Cerpen Kompas : Sang Pemahat [Edisi Agustus 2015]

Cerpen Kompas : Sang Pemahat [Edisi Agustus 2015]

 
Cerpen Kompas : Sang Pemahat Oleh Budi Darma 

SultanSulaiman.Id, Ini dia, sang pemahat terkenal, Jiglong namanya, nama asli dari kedua orangtuanya di desa, bukan nama buatan setelah dia terkenal atau ingin terkenal. Dua gigi depan Jiglong sudah lama rontok, dan tidak pernah diperbaiki. Wajahnya memendam bekas luka-luka lama, yang juga tidak pernah diobati. Cara Jiglong berjalan biasa, tapi kalau diamat-amati akan tampak, dia agak pincang.

Kendati memendam bekas luka-luka lama, wajah Jiglong memberi kesan teduh, damai, dan pasrah. Barang siapa berdekatan dengan dia dan mau berkata dengan jujur, pasti mengaku terus terang bahwa wajah Jiglong memancarkan rasa tenang.

Rumah Jiglong terletak di Ketintang Wiyata, dari depan tampak biasa, tapi begitu seseorang masuk ke dalam rumah akan mengetahui, bahwa bagian belakang rumah itu luas, dan seperti wajah Jiglong sendiri, terasa teduh. Di bagian belakang rumahnya itulah Jiglong bekerja sebagai pemahat. Dia tidak mau gagah-gagahan, tidak mau memasang papan nama sebagai pemahat, tapi, awalnya, dari cerita dari mulut ke mulut, nama dia dikenal di banyak kota di Indonesia, kemudian menyebar ke beberapa negara di luar negeri, apalagi setelah dia mengunggah gambar karya-karyanya melalui internet.
Berapa umur Jiglong tidak ada yang tahu, bahkan Jiglong sendiri pun tidak tahu. Dia lahir dari rahim seorang perempuan desa, buta huruf, dan tidak mempunyai pekerjaan kecuali kalau disewa untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar. Ayahnya, Sowirono namanya, sama dengan istrinya, buta huruf, tidak mempunyai apa-apa.
Kendati tidak tahu umur tepatnya, Jiglong sadar, pada suatu saat dia harus memiliki istri, dan memiliki anak dari darah Jiglong dan istrinya.

Pada suatu malam Jiglong bermimpi, naik sepeda tanpa arah, dan ketika sampai di kawasan Kawatan tidak jauh dari Tugu Pahlawan, tampaklah sebuah pemandangan yang menakjubkan. Ada pengemis perempuan, buta, duduk di pinggir jalan. Kemudian lewatlah seorang perempuan rupawan, wajahnya memancarkan rasa tenang, mendekati pengemis buta, lalu memberi sedekah berupa uang dalam jumlah besar. Jiglong terbangun, lalu berkata kepada dirinya sendiri, ”Mungkin perempuan itulah yang kelak akan menjadi istri saya.”

Jiglong sadar, menolong sesama, apalagi kepada orang-orang duafa, adalah kewajiban hidup sebagaimana telah digariskan oleh Tuhan Seru Sekalian Alam melalui para Nabi-Nya. Dan Jiglong juga benar-benar tahu, penghasilan dia bukanlah milik dia, tetapi milik Tuhan Seru Sekalian Alam yang dititipkan kepada dia, sementara sebagian dari penghasilan itu wajib diteruskan kepada orang-orang jujur yang memerlukannya. Tidak seperti kebanyakan orang, memberi dengan harapan mendapat pahala setelah nyawanya dicabut oleh Malaikat Maut, Jiglong memberi karena memberi adalah kewajiban.

Jiglong punya beberapa mobil, semuanya mobil untuk bekerja, bukan untuk bermewah-mewah. Tapi, kalau ada waktu senggang Jiglong suka naik sepeda, entah ke mana tidak peduli, semua diserahkan kepada kehendak hati dan kakinya. Kadang-kadang, setelah naik sepeda ke sana kemari, Jiglong duduk tidak jauh dari rel kereta api Surabaya-Yogya di kawasan Ketintang Selatan. Jiglong melamun, kadang-kadang meneteskan air mata. Dulu, ketika masih kecil, oleh saudara angkat dan teman-temannya, Jiglong pernah dilemparkan ke rel kereta api, ketika kereta api sudah benar-benar mendekat.

Kalau teringat peristiwa mengerikan itu, Jiglong tidak sekadar menangisi dirinya sendiri, tapi juga menangisi kedua orangtuanya. Orangtua yang baik hati itu, selalu siap untuk berkorban, tanpa memikirkan pahala. Berbuat baik adalah kewajiban yang digariskan oleh Tuhan Seru Sekalian Alam, kewajiban yang memang harus dilaksanakan.

Pada suatu hari, ketika sedang iseng membaca koran, dengan mendadak Jiglong terperanjat ketika melihat potret seseorang mirip Jiglong sendiri bersama istrinya. Mereka suami istri, sama-sama ahli bedah jantung terkemuka, tamatan Fakultas Kedokteran Hannover, Jerman, sudah pernah praktek di banyak negara di Eropa, Amerika, dan Kanada. Karena mereka sadar bahwa dokter bedah jantung di Indonesia sangat jarang, mereka merasa berkewajiban untuk pulang ke Indonesia. Nama dokter itu Gerry Dewata Raja, dan istrinya dokter Ruth Anita Dewayani. Jiglong yakin berita mengenai dua dokter ini tidak murni, semacam iklan terselubung.

Sebetulnya malam itu Jiglong mengantuk, tapi karena gelisah, tidak bisa tidur.
Dokter suami istri itu praktek di sebuah rumah besar di Citraland, kawasan mewah dan sepi, bertetangga dengan tiga atau empat rumah saja, masing-masing dijaga satpam. Serangan jantung bisa terjadi setiap saat, tidak peduli jam berapa. Karena itu pasien boleh datang jam berapa pun, dan karena pasiennya banyak, tempat praktek itu tidak pernah sepi. Dua dokter itu menyewa beberapa dokter, perawat, dan pegawai, datang bergiliran, dua puluh empat jam setiap hari. Rasa mengantuk datang merayap-rayap, dan Jiglong pun tertidur, dan bermimpi masa anak-anak di desa dulu. Pada suatu malam, rumah bobrok ayahnya dimasuki dua orang dari Desa Gelambir, memberi tahu bahwa Pak Jalidin, abang kandung ayah Jiglong, meninggal tadi pagi. Istri Pak Jalidin sudah lama meninggal, dan anak satu-satunya, Juntrung namanya, akan telantar kalau tidak ditolong, dan karena itu tidak ada yang merawat Juntrung. Setelah berbisik-bisik beberapa saat kepada ayah Jiglong, dua orang itu minta diri karena mereka mendapat panggilan untuk bekerja di kapal pesiar berbendera Turki.

Malam itu juga Jiglong diajak ayahnya menuju Desa Gelambir, dengan bekal dua batang gula jawa utuh, dan pecahan-pecahan gula jawa yang sorenya rontok di jalan menuju ke pasar. Gula jawa adalah senjata ampuh untuk menahan rasa lapar.

Pagi hari mereka tiba di Desa Gelambir, menuju ke rumah mBok Minem, janda tanpa anak, sambil membawa dua batang gula jawa utuh. Di rumah mBok Minem mereka menemukan Juntrung, anak yang, menurut mBok Minem dan beberapa tetangga, tidak disenangi oleh siapa pun.

Mulai pagi itulah ayah dan ibu Jiglong menganggap Juntrung sebagai anaknya, sebagai saudara Jiglong. Dan mulai saat itulah, ayah dan ibu Jiglong merasakan kesengsaraan karena Juntrung benar-benar kurang ajar, suka berkelahi, berbohong, dan kadang-kadang mencuri. Dan mulai saat itulah, Jiglong sering disakiti dan difitnah oleh Juntrung.
Jiglong menaruh curiga, dokter Gerry Dewata Raja tidak lain adalah Juntrung. Sejak kecil Juntrung memang pandai, dan disegani teman-teman sekolahnya. Hampir semua perintah Juntung dituruti oleh teman-temannya. Mula-mula semua guru menyayangi Juntrung, tapi lama-kelamaan mereka sadar bahwa Juntrung tidak lain adalah anak berbahaya.
Untuk membuktikan kecurigaannya, pada hari Kamis, 13 Agustus 2015, sekitar jam enam senja, Jiglong mendatangi tempat praktek dokter Gerry Dewata Raja, menyamar sebagai pasien. Dari layar di komputernya, penerima tamu melihat kedatangan Jiglong dengan mobil kotornya, dan melihat Jiglong berpakaian sembarangan.

Ketika Jiglong mendekat, penerima tamu berbisik: ”Maaf, Bapak, sebaiknya Bapak ke dokter lain saja.”
Senyum, wajah, dan kilat mata Jiglong yang serba teduh justru membuat penerima tamu gugup.
Dengan sabar Jiglong antre, dan begitu dipersilakan masuk oleh perawat, mata Jiglong langsung bertabrakan dengan mata dokter Gerry Dewata Raja. Sama dengan dahulu, mata dokter Gerry Dewata Raja memancarkan sinar yang sangat merendahkan Jiglong.

”Ayah kamu selamanya sok bijaksana, ya. Mengutip kata-kata Nabi, ’nasib tidak ditentukan oleh Tuhan, tapi oleh usaha diri sendiri.’ Apa ayah kamu mampu mengubah nasibnya, he?”
Jiglong pulang, hatinya terketar-ketar, keringat dingin membasahi tubuhnya.

Setelah tiba di rumah, dengan perasaan tidak jelas Jiglong membongkar setumpukan koran, dan tampaklah koran hari Kamis, tanggal 16 Juli 2015, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1436 tahun Hijriah. Mata Jiglong tertumbuk pada berita di halaman pertama, ”Warna Kulit Berubah Sama Dengan Donor Liver”. Terceritalah, seorang laki-laki bernama Igor Semen Glender dari kota Krasnodar, barat daya Rusia, pernah menderita kanker hati. Lalu dia terbang ke Amerika, ganti hati, donornya seorang kulit hitam keturunan Afrika. Ternyata, kulit Igor makin lama makin hitam, dan wajahnya pun lama-kelamaan berubah, mirip wajah donor. Sumber berita mirror.co.uk/c6/sof.

Jiglong tertidur, dan dalam mimpinya terputarlah pengalaman masa lalu. Kepala Sekolah membeli bekas alat suntik dari seorang tukang rombeng. Karena merangkap sebagai guru Ilmu Kesehatan, Kepala Sekolah merasa tahu bagaimana membuat orang sakit jadi sehat. Dengan disaksikan Wakil Kepala Sekolah, Kepala Sekolah memanggil Juntrung dan Jiglong.

”Juntrung,” kata Kepala Sekolah. ”Jiglong adalah saudara kamu. Dia anak baik. Berhati mulia. Kamu anak jahat. Darah kamu busuk.”
Dengan alat suntik bekas, darah Juntrung disedot banyak-banyak, lalu dibuang. Darah Jiglong disedot banyak-banyak, lalu dimasukkan ke tubuh Juntrung.
Lalu dengan nada penuh keyakinan Kepala Sekolah berkata: ”Mulai hari ini, Juntrung, kamu akan menjadi anak baik seperti saudara kamu, si Jiglong.”

Selama berminggu-minggu Juntrung dan Jiglong sakit keras. Kepala Sekolah ditangkap polisi, dan keesokan harinya kena serangan jantung, meninggal.
Begitu terbangun dari mimpi, tanpa sadar Jiglong mengambil alat-alatnya, lalu dengan sedu-sedan memahat dua pasang nisan dengan ukiran yang sangat indah. Nisan pertama ditandai ”Dokter Gerry Dewata Raja alias Juntrung, meninggal pada hari Jumat pagi, jam 03.17, tanggal 14 Agustus, 2015,” dan nisan kedua mengabarkan, dokter Ruth Anita Dewayani, meninggal pada hari dan tanggal sama, jam 03.45.

Malam itu, Kamis, 13 Agustus, 2015, tanpa alasan yang jelas semua dokter pembantu, perawat, pegawai, dan satpam pulang hanya beberapa saat setelah Jiglong diusir. Mereka merasa udara tiba-tiba menjadi panas, padahal angin bertiup dengan kencang, tidak seperti biasa. Dan, beberapa jam kemudian, Jumat, tanggal 14 Agustus, sekitar jam 03.00 pagi, dua perampok membunuh dua orang dokter itu.

Sumber Koran Kompas Edisi Agustus 2015
Cerpen Kompas : Sepasang Kekasih di bawah Reruntuhan

Cerpen Kompas : Sepasang Kekasih di bawah Reruntuhan

Sepasang Kekasih di bawah Reruntuhan
Oleh AK Basuki

SultanSulaiman.Id, Ribuan malaikat akan turun ke bumi di malam-malam suci yang bahagia. Begitu pun pada malam-malam tersunyi menjelang ajal. Di pintu-pintu rumah mereka menunggu, di ambang jendela, di sudut-sudut kamar, di sela-sela genting, usuk, dan di mana saja cahaya langit bisa menerobos. Mereka ada sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Utusan-utusan berupa cahaya mulia yang tak kenal angkara, hanya kasih sayang dan kesetiaan.

Salah satunya mendatangi sepasang suami istri yang sama-sama merasa waktu telah hampir berhenti. Menanti, ia, seperti abdi yang menjagai sepasang raja dan ratu. Sosoknya tak kasatmata, namun telah dikenali lewat suara sang istri yang gemetar.

”Aku melihat malaikat maut. Seorang lelaki berperangai halus dan berwajah rupawan. Awalnya tak sedekat ini, tapi semakin lama semakin dekat hingga embusan napasnya serasa akan mencapai leherku.”

Dia melantur. Sang suami, yang pernah mendengar kisah-kisah tentang malaikat, hanya tahu bahwa makhluk-makhluk suci itu tak punya jenis kelamin. Dan dia percaya, seperti apa kau ingin melihatnya, begitulah jadinya mereka.
”Kau melantur,” katanya. Perkataan istrinya sebisanya dia anggap omong kosong. Halusinasi yang muncul akibat kejadian luar biasa yang menantang batas kekuatan dan ketabahan mereka. Tapi tetap saja hatinya tak mampu memungkiri kemungkinan bahwa itu adalah sebuah firasat. Pikiran yang mau tak mau membuatnya semakin takut kehilangan.

Cerpen: Belajar Hidup

Di ranjang yang hancur, sepasang suami istri itu tak berdaya terhimpit reruntuhan tembok, perabot, plafon, dan genting ambrol yang timpa-menimpa hingga hanya menciptakan sedikit rongga. Dalam ruang gerak sesempit itu, hanya sang suami yang masih mampu bergerak. Itu pun sekadar memindahkan tekanan pada beberapa titik di tubuhnya dengan menggunakan kedua siku berganti-ganti. Istrinya telungkup tak bergerak. Reruntuhan rumah telah menghantam punggungnya ketika amukan bumi membuat tanah seperti hamparan tikar pandan yang dikebutkan hingga meratakan seluruh desa.

Sang suami masih bisa meraih punggung dan bagian belakang kepala istrinya walaupun tubuh mereka terhalang sebuah balok. Tangannya bisa mencapai leher yang dingin itu, mencoba sekadar terus merasakan denyut kehidupan yang akan terus memompa semangat hidupnya. Tidak dia pikirkan dirinya sendiri. Jika ada yang harus mati, dialah orangnya. Bahkan jika saja nyawanya hanya tinggal separuh, akan dia berikan semua demi kehidupan istrinya.

”Yang akan datang kemari adalah malaikat pembawa keselamatan,” gumamnya yang hanya dibalas dengan getaran ritmis tubuh istrinya, menahan dingin. Dia tahu tubuh perempuan itu telah ringkih sebelum ini. Dia pun tak kalah ringkih, tapi daya tahan tubuhnya sendiri masih bisa diandalkan.

Sekuat tenaga dia mencoba menggerakkan tubuh, berusaha keras melepas baju tidur untuk melingkupi tubuh istrinya. Gagal, tetapi reruntuhan di sekitar mereka justru bergerak.
”Apa yang kau lakukan?”
”Melepas bajuku.”
”Untuk apa?”
”Untukmu. Kau mulai gemetar kedinginan.”
”Jangan. Kau pun pasti kedinginan,” kata sang istri.
”Sama sekali tidak,” balas sang suami. Dia bohong. Saat itu hawa dingin justru sedang gencar-gencarnya memakan setiap senti kulitnya. Tanpa terasa, gigi-giginya saling mengetuk tanpa bisa tertahan. Dibukanya mulut lebar-lebar, tapi sendi rahangnya malah serasa patah. Tak tertahankan, dia mengaduh.
Istrinya mendengar dan bertanya khawatir, ”Kau tidak apa-apa?”
”Tidak.”

Lalu diam. Selama hampir 40 jam yang telah dilalui, bukan hanya sakit dan dingin yang mereka rasakan. Lapar dan dahaga pun menantang. Sesekali tertidur, sesekali saling membangunkan karena dalam keadaan seperti itu, tetap dalam keadaan sadar adalah pilihan terbaik.

Berkali-kali mereka merasakan gerakan-gerakan di atas sana, bising alat-alat berat yang bekerja, juga suara-suara orang memanggil tepat di atas reruntuhan, tapi mereka tidak mampu balas berteriak. Pastilah medan yang sulit membuat pertolongan yang diharapkan terasa lama sekali mencapai mereka.

”Dia semakin dekat, malaikat itu,” sang istri bergumam lagi. ”Beradu cepat dengan orang-orang yang membongkar puing-puing di atas sana. Jika dia lebih cepat dari mereka, yang tersisa di sini hanya tinggal mayat untuk dikuburkan.”
”Heh, bicaralah tentang hal lain saja.”

”Sudah habis bahan pembicaraan kita. Tidak ada apa pun yang tidak pernah kita bicarakan selama 50 tahun ini. Hal kematian justru adalah sebuah pembicaraan yang baru.”

Sang suami terdiam. Sejak hari pertama dia ingin sekali mendekat pada istrinya, berpelukan untuk saling membagi ketakutan dan semangat mereka. Bisa saja dia memaksakan untuk menarik kedua kakinya yang terjepit reruntuhan itu tanpa menghiraukan rasa sakitnya, tapi dia sangat takut jika gerakan apa pun yang melebihi ruang yang dimilikinya akan membahayakan mereka berdua.

”Aku sudah tidak berharap lagi untuk hidup. Kau?”
”Kau harus hidup. Bahkan jika aku harus mati, kau tidak akan kubiarkan mati.”
Sang istri terkekeh, sepertinya kesadarannya sudah mulai tercerabut sedikit demi sedikit hingga hanya tinggal ekstase yang dirasakannya. Kata-katanya melantur.

”Sebentar lagi mungkin aku akan melihat seluruh riwayat hidupku dipampangkan oleh malaikat itu.”
”Diamlah,” suaminya memohon. Oleh rasa takut yang bukan untuk dirinya sendiri, juga merasa bahwa waktu semakin habis, lelaki itu akhirnya nekat mencoba menarik tubuh bagian bawahnya. Akibat gerakannya yang justru tidak terlalu kuat, pecahan-pecahan bangunan longsor menjatuhi kepalanya. Tapi kegigihannya membuat sebelah kakinya lepas.
”Jangan banyak bergerak. Reruntuhan ini bisa semakin mengubur kita sebelum pertolongan datang akibat gerakanmu. Bukannya aku takut mati. Jika saja kita bisa memperlambat kematian, itu bukan lagi karena aku mengharapkan keselamatan, tapi hanya untuk lebih lama lagi bersamamu.”
”Aku hanya ingin mendekat. Orang-orang yang membongkar puing-puing di atas sana justru bisa membahayakanmu.”

Reruntuhan di atas mereka bergerak sedikit demi sedikit, seperti hidup dan semakin mempersempit rongga yang mereka diami. Sang suami tahu, gerakan-gerakan para penyelamat di atas mereka bisa menjadi bahaya yang baru. Dia hanya ingin melindungi istrinya. Tangannya meraba-raba lalu menggapai balok yang melintang memisahkan mereka, menjadikannya tumpuan untuk menarik tubuhnya sekuat tenaga. Tak dirasakannya nyeri di kedua kaki yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat. Tapi dia harus berpacu dengan waktu.

”Aku akan mati, bukan?” terdengar lagi istrinya berkata sebelum kelopaknya benar-benar tertutup.
”Kau tidak akan mati, Sayang,” sahut sang suami setelah tubuhnya sempurna berada di atas punggung istrinya, menjadi perisai.

Lalu reruntuhan di atas mereka benar-benar jatuh.
”Ada dua orang!” teriak seseorang dan misi penyelamatan segera difokuskan pada titik di bawah kakinya. Dua hari setelah bencana, menemukan korban selamat yang tertimbun reruntuhan adalah keajaiban.
”Posisi sang suami telungkup di atas tubuh istrinya,” kata seorang anggota tim penyelamat dengan prihatin setelah 
 tubuh kedua suami istri itu telah berhasil dievakuasi tiga jam setelah ditemukan. ”Bersama hingga maut memisahkan. Mengharukan dan membuatku iri.”
”Maksudmu, kau rela mati demi orang yang kau sayangi?” bisik kawannya.
”Yang jelas, seorang dari mereka akan melalui sisa hidupnya tanpa yang lain. Kau sendiri lebih suka mengenang atau dikenang? Kau lebih memilih membawa kembang ke kubur orang yang kau cintai atau sebaliknya?”
Lalu hening di antara mereka.

Di sebuah tempat berdimensi tak berbatas yang putih tanpa noda, sepasang suami istri duduk berdampingan.
”Di mana kita?” tanya sang istri. ”Di surga? Malaikat itu benar telah menjemput kita?”
”Bukan, Sayang. Kita ada dalam mimpi.”
”Mimpi siapa?”
”Mimpi siapa lagi? Ini mimpimu.”
”Cih!” sang istri mencubit pinggang suaminya dan tertawa. ”Aku tidak merasa sedang bermimpi. Ini pasti mimpimu. Aku sudah mati.”

Sang suami membuat ekspresi wajah kesakitan yang lucu. Lalu dikecupnya kening istrinya itu lama sekali. Sangat lama sehingga rasa-rasanya puluhan tahun kehidupan yang telah mereka lalui bersama telah kembali dijalani hanya dengan sebuah ciuman.
”Begini saja, mimpi siapa pun ini, jangan pernah terbangun. Kau setuju?”

Cigugur, 16 Mei 2014
Sumber Koran Kompas Edisi Minggu, .... Agustus 2015

Simak juga:

Cerpen Kompas: Tajen Terakhir [ Edisi 16 Agustus 2015 ]

Cerpen Kompas: Tajen Terakhir [ Edisi 16 Agustus 2015 ]

Cerpen Kompas: Tajen Terakhir oleh Gde Aryantha Soethama

SultanSulaiman.Id, Lontar Pengayam Pegat cuma sembilan lembar, berbahasa campuran Jawa Kuno dan Bali Tengahan. Made Sambrag kebetulan mendapatkan lontar itu teronggok dalam almari lapuk milik kakeknya. Dibantu orang-orang desa yang senang membaca kakawin, mereka sadar itu lontar penting bagi siapa saja yang ingin berhenti judi menyabung ayam.

Dulu Made Sambrag bebotoh kelas wahid. Tapi, ketika ia melaksanakan ajaran lontar Pengayam Pegat, ia ogah ke tajen . Ia seperti lahir kembali, jadi manusia arif penasihat bagi siapa saja yang berniat meninggalkan tajen, menjadikannya cuma sekerat masa lalu yang getir. Kepada mereka yang bersungguh-sungguh, Sambrag meminjamkan lontar Pengayam Pegat.

Nyoman Pongkod bertekad berhenti menyabung ayam. Lontar sudah dalam genggaman. Ia cakupkan tangan di dada, setengah membungkuk menyampaikan terima kasih kepada Made Sambrag, karib yang meminjamkan lontar itu.
"Suksma, Sam. Aku akan berjuang melakoni aturan dalam lontar."
"Syaratnya tidak berat, Pong," ujar Sambrag membesarkan hati. "Bacalah dengan saksama, dan patuhi semua syarat."
Lontar itu harus diletakkan di kamar tersendiri, di hulu tempat tidur, disajeni saban hari. Di kamar itu Pongkod mesti tidur sendiri, menunggu hari baik ke tajen. Ia meminta bantuan penekun sastra klasik untuk membaca aksara Bali di lontar itu, memahami dengan saksama maknanya. Lontar itu akan memberi dewasa ayu, disesuaikan perhitungan hari lahir. Berulang ia dapatkan hari baik kelahiran, tetapi tak ada tajen berlangsung. Atau ketika tajen digelar, itu bukan hari baik sesuai kelahirannya. Sebelum membaca dan menghayati isi lontar, ia tepekur seolah menjadi orang suci. Sejak belajar meresapi makna lontar ia pantang menggauli istri.

Pongkod nyaris putus asa, sudah lebih empat bulan ia menunggu.
"Bersabarlah, dewasa ayu kelak menjadi milikmu," bujuk Sambrag cuma berselang sepekan ketika Pongkod mendapat kabar ada tajen di Dusun Pengalun, setengah jam jalan kaki dari rumahnya. Ia berseri-seri ketika tajen itu berlangsung padu dengan hari baik kelahirannya.

"Akhirnya tiba juga hari milikku," kata Pongkod gembira menyambangi Sambrag.
"Puaskan dirimu menikmati tajen terakhir, Pong. Bertaruhlah sampai petang, hingga adu ayam penghabisan, sampai tajen selesai," saran Sambrag.

Lontar mensyaratkan Pongkod harus puasa bicara sepekan, sebelum datang ke tajen. Di depan lontar ia suntuk bersamadi. Terus-menerus memusatkan pikiran dan niat, memohon agar tajen yang akan ia datangi benar-benar yang terakhir. Ia bertekad, tak peduli kalah atau menang, akan menyudahi judi. Niat buka warung menjual jus buah bulat sudah karena di desanya mulai ramai para pendatang yang tinggal di permukiman baru. Mereka pekerja di restoran dan hotel di Nusa Dua, Jimbaran atau Kuta. Dari pada bayar sewa kos mahal, mereka memilih mencicil rumah, dan pulang-pergi ke tempat kerja naik motor sejam lebih. Merekalah sasaran penikmat jus yang akan dijual di warung Pongkod.

Di hari keberangkatan, Pongkod menghaturkan sesaji dengan anak ayam yang ia pelintir lehernya hingga tewas di depan gerbang rumah. Ia berangkat dini hari, masih gelap, agar tak bersua siapa pun di jalan. Tak boleh ada orang menyapanya, seperti disyaratkan lontar. Jika ada yang menegur sapa, perjalanan ke tajen terakhir dianggap gagal, niat menyabung ayam pun akan kambuh. Harus dicari hari baik yang baru. Ini sungguh-sungguh perjalanan sunyi sepi sendiri.

Pongkod memilih jalan sempit, mengendap-endap di pematang, menelusup ke tegalan, dan menelusuri tebing Tukad Petanu berair jernih, yang selepas pagi hingga sore riuh oleh perahu-perahu karet mengantar turis-turis rafting, meliuk-liuk di antara batu-batu sebesar gerobak.

Hari itu di tajen Dusun Pengalun, Pongkod bebotoh pertama tiba. Pedagang ayam betutu dan babi guling berdatangan silih berganti dengan penjual cangkul, caluk, sabit dan parang, yang menggelar dagangan di bawah pohon kemiri. Pongkod berkeliling, menoleh kiri-kanan, kemudian memergoki James Brolin berteduh di bawah rimbun rumpun bambu.

"Halo Bro, sudah punya lawan?" sapa Pongkod.
"Om swastiastu Pong, apa kabar?" seru James menjabat tangan Pongkod. "Belum, belum ada yang melawan saya. Kamu?"
Pongkod menggeleng. "Belum juga."

Beberapa bulan belakangan James Brolin, antropolog dari Universitas British Columbia, Kanada, hilir mudik ke berbagai sabungan ayam untuk melengkapi disertasinya tentang hiruk-pikuk psikologi tajen. Tentu disertasi itu akan diterbitkan menjadi buku dan para pakar sosial Tanah Air ramai-ramai merujuknya. Sudah lazim begitu, banyak orang bangga mengutip hasil penelitian bumi sendiri yang dikerjakan peneliti asing.

James Brolin dikenal akrab dan luas para penyabung ayam karena ikut langsung berjudi untuk mendalami apa yang ia teliti. Banyak yang menyukai James karena ia bertaruh dengan dollar, selain ia fasih berbahasa Indonesia, kadang menggunakan bahasa Bali, kendati sepotong-sepotong. Logatnya khas bule, percakapan jadi jenaka, membuat para bebotoh tergelak-gelak.

James dan Pongkod sepakat bertaruh, mencari celah ke bibir arena, di antara bebotoh yang berdatangan. Ada yang bergabung dengan santai, banyak pula yang tergopoh-gopoh.

"Aku pegang yang merah saja, Pong," tawar James Brolin.
"Oke, Bro. Aku yang brumbun kalau begitu. Seperti biasa, kamu pakai dollar, kan?"

James Brolin tersenyum, merogoh saku celana, mengeluarkan dollar, dan menggoyang-goyangkannya di depan wajah Pongkod dengan mata terbelalak. "Dollar lagi unggul, Pong. Kita hitung satu dollar tiga belas ribu, oke?"

Pongkod mengangguk-angguk, ditingkah lengkingan "Huuuuu...!" gemuruh bebotoh ketika dua ayam jago itu siap dilepas dengan taji berkilat di kaki. Teriakan-teriakan gaduh bebotoh mencari lawan sembari mengacung-acungkan tangan menggenggam uang, membuat sabung ayam itu hiruk-pikuk. Yang baru datang, tak ada lawan, tetap mendesak-desak maju ingin tahu si brumbun atau si merah yang akan terkapar.

Tiba-tiba sepi sejenak ketika si brumbun dan si merah dilepas. Dua jago itu berhadapan penuh amarah, buku-bulu leher berdiri, sayap direntangkan, mata membelalak tajam penuh awas. Si merah terbang sengit menyerang mengayunkan kaki, si brumbun merunduk gesit. Si merah berbalik, maju empat langkah mendekati si brumbun, mengulang sergapan. Si brumbun merebahkan diri tengadah dengan kaki terangkat. Para bebotoh berseru "Huuuuu...!" Mereka tahu, taji si brumbun menyabet dada si merah.

Si merah penasaran, menggebu-gebu mencoba berbalik untuk menggebuk dalam serangan ketiga. Tapi kali ini ia terhuyung, tak kuat melangkah, kemudian terjerembab. Taji si brumbun menembus temboloknya, darah mengucur membasahi bulu-bulu leher dan dada. Si merah terkulai disertai teriakan gaduh para bebotoh, berbaur antara desah sedih yang kalah dengan teriakan si pemenang. Si brumbun berkokok, mematuk-matuk pial si merah yang terkapar tidak berkutik. Pertarungan pertama hari itu berakhir singkat.

James Brolin menghampiri Pongkod, menggamitnya ke luar dari kerumunan. "Selamat, Pong," ujar James menyerahkan ratusan dollar sembari menjabat Pongkod. "Senang bertaruh dengan kamu, ha-ha-ha.."

Nyoman Pongkod berseri-seri menerima dollar itu. Tapi, bukan dollar itu benar yang membuatnya girang. Memang ia bersyukur ada tambahan modal untuk mendirikan warung jus buah, tapi yang terpenting ia harus menjadikan ini tajen terakhir. Butuh waktu setahun Pongkod tidak ke tajen, agar ia bebas selamanya dari godaan menyabung ayam. Memang ajaib pengaruh lontar Pengayam Pegat yang membuat Pongkod ingin cepat-cepat pulang. Tak ada niat lagi berada di wilayah dengan puluhan jago terbaik siap menyabung nyawa. Tak berhasrat sedikit pun ia meneruskan ke pertarungan berikut. Kedua petarung itu sesungguhnya tak benar-benar berniat bertaruh. Bagi James Brolin pertaruhan itu untuk melengkapi penelitiannya. Bagi Pongkod itu pertaruhan untuk mewujudkan tajen terakhir.
"Mau cari lawan lagi, Pong?" tanya James.

"Tak usah, Bro. Aku mau pulang. Suksma untuk dollar-dollar ini."
Nyoman Pongkod melewati pematang kering, panen belum sepekan usai. Ia berniat mampir ke pondok Made Sambrag, menyampaikan terima kasih. Sebelum tengah hari Sambrag biasanya ada di gubuk tempat ia memelihara sapi-sapi kereman. Sebulan sekali Sambrag menjual sapi itu ke pasar hewan Beringkit. Tak lama lagi ia akan menjadi saudagar sapi, karena ia mulai sibuk membeli dan menjual sapi-sapi petani. Semua itu berkat jasa lontar Pengayam Pegat, yang membuat Sambrag berhenti menyabung ayam.

Tiba dekat kandang dada Pongkod berdegup melihat sepasang sandal perempuan tergeletak di atas serakan potongan rumput. Kepalanya berdenyut mendengar suara seperti lenguhan sapi berulang dari ruang bersekat daun kelapa kering, dengan tiang-tiang kayu santan. Ia ragu meneruskan langkah. Tak pantas mengganggu orang dalam kobaran asmara. Tapi, hasrat segera menyampaikan syukur dan terima kasih membuat ia melanjutkan ayunan kaki, perlahan-lahan.

"Sam.. Sammmm..!" panggil Pongkod memberi isyarat kalau ia bertamu.
Melangkahi karung berisi konsentrat makanan sapi, Pongkod terperanjat menyaksikan pergumulan sepasang manusia hanya enam langkah dari tempat dia kini berdiri ternganga. Laki dan perempuan itu terperangah, tiba-tiba Pongkod berdiri di hadapan mereka dengan mata terbelalak, geraham bergerak-gerak, gigi gemeletuk, menahan bara amarah.
Sambrag melepas pelukan, mendorong perempuan itu, berdiri sigap, mendobrak dinding dari daun kelapa kering, berlari kencang sekuat ia sanggup. Semak-semak pohon kem dan ketket berduri ia labrak. Petani yang sedang menyabit rumput kaget menyaksikan Sambrag berlari kencang telanjang. Ujung kemaluannya masih menyisakan sperma, berdarah-darah diiris-iris onak yang tajam. Dada dan lengannya tergores luka. Tak peduli perih di sekujur tubuh, berulang ia menoleh ke belakang, seakan Pongkod mengejarnya mengacung-acungkan sabit.

Dalam ketakutan amat sangat, ia memerosotkan tubuh berguling-guling di tebing Tukad Petanu. Kepalanya berkali-kali membentur karang, berulang-ulang ia gagal menggapai akar belukar. Tubuhnya terus meluncur, terjun ke sungai. Tiga turis berbikini yang sedang rafting bersorak girang ketika Sambrag terjungkal membentur batu. Mereka menduga itu atraksi dari water sport yang asyik mereka nikmati. Tadi di hulu seorang pendeta memercikkan air suci buat mereka, memberi kembang sandat dan mantra, demi keselamatan dan kesenangan. "Nikmatilah perjalanan indah kalian yang penuh atraksi di Tukad Petanu," ujar pendeta. Turis itu bertepuk tangan, mengira Sambrag penyelam hebat, karena ia tak kunjung muncul ke permukaan.

Di gubuk, Pongkod termangu seperti orang dungu menatap istrinya duduk merunduk telanjang, dengan rambut tergerai mengusap payudaranya yang subur.

"Bunuh saya, Bli! Bunuh.!" isak perempuan itu. "Bunuh, Bli.. sekarang, Bli!"

Pongkod menatap istrinya terguncang-guncang oleh rasa bersalah dan pengkhianatan. Kini ia sadar, perempuan yang berbulan-bulan tidak ia jamah demi melaksanakan perintah lontar Pengayam Pegat agar sampai ke tajen terakhir, adalah wanita sintal dengan pinggul padat dalam remasan serakan potongan rumput. Sejak kapan Sambrag membidik sebelum menggumulinya?

Aroma gairah percintaan berkobar-kobar masih terendus kuat di pondok itu. Pongkod terengah-engah dalam bekapan amarah, menatap sabit terselip di dinding. Seekor sapi di kandang memamah rumput menatapnya tajam mengedip-edipkan mata, seakan mengejek dan mendorong-dorong agar ia menyelesaikan perselingkuhan itu dengan tebasan sabit.

Nyoman Pongkod menatap tengkuk istrinya yang mulus, jelas berkilat karena rambut tergerai tersibak. Sekujur tubuh Pongkod gemetar hebat, dadanya sesak. Perempuan yang ia cintai menunduk beku menunggu keputusan, siap menerima segala tiba.

(Sumber: harian Kompas edisi 16 Agustus 2015, halaman 27 dengan judul "Tajen Terakhir")