Cerpen: BiroCrazy

Cerpen: BiroCrazy


SultanSulaiman.Id, Kau membuka lembaran surat itu. Surat teguran yang dilayangkan kepadamu karena vonis melanggar aturan. Ada rentetan alasan yang membuat keningmu berkerut. Kau mencoba mencerna lebih dalam. Pertama, ketidakpuasan atas pelayanan. Kedua, tidak loyal kepada pimpinan. Ketiga, perbuatan melawan hukum. 


Ada yang bergemuruh di balik dadamu. Dituding semacam itu membuat darahmu mendidih. Tak butuh waktu lama, kau membawa serta surat itu. Langsung menghadap pimpinan tertinggi. Kau butuh penjelasan atas tuduhan yang bagimu mengada-ada. Bersisa beberapa langkah lagi. Seseorang mencegatmu.

“Bapak tidak bisa diganggu!”

Protokol khas ala sekretaris pribadi.

“Saya ingin klarifikasi ini?!”

Kau menunjukkan surat itu. Sembari sedikit memaksa, mencoba menerobos.

“Nanti ditunggu saja Pak. Akan ada rapatnya hari ini. Di agenda Bapak Kepala, Pukul 16.00!” Jelas perempuan mirip Raisa sambil mengulum senyumnya tipis.

Kau mengalah. Sembari mencerna pasal rapat. Belum ada yang memberitahumu, selain sang sekretaris. Kau memilih mundur. Meski ada kejanggalan yang kau cium di balik rencana rapat itu.

Hingga waktu yang ditentukan tiba, saat senja sudah turun. Tanda-tanda rapat digelar belum tampak. Kau gelisah. Seorang sudah menghubungimu berkali-kali. Ah! Mestinya, pukul segini kau sudah di rumah. Bermain dengan para bocah dan mengurangi beban istrimu yang lelah karena urusan rumah tangga. Kau mencoba mengecek, menyambangi meja sekretaris. Perempuan ayu itu asyik memperbaiki riasan dan baru selesai memoles bibirnya dengan lipstik.

“Jadiji ini rapat?”

Kau mulai memberi penekanan suara pada pertanyaanmu. Sontak sang sekretaris mengalihkan perhatiannya kepadamu.

“Iye Pak…Sebentar lagi. Bapak masih ada urusan!” ucapnya setelah itu bergeming.

Kau sepertinya tak lagi sanggup menahan diri. Kau balik kanan, pulang ke rumah. Tak menghiraukan rapat yang ngaret terlampau lama. Rapat akhirnya digelar, saat senja telah sirna. Rapat tanpa kehadiranmu dengan agenda membahasmu!

***

Hari sudah gelap, saat kau memutuskan menghubungi seseorang. Masa-masa genting akan kau hadapi sejak saat ini dan beberapa waktu ke depan. Ada banyak hal yang ingin kau bagi. Birokrasi tak seindah imaji kala kau memutuskan berkarier pertama kali. Wajah-wajah peninggalan Orde Baru, tingkah laku feodalistis, dan mental asal bapak senang. Kau hadapi semua itu dengan idealismemu. Idealisme yang bagi banyak orang hanya tahi kucing. Sepertinya, kau tak akan sanggup bertahan. Apalagi, kau sendiri.

“Tunggu…! Saya ingin ketemu!” Katamu…

“Oh boleh…Gunakan SOP Covid-19 ya. Pakai masker dan jaga jarak!” Pemilik suara nyaring itu berkelakar.

Setelah memesan angkutan, kau menyiapkan bawaan. Beberapa potong pakaian kau masukkan ke ransel. Cukup. Tak lama, angkutan yang akan membawamu sudah tiba. Kau pamit kepada istri dan anak-anakmu. Kali ini kau akan tega membiarkan dua bocah yang tak ingin melepaskan pelukan ayahnya!

“Ayah tidak akan lama kok…!” Ucapmu menenangkan.

Pelukan itu akhirnya meregang dan kau melangkah pergi. Mini bus membawamu melintasi jalan darat lintas provinsi.

Pokoknya tunggu! Kita harus ketemu. Ini penting! Siapkan perjamuan terbaik.

Lelaki yang kau hubungi masih menganggapmu bercanda. Setelah menerima pesan darimu. Dia memilih melanjutkan tidur. Tidur yang meski pulas tetap dibaluri tanda tanda. Apakah kau serius akan pulang kali ini.

***

Pertemuan dihangatkan seduhan kopi. Kepulan asapnya menguar ke udara membawa aroma semerbak menggoda. Di sudut kota, lalulang manusia tetap saja ramai. Tampaknya, seperti dirimu, semua orang mulai tak peduli wabah. Ada suguhan bolu paranggi. Penganan khas Mandar yang bisa melelehkan air liur. Kopi hitam tanpa gula sangat pas menemani suasana pagi semacam ini. Di depanmu, lelaki yang sangat ingin kau temui setia mendengar rentetan kata-kata yang kau muntahkan.

Sama sepertimu, kawan itu sudah merasai dunia birokrasi sejak lama. Sejak hengkang dari kampus, takdir membawanya menyusuri lika-liku birokrasi yang dulu sering jadi pelampiasan kemarahan demonstran. Lalu, kisah belasan tahun itu kembali tergelar. Lelaki di depanmu itu yang mengajakmu merasai parlemen jalanan. Berjalan berpeluh menyusuri jalan-jalan kota, menumpahlampiaskan amarah di depan gedung-gedung megah.

Pengalaman yang tak mungkin kau lupakan: orasi, bakar ban, memblokir jalan, dan bersitegang dengan petugas. Kau dan gerombolan demonstran tak pernah bisa bersahabat dengan birokrasi yang penuh aroma Korupsi Kolusi dan Nepotisme itu.

Kini, lelaki di hadapanmu sesekali membuang napasnya berat. Kau masih saja menuturkan apa yang kau alami.

“Saya tidak bisa mengikuti pola birokrasi yang ambigu. Bagi saya, kalau hitam ya hitam, kalau putih ya putih. Tak bisa dicampur-adukkan! Saya sulit berkompromi. Apalagi diminta membuat sesuatu yang melanggar aturan!” Kau menggebu-gebu,

“Yang kau lawan adalah gerombolan bukan? Dan kau hanya sendiri? Mereka itu punya akses ke banyak pemangku kepentingan dan orang-orang berpengaruh!” Lelaki itu mulai menjejalimu, sebenarnya ia ingin kau jeli membaca situasi.

“Iya saya sendiri, makanya saya mau cari teman!” Kau mempertegas.

“Makanya bantu saya. Bapak kan masih punya banyak jaringan yang bisa digerakkan!?” Kau menambahkan.

Lelaki di depanmu nampak berpikir. Memang, kau melihat ada banyak perubahan yang terjadi pada sosoknya. Bentuk badannya sudah semakin bulat dan kau masih konsisten dengan bodi ramping. Kau menduga daya kritisnya sudah hilang.

“Di lingkungan sekarang. Kita tak hanya butuh benar tapi juga pasukan. Sendiri benar akan mudah disingkirkan karena kita berhadapan dengan banyak orang!” Kalimat itu kembali dipertegas.

“Saya tetap akan lawan. Apa ada yang bisa disambungkan dengan jaringan lama semasa di kampus dulu?” Kau mendesak.

Lalu lelaki itu menghubungi seseorang. Setelahnya kau diminta berbicara langsung.

Kau sedikit tergagap menyampaikan maksud. Tapi bagimu, perang ini sudah berkobar. Kompromi bukan jalan aman menurutmu.

“Memang agak sulit. Tapi, untuk kondisi sekarang bersabar jauh lebih baik. Orang-orang ini akan lekas berganti, entah masa tugas berakhir atau pergi sebelum waktunya!” Lelaki di hadapanmu berceramah.

“Tapi tak bisa terus-terus dibiarkan. Saya sudah cukup bersabar!” Kilahmu

Terngiang lagi perlakuan itu. Kau yang sudah bersungguh-sungguh menunjukkan pelayanan terbaik. Mencapai target pekerjaan tiga kali lipat dari target sebelumnya. Hanya karena satu laporan dari klien yang menurutmu mengada-ngada. Kau diperkarakan, dianggap mempersulit pelayanan, melawan perintah atasan, dan melanggar aturan. Padahal yang kau lakukan menegakkan aturan.

Prosedur yang kau lakukan sudah benar. Tapi benar saja tidak cukup. Saat melakukan verifikasi berkas, ada yang mesti dibenahi. Kau meminta yang bersangkutan melakukan perbaikan. Celaka. Sebab kau tak pernah tahu. Siapa sosok yang telah kau tolak itu. Dia yang lulusan doktor luar negeri dan memiliki akses langsung ke lingkaran kekuasaan. Tak ada jalan lain selain kau dipaksa menurut, divonis abai menjalankan pelayanan prima. Jelas kau tak terima, kau melawan. Surat teguran itu hadir sebagai jawaban.

“Itu kebijakan. Ada banyak kebijakan yang kadang melanggar aturan. Itu dianggap biasa dalam birokrasi. Aturan dibuat buat dilanggar kan? Di situlah celahnya. Pasti mengerti?” Lelaki itu sudah hampir menandaskan kopinya.

Kau masih belum bisa menerima dikorbankan semacam ini. Semangat parlemen jalanan masih membara di dadamu.

“Berikan saja kontak kawan aktivismu. Saya akan lawan!” Kau berapi-api.

Sorot mentari sudah menghangat. Sudut kota kian ramai. Ada banyak kehidupan piatu di sini. Kehidupan yang berjalan apa adanya bahkan tanpa mesin birokrasi mengaturnya. Semuanya kacau sejak dalam pikiran. Kau menyaksikan dunia terbelah. Ketimpangan di mana-mana. Rakyat dan penguasa sama-sama lapar. Dua kelompok ini menghabisi apa saja asal bisa makan dan kenyang. Kau merasakan segalanya nyata sebab kau menjelma sebenar-benar aktor dan menjadi bagian pencipta ketimpangan.

“Tambah segelas lagi!” Kawanmu bersuara.

“Saya juga!” Kau menambahkan. Padahal maksud kawanmu itu sudah jamak dipahami.

“Saran saya, ikuti iramanya. Berkarierlah. Apa yang bisa kau lakukan jika hanya menjadi pegawai rendahan?!” Saran yang menohok.

Lelaki demonstran di depanmu sudah memilih jalan itu. Dia sadar, yang dihadapinya begitu digdaya. Maka ia menyampaikan saran karena sadar yang kau hadapi nyaris sama besarnya. Bahkan mungkin lebih parah.

Ritual kopi dan perbincangan itu berakhir. Lelaki itu membawamu menyusuri jalan-jalan kecil, hingga tiba di tepi pantai reklamasi. Orang masih saja sibuk lalu-lalang. Di depanmu, desau angin membawa gulungan ombak kecil kemudian pecah di bibir pantai. Suara gemuruh ombak seakan lebur bersama debur di dadamu.

“Tadinya…Saya menganggap idealisme itu bisa menyelamatkan. Melawan terang-terangan terlihat hebat, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ada banyak gerombolan yang terancam. Memperkarakan orang yang merasa hebat sendiri itu sangat mudah. Hanya dengan memanfaatkan celah. Semuanya bisa tamat.

“Saya pernah diinterogasi masalah anggaran. Dituduh korupsi. Yang menjijikkan dari birokrasi itu, orang-orang yang suka menuduh-nuduh justru pelahap uang negara paling rakus. Itu terjadi…!

“Lantaran karena yang dinikmatinya mulai berkurang, orang-orang ini berang. Membangun koalisi untuk menyingkirkan. Sehari, berjam-jam, di hadapan tiga polisi, saya dipaksa untuk takluk oleh sejumlah tuduhan.

“Padahal. Saya memanfaatkan kebijakan. Seluruh sisa anggaran yang tak diserap kegiatan disimpan untuk dikembalikan ke masyarakat. Para mahasiswa yang kerap datang bawa proposal kegiatan, tak mungkin melulu didonasi dengan gaji. Sisa anggaran digunakan untuk itu. Untuk pos kegiatan yang tak dibiayai negara. Tapi orang-orang yang terbiasa kenyang, akan nyaring berteriak jika mulai sedikit kelaparan. Bedebah bukan? Sialnya, orang-orang macam itu terlalu banyak!”

Kau sedikit memahami, tapi terlanjur mengikrarkan perlawanan. Bagimu, bara sudah terlanjur menggeliat dalam sekam. Prinsipmu, tak apa dikalahkan asalkan kukuh dalam kebenaran. Lalu, perjumpaan lekas berakhir. Kau teitu supamit kembali. Sebentar lagi tumpangan akan membawamu ke Kota Daeng.

***

Ada beberapa bukti yang kau serahkan kepada lelaki yang kau akrabi lewat ponsel. Kawanmu yang memperkenalkannya kepadamu. Lelaki yang sudah lama menjadi pengintip kesewenangan birokrasi. Dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat dan membantu tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Kau bertemu. Ada tiga tumpukan berkas yang kau serahkan. Pertama, pemanfaatan isu pandemi untuk menarik iuran yang tidak sedikit. Kedua, pemangkasan nominal beasiswa mahasiswa kurang mampu di salah satu kampus. Ketiga, para dosen di beberapa universitas swasta yang menggunakan ijazah palsu.

Lelaki itu menerima tumpukan berkas penuh sumringah. Dia mendapati bahan renyah untuk menciptakan teror. Sedang kau serasa sudah lepas beban. Kalian berpisah. Kau memilih berjalan menyusuri jalanan ramai Kota Daeng. Ada notifikasi yang masuk di teleponmu. Sebuah surat elektronik dari Kantor Pusat di Jakarta. Sebentar lagi, keributan akan pecah di kantormu. Kau tersenyum dan mengabaikan panggilan telepon. Kau tahu, yang menelpon itu, seseorang yang melayangkan surat teguran kepadamu. Tentu surel itu sudah sampai kepadanya. Dia punya sekretaris cekatan, yang mirip Raisa itu.(*)

Simak juga: 
Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

https://cdn2.tstatic.net/

SultanSulaiman.Id, Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie selalu lekat dengan pesawat terbang. Habibie dijuluki Bapak  Teknologi Indonesia. Lelaki Gorontalo kelahiran Parepare Sulsel ini tersohor karena rekam jejaknya memajukan industri strategis tanah air. Ia telah berpulang dan mimpinya mengembangkan Industri Pesawat Terbang Nasional sepertinya akan kandas. Presiden Jokowi telah mendepak Proyek R80 dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Padahal Tahun 2017, R80 masuk PSN melalui Peraturan Presiden Nomor 58. Serasa lirik lagu ini pas: kau yang memulai kau yang mengakhiri.


Mari mengenang hari itu, Kamis 10 Agustus 1995. Sejarah spektakuler telah tercatat, mengundang decak kagum jutaan pasang mata. Hari yang menorehkan rekor kesuksesan anak bangsa. Bumi pertiwi telah memiliki generasi yang mampu mengembangkan teknologi canggih. Teknologi yang bukan saja membuat Indonesia terpandang, tetapi “kuat” di mata dunia.

Kenanglah hari itu. Hari ketika N-250 “Gatotkaco” terbang pertama kali. Pesawat itu terbang membawa harapan, rasa bangga, haru, sekaligus membuang stigma yang kerap mengerdilkan potensi anak bangsa. Lihatlah, N-250 bukti jika bangsa ini mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang sudah mengembangkan teknologi pesawat terbang lebih dulu. Habibie menulis dalam bukunya Habibie & Ainun:

“Tidak ada yang meragukan N-250 Gatotkoco gagal terbang kecuali mereka yang tidak suka dengan penguasaan Iptek oleh bangsa sendiri, semua orang menginginkan N-250 bisa terbang dengan mulus.”

N-250 menjadi bukti keperkasaan bangsa  kita. Melalui tangan BJ Habibie, pesawat itu lahir sebagai wujud sumpahnya kepada pertiwi. Gemilang.

“Pesawat N-250 adalah pesawat pertama di kelasnya (subsonic speed) –yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan secara komputerisasi)."

“Pada saat itu, tahun 1995, di jajaran pesawat komersial, N-250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi fly by wire setelah Airbus A-340 dan Boing 767.” (Buku Habibie & Ainun hal. 166)


Semua itu benar-benar terjadi. Sebuah inovasi yang berkorelasi keinginan mempersembahkan cinta terbaik untuk negeri. Profesor Habibie telah menunjukkan karya dan dedikasi terbaiknya mengantarkan Indonesia menuju negara mandiri yang disegani. Namun, ikhtiar suci itu akhirnya menemui sandungan, setelah IMF melanggengkan intervensi. Industri Pesawat Terbang kita tak dibiarkan bertumbuh unjuk gigi. Satu babak kebangkitan paling berharga negeri ini mengalami masa kelam. Bahkan untuk sekadar berterima kasih, negeri ini seolah enggan. Saat menjabat sebagai Presiden RI III, Profesor Habibie mengakhiri sejarah pengabdiannya dengan penolakan laporan pertanggungjawabannya di hadapan Sidang Paripurna. Sejak saat itu pula, BJ Habibie kadung bersumpah tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden. Ia mengukuhkan dirinya sebagai negarawan sekaligus Bapak Bangsa.

Dok. Pribadi Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun
di Parepare Sulsel

Sumpah Mengangkasa Membumi
Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah Tumpah darahku makmur dan suci
..........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU!
(Buku Habibie & Ainun hal. 41-42)

Film Habibie & Ainun bukan sekadar membawa kita pada plot romantisme cinta. Lebih jauh, film ini ingin menunjukkan, juga mendeklamasikan secara nyata, bahwa kita sebagai bangsa, sebagai negara memiliki putra terbaik yang begitu menyejarah. Bahwa, energi kehidupan bahkan telah menggerakkannya untuk berbuat lebih banyak. Habibie plus Ainun telah menunjukkan sebuah kolaborasi atraktif, dua jiwa menyatu, mengangkasa, saling menguatkan, lalu membumi. Bahwa kembali untuk mengabdi kepada bangsa dan negara adalah pilihan sadar, panggilan cinta yang tak bisa ditawar, apalagi sekadar ditukar materi.

https://statik.tempo.co

Dua jiwa, sejuta harapan, bertemu mempersembahkan karya terbaiknya bagi kemanfaatan berjuta-juta manusia negeri ini bahkan semesta. Maka kisah cinta itu, laiknya pertemuan dua kutub perubahan yang melahirkan ledakan besar dalam batu bata sejarah kebangkitan Indonesia. Hanya saja, keluarbiasaan itu telah terlanjur diabaikan, bahkan dicampakkan sebelum benar-benar diberikan kesempatan berbuah sempurna.

Lalu, mari meraba ke kedalaman jiwa kita. Menemukan keIndonesiaan, dan bertanya sudah seperti apa kontribusi kita? Profesor Habibie telah membentangkan sebuah pilihan-pilihan hidup yang dilandasai idealisme tinggi, keyakinan, semangat pengabdian, juga rasa cinta luar biasa pada negeri. Maka dia, memilih meninggalkan segala kegelimangan materi untuk kembali ke negerinya. Seperti katanya, “Saya pulang ke Indonesia untuk mengabdi, bukan cari uang”

BJ Habibie tidak sekadar dikarunia usia yang panjang, tetapi juga padat dalam penggunaannya. Rasanya, sulit dibayangkan bagaimana dia akhirnya mampu membumikan mimpi-mimpi, walau mungkin tak sesempurna yang diingini. Tapi yang pasti, sejarah perjalanan kehidupannya adalah rentetan catatan kerja keras, yang lahir dari energi cinta, lalu mengilhami inovasi luar biasa yang hampir tak memiliki banding. Lelaki Gorontalo itu hanya menjalankan takdirnya. Setelah BJ Habibie, siapa lagi?

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Menunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun Manunggal dengan saya Sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat
(Habibie & Ainun hal. 323 )


Tahun ini (2020), pemerintah menganulir proyek pesawat R80 dan pesawat rancangan Habibie yang lain, seperti N245 dari Proyek Strategis Nasional. Jokowi beralasan, pandemi memaksa mimpi Habibie itu disingkirkan karena krisis. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penghapusan proyek Habibie itu karena ada proyek pengganti berupa pengembangan drone yang dinilai lebih cocok dengan situasi sekarang. Bukan hanya Habibie, kita yang sebelumnya meghayalkan menaiki pesawat terbang buatan dalam negeri pun harus gigit jari. Mungkin pemerintah beranggapan, membeli pesawat luar negeri jauh lebih praktis dan murah. Daripada harus buat sendiri toh? 

(Doa-doa terangkai. Untuk Habibie Ainun kami sampaikan salam hormat, semoga ditempatkan dalam kedamaian selalu dan selamanya.)
Gorontalo-Polewali, 13 Februari 2013-Juli 2020