-tiba diperintahkan untuk disembelih. Terbayangkah perasaan Nabi Ibrahim itu? Dahsyatnya, beliau mampu menjalani perintah itu. Demi taat kepada Allah, beliau abaikan cinta kepada sang buah hatinya. Akan tetapi, lebih dahsyat lagi jawaban tulus dari sang anak,

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Wahai ayahku tercinta, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Ayah yang taat, melahirkan anak yang patuh. Ayah yang mendahulukan cinta Tuhannya, melahirkan anak yang saleh dan lembut. Seharusnya beginilah anak kita. Ridho dengan ketetapan Allah dan rela menaati orang tuanya walaupun harus mengorbankan nyawanya. Anak seperti ini sangat jarang di temukan di era sekarang. Di zaman dunia dibuka selebar-lebarnya, informasi mudah diakses, permainan dan senda gurau menjadi santapan harian, bagaimana bisa anak-anak kita akan mampu bertahan dalam agamanya?

Ternyata, nubuwwah Rasulullah telah menjadi kenyataan, bahwa di antara ciri-ciri hari kiamat adalah أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا budak melahirkan tuannya. Banyak fenomena anak-anak yang memperbudak orang tuanya. Mau dituruti segala keinginannya. Bahkan ada pula anak yang berani membunuh orang tuanya demi teman atau kekasihnya.

Maka, tugas orang tua adalah menanamkan akidah, membiasakan ibadah, dan membudayakan hormat anaknya kepada keduanya. Sehingga, dengan kesabaran dalam mendidik mereka, insya Allah akan lahir anak keturunan yang kelak akan menjadi pemberi syafaat bagi kedua orang tuanya.

3.      Takwa

Bekal yang ketiga adalah takwa kepada Allah. Dalam hal ini Allah berfirman,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dalam melakukan perjalanan panjang menuju Allah, dibutuhkan bekal yang sangat banyak. Dan takwa adalah sebaik-baik bekal menuju ke kampung abadi. Dalam kisah keluarga Nabi Ibrahim, nilai takwa itu terdapat pada ibadah salat dan berkurban.

Rasulullah pun diperintahkan Allah untuk melakukan dua hal tersebut,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 1-2)

Di antara para ulama ada yang memaknai Al-Kautsar sebagai telaga Rasulullah di surga. Akan tetapi, dari ayat ini pula kita memahami bahwa Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga, masih diperintahkan untuk melaksanakan salat dan berkurban. Maka ayat ini mematahkan anggapan sebagian orang bahwa apabila sudah berada di tingkatan tertentu, lalu sudah tidak ada kewajiban lagi mengerjakan syariat Allah. Dari ayat ini pula kita memahami bahwa syariatlah yang akan memudahkan langkah kita menuju surga-Nya.

Nilai takwa pun melekat pada dua syariat ini, yakni salat dan berkurban. Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 21)

Menyembah Allah, tujuannya adalah takwa. Demikian pula pada perintah berkurban, takwalah yang akan diterima oleh Allah.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

وقال تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَاراً

"Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami, serta kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami sewaktu kecil."

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

“Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa.”

ربنا غْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang,"

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Simak pula

Khutbah Bebahasa Bugis

1 komentar


EmoticonEmoticon