Mengenang Cekgu Zaki, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Aceh

Mengenang Cekgu Zaki, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Aceh

https://cdn2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images

SultanSulaiman.Id, Tak ada yang bisa mengukur, sedalam apa luka dialami Dahniar. Anaknya, Muhammad Zaki meninggal di Tanah Papua. Kabar kematian Cekgu Zaki menyebar sesaat setelah kepergiannya. Adalah T Syahrurrazi disapa Shahroel Undock yang membagikannya lewat grup WhatsApp di Komunitas Awak Droe Only (ADO) Aceh for Papua. Sebuah komunitas berangggotakan perantauan Aceh di Papua.


Bagi yang mengenalnya, Zaki adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tanah Rencong. Ia memilih mengabdikan diri di Nabire Papua, meninggalkan kampung halamannya Krueng Mane, Aceh Utara. Setelah sepekan dilarikan ke rumah sakit, Senin (29/06) Zaki mengembuskan napas terakhir. Dia kembali dalam pangkuan Tuhan dengan penuh penghormatan. Zaki dielukan sebagai pahlawan masa kini.

Dahniar sudah hendak menjenguk anaknya ke Papua, saat awal dikabarkan masuk rumah sakit. Apalah daya, jarak tempuh yang jauh dan kondisi pandemi kian meraja. Papua sulit ditembus, dengan pembatasan ketat, orang non-Papua tidak mendapatkan izin masuk. Zaki, sejak dikabarkan masuk rumah sakit sepekan lalu. Dia mendekam tanpa keluarga, di RSUD Kabupaten Nabire.

Di negeri rantau, kesepian adalah karib paling setia. Rindu makin merdu jika kemalangan bertamu. Wajah keluarga akan muncul tiba-tiba. Di tengah sakitnya, Zaki tentu terkenang wajah Dahniar. Alasan itu pula mungkin yang mendorong Zaki ingin pulang ke Aceh. Berkali-kali ingin pulang, apa daya, ada banyak yang tiba-tiba tidak bisa dengan kepungan halang rintang. Dari kerusuhan hingga pandemi, Zaki melawan sakitnya di tengah tikaman rindu yang membiru. Mungkin ada lebam di hatinya yang suci mengabdi bagi pertiwi di Timur Indonesia.

Zaki guru honor di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kab. Intan Jaya, Papua. Lelaki Kreung Mane ini mengabdikan diri di tanah yang jauh dari halamannya. Entah apa di benaknya, yang jelas semangat pengabdiannya tiada dua. Sepertinya ia terlalu dalam mencintai Papua, menyayangi murid-muridnya yang bahkan belum terlalu fasih berbahasa Indonesia.

Dari keterangan Rahmat Idris dari Aceh, dapat diketahui jika Zaki mestinya sudah menuntaskan pengabdiannya sejak 2018 silam. Hanya dia tak pulang. Setahun berikutnya, Zaki tetap bertahan. Sebenarnya konflik berdarah 2019 sudah cukup kuat jadi alasan untuk meninggalkan Papua yang diamuk amarah. Ya! Zaki memilih bertahan. Rahmad Idris menulis: Zaki memilih bertahan mengabdikan diri bagi saudara jauh sesama Indonesia. Ia begitu dalam mencintai Papua. Ia menggenggam amanah delapan kelapa suku di Mbiandoga untuk menunjukkan jalan cahaya bagi bocah-bocah polos, anak kandung ibu pertiwi di negeri jauh itu.
https://aceh.tribunnews.com

Pulang

Muhammad Zaki akhirnya pulang. Kepulangannya tidak disertai raga, tapi nama yang semerbak. Amukan sakitnya memaksa tubuhnya kalah, lalu ia pergi dengan ragam kenangan manis bagi orang-orang yang mengenalnya. Dahniar, patutlah meredam perihnya. Anaknya, gugur di medan pengabdian yang semoga mengantarnya pada amal jariah tanpa batas. Ya, tak banyak yang bisa mengikuti jejak Zaki.

Tentulah, bukan sebab materi yang menuntunnya menjenguk saudara jauh sesama Indonesia di Papua. Bukan, Zaki tentu bisa memilih, ada banyak sekolah di kota-kota, atau di kampung halamannya sendiri yang membutuhkan guru. Pula ia bisa dibayar dengan nilai yang lumayan, tapi nuraninya seperti tak bisa menolak, ia kadung memilih jalan terjal untuk kemanusian. Ia seperti menunaikan janji yang banyak diselisihi negara. Papua dan wilayah lain Indonesia selain Jawa, telah lama menjadi anak tiri bagi bumi pertiwi kita.

Lahir di Cok Kruet pada 22 Maret 1984, Zaki barulah usai merayakan hari lahirnya yang ke-36 tahun. Dia masih muda, namun ajal telah menjemputnya. Rahmat Idris menulis lebih lanjut sekaligus sebagai penutup bagi goresannya tentang Cekgu Zaki.

Debaran Bulan Juni

Kepada ureung syik kamoe ban mandum, Bu Dahniar, jangan bersedih hati. Ibu berhasil melahirkan dan mendidik seorang pahlawan di saat negeri ini dipenuhi pemuda pecundang yang memilih menghabiskan waktunya di kedai kopi sambil main game online

Selamat jalan adoe Zaki, selamat jalan pahlawan muda tanpa tanda jasa. Kami bangga memilikimu di barisan sejarah bangsa Aceh nan mulia.

Ah Aceh, memang sejak dulu telah menjadi pahala-wan. Para pendahulunya, sudah jauh hari menyerahkan bongkah emas bagi kemerdekaan negeri ini tanpa pamrih. Di Negeri Serambi itu, orang-orang seperti ditempa untuk merasai kemalangan, mengamalkan pepatah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Indonesia tetap saudara, walau jarak membentang jauh, dari rawa, lembah, gunung, laut, di segala penjuru. Aceh, Negeri Serambi Mekah yang selalu meredeka itu, telah lebih dulu paham arti berbagi

Guru Honorer

Yang disebut guru honorer di negeri ini adalah pekerjaan tanpa kejelasan. Mereka hanya bisa menerima honorarium, bukan gaji tetap laiknya Pegawai Negeri Sipil atau pekerja kantoran lainnya. Meski, ada kehormatan dari profesi guru itu, faktanya banyak guru honorer yang menderita. Besaran honor yang diterima tak sebanding dengan peluh yang dikeluarkan. Semasa masih di Gorontalo, saya pernah menanyakan besaran honor yang diterima para guru itu saat menggelar demonstrasi di kantor DPRD. Ada yang dibayar Rp. 150.000 per bulan, dan diberikan per tiga bulan. Anda bisa bayangkan, dengan kemurahan hati mereka untuk mengabdi, mereka diganjar dengan besarapan pendapatan yang jauh dari harapan, bahkan sangat minim.

Sementara…

Sementara, ada banyak anggaran negara yang dihamburkan untuk urusan yang sepele. Menggaji staf khusus milinial di lingkaran istana itu yang muasalnya memang sudah kaya raya. Menghamburkan triliunan rupiah untuk pembelian video pelatihan yang bahkan bisa didapatkan gratis di platform media sosial. Anggaran lain menguap digasak para bedebah. Kemana alokasi anggaran 20% itu untuk pendidikan, sebagaimana undang-undang sudah mengamanatkan. Negeriku, serupa anak yang kehilangan orang tua. Negeri para yatim piatu. Ah sudahlah!(*)