Puisi: Kepada Kenangan

Puisi: Kepada Kenangan

pic: majalahouch.com

Ada rindu yang merayap dari jendela 
Menggoreskan kenangan, memanggilmu yang pergi jauh, 
Dentuman memekakkan pecah mengotori cakrawala, mengabarkan waktu telah beranjak meninggalkan masa lalu, 
Pesta yang bingar yang sangar, 
Musik bersahutan, minuman ditenggak, 
Keringat pecah sebesar biji jagung memergoki belia yang lupa jalan pulang 
Darah telah tumpah, menggores perih di puncak peluh, kenangan telah pecah! 
***

Gorontalo, 04 Januari 2016
Simak: Kompasiana
Puisi: Kepada Tuan

Puisi: Kepada Tuan

irwantoshut.blogspot.co.id
“Tak mengapa pohon-pohon ditebang, toh masih bisa ditanami kembali” 
Entahlah tuan, kegilaan macam apa ini? 
Kau biarkan para raja menjamah hutan, menggagahi pohon-pohon, 
Kau berkhotbah, menjadi pembela bandit serakah, 
Pohon-pohon mengangkat tangan, mengajak ranting dan daun merapal doa, mengutuk para terkutuk yang menjungkalkan keadilan… 
Mantra diikamahkan para binatang, mengajak Tuhan mendatangkan hujan, dan turunlah bah menghardik para bangsat, tapi oh celaka… 
Jelata bergelimpangan, patah bersama pohon-pohon, berpelukan bersama binatang yang kehilangan rumah, dan tuan beserta para raja berpesta menenggak kencing sendiri… 
Seribu air mata dari pohon-pohon yang digagahi berubah amarah, dan aku berdoa kelak tuan ditebang dan dibakar... 
Tak mengapa, karena toh tuan bisa ditanam kembali… 

*** 
Puncak Batu 05 Januari 2016

Baca di: Kompasiana
Puisi: Hikayat Mandung

Puisi: Hikayat Mandung


Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. 
Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana 
Sudahlah, payah dipeluk amarah, 
Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, 
Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang 
Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, 
Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… 
Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! 
 ***
Puncak Batu 08 Januari 2016
Bisa juga disimak di sini: Hikayat Mandung


Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana Sudahlah, payah dipeluk amarah, Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! Puncak Batu 08 Januari 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/sultansulaiman/hikayat-mandung_569c2819c623bd29048b456c
Burit diculik gelita, tengking orok merecoki petang yang belia. Di bibir gapura kau menyilik, meruahkan sesal sebab mandung raib entah kemana Sudahlah, payah dipeluk amarah, Mestinya ada secangkir kopi beserta sepiring pisang goreng, Namun dada terlanjur gaduh karena mandung tak kunjung pulang Petang yang lawas, binar kartika diculik mendung, Kunikmati rebah kelesah, bersama embus pawana yang berkabung… Semoga rawi lekas terbit dan mandung cepat kembali…! Puncak Batu 08 Januari 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/sultansulaiman/hikayat-mandung_569c2819c623bd29048b456c