Cerpen: Bara Ibu

Cerpen: Bara Ibu


Genggam Bara Api

SultanSulaiman.Id, Setiap pukul 05.00 pagi, ibu terjaga. Gelap masih tergantung di cakrawala. Kantuk memelukmu, erat sekali. Tapi bangunnya ibu pertanda jika hari akan lekas bergegas. Keriuhan dan kesibukan, plus teriakan menggema. Kau tak kuasa meringkuk, tak bisa memanjangkan tidur, tak kuat memanjakan mata yang masih ingin terpejam. Jika itu kau lakukan, berarti cari masalah. Cari masalah dengan ibu di pagi buta berarti merintis jalan ke neraka. Sangat mengerikan.


“Kak…Bangun! Salat, mandi, entar lagi mobil jemputan tiba!”

Kalimat itu selalu kau dengar setiap pagi. Sampai jelas, segala lekuk intonasinya telah kau pahami di luar kepala. Ah! Kau masih ingin memeluk guling. Melampiaskan rasa kantuk yang menyerangmu.

“Kaaak…! Banguunnn….!”

Kali ini suara ibu terdengar mengerikan, serupa singa betina siaga menerkam mangsa. Kau sudah bisa membayangkan raut muka pemilik suara itu. Melanjutkan tidur bukan pilihan tepat. Jika kau lakukan, tentu jadi bulan-bulanan. Kau akan ditertawakan sang fajar yang sebentar lagi terbit. Ah pagi penuh nelangsa. Muntahan amarah ibu pagi ini pembukaan yang tragis.

“Iya Ibu…!”

Kau melangkah. Tentu masih malas. Tatapanmu redup, belum menguasai suasana. Langkah kaki berat yang jelas amat dipaksakan. Di dalam hati, kau mengutuk. Kenapa harus ada makhluk bernama ibu? Bagimu, ibu adalah sumber kekacauan setiap hari.

“Eh…Eh…Masih berdiri. Sana cepat…!!!”

Kali ini kesadaranmu pulih. Tatapan matamu seketika benderang. Kakimu melangkah cepat. Bayangan dinginnya air kamar mandi kini sirna. Di kepalamu hanya ada wajah ibu penuh taring.

“Sikat gigi jangan lupa…! Malu kalo mulutmu bau… Mandi jangan lama-lama…!”

Ibu lagi. Kau membayangkan di dalam tubuh bernama “ibu” ada pabrik yang terus berjalan. Pabrik kata-kata. Membuat ibu tak pernah kehabisan kata-kata. Pabrik itu yang membuat ibu selalu mengoceh. Ocehan yang membuat telingamu perlahan menebal. Lalu menganggap ocehan ibu serupa angin lalu, walau lebih sering membadai.

Kau abai dengan ocehan itu. Air di kamar mandi membuatmu selalu tergoda berlama-lama. Apalagi, dari saku celana kau sudah menyiapkan lego. Sudah kegemaranmu, mandi, bermain air bersama lego. Membuat kamar mandi semacam pelampiasan rindumu pada kolam renang atau laut.

“Kaaaaak….Kakak….!”

Melengking lagi suara ibu. Kau bergegas. Lengkingan itu alamat, jika tak digubris maka ibu akan muncul secepat kilat di depan pintu kamar mandi. Kau tergesa.

“Ah….Selesai!” Lirihmu

“Ibu…Handuk…!” Kau balas berteriak. Tapi itu jelas keliru karena…

“Itu kebiasaan. Mandi ga bawa handuk. Eh, kamu ini sudah besar. Masih mau diurus-urus. Harusnya kamu malu sama adik-adikmu…!” Rentetan kata-kata ibu.

Kau sudah menduga jawaban sederas apa yang dimuntahkan ibu. Akhirnya menyesal bukan? Perkara handuk telah melebar ke mana-mana. Kau berdiri mematung dalam kondisi kuyup. Lalu pikiranmu terbang. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah.

“Eh…Eeeee…! Masih berdiri di situ, belum salat kamu. Sudah hampir datang mobil jemputan! Belum sarapan, bisa telat loh ya!”

Ibu berhasil membuatmu menginjak bumi lagi. Ah ibu, bukannya langsung ambilin handuk ini malah ngoceh aja…!

Kau melihat sosok ayah hanya bisa tersenyum. Ah Ayah, belain kek. Tapi kau sepertinya tahu. Tak ada yang bisa membantah ibu. Termasuk ayah! Lalu, meski amarah ibu sudah tumpah sepagi ini, adik-adikmu tetap tidur, pulas sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Kau sepertinya ingin kembali ke masa sebelum sekolah. Seperti adik-adikmu
***
Pulang sekolah. Kau sedang merencanakan kekacauan itu lagi. Melepas sepatu semaunya. Masuk rumah sesukanya. Menaruh tas sembarang dan melepas pakaian sekolah secara brutal. Kau sedang ingin memancing amarah ibu agar siang itu tak perlu ada tidur siang. Amarah ibu bisa jadi alasan kau lekas hengkang. Berkunjung ke rumah temanmu, membawa serta lego, main sepuasnya hingga sore tiba.

Hening!

Kau mulai bertanya ibu ke mana. Tapi pagar dan rumah tak terkunci. Tak mungkin tak ada orang. Tapi ibu benar-benar tak ada. Keramaian adik-adikmu juga sirna. Ada apa, kau lagi-lagi bertanya.

“Oh sudah pulang?”

Kau terkejut dengan suara ayah dari balik pintu.

“Ayo berpakaian. Ikut ayah ke kantor!”

Kau makin penasaran. Namun lekas terjawab saat ayahmu kembali bertutur.

“Ibu, Abang, dan Lena harus jenguk Bapu!”

“Ke Gorontalo?” Selamu penasaran

“Iya…Kalau ga ke sana ke mana lagi?”

Tiba-tiba ada mendung yang hinggap di matamu. Kenapa ibu ga tunggu aku pulang sekolah dulu baru pergi? Apakah saking marahnya ibu?

“Ibu buru-buru. jika harus menunggu Kakak pulang sekolah, akan ketinggalan pesawat!”

Sepertinya ayahmu tahu sangka yang tumbuh di dadamu. Namun begitu, kau melayangkan prasangka baru. Ibu tidak sayang padaku!
***
Malam berlalu tanpa ibu. Hari belum berganti. Detik ke menit serasa hitungan ratusan hari. Kau lebih sering bertanya dalam hati. Sembari merutuki rasa kehilangan yang amat tiba-tiba. Bukankah bisa menghubungi ibu dengan panggilan video? Urung kau lakukan. Tepatnya enggan karena kau tak ingin jika ibu tahu pasal rindu. Kau tak ingin membocorkan perihal di balik kebandelanmu itu ada rapuh bersemayam di ragamu. Rapuh yang hanya bisa diusir oleh makhluk bernama ibu. Meski begitu, ibu selalu tahu. Akan selalu tahu.

Panggilan masuk di ponsel ayah. Saat melihat nama ibu di sana, kau melonjak. Kau buru-buru mengangkat.

“Halo…Ibu kapan pulang?” Kau tergesa menyerang Ibu bahkan sebelum ia mengucapkan salam.

“Ayah di mana Kak?” Suara ibu lembut.

Kau buru-buru mencari ayah. Lalu menyerahkan ponsel panggilan dari ibu. Ayah berhenti dari urusan dapurnya. Terlihat ayah terlibat pembicaraan serius. Tumben ibu tidak video call?

“Kak…! Ini ibu mau bicara!”

Ayah menyerahkan ponselnya kepadamu. Suara ibu mengalun lembut, menyampaikan beberapa petuah yang telah kau khatamkan sejak lama. Ibu meski jauh, tapi kehadirannya tetap terasa. Ibu juga berkabar jika kepergiannya mendadak, seperti yang disampaikan ayah kepadamu. Kamu berusaha maklum.

“Kenapa nda video call Bu?” kamu menggugat.

“Di sini jaringan jelek Nak!” Jawab ibu. Lalu melanjutkan pesan-pesan panjangnya tentang apa yang harus kau lakukan bersama ayah, selama ibu tidak ada. Tak lupa ibu berucap, kepergiannya bakal lama. Bapu sakit parah. Ada yang tampaknya akan tumpah dari balik kelopakmu. Setengah mati kau menahannya, namun ia menyembul hangat. Kau menangis. Berusaha kau sembunyikan dari ayah, tapi tak bisa. Ayah melihatmu, seraya menggoda. Kau makin berkabung.
***
Pagi yang damai. Tak ada kegaduhan seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, kau otomatis bisa terbangun. Bisa melakukan segala instruksi ibu secara tepat. Tak ada amarah, tak ada keributan, namun tingkahmu seperti disulap. Kau melakukan perintah ibu cekatan, meski ia tidak di rumah. Kau merasa aneh saja.

Setiap rumah butuh ibu. Itu kau simpulkan sejak melihat ayah yang wara-wiri di dapur namun belum terlalu sukses mengeksekusi apapun sesuai gubahan tangan ibu. Itu bahasa lebih halus sebenarnya. Bahasa kasarnya: gagal total. Tapi tetap saja, yang tersaji di meja makan berusaha kau nikmati. Terpaksa. Lalu kau akan mengucap syukur jika jemputan tiba. Itu berarti siksaan di meja makan berakhir. Kau pamit, menuju jemputan yang akan membawamu ke sekolah. Ayah berdiri di depan rumah, melepasmu dengan senyum yang selalu rekah.

Di atas mobil jemputan, kau menikmati canda, tawa, dan kata-kata yang berbenturan di udara dengan bisu. Udara pagi masih sangat dingin. Kau menahan gigil di balik jaket yang kau kenakan. Sepanjang jalan menuju sekolah, ingatan memaksamu menghadirkan wajah ibu. Ada yang mulai menyusup di balik dadamu. Merembes hingga begitu dalam, memaksa hatimu berucap lirih: ibu aku rindu.

Sesampainya di sekolah, keriuhan menguar di mana-mana. Anak-anak saling berkejaran, segala tingkah tumpah merayakan masa bersekolah. Kau melangkah gontai, beranjak menuju kelas. Memang tak biasa, kau dihinggapi rasa kehilangan yang menjadi-jadi. Ah! Betapa kepergian ibu benar-benar telah membawa suasana riangmu. Kau melepas tas dan duduk beku sendirian di kelas hingga bel masuk berbunyi.

Jam pertama akan diisi Pak Umar. Guru Agama sepuh itu membawamu menjejaki pelajaran berbakti kepada orang tua. Kenapa harus tentang itu sih? Pak Umar tentu tak mendengar protes batinmu. Dia terus membahanakan suara. Mengajakmu berkenalan dengan beberapa sosok di masa lalu yang menunjukkan bakti terbaiknya kepada orang tua. Terutama ibu, diperkenalkan sosok Uwais Al-Qarni yang memanggul ibunya menuju tanah suci. Berpeluh ia dan melepuh punggungnya, namun tetap tak sebanding sebagai balas budi. Kau jatuh dalam ingatan yang panjang, lalu sosok ibu kembali hadir di hadapanmu. Untungnya pelajaran lekas berlalu, berganti dengan kehadiran guru muda yang memesona: Ibu Yusmira.

Jika setiap pelajaran Bu Yusmira kau antusias, kali ini tidak. Kau kehilangan selera, seperti raibnya nafsu makan. Bu Yusmira menyampaikan pengajaran dengan gayanya yang khas.

“El…Bisa diulangi apa yang barusan ibu jelaskan?!” Ibu Yusmira sepertinya menguji konsentrasimu.

“Ya Bu…?!” Kau terkejut.

Ada jeda lama. Kau berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin Aini bisa bantu?!”

Bu Yusmira sudah paham kondsimu. Ia melempar kesempatan. Seketika kelas riuh. Aini, nama itu sering dilekatkan padamu. Beberapa temanmu yang jahil bahkan telah menjodohkan kalian berdua. Meski, kau jelas menolak, tidak terima sebab bagimu itu memalukan. Maksudnya, memalukan bagi naka-anak seusiamu yang sudah main jodoh-jodohan.

Ibu Yus jelas paham, ada sesuatu yang berkejaran di benakmu. Seorang guru bisa dengan mudah menerka isi kepada muridnya, hanya dengan memperhatikan gerik. Kau tak bisa bersembunyi.

Jam pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Enggan dan malas. Seseorang mendekat.

“El…Yuk ke kantin…” Aini mengajak. Ajakan yang memelas.

“Nggak ah…Kamu duluan aja!” Kau menolak.

“Ayo…!”

Aini kini menarik tanganmu. Tapi buru-buru kau tepis. Kali ini kau benar-benar tak ingin memenuhi ajakan siapa pun, termasuk Aini.

“Cie…Ada yang lagi marahan nih ye…!”

Tiba-tiba suara Abi menggoda. Si bocah jahil itu nampak berulah.

“Atau jangan-jangan sudah cerai ya…?”

Bocah tengik itu makin menyebalkan. Tak butuh waktu lama, kau merangsek maju, hendak menggapai Abi yang sempurna meledekmu. Keributan di ruang kelas. Anak-anak lain bersorak. Aini mencoba menahanmu. Ibu Yusmira yang sudah beranjak menjauh kini mendekat lagi. Keributan itu tak berlangsung lama karena kehadiran Bu Yus. Wajahmu sempurna berubah warna. Mirip warna nasi goreng khas Makassar: Nasi Goreng Merah.

Kau digelandang Ibu Yusmira bersama Abi ke ruangannya. Di sana, kalian berdua mendapat petuah. Guru berhati teduh itu mengulik beberapa hal terkait keributan itu. Kau menjelaskan. Abi membela diri. Ibu Yus menengahi. Perbincangan itu menemui akhir. Titik damai disepakati. Ada perjanjian yang terikrar antara kau dan Abi. Masing-masing berjanji akan lebih memperhatikan sikap dan belajar lebih giat mengendalikan amarah. Kalian bersalaman disaksikan Bu Yus.

Abi berlalu lebih dulu, kau hendak menyusul tapi masih diminta bertahan.

“El…Sebenarnya kamu kenapa? Tadi ibu perhatikan kamu sepertinya ada masalah ya?” serang Bu Yus.

Serangan yang kau balas gelengan lalu buru-buru beranjak setelah pamit secara paksa. Sebenarnya, Ibu Yus masih ingin mengomongkan sesuatu. Tapi ia mengerti, kau tak ingin diganggu kali ini.
***
Kabar keributan itu sampai juga di telinga ibu. Di Negeri Serambi Madinah, saat sedang sibuk mengurus keperluan bapu: kakek, Ibu Yus mengabarkan kejadian di sekolah. Ibumu terlihat menahan sesuatu. Lekas ia menghubungi ayahmu dan membeberkan kejadian sekolah itu. Ayah, seperti biasa selalu tampak tenang dengan segala jenis cuaca.

Di rumah, ayah mendapatimu tak seperti biasa. Saat diajak ke kantor pun, kau tak berselera. Kau tentu sudah tahu, ayahmu pasti akan mengulik masalah di sekolah. Hanya, ayah menahan diri. Ayah membiarkanmu yang memang ingin sendiri. Momen istirahat siang itu membuat ayah tak lagi balik ke kantor. Lelaki itu ingin menemanimu, melewati masa sunyi yang ingin kau akrabi. Kalian akhirnya jatuh tertidur, hingga senja muncul di balik cakrawala.

Ponsel berdering. Panggilan dari ibu. Ayah terbangun dengan bunyi nada dering yang makin nyaring. Sepertinya ada yang genting.

“Yah…! Suara ibu berat! Bapu Yah!”

Suara ibu yang terbata-bata telah membuat ayah mengerti. Ayah bergegas membangunkanmu. Menyuruhmu berbenah, cuci muka, lalu menyalin pakaian seadanya. Kalian tergesa mencari tumpangan menuju Makassar. Ada sesuatu yang harus lekas ditunaikan.

“Yah…Ada apa? Kita mau kemana? Ibu kenapa yah?”

Rentetan pertanyaan kau hamburkan. Ayah masih mencoba mengatur irama napasnya, hingga telepon genggamnya kembali berdering. Panggilan dari ibu lagi.

“Ayah sama El sudah di jalan. Acara persemayamannya kapan?”

Dari ptongan pembicaraan itu, kau tentu sudah bisa menyimpulkan.

“El…Bapu meninggal!” Ucapan ayah lirih kemudian.

Ingatanmu tentang bapu kembali melayang. Sesosok ringkih yang selalu baik. Memberikan uang jajan tanpa diminta dan juga sepeda baru hadiah ulang tahunmu kala itu. Rasanya, baru sekejab kau sekeluarga meninggalkan Gorontalo, kini takdir membawamu kembali beserta suasana berkabung itu.
***
Suasana berkabung sudah tertinggal agak jauh. Luka selalu butuh jarak agar kelak bisa dilupakan. Bukan dilupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Kau masih bisa melukis sosok ibu saat hari berkabung itu. Kau menderma rasa iba. Ibu yang sejak kecilnya telah piatu, kini sempurna statusnya menjadi yatim piatu. Hanya kau, ayah, dan kedua adikmu yang menjadi keluarga terdekat ibu sekarang.

Sebenarnya, beberapa pekan sepeninggalan bapu, kau sekeluarga harusnya sudah meninggalkan Negeri Serambi Madinah. Tapi kabar telah meneror di mana-mana. Sedang ada pandemik. Kau akhirnya sedikit memahami, kabar-kabar mengerikan tersiar. Akses vital mulai diketatkan. Pergerakan manusia terbatas. Memilih pulang atau bepergian di tengah merebaknya wabah jelas sangat berisiko. Apalagi, dua adikmu masih balita, tentu sangat rentan.

Di banyak tempat, sekolah sudah diliburkan. Sekolahmu juga, itu kau tahu karena beberapa orang menghubungimu, termasuk Bu Yus dan seorang yang sulit lepas dari ingatnmu: Aini. Tempo hari, gadis manis itu menelepon, berkabar seadanya dan menanyakan kabarmu. Kau tentu tersanjung dan ayah usil menggodamu,

Makin ke sini, pandemi makin menakutkan. Pembatasan gerak manusia sudah dilakukan. Kebijakan agar semua orang berdiam diri di rumah berlaku. Atas dasar itulah ibu memproteksimu sangat ketat. Ada aturan-aturan baru yang mulai berlaku.

“Kalau masuk rumah cuci kaki, cuci tangan, pakai sabun!”

“Ke luar rumah pakai masker!”

“Adik-adikmu jangan dibawa ke mana-mana. Sekarang rawan, virus korona ada di mana-mana!”

Ada banyak lagi jejalan aturan yang sering diulang-ulangi ibu. Sama persis dengan petunjuk pencegahan Covid-19 yang disebar pemerintah. Bahkan ibu bisa menjelaskan seluruh istilah terkait pandemi di luar kepala. ODP, PDP, Covid-19, dan banyak lagi istilah yang sudah dikhatamkan ibu. Di matamu, ibu bahkan lebih mahir menjelaskan dari Ketua Tim Satuan Tugas Covid-19 mana pun. Ditambah dengan angka-angka jumlah korban, dari yang positif, sembuh, dan meninggal. Bukan hanya itu, informasi kasus di seluruh dunia ibu tahu. Dahsyat bukan?

Tapi, beberapa kesempatan kau melihat ibu amat berlebihan. Sikap itu makin nampak, setelah ibu tahu kabar soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mendera ayahmu. Apakah itu berarti kalian akan mendekam di Gorontalo lebih lama? Entahlah! Berita PHK ayah alamat duka di benak ibu, dan keluargamu.

‘Sudah dibilangin kalau ke luar pake masker. Ini malah bawa adik-adiknya lagi!” Sungut ibu dengan wajah yang selalu sangar.

“Kamu tidak takut korona?” Tambah ibu dengan wajah yang jauh lebih menggidikkan.

“Itu…Sudah dibilangin kalau masuk rumah cuci tangan, cuci kaki, pake sabun. Ini…Kakak…cuci tangan…!” Lengkingan nyaris lima oktaf. Hampir memecah rekor suara Mariah Carey.

Kau bergegas mengikuti instruksi ibu, lalu berlalu, masuk ke kamar dan mengunci diri. Di sudut lain kau dapati ayah menerawang. Baru kali ini ayah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tetap saja berlalu. Di kamar, ada bayang berkelebat, sesungging senyum milik gadis rambut ekor kuda. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah. Tiba-tiba kau rindu sekolah.(*)
Simak juga: