Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

dok. pribadi www.sultansulaiman.id

Anakku, hidup ini tidak bisa kau kendalikan sepenuhnya hanya karena perasaan!

SultanSulaiman.id, Saya menghabiskan kisah kumpulan cerita pendek Ketika Saatnya dan Nasu Likku sembari mendengar lagu Ziana Zain. Dua buku ini terasa pas ditakzimi dengan menyetel alunan patah hati penyanyi Negeri Jiran itu.

Banyak yang bergentayangan di kepala, rentetan kejadian masa lalu. Di sisi lain, kerinduan kepada Gorontalo membuncah. Seorang lelaki senja seperti menuntun tanganku. Mengajakku menjenguk kolam belakang rumahnya sambil memancing di air bening itu. Lelaki yang suara paraunya masih terus terngiang di hampir setiap pagi atau di ujung sore. Lelaki itu telah berpulang. Ia yang kupanggil Papa, ayah dari istriku.

Adakah yang menandingi sedihnya orang terkasih berpulang sedang kau tak mampu merengkuh mendekapnya? Di negeri rantau, kau hanya bisa membahanakan tangis, meluruhkan air mata, karena kepulangan sudah terlambat bagi pertemuan. Begitulah.

***

Kak Sulaiman

Sebelum dihimpun jadi buku, cerita Kak Sulaiman sudah mencuri perhatian sejak dulu. Penulisnya, Darmawati Madjid seperti telah meramunya pada ruang renung yang mistis lalu menyuntikkan suara kerinduan yang mengajak menepi, menikmati luruhan air mata, dari hati yang kadung lara. Kisah Kak Sulaiman seperti merampas paksa sebagian ruang jiwa, tergulung bersama deru ombak membadai yang telah melumatnya. Makanya ia membekas luka, sejauh mana pun kenangan dilarikan, ia akan tetap menyembul tiba-tiba tanpa harus dipanggil. Ada banyak pemantik yang bisa dengan mudah membuat kenangan kembali bertakhta.

“…Untuk lupa, dibutuhkan tahun-tahun yang berat, karena yang kau lawan adalah dirimu sendiri.” (Kumcer Nasu Likku Hal. 3)

Tokoh aku, walau telah jauh merantau, tak bisa mengusir bayang Kak Sulaiman. Masa kecil yang tergelar itu, bermain bola-bola dan kenangan masakan yang berpancikan kaleng mentega. Aroma tubuh, lekuk wajah saat tersenyum dan tertawa, semuanya akan hadir sebab hippocampus akan setia menyimpannya. Adegan di depan warung itu penegas tentang yang lekang adalah kenangan.

***

Bagi orang-orang bugis, Nasu Likku atau Nasu Likkua dalam penyebutan bugis Pinrang merupakan jenis makanan yang dinantikan. Ada masa-masa tertentu, makanan itu akan murah hati tersaji di banyak rumah. Saat lebaran misalnya, atau perayaan besar lainnya. Ia akan hadir sebagai bagian dari salah satu menu utama sekaligus pengusir rasa rindu. Nasu likkua selalu pas diasup dengan buras, atau sepiring nasi hangat. Mengasupnya, akan melupakan besaran uang panaik yang kerap mengandaskan banyak pasangan Bugis sebelum tiba di pelaminan. Alasan itulah yang membuat Nurma ingin berpayah menyuguhkan Nasu Likku untuk Danu lelakinya. Di perantauan, ada yang selalu ingin hadir secara tiba-tiba, salah satunya aroma masakan ibu. Celakanya, bagi banyak perantau, resep dari masakan itu kadang gagal diturunkan.

Di Losari

Di Losari, ingatan dan hubungan dengan mudah terempas. Seolah Losari memang meneguhkan diri sebagai tempat untuk mengenang sekaligus berkabung lalu memanggil ingatan-ingatan yang luka. Anto kepada Ida, perjanjian yang saling memunggungi. Cinta pecah bersama empasan ombak, yang berusaha memoles wajah Losari seperti dulu. Ah Losari, perkakas beton telah menyulapnya menjadi palsu. Tak ada aroma laut, hanya sehimpun kolam raksasa berair pekat menguarkan bau comberan.

Keberanian macam apa yang dimiliki Anto? Ia meniti rumah panggung Puang Massaniga untuk mendengar langsung kabar penghianatan itu. Ida, yang membuatnya pergi menyabung hidup di tanah rantau, kini memaksanya kembali. Kepulangan itu semestinya dirayakan, namun hatinya berkabung dengan kenyataan Ida dipersunting orang lain.
Di beberapa keluarga Bugis, warna darah masih kerap menjadi pertimbangan ikatan pernikahan. Jika dulu warna darah harus berarti ningrat, kini ketebalan isi kantong juga menjadi penegas. Semakin tebal isi kantongnya, semakin jelas pula kastanya. Pernah santer istilah: sikola sibawa sikola’.

Sebuah lamaran tak pernah benar-benar ditolak, caranya dengan memberatkan syarat. Bisa dengan angka uang panaik yang melambung tinggi, atau ragam permintaan lain yang dianggap sulit dipenuhi si pelamar. Sayangnya, angka uang panaik itu tak membuat Anto surut langkah. Padahal, itu sinyal penolakan secara halus dari keluarga Puang Massaniga.

***

Darmawati Majid

Darmawati Majid, seperti pernyataan dari Mother of Makassar Lily Yulianti Farid telah memotret “beban sosial dan kultural yang melekat pada perempuan Bugis-Makassar yang menjadi bahan utama kumpulan cerpen ini!” Si Anak Ajaib Faisal Oddang menyebut “…saya menjumpai keragaman gagasan dan peristiwa sederhana, yang lekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi dengan kemasan yang menarik.”

Ada beragam tentang Bugis-Makassar yang bisa dengan mudah dipahami dengan membaca dua buku Kumpulan Cerpen penulis yang kini menetap di Gorontalo ini. Seperti banyak pembaca, dalam sehimpun cerita tentu ada beberapa cerita yang menjadi unggulan. Kak Sulaiman, Nasi Likku, dan Losari yang saya unggulkan. Ketiganya memiliki ruang keintiman yang khas. Mungkin alasan itu pula yang menyebabkan penulis memunculkan tiga cerita tersebut dalam dua kumcernya. Ditambah satu judul lagi yang jelas dijagokannya: Pelahap Telinga.

Bagi saya, Daster Berkibar adalah pembuka yang mengesankan. Itu semacam teriakan khas ibu-ibu, atau emak-emak dengan Bahasa kekinian. Seperti kata penulis, daster tak pernah disebutkan dalam cerita tapi ia menjadi saksi seluruh pergulatan ekspresif ibu dengan empat bocah ini. Anda penasaran?(*)

Debaran di Bulan Juni

Debaran di Bulan Juni

Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Adalah cinta mulai tumbuh, dari Makassar ke Serambi Madinah. Aku menyeret langkah itu, tertatih mendatangi kotamu yang tak pernah terlintas dalam imaji. Lalu, sebiji rindu mulai mencari muara dari deretan kemalangan.

Di Jakarta, aku nyaris lenyap dimakan deru ganas ibu kota. Tiba dini hari, menumpang pesawat yang sering telat waktu keberangkatannya, lalu hujan deras membuat ruas-ruas jalan tergenang parah. Aku yang buta jalan, tak tahu harus ke mana. Satu-satunya harapan, deretan angka-angka dari ponsel yang mulai sekarat. Ponsel itu benar-benar payah…

Ke mana aku? Satu-satunya cara, sekaligus langkah penghematan kelas wahid, menumpang ojek mencari alamat rabun. Kampung Makassar, ya, akhirnya sampai juga dengan meraba-raba disertai banyak bertanya. Sepasang sepuh menyambut, seorang keluarga bugis Bone yang luar biasa baik. Seorang kawan pondokan, Imran namanya. Lulusan Fakultas Ekonomi yang sedang magang di Bank ternama yang mengajakku menyabung hidup di Jakarta. Beberapa hari, makan-minum, tidur gratis di rumah seseorang yang disapa Puang, tante kawan kami Imran.

Hanya bilangan hari saja. Mengikuti rangkaian seleksi di intansi pemerintah pusat. Sambil terkantuk-kantuk mengisi lembar jawaban di Gelora Bung Karno. Hujan masih awet, namun ribuan butir peluh memasungku di antara ribuan orang yang meniti jalan masa depannya.
***
Parepare selalu menjadi tempat kembali yang dirindukan. Jalan-jalan beraspal meliuk hingga ke perbukitan. Dari ketinggian, menatap jauh hamparan laut biru. Kapal-kapal raksasa melepas sauh. Pertemuan dan perpisahan tergelar dari Pelabuhan Tua Kota kelahiran Habibie. Ah…Di sini aku dilahirkan.

Cerpen: Seikat Satu

Di Serambi Madinah seorang kawan (pernah) satu pondokan mengabarkan peluang. Ke sanalah akhirnya langkah diseret. Peluang bertepuk, meski ada ragu. Dari negeri Fadel Muhamad, bergeser ke Utara di tanah Nyiur Melambai. Manado selalu pemurah dan gadis-gadisnya ramah dengan paha dan dada yang nyaris selalu terbuka. Seperti namanya, stereotype tentang Manado: Mana doi. Asal ada uang, seketika yang terlarang bisa dengan mudah dinikmati. Ada banyak wajah mirip Luna Maya di sana, mereka bisa menyerahkan apa saja asal ada uang.
Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

“Di Gorontalo saja, jangan di Manado. Bahaya!” Petuah Tante, saudara ibu.

Terbukti, Manado memang amat menggiurkan bagi mata yang kelaparan dan selangkangan yang kehausan. Manado adalah surga cadeko dan intelek. (Silakan cari apa, kepanjangan dari dua akronim itu. Nyatanya begitu.)

Beruntung bisa mengendara ke Tomohon, merasai sejuknya udara pagi dan menikmati rimbunnya bunga-bunga yang bermekaran.

Dari kejauhan Gunung Lokon selalu angkuh, dengan semburan asapnya yang seperti sedang merokok saja. Aku menyapanya sembari meruahkan segala yang tertinggal. Di Kota Daeng, di beberapa tempat yang telah kudatangi. Akhirnya luruh bersama panorama Tomohon yang membawanya menemui Gunung Lokon yang perkasa itu. Jika perjalananku harus berhenti di Tomohon atau Manado, mungkin kita tak akan bertemu.

***

Pesawat baling-baling membawaku kembali ke kotamu. Ada perasaan campur aduk, saat menumpang pesawat mini. Ada puluhan penumpang, dengan wajah-wajah cemas. Pesawat ini mirip bus yang dipasangi baling-baling. Benar, saat mulai lepas landas, kecemasan berubah ketakutan. Beberapa kali pesawat oleng, mengalami turbulensi, ditampar angin berkali-kali. Seingatku, ada dua kali kesempatan pesawat itu seperti terjun bebas. Dan aku mulai sangat memahi bahwa tutorial doa di buku petunjuk keselamatan yang disimpan di kantong kursi sangat berguna. Di belakang kursi dudukku, ada suara yang mulai sesenggukan sembari melirihkan doa-doa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Ah! Jika tiba masanya, mungkin kita benar-benar tidak akan bertemu. Namun pertemuan laiknya perpisahan adalah rahasia Tuhan. Pesawat mini itu tiba dengan selamat di Bandara Jalaluddin.

***

Juni menjadi mendebarkan sebab ianya penanda penyatuan kita kemudian. Berbekal modal pas-pasan, lamaran ditunaikan dan aku akhirnya punya teman. Dalam artian, teman yang menggenapkan bagi perantau yang kesepian. Dua Puluh Sembilan Juni Dua Ribu Sebelas, tepat di momen Isra Mikraj kala itu, kita benar-benar bertemu. Debaran di dadaku lebur dengan getar di hatimu. Adakah getar itu benar adanya?

Bagi perantau, mendapatkan keluarga tentu amat menggembirakan. Merantau seperti menuntun pada pengembaraan lain, bahwa sesuatu yang tertinggal akan terbayar dengan sesuatu yang ditemukan kemudian. Malam-malam kita mafhumi sebagai ikhtiar merekatkan penyatuan.

Pada sepi yang menikam, kau hadir membawa bingar, pada hati yang memilukan, kau menyuguhkan penawar. Adalah tawa menggema yang sesekali mengibas-ngibaskan air mata di rumah mungil itu. Hawa kemarau yang dingin dan hujan-hujan gerimis mengukir kisah-kisah yang jauh lebih mendebarkan.

Dua Puluh Tujuh Juni, Dua Ribu Dua Belas, ia yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (memasung) itu telah hadir. Lelaki mungil yang lucu. Beragam warna kuak bersamaan dan kita mencernanya dengan terus belajar. Lelaki yang kemudian dipanggil Kakak. Dia yang penyayang, yang sudah bisa membuatkan adiknya susu, merebus dan menggoreng telur, membuatkanmu secangkir teh hangat, atau menyuguhkan teh hijau dingin. Dia yang sudah bisa disuruh-suruh, kini.

Lima tahun setelahnya, lelaki lain, tepat di perayaan tujuh tahun pernikahan menambah skuad kita. Lelaki yang saban hari membuatmu memanjangkan tangis. Lelaki itu, dengan rasa penasaran yang buncah, seperti kehilangaan rasa takut, melukis pengembaraan dengan langkah-langkah kecilnya. Hingga dua orang asing mengantarnya kembali ke rumah kita. Dia Abang kita.

Inilah rentetan perkara Juni yang selalu membuat mentakziminya. Selamat sembilan tahun, semoga betah dan seikat satu selamanya, menyertai perjalanan rantau yang entah akan berakhir di mana! Asal ada kau di sampingku bukan?(*)