Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

Mimpi Habibie Kandas di Tangan Jokowi

https://cdn2.tstatic.net/

SultanSulaiman.Id, Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie selalu lekat dengan pesawat terbang. Habibie dijuluki Bapak  Teknologi Indonesia. Lelaki Gorontalo kelahiran Parepare Sulsel ini tersohor karena rekam jejaknya memajukan industri strategis tanah air. Ia telah berpulang dan mimpinya mengembangkan Industri Pesawat Terbang Nasional sepertinya akan kandas. Presiden Jokowi telah mendepak Proyek R80 dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Padahal Tahun 2017, R80 masuk PSN melalui Peraturan Presiden Nomor 58. Serasa lirik lagu ini pas: kau yang memulai kau yang mengakhiri.


Mari mengenang hari itu, Kamis 10 Agustus 1995. Sejarah spektakuler telah tercatat, mengundang decak kagum jutaan pasang mata. Hari yang menorehkan rekor kesuksesan anak bangsa. Bumi pertiwi telah memiliki generasi yang mampu mengembangkan teknologi canggih. Teknologi yang bukan saja membuat Indonesia terpandang, tetapi “kuat” di mata dunia.

Kenanglah hari itu. Hari ketika N-250 “Gatotkaco” terbang pertama kali. Pesawat itu terbang membawa harapan, rasa bangga, haru, sekaligus membuang stigma yang kerap mengerdilkan potensi anak bangsa. Lihatlah, N-250 bukti jika bangsa ini mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang sudah mengembangkan teknologi pesawat terbang lebih dulu. Habibie menulis dalam bukunya Habibie & Ainun:

“Tidak ada yang meragukan N-250 Gatotkoco gagal terbang kecuali mereka yang tidak suka dengan penguasaan Iptek oleh bangsa sendiri, semua orang menginginkan N-250 bisa terbang dengan mulus.”

N-250 menjadi bukti keperkasaan bangsa  kita. Melalui tangan BJ Habibie, pesawat itu lahir sebagai wujud sumpahnya kepada pertiwi. Gemilang.

“Pesawat N-250 adalah pesawat pertama di kelasnya (subsonic speed) –yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan secara komputerisasi)."

“Pada saat itu, tahun 1995, di jajaran pesawat komersial, N-250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi fly by wire setelah Airbus A-340 dan Boing 767.” (Buku Habibie & Ainun hal. 166)


Semua itu benar-benar terjadi. Sebuah inovasi yang berkorelasi keinginan mempersembahkan cinta terbaik untuk negeri. Profesor Habibie telah menunjukkan karya dan dedikasi terbaiknya mengantarkan Indonesia menuju negara mandiri yang disegani. Namun, ikhtiar suci itu akhirnya menemui sandungan, setelah IMF melanggengkan intervensi. Industri Pesawat Terbang kita tak dibiarkan bertumbuh unjuk gigi. Satu babak kebangkitan paling berharga negeri ini mengalami masa kelam. Bahkan untuk sekadar berterima kasih, negeri ini seolah enggan. Saat menjabat sebagai Presiden RI III, Profesor Habibie mengakhiri sejarah pengabdiannya dengan penolakan laporan pertanggungjawabannya di hadapan Sidang Paripurna. Sejak saat itu pula, BJ Habibie kadung bersumpah tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden. Ia mengukuhkan dirinya sebagai negarawan sekaligus Bapak Bangsa.

Dok. Pribadi Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun
di Parepare Sulsel

Sumpah Mengangkasa Membumi
Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah Tumpah darahku makmur dan suci
..........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU!
(Buku Habibie & Ainun hal. 41-42)

Film Habibie & Ainun bukan sekadar membawa kita pada plot romantisme cinta. Lebih jauh, film ini ingin menunjukkan, juga mendeklamasikan secara nyata, bahwa kita sebagai bangsa, sebagai negara memiliki putra terbaik yang begitu menyejarah. Bahwa, energi kehidupan bahkan telah menggerakkannya untuk berbuat lebih banyak. Habibie plus Ainun telah menunjukkan sebuah kolaborasi atraktif, dua jiwa menyatu, mengangkasa, saling menguatkan, lalu membumi. Bahwa kembali untuk mengabdi kepada bangsa dan negara adalah pilihan sadar, panggilan cinta yang tak bisa ditawar, apalagi sekadar ditukar materi.

https://statik.tempo.co

Dua jiwa, sejuta harapan, bertemu mempersembahkan karya terbaiknya bagi kemanfaatan berjuta-juta manusia negeri ini bahkan semesta. Maka kisah cinta itu, laiknya pertemuan dua kutub perubahan yang melahirkan ledakan besar dalam batu bata sejarah kebangkitan Indonesia. Hanya saja, keluarbiasaan itu telah terlanjur diabaikan, bahkan dicampakkan sebelum benar-benar diberikan kesempatan berbuah sempurna.

Lalu, mari meraba ke kedalaman jiwa kita. Menemukan keIndonesiaan, dan bertanya sudah seperti apa kontribusi kita? Profesor Habibie telah membentangkan sebuah pilihan-pilihan hidup yang dilandasai idealisme tinggi, keyakinan, semangat pengabdian, juga rasa cinta luar biasa pada negeri. Maka dia, memilih meninggalkan segala kegelimangan materi untuk kembali ke negerinya. Seperti katanya, “Saya pulang ke Indonesia untuk mengabdi, bukan cari uang”

BJ Habibie tidak sekadar dikarunia usia yang panjang, tetapi juga padat dalam penggunaannya. Rasanya, sulit dibayangkan bagaimana dia akhirnya mampu membumikan mimpi-mimpi, walau mungkin tak sesempurna yang diingini. Tapi yang pasti, sejarah perjalanan kehidupannya adalah rentetan catatan kerja keras, yang lahir dari energi cinta, lalu mengilhami inovasi luar biasa yang hampir tak memiliki banding. Lelaki Gorontalo itu hanya menjalankan takdirnya. Setelah BJ Habibie, siapa lagi?

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Menunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun Manunggal dengan saya Sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat
(Habibie & Ainun hal. 323 )


Tahun ini (2020), pemerintah menganulir proyek pesawat R80 dan pesawat rancangan Habibie yang lain, seperti N245 dari Proyek Strategis Nasional. Jokowi beralasan, pandemi memaksa mimpi Habibie itu disingkirkan karena krisis. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penghapusan proyek Habibie itu karena ada proyek pengganti berupa pengembangan drone yang dinilai lebih cocok dengan situasi sekarang. Bukan hanya Habibie, kita yang sebelumnya meghayalkan menaiki pesawat terbang buatan dalam negeri pun harus gigit jari. Mungkin pemerintah beranggapan, membeli pesawat luar negeri jauh lebih praktis dan murah. Daripada harus buat sendiri toh? 

(Doa-doa terangkai. Untuk Habibie Ainun kami sampaikan salam hormat, semoga ditempatkan dalam kedamaian selalu dan selamanya.)
Gorontalo-Polewali, 13 Februari 2013-Juli 2020