Cerpen: Buku Bertuah

Cerpen ini termuat di rubrik Persepsi Harian Gorontalo Post, 30 November 2021

SultanSulaiman.Id, Di kantor ini, sepertinya gairah telah lama hilang. Bangunan tua, dengan buku-buku berdebu terpajang di rak-rak usang. Bagi kebanyakan orang, kantor yang kau tempati sekarang tak ubahnya tempat pembuangan. Ya! Tempat pembuangan pegawai. Mereka yang sakit-sakitan, malas masuk kantor, atau diturunkan dari jabatan akan dibuang di kantor ini. Dibuang, bisa sementara atau selamanya.
***
Saat mengajukan permohonan pindah, hampir semua orang menyayangkan sikapmu. Bukankah, kantor yang kau tempati sebelumnya “lahan basah”. Banyak pegawai yang ingin mendapat penempatan di sana. Di sana, ke mana-mana lebih mudah. Anggaran perjalan dinasnya banyak. Kau kerap menyertai pejabat ke luar kota. Kebiasaan yang membuatmu mengenal sangat baik petugas bandara dan beberapa pramugari di maskapai pelat merah. Kau bisa ke mana-mana dengan uang negara. Mendatangi banyak tempat, dengan judul koordinasi atau konsultasi. Bertugas sambil jalan-jalan. Asyik sekali. Sambil menyelam, tenggelam.

Makin lama, kau mulai gerah. hampir setiap periode pemeriksaan, namamu selalu masuk daftar TGR. Tuntutan Ganti Rugi. Besarannya juga lumayan.

“Santai Bro…!”

“Anggap saja, pinjaman tanpa bunga!”

Temanmu menghibur sekaligus membenarkan.

Dan kau?

“Kok audit lagi? Bukannya bulan lalu sudah?”

Protesmu penasaran. Temanmu hanya melebarkan tawa. Sembari menuntaskan seduhan kopinya yang masih mengepulkan asap.

“Sepertinya sebentar lagi KPK akan masuk!” Kelakar temanmu santai.

Kau mulai ketar-ketir, pengumuman TGR di setiap periode pemeriksaan membuatmu “tidak aman”.

“Kita jadi sasaran pemeriksaan se-Indonesia Bro!”

Dari hasil percakapan itu, kamu mulai memikirkan jalan selamat. TGR masih mending, yang bahaya jika perkara itu melebar ke tindak pidana. Kariermu bisa tamat seketika.

Kau tak lagi berpikir panjang, saat mengajukan permohonan pindah ke atasan. Alasan yang kau ajukan bisa diterima. Demi karier, sudah masuk tahun kedelapan, posisimu masih saja pelaksana. Beberapa kawanmu sudah jadi pejabat eselon, dapat promosi di mana-mana.
***
Di sinilah kau, dengan deretan buku-buku yang tersusun di rak-rak renta. Usia rak itu kau taksir sama dengan usia kakekmu. Kadang, kau merasa di kantor ini sepi menyergap terlalu lama. Akhirnya menyesalkan pindah ke sini? Sudah tahu ini “lahan kering”.

Ah! Kau menerawang, mengusir segala syak wasangka itu. Sejak dulu, kau jatuh cinta pada buku-buku. Di sini, di kantor ini kau bisa melampiaskan kerinduanmu. Bisa membaca sepuasnya dan membawa buku-buku itu ke rumahmu sesukanya. Kau mengulum senyum simpul. Setidaknya aku bisa lebih tenang. Batinmu.

Seorang kawanmu datang agak tergesa. Dia yang kau akrabi sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini.

“Ini…!” Ucapnya menyerahkan map batik.

“Apa?” Selidikmu.

“SK Pejabat Pemeriksa Hasil Pekerjaan! Baru ditandatangani Pak Kepala!”

“Ha…?”

“Ha-hi-hu-he-ho-! Itu ada tiga orang, ketuanya Pak Joe. Selamat bekerja ya Bro!”

Kawanmu itu berlalu tanpa beban. Beban baru baru hinggap di pundakmu. Ada sesuatu yang menunggumu di masa depan. Itu SK ketiga yang kau terima, sepertinya penugasan di kantor ini hanya akan bergulir di antara kau dan beberapa temanmu yang masih bisa diandalkan. Mengandalkan yang lain agak sulit, bukankah kantor ini tempat pembuangan?
***
Kau memeriksa deretan buku-buku hasil pengadaan ratusan juta itu. Banyak yang tidak layak. Mayoritas buku itu dicetak dan diterbitkan puluhan tahun lalu. Ada yang bahkan hampir menyamai usiamu. Jadi? Kau memasukkan dalam catatan berita acara pemeriksaan, masing-masing verifikatur menyetujui dan merekomendasikan untuk diganti. Semudah itu?

Tidak. Pertemuan terbatas tetap memaksa agar buku-buku itu diloloskan. Diterima apa adanya. Menjadi bahan pustaka baru, koleksi Perpustakaan Daerah.

“Sebaiknya kita tetap mengirimkan rekomendasi pemeriksaan kepada pihak ketiga, agar buku-buku itu lekas diganti!”

Pak Joe menyela. Kau mendukung dengan sorot matamu.

“Tapi waktu kita terbatas! Semuanya harus segera rampung, agar bisa memenuhi realisasi anggaran satker kita. Tak apa sambil jalan saja.” Seseorang di depanmu, dia Pengguna Anggaran (PA) merangkap Kuasa Pengguna Anggaran.

Pertemuan itu berakhir, rekomendasi hasil pemeriksaan timmu sepertinya tidak digubris.

“Potensi temuan!” Pak Joe berbisik saat berjalan beriringan denganmu keluar dari ruang pertemuan.
***
Banyak tanda tanya yang bergentayangan di kepalamu. Ada ketakutan, jika kelak benar-benar temuan. Saat pikiranmu melayang ke mana-mana, orang itu datang menyapamu. Seseorang yang kau kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini.

“Kenapa Bro?”

“Buku-buku itu, yang baru datang. Sudah lihat!?”

“Ooo…Hasil pengadaan? Mestinya buku-buku baru sih, tapi kok aneh ya. Baru tapi usang. Jangan-jangan bajakan!”

“Mungkin karena bukunya cetakan lama! Tidak sampai bajakan sih menurutku!”

“Verifikatur kan? Mesti hati-hati, jangan sampai masuk jebakan batman. Orang lain yang untung kita dapat buntung! Kalau tidak sesuai ya kembalikan ke pihak ketiga!”

“Penunjukan langsung, orang dekat sepertinya!”

“Itulah susahnya…”

Obrolan itu hanya menggantung, beban di kepala dan pundakmu makin berat. Yang kau tinggalkan di kantor lama ternyata kembali menemuimu di sini. Sepertinya, birokrasi di mana-mana seperti itu.

“Dengar-dengar, audit dari pusat Bro!” Orang itu memberi kalimat penutup menyesakkan. Ya! Seseorang yang kau kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini.
***
Saat istirahat siang, kau meluruskan badan. Jam kedua masih 30 menit lagi. Tiba-tiba ponselmu bergetar. Telepon dari Pak Joe.

“Ada auditor, bisa ke kantor sekarang!”

Panggilan itu kembali mengusik ragam tanda-tanya yang pernah menyergapmu.

“Auditor? Aduh. Temuan lagi!” Lirihmu.

Kau bergegas memasuki ruangan pengolahan bahan pustaka. Di sana telah hadir dua orang asing. Ada Pak Joe dan seorang petugas pengolahan dengan gurat wajah cemas.

“Pak Dul ya?” Suara lembut menyapa, seperti hujan yang menghapus kekeringan. Tapi tak mengusir cemas yang merayap perlahan di dadamu.

Orang asing itu, bisa kau pastikan auditor. Dua orang perempuan, satu berwajah seperti Nike Ardilla, satunya mirip Raisa. Kau memasang gestur biasa.

“Iya…!” Saya Dul, ucapmu seperlunya, mengulurkan tangan tanda perkenalan

“Verifikatur satunya mana?”

“Oh…Cuti Mbak!” Kali ini Pak Joe menjawab.

Kau sepertinya tak punya waktu berbasa-basi. Siang itu, sinar matahari sepertinya hanya beberapa meter dari ubun-ubun. Gerah menyelinap di antara jendela, lalu membulirkan keringat di hampir sekujur badanmu.

“Oh ini buku-buku yang sudah diperiksa itu ya?”

Langsung ke pokok persoalan. Kau dan Pak Joe melonjak.

“Ini daftarnya kan ya? Ada yang tidak sesuai spek!”

Kau masih berusaha biasa. Sedang Pak Joe menunjukkan gurat cemas kuadrat. Dua auditor bermuka artis di depanmu berubah jembalang.

“Ini kok sudah dibayarkan semuanya, padahal kan banyak yang tidak sesuai! Kami bisa minta hasil verifikasinya ga? Mau kami cocokkan dengan yang kami punya!”

“Oh iya, akan kami siapkan Mba!”

“Bisa sekarang?”

Kau dan Pak Joe bisu.

“Paling lambat besok ya!”

Ungkapan besok itu sedikit melegakan.

“Besok kami balik lagi ya, sebelum bapak berdua di sini, kami sudah menunggu cukup lama. Untung ada ibunya yang bisa diajak ngobrol!”

Keduanya melempar senyum ke petugas pengolahan. Kau dan Pak Joe hanya bisa bersitatap. Sampai di sini, tampaknya akan ada sandungan. Kau teringat bisikan Pak Joe: potensi temuan.
***
Jarak antara sekarang dan besok tak sampai 24 jam, namun kau seperti menikmati jeda dari detik ke menit. Kau berharap, waktu bisa terus terulur, agar besok tak lekas tunai. Ada beberapa data yang sedang kau cocokkan dengan Pak Joe. Lembur kali ini terpaksa dan dipaksakan, demi memenuhi penyesuaian data yang dimiliki auditor.

“Jika semua data yang tidak sesuai ini diketahui, bisa celaka kita Pak! Kita harus pastikan potensi temuannya tidak terlalu besar!” Pak Joe memberi instruksi. Kau mentakzimi hening dan berusaha menahan pening yang telah bertengger di kepalamu sejak kedatangan kedua auditor itu.

“Kenapa juga harus kita yang korban?” Kau menyela.

Di tengah hening dan peningmu, orang yang kau kenal pertama kali saat menginjakkan kaki di kantor ini tiba-tiba datang. Gaya khasnya membuat suasana mencair. Segenap beku yang hadir antara kau dan Pak Joe tiba-tiba pecah.

“Dengan auditor biasa aja Bro. intinya jangan ada yang disembunyikan! Kalau disembunyikan, mereka akan makin militan!”

Kau dan Pak Joe seperti tidak peduli, namun yang berbicara sangat paham bahwa telinga kalian sedang menanti ucapannya.

“Intinya, mereka sama seperti kita. Aparat negara yang menjalankan tugas negara. Jadi jangan dibawa tegang. Saya juga pernah diperiksa kok!” Tambahnya.

Entah, sejak ucapan itu, kau dan Pak Joe merasa semuanya akan baik-baik saja.
***
Hingga waktu akhirnya bergulir. Hari itu sang surya menyorot amat benderang. Hari berganti. Auditor berwajah artis itu telah berjibaku dengan buku-buku di ruang pengolahan sejak pagi. Meski masih was-was, tapi tabuhan detak jantungmu tak lagi sekencang pertemuan pertama. Maksudnya, kali pertama bertemu dengan kedua auditor itu.

“Ini catatan total kerugiannya Pak! Setelah ini kami akan bikinkan notisi!”

Kau mengamati deretan angka itu. Angka yang sekiranya masuk ke kantong pribadimu, sudah cukup merampungkan pembangunan rumahmu yang sangat sederhada sekali. Tapi sudahlah. Satu ketegangan sudah menemui ending, mungkin ketegangan berikutnya akan bertandang.

“Kenapa auditnya tidak menunggu hasil inspektorat ya Mba?” Kau bertanya basa-basi.

“Oh. Ya! Sudah tugas kami. ada yang salah?” Auditor berwajah Nike Ardilla membalas.

“Intinya, sebagai pelayan rakyat yang menggunakan uang rakyat, kita kudu hati-hati!”

Abstrak. Pikiranmu seperti terlempar pada satu masa, saat kau menunjukkan hasil verifikasi buku-buku itu kepada seseorang yang kau kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini. Orang itu sepertinya memiliki peran, dan mengatur pertemuanmu kembali dengan auditor itu. Jika di kantor lama kau tersandung perjalan dinas, di sini di kantor yang “mati enggan, hidup pun segan” kau bertemu auditor di antara tumpukan buku-buku. Begitulah! Anggap reuni.(*)

0 Comments

Posting Komentar