Resensi Novel: Dulu Lontara Rindu, Kini Sajak Rindu

Resensi Novel: Dulu Lontara Rindu, Kini Sajak Rindu

Tapi tak ada yang bisa menampik takdir, Halimah? Mengapa kau tak bersabar saja? Dulu saat kebun jambu metemu terbakar, kamu bersabar bahkan bersyukur karena Vito masih bersamamu, Allah langsung membalik keadaan dengan menyelamatkan bagian tengah kebun jambu metemu? Harusnya sekarang kamu berperan seperti dulu, Halimah! Bersabar! Karena selalu ada buah ranum nan lezat yang menggantung di pohon kesabaran. Silakan bersedih, tapi apa gunanya kamu merutuki takdir?(Lontara Rindu, hal. 303)

SultanSulaiman.id, S. Gegge Mappangewa, nama itu kembali menjadi ”raja” setelah memenangi Lomba Menulis Novel Republika tahun 2011. Sebelumnya, S. Gegge Mappangewa pernah berjaya dengan ratusan cerpennya yang pernah nangkring di media remaja nasional. Bukan hanya cerpen, bahkan 12 judul bukunya pernah menghiasi banyak toko buku di tanah air. Tapi itu dulu, sebelum seluruh waktunya tersita dengan aktivitas baru, menjadi Oemar Bakrie, mengurusi ratusan siswa hingga mengubur namanya lamat-lamat sebagai penulis beken yang pernah punya banyak pembaca.

Tapi, seolah takdir tak ingin menjauhkan dirinya dari bintang. Menulis masih terus digeluti meski harus mencuri-curi waktu dari kerjaan utamanya sebagai guru. Gegge, begitu panggilan akrabnya, meski mengaku hanya menggunakan waktu sisa untuk menulis, namun waktu sisa itu justru kembali mengudarakan namanya. Gegge kembali menggema, mengubur kutukan penulis “tak produktif” yang melekati namanya beberapa tahun. Gegge membuktikan, jika pilihannya banting setir jadi guru bukan alasan tepat untuk memutuskan benar-benar berhenti menulis.

Lontara Rindu, judul novel yang mengantarkan namanya kembali mengudara. Gegge yang redup kembali bersinar. Kemarau telah berganti musim, langit menyingkap tabir harapan, mematenkan satu kepastian pada asa yang tak lagi pudar. Karena apa yang dialaminya adalah buah ranum dari jalan panjang berdarah-darah. Gegge butuh belasan tahun untuk bisa seperti dirinya yang sekarang. Karena resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata!

Gegge benar-benar telah memanah bintang, bukan hanya sampai tapi juga tepat sasaran. Ada 458 naskah yang masuk ke meja panitia. 393 naskah lulus seleksi administratif dan akhirnya bersaing menuju 25 besar. Selanjutnya diseleksi hingga menyisakan sepuluh naskah terbaik. Dari sepuluh besar menuju tiga besar. Lontara Rindu akhirnya dipilih menjadi naskah terbaik, mengalahkan ratusan naskah lain yang dirakit oleh ratusan model tangan dengan latarbelakang kultur, strata, profesi, dan usia yang berbeda.

Lokalitas yang Sempurna

Takkan mati kejujuran itu,
Takkan runtuh yang datar,
Takkan putus yang kendur,
Takkan patah yang lentur (Nenek Mallomo).

Membaca Lontara Rindu bukan hanya menemukan pesan tokoh legendaris cendikiawan muslim dari Sidenreng Rappang yakni Nenek Mallomo, tapi juga memaksa naluri meletup-letup dengan terus menyelami eksotisme kisah tentang awal munculnya agama Hindu Tolotang di Sidenreng Rappang, kisah tentang ‘manusia reptil’ yang beberapa orang Bugis mengakui keberadaannya, dan beberapa kisah lain yang pernah terjadi di tanah Bugis kemudian dipermak dengan konflik fiktif yang endingnya susah ditebak. Dugaan saya, ini menjadi salah satu takaran pemberat yang mengantarkan Lontara Rindu berada di tahta tertinggi Lomba Novel Republika 2011.

Selain itu, suguhan awal sejarah yang ditampilkan justru hadir sebagai bagian yang memendam ragam tanda tanya. Ragam tanda tanya itu yang menimbulkan rasa “penasaran kronik” yang terus memaksa pembaca menyelami kisah Lontara Rindu sampai akhir ceritanya. Pembaca dipaksa mengambil kesimpulan setelah menyudahi seluruh isi cerita. Penulis menggunakan jurus piawainya sebagai penulis dengan tidak meletakkan daya tarik Lontara Rindu hanya pada ending, namun sukses menjadikan seluruh bagian ceritanya sebagai daya penarik yang sempurna. Penulis benar-benar sukses mengaduk-aduk perasaan bening pembaca dalam ragam artikulasi konflik yang disuguhkan. Konflik dalam konflik mem-posisikan Lontara Rindu bukan sekadar cerita fiktif biasa.

Priyantono Oemar dalam tulisannya Mencari Karya-karya yang Tidak “Cerewet” berpendapat bahwa dalam cerita, yang penting bukan pada bagian akhirnya, melainkan kisah kejadian yang diceritakan. Penulis berhasil menyuguhkan kisah kejadian yang akhirnya mengajak pembaca menyelami seluruh nuansa lokalitas Bugis-Makassar secara utuh. Pembaca bukan sekadar dihidangkan menu yang lezat, namun sekaligus ditunjukkan cara memasak yang tepat, hingga memeroleh hasil sempurna yang benar-benar nikmat.

Isu-isu lokalitas, termasuk adat-kebiasaan, lengkap dengan mitos-mitos budaya Bugis telah dipotret penulis dalam angle yang sangat apik yang membuat pembaca mengerti tentang keluhuran tradisi Bugis yang kadang banyak dicibir karena hanya mengumbar sesuatu yang berbau “onar”. Pembaca justru akan mengerti bahwa “onar” adalah buah dari keluhuran menjaga martabat dan harga diri. Kisah ini akan ditemukan pada bagian “Mempelai Sunyi”.

Lalu pilihan menjadikan kata “Lontara” sebagai judul yang disandingkan dengan kata “Rindu” nampaknya memang ingin menegaskan bahwa cerita ini akan megeksploitasi sisi unik terhadap banyak hal yang masih menimbun tanya tentang orang-orang Bugis. Kata Lontara mewakili seluruh batang-tubuh Bugis yang ingin diselami, bukan hanya menampilkan sisi manusia bugisnya, tetapi juga menyuguhkan tentang karakter, adat-kebiasaan, dan segala hal tentang Bugis. Dan kata “rindu” melengkapi bahasan cinta yang ingin ditampilkan penulis, bukan sekadar menampilkan sisi intim antara lelaki dan perempuan, namun lebih luas, rindu menjadi penegas cinta yang universal, antara anak dan orang tua, cucu dan kakek, adik dan kakak, guru dan murid, manusia dalam interaksi lingkungan (alam dan segala isinya), bahkan antara hamba dan Tuhannya.

Kemiripan tak Berarti Mengekor

Sekilas, kisah Lontara Rindu mungkin akan terasa sama dan dianggap mengekor pada Laskar Pelangi. Dugaan itu bisa ditelusuri dalam suguhan sembilan tokoh anak dengan ragam karakternya yang juga jadi siswa paten sekolah yang diceritakan. Vito, Anugerah, Adnan, Bimo, Alauddin, Irfan, Alif, Sarah, dan Mawaddah mengajak kita menghadirkan sosok Lintang, Ikal, Kucay, Harun, dan teman-teman Laskar Pelanginya. Ya! Sekilas penulis akan tampak mengekor karya besutan Andrea Hirata, lalu menambahinya dengan ragam pendekatan kreatif yang membuat cerita Lontara Rindu makin menarik. Sekali lagi hanya sekilas, karena sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam mungkin tokoh atau kisahnya serupa namun jelas tetap tidak sama. Lontara Rindu benar-benar berbeda.

Dugaan itu bisa ditampik dengan menelusuri aktivitas penulis beberapa tahun terakhir dan memang pernah menjadi wali kelas yang jumlah siswanya hanya sembilan. Kesembilan siswa itulah kemudian menginspirasinya untuk menulis Lontara Rindu. Interaksi intens dengan ratusan siswa di tempat penulis mengabdi tentu menghadirkan pengalaman otentik yang beragam. Penulis bisa secara bebas mengonstruksi karakter yang didapatkan secara rill di tempatnya bekerja. Ini sekaligus sebagai bantahan bahwa “mengekor” seolah tak dikenal dalam kamus S. Gegge Mappangewa!

https://cf.shopee.co.id
Jawaban-Jawaban

Setelah rampung menampik tentang isu mengekor, rasanya menarik mengapresiasi Lontara Rindu sebagai cerita yang tega membiarkan pembaca memendam penasaran terlalu lama. Hal ini wajar sebagai satu pendekatan kreatif penulis dalam bercerita, di sini sisi unggul dari penulis. Jawaban atas banyak dugaan-dugaan pembaca terhadap kisah awal yang kesannya berserakan akhirnya bisa di temukan di bagian “Hadiah Terindah”. Akhirnya bukan hanya Vito yang berbahagia karena mendapat hadiah ulang tahun spesial dari mamanya, namun pembaca juga turut mengulum senyum karena telah menemukan simpul cerita yang telah terlanjur dibuat berserakan.

Guru sebagai profesi pelarian juga merupakan jawaban yang paling pasti bagi banyak pencari kerja yang tak juga mendapat tempat. Lagi-lagi sekilas, hal ini terlihat sederhana. Namun penulis menghadirkan penggalan ini bukan sekadar pengingat tapi juga kritik terhadap banyak “anak muda” yang buta tentang pilihan profesi prestisius yang hendak dipilihnya, yang bisa dipastikan bahwa “menjadi guru” tak pernah jadi pilihan yang sungguh diinginkan, seperti yang terjadi pada tokoh Ibu Guru Maulindah.

Juga jawaban lain tersibak, tentang bagaimana ketatnya orang tua Bugis menjaga anak perempuannya. Karena lebih baik menggembalai seribu ekor kerbau, daripada menjaga satu anak gadis. Jawaban lainnya akhirnya mesti dinikmati laiknya buah ranum yang mesti dipetik. Seperti I Cinnong yang menikmati jerih-payah kesabaran dari ladangnya emasnya yang terjual murah. Meski sempat melayangkan nota protes membatin pada suratan takdirnya, namun I Cinnong memilih lapang dan melakoni kembali profesi menjual dan membagikan jadde gratis.

Akhirnya, saya yakin, setelah jutaan penikmat sastra menoleh ke Belitong karena Laskar Pelangi, maka Lontara Rindu akan membuat orang mengalihkan pandangannya ke Desa Cenrana, sebuah perkampungan Bugis di daerah pegunungan di Panca Lautang- Sidenreng Rappang, yang menjadi latar novel yang insyaallah akan Best Seller ini. Amiin.(*)

Simak juga:

Resensi Novel: Diamuk Luka di Petang Bala Tadulako

Resensi Novel: Diamuk Luka di Petang Bala Tadulako

https://www.voaindonesia.com
sultansulaiman.id. Tak ada yang menduga, jika petang 28 September 2018 itu, Palu diamuk bencana beruntun. Gempa, tsunami, dan likuefaksi. Orang-orang di Pantai Talise sedang bersuka cita dengan Festival Nomoni, puluhan ribu jumlahnya, riang gembira menyambut petang yang mulai ranum, di pantai yang menjadi kebanggaan Sulawesi Tengah. Lalu, getaran itu datang (7.4 SR, sumber lain menyebut 7.7 SR) orang-orang panik berhamburan. BMKG sudah membunyikan peringatan Tsunami, namun lekas berakhir karena sepertinya tak akan ada potensi gelombang besar dari laut. Orang-orang kembali tenang, di kiri kanan sudah nampak kerusakan akibat goncangan. Orang-orang beranggapan, setelah gempa tak ada lagi yang perlu dicemasi.