Cerpen Menjenguk Ibu

Cerpen Menjenguk Ibu

Ilustrasi dari Republika

Cerpen ini dimuat di Gorontalo Post pada 10 Juli 2021. Cerpen ini awalnya cerita mini yang dihimpun oleh FLP Gorontalo. Selamat membaca!

SultanSulaiman.Id, Sudah sebulan Bapak berpulang. Aku masih kerap mendapati Ibu meringkuk sendirian. Di kamarnya yang remang, Ibu meruahkan air matanya. Tak ada yang bisa mengusir bayangan Bapak. Apalagi kebersamaan yang sudah puluhan tahun, jelas meninggalkan prasasti di benak Ibu. Kepergian Bapak telah merampas sebagian jiwa Ibu. Ibu amat terguncang.

“Bapakmu tidak meninggal Nak!” Ucap ibu terbata-bata.

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya bisa mematung. Jelas, sulit bagi Ibu. Aku kadang ingin bertanya, seperti apa cinta Ibu kepada Bapak. Namun, sikap Ibu setelah kepergian Bapak sudah menegaskannya.

“Jika kamu pulang, terus yang sama Ibu siapa?”

Cerpen: BiroCrazy

Cerpen: BiroCrazy


SultanSulaiman.Id, Kau membuka lembaran surat itu. Surat teguran yang dilayangkan kepadamu karena vonis melanggar aturan. Ada rentetan alasan yang membuat keningmu berkerut. Kau mencoba mencerna lebih dalam. Pertama, ketidakpuasan atas pelayanan. Kedua, tidak loyal kepada pimpinan. Ketiga, perbuatan melawan hukum. 


Ada yang bergemuruh di balik dadamu. Dituding semacam itu membuat darahmu mendidih. Tak butuh waktu lama, kau membawa serta surat itu. Langsung menghadap pimpinan tertinggi. Kau butuh penjelasan atas tuduhan yang bagimu mengada-ada. Bersisa beberapa langkah lagi. Seseorang mencegatmu.

“Bapak tidak bisa diganggu!”

Protokol khas ala sekretaris pribadi.

“Saya ingin klarifikasi ini?!”

Kau menunjukkan surat itu. Sembari sedikit memaksa, mencoba menerobos.

“Nanti ditunggu saja Pak. Akan ada rapatnya hari ini. Di agenda Bapak Kepala, Pukul 16.00!” Jelas perempuan mirip Raisa sambil mengulum senyumnya tipis.

Kau mengalah. Sembari mencerna pasal rapat. Belum ada yang memberitahumu, selain sang sekretaris. Kau memilih mundur. Meski ada kejanggalan yang kau cium di balik rencana rapat itu.

Hingga waktu yang ditentukan tiba, saat senja sudah turun. Tanda-tanda rapat digelar belum tampak. Kau gelisah. Seorang sudah menghubungimu berkali-kali. Ah! Mestinya, pukul segini kau sudah di rumah. Bermain dengan para bocah dan mengurangi beban istrimu yang lelah karena urusan rumah tangga. Kau mencoba mengecek, menyambangi meja sekretaris. Perempuan ayu itu asyik memperbaiki riasan dan baru selesai memoles bibirnya dengan lipstik.

“Jadiji ini rapat?”

Kau mulai memberi penekanan suara pada pertanyaanmu. Sontak sang sekretaris mengalihkan perhatiannya kepadamu.

“Iye Pak…Sebentar lagi. Bapak masih ada urusan!” ucapnya setelah itu bergeming.

Kau sepertinya tak lagi sanggup menahan diri. Kau balik kanan, pulang ke rumah. Tak menghiraukan rapat yang ngaret terlampau lama. Rapat akhirnya digelar, saat senja telah sirna. Rapat tanpa kehadiranmu dengan agenda membahasmu!

***

Hari sudah gelap, saat kau memutuskan menghubungi seseorang. Masa-masa genting akan kau hadapi sejak saat ini dan beberapa waktu ke depan. Ada banyak hal yang ingin kau bagi. Birokrasi tak seindah imaji kala kau memutuskan berkarier pertama kali. Wajah-wajah peninggalan Orde Baru, tingkah laku feodalistis, dan mental asal bapak senang. Kau hadapi semua itu dengan idealismemu. Idealisme yang bagi banyak orang hanya tahi kucing. Sepertinya, kau tak akan sanggup bertahan. Apalagi, kau sendiri.

“Tunggu…! Saya ingin ketemu!” Katamu…

“Oh boleh…Gunakan SOP Covid-19 ya. Pakai masker dan jaga jarak!” Pemilik suara nyaring itu berkelakar.

Setelah memesan angkutan, kau menyiapkan bawaan. Beberapa potong pakaian kau masukkan ke ransel. Cukup. Tak lama, angkutan yang akan membawamu sudah tiba. Kau pamit kepada istri dan anak-anakmu. Kali ini kau akan tega membiarkan dua bocah yang tak ingin melepaskan pelukan ayahnya!

“Ayah tidak akan lama kok…!” Ucapmu menenangkan.

Pelukan itu akhirnya meregang dan kau melangkah pergi. Mini bus membawamu melintasi jalan darat lintas provinsi.

Pokoknya tunggu! Kita harus ketemu. Ini penting! Siapkan perjamuan terbaik.

Lelaki yang kau hubungi masih menganggapmu bercanda. Setelah menerima pesan darimu. Dia memilih melanjutkan tidur. Tidur yang meski pulas tetap dibaluri tanda tanda. Apakah kau serius akan pulang kali ini.

***

Pertemuan dihangatkan seduhan kopi. Kepulan asapnya menguar ke udara membawa aroma semerbak menggoda. Di sudut kota, lalulang manusia tetap saja ramai. Tampaknya, seperti dirimu, semua orang mulai tak peduli wabah. Ada suguhan bolu paranggi. Penganan khas Mandar yang bisa melelehkan air liur. Kopi hitam tanpa gula sangat pas menemani suasana pagi semacam ini. Di depanmu, lelaki yang sangat ingin kau temui setia mendengar rentetan kata-kata yang kau muntahkan.

Sama sepertimu, kawan itu sudah merasai dunia birokrasi sejak lama. Sejak hengkang dari kampus, takdir membawanya menyusuri lika-liku birokrasi yang dulu sering jadi pelampiasan kemarahan demonstran. Lalu, kisah belasan tahun itu kembali tergelar. Lelaki di depanmu itu yang mengajakmu merasai parlemen jalanan. Berjalan berpeluh menyusuri jalan-jalan kota, menumpahlampiaskan amarah di depan gedung-gedung megah.

Pengalaman yang tak mungkin kau lupakan: orasi, bakar ban, memblokir jalan, dan bersitegang dengan petugas. Kau dan gerombolan demonstran tak pernah bisa bersahabat dengan birokrasi yang penuh aroma Korupsi Kolusi dan Nepotisme itu.

Kini, lelaki di hadapanmu sesekali membuang napasnya berat. Kau masih saja menuturkan apa yang kau alami.

“Saya tidak bisa mengikuti pola birokrasi yang ambigu. Bagi saya, kalau hitam ya hitam, kalau putih ya putih. Tak bisa dicampur-adukkan! Saya sulit berkompromi. Apalagi diminta membuat sesuatu yang melanggar aturan!” Kau menggebu-gebu,

“Yang kau lawan adalah gerombolan bukan? Dan kau hanya sendiri? Mereka itu punya akses ke banyak pemangku kepentingan dan orang-orang berpengaruh!” Lelaki itu mulai menjejalimu, sebenarnya ia ingin kau jeli membaca situasi.

“Iya saya sendiri, makanya saya mau cari teman!” Kau mempertegas.

“Makanya bantu saya. Bapak kan masih punya banyak jaringan yang bisa digerakkan!?” Kau menambahkan.

Lelaki di depanmu nampak berpikir. Memang, kau melihat ada banyak perubahan yang terjadi pada sosoknya. Bentuk badannya sudah semakin bulat dan kau masih konsisten dengan bodi ramping. Kau menduga daya kritisnya sudah hilang.

“Di lingkungan sekarang. Kita tak hanya butuh benar tapi juga pasukan. Sendiri benar akan mudah disingkirkan karena kita berhadapan dengan banyak orang!” Kalimat itu kembali dipertegas.

“Saya tetap akan lawan. Apa ada yang bisa disambungkan dengan jaringan lama semasa di kampus dulu?” Kau mendesak.

Lalu lelaki itu menghubungi seseorang. Setelahnya kau diminta berbicara langsung.

Kau sedikit tergagap menyampaikan maksud. Tapi bagimu, perang ini sudah berkobar. Kompromi bukan jalan aman menurutmu.

“Memang agak sulit. Tapi, untuk kondisi sekarang bersabar jauh lebih baik. Orang-orang ini akan lekas berganti, entah masa tugas berakhir atau pergi sebelum waktunya!” Lelaki di hadapanmu berceramah.

“Tapi tak bisa terus-terus dibiarkan. Saya sudah cukup bersabar!” Kilahmu

Terngiang lagi perlakuan itu. Kau yang sudah bersungguh-sungguh menunjukkan pelayanan terbaik. Mencapai target pekerjaan tiga kali lipat dari target sebelumnya. Hanya karena satu laporan dari klien yang menurutmu mengada-ngada. Kau diperkarakan, dianggap mempersulit pelayanan, melawan perintah atasan, dan melanggar aturan. Padahal yang kau lakukan menegakkan aturan.

Prosedur yang kau lakukan sudah benar. Tapi benar saja tidak cukup. Saat melakukan verifikasi berkas, ada yang mesti dibenahi. Kau meminta yang bersangkutan melakukan perbaikan. Celaka. Sebab kau tak pernah tahu. Siapa sosok yang telah kau tolak itu. Dia yang lulusan doktor luar negeri dan memiliki akses langsung ke lingkaran kekuasaan. Tak ada jalan lain selain kau dipaksa menurut, divonis abai menjalankan pelayanan prima. Jelas kau tak terima, kau melawan. Surat teguran itu hadir sebagai jawaban.

“Itu kebijakan. Ada banyak kebijakan yang kadang melanggar aturan. Itu dianggap biasa dalam birokrasi. Aturan dibuat buat dilanggar kan? Di situlah celahnya. Pasti mengerti?” Lelaki itu sudah hampir menandaskan kopinya.

Kau masih belum bisa menerima dikorbankan semacam ini. Semangat parlemen jalanan masih membara di dadamu.

“Berikan saja kontak kawan aktivismu. Saya akan lawan!” Kau berapi-api.

Sorot mentari sudah menghangat. Sudut kota kian ramai. Ada banyak kehidupan piatu di sini. Kehidupan yang berjalan apa adanya bahkan tanpa mesin birokrasi mengaturnya. Semuanya kacau sejak dalam pikiran. Kau menyaksikan dunia terbelah. Ketimpangan di mana-mana. Rakyat dan penguasa sama-sama lapar. Dua kelompok ini menghabisi apa saja asal bisa makan dan kenyang. Kau merasakan segalanya nyata sebab kau menjelma sebenar-benar aktor dan menjadi bagian pencipta ketimpangan.

“Tambah segelas lagi!” Kawanmu bersuara.

“Saya juga!” Kau menambahkan. Padahal maksud kawanmu itu sudah jamak dipahami.

“Saran saya, ikuti iramanya. Berkarierlah. Apa yang bisa kau lakukan jika hanya menjadi pegawai rendahan?!” Saran yang menohok.

Lelaki demonstran di depanmu sudah memilih jalan itu. Dia sadar, yang dihadapinya begitu digdaya. Maka ia menyampaikan saran karena sadar yang kau hadapi nyaris sama besarnya. Bahkan mungkin lebih parah.

Ritual kopi dan perbincangan itu berakhir. Lelaki itu membawamu menyusuri jalan-jalan kecil, hingga tiba di tepi pantai reklamasi. Orang masih saja sibuk lalu-lalang. Di depanmu, desau angin membawa gulungan ombak kecil kemudian pecah di bibir pantai. Suara gemuruh ombak seakan lebur bersama debur di dadamu.

“Tadinya…Saya menganggap idealisme itu bisa menyelamatkan. Melawan terang-terangan terlihat hebat, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ada banyak gerombolan yang terancam. Memperkarakan orang yang merasa hebat sendiri itu sangat mudah. Hanya dengan memanfaatkan celah. Semuanya bisa tamat.

“Saya pernah diinterogasi masalah anggaran. Dituduh korupsi. Yang menjijikkan dari birokrasi itu, orang-orang yang suka menuduh-nuduh justru pelahap uang negara paling rakus. Itu terjadi…!

“Lantaran karena yang dinikmatinya mulai berkurang, orang-orang ini berang. Membangun koalisi untuk menyingkirkan. Sehari, berjam-jam, di hadapan tiga polisi, saya dipaksa untuk takluk oleh sejumlah tuduhan.

“Padahal. Saya memanfaatkan kebijakan. Seluruh sisa anggaran yang tak diserap kegiatan disimpan untuk dikembalikan ke masyarakat. Para mahasiswa yang kerap datang bawa proposal kegiatan, tak mungkin melulu didonasi dengan gaji. Sisa anggaran digunakan untuk itu. Untuk pos kegiatan yang tak dibiayai negara. Tapi orang-orang yang terbiasa kenyang, akan nyaring berteriak jika mulai sedikit kelaparan. Bedebah bukan? Sialnya, orang-orang macam itu terlalu banyak!”

Kau sedikit memahami, tapi terlanjur mengikrarkan perlawanan. Bagimu, bara sudah terlanjur menggeliat dalam sekam. Prinsipmu, tak apa dikalahkan asalkan kukuh dalam kebenaran. Lalu, perjumpaan lekas berakhir. Kau teitu supamit kembali. Sebentar lagi tumpangan akan membawamu ke Kota Daeng.

***

Ada beberapa bukti yang kau serahkan kepada lelaki yang kau akrabi lewat ponsel. Kawanmu yang memperkenalkannya kepadamu. Lelaki yang sudah lama menjadi pengintip kesewenangan birokrasi. Dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat dan membantu tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Kau bertemu. Ada tiga tumpukan berkas yang kau serahkan. Pertama, pemanfaatan isu pandemi untuk menarik iuran yang tidak sedikit. Kedua, pemangkasan nominal beasiswa mahasiswa kurang mampu di salah satu kampus. Ketiga, para dosen di beberapa universitas swasta yang menggunakan ijazah palsu.

Lelaki itu menerima tumpukan berkas penuh sumringah. Dia mendapati bahan renyah untuk menciptakan teror. Sedang kau serasa sudah lepas beban. Kalian berpisah. Kau memilih berjalan menyusuri jalanan ramai Kota Daeng. Ada notifikasi yang masuk di teleponmu. Sebuah surat elektronik dari Kantor Pusat di Jakarta. Sebentar lagi, keributan akan pecah di kantormu. Kau tersenyum dan mengabaikan panggilan telepon. Kau tahu, yang menelpon itu, seseorang yang melayangkan surat teguran kepadamu. Tentu surel itu sudah sampai kepadanya. Dia punya sekretaris cekatan, yang mirip Raisa itu.(*)

Simak juga: 
Cerpen: Bara Ibu

Cerpen: Bara Ibu


Genggam Bara Api

SultanSulaiman.Id, Setiap pukul 05.00 pagi, ibu terjaga. Gelap masih tergantung di cakrawala. Kantuk memelukmu, erat sekali. Tapi bangunnya ibu pertanda jika hari akan lekas bergegas. Keriuhan dan kesibukan, plus teriakan menggema. Kau tak kuasa meringkuk, tak bisa memanjangkan tidur, tak kuat memanjakan mata yang masih ingin terpejam. Jika itu kau lakukan, berarti cari masalah. Cari masalah dengan ibu di pagi buta berarti merintis jalan ke neraka. Sangat mengerikan.


“Kak…Bangun! Salat, mandi, entar lagi mobil jemputan tiba!”

Kalimat itu selalu kau dengar setiap pagi. Sampai jelas, segala lekuk intonasinya telah kau pahami di luar kepala. Ah! Kau masih ingin memeluk guling. Melampiaskan rasa kantuk yang menyerangmu.

“Kaaak…! Banguunnn….!”

Kali ini suara ibu terdengar mengerikan, serupa singa betina siaga menerkam mangsa. Kau sudah bisa membayangkan raut muka pemilik suara itu. Melanjutkan tidur bukan pilihan tepat. Jika kau lakukan, tentu jadi bulan-bulanan. Kau akan ditertawakan sang fajar yang sebentar lagi terbit. Ah pagi penuh nelangsa. Muntahan amarah ibu pagi ini pembukaan yang tragis.

“Iya Ibu…!”

Kau melangkah. Tentu masih malas. Tatapanmu redup, belum menguasai suasana. Langkah kaki berat yang jelas amat dipaksakan. Di dalam hati, kau mengutuk. Kenapa harus ada makhluk bernama ibu? Bagimu, ibu adalah sumber kekacauan setiap hari.

“Eh…Eh…Masih berdiri. Sana cepat…!!!”

Kali ini kesadaranmu pulih. Tatapan matamu seketika benderang. Kakimu melangkah cepat. Bayangan dinginnya air kamar mandi kini sirna. Di kepalamu hanya ada wajah ibu penuh taring.

“Sikat gigi jangan lupa…! Malu kalo mulutmu bau… Mandi jangan lama-lama…!”

Ibu lagi. Kau membayangkan di dalam tubuh bernama “ibu” ada pabrik yang terus berjalan. Pabrik kata-kata. Membuat ibu tak pernah kehabisan kata-kata. Pabrik itu yang membuat ibu selalu mengoceh. Ocehan yang membuat telingamu perlahan menebal. Lalu menganggap ocehan ibu serupa angin lalu, walau lebih sering membadai.

Kau abai dengan ocehan itu. Air di kamar mandi membuatmu selalu tergoda berlama-lama. Apalagi, dari saku celana kau sudah menyiapkan lego. Sudah kegemaranmu, mandi, bermain air bersama lego. Membuat kamar mandi semacam pelampiasan rindumu pada kolam renang atau laut.

“Kaaaaak….Kakak….!”

Melengking lagi suara ibu. Kau bergegas. Lengkingan itu alamat, jika tak digubris maka ibu akan muncul secepat kilat di depan pintu kamar mandi. Kau tergesa.

“Ah….Selesai!” Lirihmu

“Ibu…Handuk…!” Kau balas berteriak. Tapi itu jelas keliru karena…

“Itu kebiasaan. Mandi ga bawa handuk. Eh, kamu ini sudah besar. Masih mau diurus-urus. Harusnya kamu malu sama adik-adikmu…!” Rentetan kata-kata ibu.

Kau sudah menduga jawaban sederas apa yang dimuntahkan ibu. Akhirnya menyesal bukan? Perkara handuk telah melebar ke mana-mana. Kau berdiri mematung dalam kondisi kuyup. Lalu pikiranmu terbang. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah.

“Eh…Eeeee…! Masih berdiri di situ, belum salat kamu. Sudah hampir datang mobil jemputan! Belum sarapan, bisa telat loh ya!”

Ibu berhasil membuatmu menginjak bumi lagi. Ah ibu, bukannya langsung ambilin handuk ini malah ngoceh aja…!

Kau melihat sosok ayah hanya bisa tersenyum. Ah Ayah, belain kek. Tapi kau sepertinya tahu. Tak ada yang bisa membantah ibu. Termasuk ayah! Lalu, meski amarah ibu sudah tumpah sepagi ini, adik-adikmu tetap tidur, pulas sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Kau sepertinya ingin kembali ke masa sebelum sekolah. Seperti adik-adikmu
***
Pulang sekolah. Kau sedang merencanakan kekacauan itu lagi. Melepas sepatu semaunya. Masuk rumah sesukanya. Menaruh tas sembarang dan melepas pakaian sekolah secara brutal. Kau sedang ingin memancing amarah ibu agar siang itu tak perlu ada tidur siang. Amarah ibu bisa jadi alasan kau lekas hengkang. Berkunjung ke rumah temanmu, membawa serta lego, main sepuasnya hingga sore tiba.

Hening!

Kau mulai bertanya ibu ke mana. Tapi pagar dan rumah tak terkunci. Tak mungkin tak ada orang. Tapi ibu benar-benar tak ada. Keramaian adik-adikmu juga sirna. Ada apa, kau lagi-lagi bertanya.

“Oh sudah pulang?”

Kau terkejut dengan suara ayah dari balik pintu.

“Ayo berpakaian. Ikut ayah ke kantor!”

Kau makin penasaran. Namun lekas terjawab saat ayahmu kembali bertutur.

“Ibu, Abang, dan Lena harus jenguk Bapu!”

“Ke Gorontalo?” Selamu penasaran

“Iya…Kalau ga ke sana ke mana lagi?”

Tiba-tiba ada mendung yang hinggap di matamu. Kenapa ibu ga tunggu aku pulang sekolah dulu baru pergi? Apakah saking marahnya ibu?

“Ibu buru-buru. jika harus menunggu Kakak pulang sekolah, akan ketinggalan pesawat!”

Sepertinya ayahmu tahu sangka yang tumbuh di dadamu. Namun begitu, kau melayangkan prasangka baru. Ibu tidak sayang padaku!
***
Malam berlalu tanpa ibu. Hari belum berganti. Detik ke menit serasa hitungan ratusan hari. Kau lebih sering bertanya dalam hati. Sembari merutuki rasa kehilangan yang amat tiba-tiba. Bukankah bisa menghubungi ibu dengan panggilan video? Urung kau lakukan. Tepatnya enggan karena kau tak ingin jika ibu tahu pasal rindu. Kau tak ingin membocorkan perihal di balik kebandelanmu itu ada rapuh bersemayam di ragamu. Rapuh yang hanya bisa diusir oleh makhluk bernama ibu. Meski begitu, ibu selalu tahu. Akan selalu tahu.

Panggilan masuk di ponsel ayah. Saat melihat nama ibu di sana, kau melonjak. Kau buru-buru mengangkat.

“Halo…Ibu kapan pulang?” Kau tergesa menyerang Ibu bahkan sebelum ia mengucapkan salam.

“Ayah di mana Kak?” Suara ibu lembut.

Kau buru-buru mencari ayah. Lalu menyerahkan ponsel panggilan dari ibu. Ayah berhenti dari urusan dapurnya. Terlihat ayah terlibat pembicaraan serius. Tumben ibu tidak video call?

“Kak…! Ini ibu mau bicara!”

Ayah menyerahkan ponselnya kepadamu. Suara ibu mengalun lembut, menyampaikan beberapa petuah yang telah kau khatamkan sejak lama. Ibu meski jauh, tapi kehadirannya tetap terasa. Ibu juga berkabar jika kepergiannya mendadak, seperti yang disampaikan ayah kepadamu. Kamu berusaha maklum.

“Kenapa nda video call Bu?” kamu menggugat.

“Di sini jaringan jelek Nak!” Jawab ibu. Lalu melanjutkan pesan-pesan panjangnya tentang apa yang harus kau lakukan bersama ayah, selama ibu tidak ada. Tak lupa ibu berucap, kepergiannya bakal lama. Bapu sakit parah. Ada yang tampaknya akan tumpah dari balik kelopakmu. Setengah mati kau menahannya, namun ia menyembul hangat. Kau menangis. Berusaha kau sembunyikan dari ayah, tapi tak bisa. Ayah melihatmu, seraya menggoda. Kau makin berkabung.
***
Pagi yang damai. Tak ada kegaduhan seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, kau otomatis bisa terbangun. Bisa melakukan segala instruksi ibu secara tepat. Tak ada amarah, tak ada keributan, namun tingkahmu seperti disulap. Kau melakukan perintah ibu cekatan, meski ia tidak di rumah. Kau merasa aneh saja.

Setiap rumah butuh ibu. Itu kau simpulkan sejak melihat ayah yang wara-wiri di dapur namun belum terlalu sukses mengeksekusi apapun sesuai gubahan tangan ibu. Itu bahasa lebih halus sebenarnya. Bahasa kasarnya: gagal total. Tapi tetap saja, yang tersaji di meja makan berusaha kau nikmati. Terpaksa. Lalu kau akan mengucap syukur jika jemputan tiba. Itu berarti siksaan di meja makan berakhir. Kau pamit, menuju jemputan yang akan membawamu ke sekolah. Ayah berdiri di depan rumah, melepasmu dengan senyum yang selalu rekah.

Di atas mobil jemputan, kau menikmati canda, tawa, dan kata-kata yang berbenturan di udara dengan bisu. Udara pagi masih sangat dingin. Kau menahan gigil di balik jaket yang kau kenakan. Sepanjang jalan menuju sekolah, ingatan memaksamu menghadirkan wajah ibu. Ada yang mulai menyusup di balik dadamu. Merembes hingga begitu dalam, memaksa hatimu berucap lirih: ibu aku rindu.

Sesampainya di sekolah, keriuhan menguar di mana-mana. Anak-anak saling berkejaran, segala tingkah tumpah merayakan masa bersekolah. Kau melangkah gontai, beranjak menuju kelas. Memang tak biasa, kau dihinggapi rasa kehilangan yang menjadi-jadi. Ah! Betapa kepergian ibu benar-benar telah membawa suasana riangmu. Kau melepas tas dan duduk beku sendirian di kelas hingga bel masuk berbunyi.

Jam pertama akan diisi Pak Umar. Guru Agama sepuh itu membawamu menjejaki pelajaran berbakti kepada orang tua. Kenapa harus tentang itu sih? Pak Umar tentu tak mendengar protes batinmu. Dia terus membahanakan suara. Mengajakmu berkenalan dengan beberapa sosok di masa lalu yang menunjukkan bakti terbaiknya kepada orang tua. Terutama ibu, diperkenalkan sosok Uwais Al-Qarni yang memanggul ibunya menuju tanah suci. Berpeluh ia dan melepuh punggungnya, namun tetap tak sebanding sebagai balas budi. Kau jatuh dalam ingatan yang panjang, lalu sosok ibu kembali hadir di hadapanmu. Untungnya pelajaran lekas berlalu, berganti dengan kehadiran guru muda yang memesona: Ibu Yusmira.

Jika setiap pelajaran Bu Yusmira kau antusias, kali ini tidak. Kau kehilangan selera, seperti raibnya nafsu makan. Bu Yusmira menyampaikan pengajaran dengan gayanya yang khas.

“El…Bisa diulangi apa yang barusan ibu jelaskan?!” Ibu Yusmira sepertinya menguji konsentrasimu.

“Ya Bu…?!” Kau terkejut.

Ada jeda lama. Kau berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin Aini bisa bantu?!”

Bu Yusmira sudah paham kondsimu. Ia melempar kesempatan. Seketika kelas riuh. Aini, nama itu sering dilekatkan padamu. Beberapa temanmu yang jahil bahkan telah menjodohkan kalian berdua. Meski, kau jelas menolak, tidak terima sebab bagimu itu memalukan. Maksudnya, memalukan bagi naka-anak seusiamu yang sudah main jodoh-jodohan.

Ibu Yus jelas paham, ada sesuatu yang berkejaran di benakmu. Seorang guru bisa dengan mudah menerka isi kepada muridnya, hanya dengan memperhatikan gerik. Kau tak bisa bersembunyi.

Jam pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Enggan dan malas. Seseorang mendekat.

“El…Yuk ke kantin…” Aini mengajak. Ajakan yang memelas.

“Nggak ah…Kamu duluan aja!” Kau menolak.

“Ayo…!”

Aini kini menarik tanganmu. Tapi buru-buru kau tepis. Kali ini kau benar-benar tak ingin memenuhi ajakan siapa pun, termasuk Aini.

“Cie…Ada yang lagi marahan nih ye…!”

Tiba-tiba suara Abi menggoda. Si bocah jahil itu nampak berulah.

“Atau jangan-jangan sudah cerai ya…?”

Bocah tengik itu makin menyebalkan. Tak butuh waktu lama, kau merangsek maju, hendak menggapai Abi yang sempurna meledekmu. Keributan di ruang kelas. Anak-anak lain bersorak. Aini mencoba menahanmu. Ibu Yusmira yang sudah beranjak menjauh kini mendekat lagi. Keributan itu tak berlangsung lama karena kehadiran Bu Yus. Wajahmu sempurna berubah warna. Mirip warna nasi goreng khas Makassar: Nasi Goreng Merah.

Kau digelandang Ibu Yusmira bersama Abi ke ruangannya. Di sana, kalian berdua mendapat petuah. Guru berhati teduh itu mengulik beberapa hal terkait keributan itu. Kau menjelaskan. Abi membela diri. Ibu Yus menengahi. Perbincangan itu menemui akhir. Titik damai disepakati. Ada perjanjian yang terikrar antara kau dan Abi. Masing-masing berjanji akan lebih memperhatikan sikap dan belajar lebih giat mengendalikan amarah. Kalian bersalaman disaksikan Bu Yus.

Abi berlalu lebih dulu, kau hendak menyusul tapi masih diminta bertahan.

“El…Sebenarnya kamu kenapa? Tadi ibu perhatikan kamu sepertinya ada masalah ya?” serang Bu Yus.

Serangan yang kau balas gelengan lalu buru-buru beranjak setelah pamit secara paksa. Sebenarnya, Ibu Yus masih ingin mengomongkan sesuatu. Tapi ia mengerti, kau tak ingin diganggu kali ini.
***
Kabar keributan itu sampai juga di telinga ibu. Di Negeri Serambi Madinah, saat sedang sibuk mengurus keperluan bapu: kakek, Ibu Yus mengabarkan kejadian di sekolah. Ibumu terlihat menahan sesuatu. Lekas ia menghubungi ayahmu dan membeberkan kejadian sekolah itu. Ayah, seperti biasa selalu tampak tenang dengan segala jenis cuaca.

Di rumah, ayah mendapatimu tak seperti biasa. Saat diajak ke kantor pun, kau tak berselera. Kau tentu sudah tahu, ayahmu pasti akan mengulik masalah di sekolah. Hanya, ayah menahan diri. Ayah membiarkanmu yang memang ingin sendiri. Momen istirahat siang itu membuat ayah tak lagi balik ke kantor. Lelaki itu ingin menemanimu, melewati masa sunyi yang ingin kau akrabi. Kalian akhirnya jatuh tertidur, hingga senja muncul di balik cakrawala.

Ponsel berdering. Panggilan dari ibu. Ayah terbangun dengan bunyi nada dering yang makin nyaring. Sepertinya ada yang genting.

“Yah…! Suara ibu berat! Bapu Yah!”

Suara ibu yang terbata-bata telah membuat ayah mengerti. Ayah bergegas membangunkanmu. Menyuruhmu berbenah, cuci muka, lalu menyalin pakaian seadanya. Kalian tergesa mencari tumpangan menuju Makassar. Ada sesuatu yang harus lekas ditunaikan.

“Yah…Ada apa? Kita mau kemana? Ibu kenapa yah?”

Rentetan pertanyaan kau hamburkan. Ayah masih mencoba mengatur irama napasnya, hingga telepon genggamnya kembali berdering. Panggilan dari ibu lagi.

“Ayah sama El sudah di jalan. Acara persemayamannya kapan?”

Dari ptongan pembicaraan itu, kau tentu sudah bisa menyimpulkan.

“El…Bapu meninggal!” Ucapan ayah lirih kemudian.

Ingatanmu tentang bapu kembali melayang. Sesosok ringkih yang selalu baik. Memberikan uang jajan tanpa diminta dan juga sepeda baru hadiah ulang tahunmu kala itu. Rasanya, baru sekejab kau sekeluarga meninggalkan Gorontalo, kini takdir membawamu kembali beserta suasana berkabung itu.
***
Suasana berkabung sudah tertinggal agak jauh. Luka selalu butuh jarak agar kelak bisa dilupakan. Bukan dilupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Kau masih bisa melukis sosok ibu saat hari berkabung itu. Kau menderma rasa iba. Ibu yang sejak kecilnya telah piatu, kini sempurna statusnya menjadi yatim piatu. Hanya kau, ayah, dan kedua adikmu yang menjadi keluarga terdekat ibu sekarang.

Sebenarnya, beberapa pekan sepeninggalan bapu, kau sekeluarga harusnya sudah meninggalkan Negeri Serambi Madinah. Tapi kabar telah meneror di mana-mana. Sedang ada pandemik. Kau akhirnya sedikit memahami, kabar-kabar mengerikan tersiar. Akses vital mulai diketatkan. Pergerakan manusia terbatas. Memilih pulang atau bepergian di tengah merebaknya wabah jelas sangat berisiko. Apalagi, dua adikmu masih balita, tentu sangat rentan.

Di banyak tempat, sekolah sudah diliburkan. Sekolahmu juga, itu kau tahu karena beberapa orang menghubungimu, termasuk Bu Yus dan seorang yang sulit lepas dari ingatnmu: Aini. Tempo hari, gadis manis itu menelepon, berkabar seadanya dan menanyakan kabarmu. Kau tentu tersanjung dan ayah usil menggodamu,

Makin ke sini, pandemi makin menakutkan. Pembatasan gerak manusia sudah dilakukan. Kebijakan agar semua orang berdiam diri di rumah berlaku. Atas dasar itulah ibu memproteksimu sangat ketat. Ada aturan-aturan baru yang mulai berlaku.

“Kalau masuk rumah cuci kaki, cuci tangan, pakai sabun!”

“Ke luar rumah pakai masker!”

“Adik-adikmu jangan dibawa ke mana-mana. Sekarang rawan, virus korona ada di mana-mana!”

Ada banyak lagi jejalan aturan yang sering diulang-ulangi ibu. Sama persis dengan petunjuk pencegahan Covid-19 yang disebar pemerintah. Bahkan ibu bisa menjelaskan seluruh istilah terkait pandemi di luar kepala. ODP, PDP, Covid-19, dan banyak lagi istilah yang sudah dikhatamkan ibu. Di matamu, ibu bahkan lebih mahir menjelaskan dari Ketua Tim Satuan Tugas Covid-19 mana pun. Ditambah dengan angka-angka jumlah korban, dari yang positif, sembuh, dan meninggal. Bukan hanya itu, informasi kasus di seluruh dunia ibu tahu. Dahsyat bukan?

Tapi, beberapa kesempatan kau melihat ibu amat berlebihan. Sikap itu makin nampak, setelah ibu tahu kabar soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mendera ayahmu. Apakah itu berarti kalian akan mendekam di Gorontalo lebih lama? Entahlah! Berita PHK ayah alamat duka di benak ibu, dan keluargamu.

‘Sudah dibilangin kalau ke luar pake masker. Ini malah bawa adik-adiknya lagi!” Sungut ibu dengan wajah yang selalu sangar.

“Kamu tidak takut korona?” Tambah ibu dengan wajah yang jauh lebih menggidikkan.

“Itu…Sudah dibilangin kalau masuk rumah cuci tangan, cuci kaki, pake sabun. Ini…Kakak…cuci tangan…!” Lengkingan nyaris lima oktaf. Hampir memecah rekor suara Mariah Carey.

Kau bergegas mengikuti instruksi ibu, lalu berlalu, masuk ke kamar dan mengunci diri. Di sudut lain kau dapati ayah menerawang. Baru kali ini ayah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tetap saja berlalu. Di kamar, ada bayang berkelebat, sesungging senyum milik gadis rambut ekor kuda. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah. Tiba-tiba kau rindu sekolah.(*)
Simak juga:
Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

dok. pribadi www.sultansulaiman.id

Anakku, hidup ini tidak bisa kau kendalikan sepenuhnya hanya karena perasaan!

SultanSulaiman.id, Saya menghabiskan kisah kumpulan cerita pendek Ketika Saatnya dan Nasu Likku sembari mendengar lagu Ziana Zain. Dua buku ini terasa pas ditakzimi dengan menyetel alunan patah hati penyanyi Negeri Jiran itu.

Banyak yang bergentayangan di kepala, rentetan kejadian masa lalu. Di sisi lain, kerinduan kepada Gorontalo membuncah. Seorang lelaki senja seperti menuntun tanganku. Mengajakku menjenguk kolam belakang rumahnya sambil memancing di air bening itu. Lelaki yang suara paraunya masih terus terngiang di hampir setiap pagi atau di ujung sore. Lelaki itu telah berpulang. Ia yang kupanggil Papa, ayah dari istriku.

Adakah yang menandingi sedihnya orang terkasih berpulang sedang kau tak mampu merengkuh mendekapnya? Di negeri rantau, kau hanya bisa membahanakan tangis, meluruhkan air mata, karena kepulangan sudah terlambat bagi pertemuan. Begitulah.

***

Kak Sulaiman

Sebelum dihimpun jadi buku, cerita Kak Sulaiman sudah mencuri perhatian sejak dulu. Penulisnya, Darmawati Madjid seperti telah meramunya pada ruang renung yang mistis lalu menyuntikkan suara kerinduan yang mengajak menepi, menikmati luruhan air mata, dari hati yang kadung lara. Kisah Kak Sulaiman seperti merampas paksa sebagian ruang jiwa, tergulung bersama deru ombak membadai yang telah melumatnya. Makanya ia membekas luka, sejauh mana pun kenangan dilarikan, ia akan tetap menyembul tiba-tiba tanpa harus dipanggil. Ada banyak pemantik yang bisa dengan mudah membuat kenangan kembali bertakhta.

“…Untuk lupa, dibutuhkan tahun-tahun yang berat, karena yang kau lawan adalah dirimu sendiri.” (Kumcer Nasu Likku Hal. 3)

Tokoh aku, walau telah jauh merantau, tak bisa mengusir bayang Kak Sulaiman. Masa kecil yang tergelar itu, bermain bola-bola dan kenangan masakan yang berpancikan kaleng mentega. Aroma tubuh, lekuk wajah saat tersenyum dan tertawa, semuanya akan hadir sebab hippocampus akan setia menyimpannya. Adegan di depan warung itu penegas tentang yang lekang adalah kenangan.

***

Bagi orang-orang bugis, Nasu Likku atau Nasu Likkua dalam penyebutan bugis Pinrang merupakan jenis makanan yang dinantikan. Ada masa-masa tertentu, makanan itu akan murah hati tersaji di banyak rumah. Saat lebaran misalnya, atau perayaan besar lainnya. Ia akan hadir sebagai bagian dari salah satu menu utama sekaligus pengusir rasa rindu. Nasu likkua selalu pas diasup dengan buras, atau sepiring nasi hangat. Mengasupnya, akan melupakan besaran uang panaik yang kerap mengandaskan banyak pasangan Bugis sebelum tiba di pelaminan. Alasan itulah yang membuat Nurma ingin berpayah menyuguhkan Nasu Likku untuk Danu lelakinya. Di perantauan, ada yang selalu ingin hadir secara tiba-tiba, salah satunya aroma masakan ibu. Celakanya, bagi banyak perantau, resep dari masakan itu kadang gagal diturunkan.

Di Losari

Di Losari, ingatan dan hubungan dengan mudah terempas. Seolah Losari memang meneguhkan diri sebagai tempat untuk mengenang sekaligus berkabung lalu memanggil ingatan-ingatan yang luka. Anto kepada Ida, perjanjian yang saling memunggungi. Cinta pecah bersama empasan ombak, yang berusaha memoles wajah Losari seperti dulu. Ah Losari, perkakas beton telah menyulapnya menjadi palsu. Tak ada aroma laut, hanya sehimpun kolam raksasa berair pekat menguarkan bau comberan.

Keberanian macam apa yang dimiliki Anto? Ia meniti rumah panggung Puang Massaniga untuk mendengar langsung kabar penghianatan itu. Ida, yang membuatnya pergi menyabung hidup di tanah rantau, kini memaksanya kembali. Kepulangan itu semestinya dirayakan, namun hatinya berkabung dengan kenyataan Ida dipersunting orang lain.
Di beberapa keluarga Bugis, warna darah masih kerap menjadi pertimbangan ikatan pernikahan. Jika dulu warna darah harus berarti ningrat, kini ketebalan isi kantong juga menjadi penegas. Semakin tebal isi kantongnya, semakin jelas pula kastanya. Pernah santer istilah: sikola sibawa sikola’.

Sebuah lamaran tak pernah benar-benar ditolak, caranya dengan memberatkan syarat. Bisa dengan angka uang panaik yang melambung tinggi, atau ragam permintaan lain yang dianggap sulit dipenuhi si pelamar. Sayangnya, angka uang panaik itu tak membuat Anto surut langkah. Padahal, itu sinyal penolakan secara halus dari keluarga Puang Massaniga.

***

Darmawati Majid

Darmawati Majid, seperti pernyataan dari Mother of Makassar Lily Yulianti Farid telah memotret “beban sosial dan kultural yang melekat pada perempuan Bugis-Makassar yang menjadi bahan utama kumpulan cerpen ini!” Si Anak Ajaib Faisal Oddang menyebut “…saya menjumpai keragaman gagasan dan peristiwa sederhana, yang lekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi dengan kemasan yang menarik.”

Ada beragam tentang Bugis-Makassar yang bisa dengan mudah dipahami dengan membaca dua buku Kumpulan Cerpen penulis yang kini menetap di Gorontalo ini. Seperti banyak pembaca, dalam sehimpun cerita tentu ada beberapa cerita yang menjadi unggulan. Kak Sulaiman, Nasi Likku, dan Losari yang saya unggulkan. Ketiganya memiliki ruang keintiman yang khas. Mungkin alasan itu pula yang menyebabkan penulis memunculkan tiga cerita tersebut dalam dua kumcernya. Ditambah satu judul lagi yang jelas dijagokannya: Pelahap Telinga.

Bagi saya, Daster Berkibar adalah pembuka yang mengesankan. Itu semacam teriakan khas ibu-ibu, atau emak-emak dengan Bahasa kekinian. Seperti kata penulis, daster tak pernah disebutkan dalam cerita tapi ia menjadi saksi seluruh pergulatan ekspresif ibu dengan empat bocah ini. Anda penasaran?(*)

Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

SultanSulaiman.Id, Senyum itu selalu kutemukan kala menyusuri setiap ruang kota. Di sudut jalan, di emperan toko, di angkot, seolah semua ruang telah disesakinya. Namun seperti musim hujan ataupun kemarau, senyum-senyum itu juga punya musim. Setelah musimnya selesai, senyum itu akan pudar sendiri dimakan hari. Bahkan lusuh tak terurus hingga musim berganti jubah.


Setiap hari, kota semakin disesaki dengan senyum-senyum itu. Bertambah rupa juga berganti sketsa dengan kostum warna-warni. Senyum-senyum itu berjejer rapi dalam kotak-kotak. Menjadi ikon semarak bersama iklan rokok dan iklan seluler. Seperti hari ini, ketemukan berpuluh senyum menghias elegan di ruas-ruas jalan. Dan oho...? Senyum itu juga menempel anggun di ransel kawan kampusku.

Bukan hanya senyum yang dijajakan. Berbagai tagline retoris juga turut menyertai. Ada senyum yang dibubuhi dengan kalimat “Melanjutkan Pembangunan”. Yang lain memakai “Mohon Dukunganta Sayang!”. Ada yang pake “Mantap Mentong”. Yang lain lagi...? Huwah...! Terlalu banyak.

Miris. Bahkan membuat hati perih. Kala rupa-rupa itu berlomba menjual senyum, di sana, di sebuah ruas jalan ibu kota. Kutemukan Indo Tija masih saja setia mengipasi jagung jajanannya. Berharap dagangannya laku untuk bekal hidup diri juga anak cucu. Tubuhnya yang ringkih dipaksa bertarung melawan biadab zaman. Indo Tija, seorang korban gusur penjual senyum yang kini kembali menjajakan senyumnya.

Di tengah maraknya senyum gombal itu, amat jelas gurat kemiskinan membingkai wajah kota. Orang-orang lapar bergentayangan. Pengemis makin sesak. Rakyat jelata harus menyabung nyawa di pintu-pintu rumah sakit. Parade pengangguran menampakkan wajah miris mengoyak batin. Lalu aku bertanya. Apa arti senyum dalam kotak itu? Ah...! betul gombal!

***

Ya...! Seperti musim penghujan maupun kemarau, senyum itu juga punya musim. Puncak musim ada dalam bingkai “pemilu”. Para pemilik senyum itu akan dipilih di sana. Setelah terpilih, seperti lakon lumrah yang pernah ada, pemilik senyum itu akan menyembunyikan senyumnya lantaran telah duduk di kursi empuk yang diincarnya. Butuh lima tahun waktu untuk bisa melihat kembali senyumya bertengger di seluruh ruang-ruang kota.

Ada pemilik senyum yang pandai membual. Mungkin juga semua pemilik senyum itu pembual. Bualannya nampak pada tagline pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Semua terdengar gratis. Mulai lahir hingga mati semua gratis. Aku lagi-lagi bertanya. Apa iya? Rakyat banyak tertipu oleh para penipu pemilik senyum dalam kotak. Lagi-lagi jelata jadi tumbal tipuan senyum yang sedikit dibubuhi kata “gratis” itu. Indo Tija, masih juga seorang penjual jagung bakar yang ditikam rintih lantaran hidup tak memihak rezeki mumpuni. Harusnya, orang seperti Indo Tija yang menjual senyum dalam kotak itu, sembari mengipasi jagung bakarnya. Itung-itung promosi. Aku yakin, dagangannya bakal banyak yang laku. Mungkin bisa menembus rekor MURI juga.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini kutemukan lagi Indo Tija mengipasi jagung bakarnya. Kuhampiri. Memperhatikan setiap geraknya. Kutangkap aroma letih tatapannya. Matanya yang senja memendam gurat luka. Tubuh ringkihnya telah cukup memberi definisi jika Indo Tija adalah puing melarat kota ini. Tapi siapa yang peduli?

Dalam sibuknya. Kucaba membuka percakapan. Aku penasaran, ingin menanyakan kenapa ada senyum kotak-kotak yang tertempel di kipas anyaman bambunya. Setengah keheranan sambil memamerkan gigi tanggalnya, Indo Tija membuka percakapan.

“Anakku...! Sengaja Indo membiarkan senyum itu tertempel di sini. Dari banyak pemilik senyum hanya dia yang sudi menjenguk Indo. Bahkan sebelum dia memutuskan menempel senyumnya di mana-mana”
Aku terperangah.

Debaran Bulan Juni


“Jadi ceritanya, Indo jadi tim suksesnya?”
Bukannya menjawab. Indo Tija malah terkekeh. Keras sekali. Hingga mengusik beberapa pembeli yang asyik menikmati jagung bakarnya. Indo Tija menyembunyikan kedua matanya lantaran tawanya yang dahsyat.

“Apa katamu tadi anakku? Nakke tim sukses?” Mengulang tanya lalu tertawa lebar.
“Apa Indo tidak takut dibohongi? Pemilik senyum itu rata-rata pembual Indo...!”

“Anakku! Percuma membohongi orang tua bau tanah sepertiku. Percuma anakku! Tapi Indo tetap percaya! Puang Allah Ta’ala akan menyelamatkan hidup kita dengan mendatangkan pemimpin yang mapaccing na malempu. Setidaknya begitu kearifan Bugis mengajarkan.

“Saya tahu anakku! Kita memang jelata yang sering ditipu. Kita teramat sering dikibuli. Tapi apa daya kita? Apa kuasa kita? Selain berharap doa dari setiap rintih yang kita ukir dari tetesan air mata. Bukankah orang seperti kita doanya mudah terkabul?”

“Ehh....haaaaaaaaaaa....”
Aku mengembuskan napas panjang. Kutemukan ketegaran dari tubuh ringkih ini. Aku menengadah. Menatap bulan. Kerlip bintang-gemintang menebar panorama malam. Kuarahkan tatap di sekelilingku. Sudah hampir larut. Namun sketsa kota yang lain masih menampakkan kesibukannya. Sangat sibuk. Selain Indo Tija, ada banyak pekerja malam yang selalu tegar mengumpulkan mimpi-mimpi. Saat semua terlelap, kala pemimpin terempas dalam alam tidur yang panjang, saat para pemilik senyum nyenyak bersama alunan dengkurnya. Masih ada. Masih ada yang mengumpulkan puing kehidupan. Mengumpulkan harapan yang berserakan. Di antara rintih, di antara resah, mungkin juga di antara tangis kering air mata.

“Haaaa...!”
Kuempaskan lagi napas itu. Agak sesak. Namun kencang menabrak udara jalan. Debu-debu kota terkaget-kaget dengan derasnya empasan itu. Cuma seketika, lalu kembali menari di tengah ketimpangan hidup alam kota. Mereka tak pernah peduli, seperti tak pedulinya pemilik senyum yang senang mengumbar janji masa depan. Utopis!

***

Seperti kataku, mirip musim penghujan dan kemarau. Senyum itu punya musim. Tinggal menunggu hari menjejaki bulan. Seyum itu akan berjejer rapi dalam surat suara yang akan dilukai dalam bilik suara. Tapi luka yang mengenai pemilik senyum itu tanda baik dan bahagia. Semakin banyak luka yang mengoyak senyum, maka pemilik senyum makin melebarkan senyum yang sesungguhnya. Merekah. Sumringah. Bahkan sampai kuluman senyum berubah tawa. Berisik dan terbahak tentunya.

Ya...! Tinggal menghitung hari.
Entah kenapa. Aku dijajaki jengkel luar biasa. Sudah berpuluh tahun aku berdiam di kota ini, tapi tak juga menemukan berkas perubahan. Hingga sistem berganti karena konsekuensi demokrasi. Tetap saja. Wajah manis kota memendam tangis luar biasa. Tangis Indo Tija, bocah-bocah jalanan, para ibu dan lelaki renta yang terpasung karena biadab modernitas yang melumat tempat tinggalnya. Ah...! Terlalu banyak yang membuat hati berdarah-darah. Belum lagi ketika menemukan adik kecil yang tercekat karena lapar dan dahaga. Para orang tua yang merintih karena tingginya biaya pendidikan. Rakyat jelata yang ditikam mahalnya tuntutan hidup. Huwaaaah...!

Kutatap lagi senyum dalam kotak itu. Masih seperti biasa, senyum kotak itu tetap asyik dengan dirinya. Cuek. Sama cueknya ketika sudah terpilih nanti. Aku kini menyalakan bara. Menggenggam amarah. Minyak tanah. Kulumuri senyum kotak itu dengan guyuran minyak. Bara yang kugenggam tertiup angin. Api kecil menjalar dari tanganku hingga menjilati senyum kotak itu. Berubah kobaran. Seketika. Sekejap. Kota benderang. “Kebakaran....!” Orang-orang berteriak.

“Nnnn....iuuuung....nnn..uuuuung”
Aku masih menangkap serine mobil saat tubuhku juga ikut terbakar. Gelap. Hitam. Cahaya. Mungkinkah?(*)
Cerpen: Terempas di Balik Jeruji

Cerpen: Terempas di Balik Jeruji

https://rmol.id/images

sultansulaiman.id Sorot mentari pagi nampak samar. Sisa hujan semalam masih terlihat di beberapa ruas jalan. Seseorang telah siaga, bahkan sebelum kokokan ayam terdengar. Namun, hingga pagi menjelang, saat aktivitas sudah mulai ramai, yang ditunggu tidak juga datang. Sepertinya, informasi sudah bocor. Itu berarti, penantian semalam suntuk tak membuahkan hasil. Baru saja ia berbalik, menyetel kendaraan dan bersiap melaju. Sebuah pesan penting masuk.