Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

https://www.mainmain.id

SultanSulaiman.Id. Saat ini, di seluruh dunia. Kasus Covid-19 semakin bertambah. Data (22/07) Covid-19 sudah menjangkiti 15 juta orang menurut laman Worldometers yang dikutip kompas.com.

Sejak diumumkan Desember tahun lalu, Covid-19 menjadi momok yang (banyak) menciutkan nyali. Covid-19 menjadi teror baru bagi kehidupan manusia abad modern. Dari Negeri Tirai Bambu, di kota kecil bernama Wuhan, sejak diumumkan kasus pertama, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, Corona memaksa dilazimkannya pola hidup baru yang membatasi akses antar-manusia.

Namun demikian, di negeri kita, sejak diumumkan kasus pertama pada Februari lalu, sikap sebagian besar masyarakat Indonesia setidaknya terbagi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang merespon Corona sangat berlebihan alias hiperaktif. Kelompok ini yang mendesak lebih awal penutupan seluruh akses perjumpaan manusia. Bahwa lockdown harus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek lain, termasuk perlambatan ekonomi yang berujung pada timbulnya masalah sosial lainnya.

Kedua, kelompok penganut teori konspirasi. Bahwa Corona tak lebih dari sekadar akal-akalan yang memiliki muatan bisnis belaka. Virus ini hadir dalam rangka melanggengkan motif ekonomi di belakangnya. Ada virus pasti ada vaksin. Virus sengaja disebar agar vaksin bisa dijual. Kelompok ini mengaminkan pernyataan Bossman Mardigu dan Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Ketiga, kelompok santai euy alias santuy. Kelompok ini, baik sebelum pandemi Covid-19 menyerang hingga saat ini Corona sudah memakan korban, masih tetap menjalani aktivitas semau dia. Seolah tak terjadi apa-apa. Mereka menolak apa yang disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tetap berpegang pada kebebasan dan kemerdekaan ekspresi yang di anut. Bukan tidak percaya tentang Covid-19, mereka tahu dan bahkan memiliki informasi memadai, hanya saja seruan #dirumahaja bagi mereka tak menarik. Mereka memilih mengabaikan segala hal yang menakutkan tentang Corona dan memilih bersikap tak acuh. Kelompok ini paling mengaminkan pernyataan “Sekolah sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah diatur Sang Pencipta. Bersikap biasa saja adalah bagian dari upaya mempercayai takdir.”

Adapun kelompok terakhir adalah mereka yang waspada. Mereka mengindahkan seluruh himbauan pemerintah tentang pembatasan akses, menjaga jarak, melaksanakan protokol kebersihan sebagai bagian dari pencegahan, memilih di rumah aja sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Atau jika harus beraktivitas di luar rumah, tetap berusaha maksimal untuk membekali diri dengan pelindung, minimal masker. Mereka memilih membantu pemerintah dengan segenap usaha. Meski dari mereka kadang banyak dicibir karena dianggap amat “penakut” oleh kelompok yang lain. Kelompok ini melihat bahwa Corona virus adalah pandemi yang nyata, bukan akal-akalan. Sebab korbannya saat ini ada di mana-mana. Tenaga kesehatan sudah berusaha sungguh menjadi garda terdepan, dan sebagian dari bahkan menjadi korban. Bagi kelompok ini, menganggap Corona sekadar basa-basi jelas keterlaluan.
***
Data terakhir kasus Corona di Indonesia menyebut ada 27,5 ribu orang yang sudah terinfeksi dengan korban meninggal mencapai 1.6 ribu jiwa. Walau angka ini masih lebih kecil dari besaran angka yang diprediksi oleh beberapa pihak yang menyebut korban bisa sampai jutaan, tapi tak bisa dinafikan bahwa rangkaian kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April lalu dapat dikatakan “agak berhasil”, karena memang terbukti tak semua masyarakat patuh. Dahlan Iskan, dalam kolomnya menyebut bahwa angka kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan Corona berada di kisaran 70%. Dengan angka itu, laju penyebaran virus ini bisa sedikit dieliminasi.

Nufransa Wira Sakti, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak di laman kompas.com menyebut bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2020. Angka pertumbuhannya terjun bebas jika dibanding kuartal 4 tahun 2019, dari 4,97 turun ke 2,97. Jika tren terjun bebas ini terus berlanjut, maka tentu akan semakin menyulitkan di masa datang. Sejak Maret hingga saat ini, bisa dipastikan ada kemandegan dari roda perekonomian kita yang menciptakan ceruk dalam, dari angka 2,97 itu bisa lebih menukik lebih rendah lagi.

Angin segarnya, memasuki bulan Juni Pemerintah sudah mulai membuka beberapa akses penting dalam upaya penormalan kembali. Sarana transportasi dibuka, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sudah dipertimbangkan dibuka kembali dengan mempertimbangkan protokol Covid-19. Tentu kita berharap bahwa, kurva Covid-19 sudah mereda, sesuai analisis dari The Singapore University of Technology and Design yang disebut Nufransa bahwa puncak Covid-19 di Indonesia berada di bulan April 2020. Jika demikian maka masa puncak itu sudah berlalu. Kita tentu sangat berharap, bahwa masa-masa setelah April adalah masa kelaziman baru, yang diharapkan dapat memperbaiki ragam hal yang babak-belur akibat Covid-19.
***
Mas Muliadi seorang pedagang kecil, kehilangan tempat bekerja. Sehari-hari menjual “makanan jadi” di beberapa kantor dan sekolah. Corona menyebabkan kantor ditutup dan sekolah diliburkan. Mas Mul pasrah ditinggal pelanggan dan penghasilan. Pria paruh baya ini tak kehabisan akal, pantang kalah dengan Corona. Dia tetap berjualan berkeliling, dari satu kompleks perumahan ke kompleks yang lain. Masa-masa orang di rumah tentu butuh makan, Mas Mul memilih mendatangi dan menawarkan jualannya. Tak jarang dia menjajakannya lewat media sosial, walau pengetahuannya terbatas. Mas Mul tak menyerah. Membekali diri dengan masker, Mas Mul menyambangi banyak tempat. Sehari dia berjualan dua kali, pagi dan sore. Dia mengaku pendapatnnya justru meningkat di masa pandemi,

Beda cerita dengan Pung Fitrah. Seorang sopir antar kabupaten yang mengaku penghasilannya banyak tergerus di masa pandemi. Agar dapur tetap mengepul, Pung Fitra tetap memilih keluar rumah, mengemudikan mobil angkutan agar tetap mendapatkan penghasilan untuk makan keluarganya.

“Jarang orang mau keluar sekarang, tapi banyak yang mau kirim-kirim barang. Jadi barang lagi yang dimuat!” Kata Puang Fitra dengan logat Bugis Makassar yang khas kala bertemu saat mengantar barang kiriman dari seorang kawan.

Ada lagi, cerita tentang Maci Upa, yang memilih memutar otak mengamankan agar dapurnya tetap mengepul. Perempuan janda ini membuat panganan setiap pagi dan sore. Momen puasa kemarin dia berjualan sore hingga malam dibantu oleh anaknya yang baru menikah.

“Semua orang takut. Tapi takut saja tidak cukup. Kita butuh makan, berharap bantuan pemerintah jelas kurang. Ya, mau tidak mau harus jualan. Semua saya suruh jualan daripada hanya tidur. Alhamdulillah hasilnya lumayan.”

Maci Upa memang agak diuntungkan, hanya dia satu-satunya penjualan panganan di tempat tinggalnya yang membatasi akses masuk. Di rumahnya, di pinggiran pantai di Kab. Polewali Mandar Maci Upa menggelorakan perlawanan. Seolah ia hendak mengaminkan tentang adagium: pertahanan paling baik adalah menyerang. Musuh kali ini terbilang tangguh, karena menyerang tanpa terlihat. Memilih berpangku tangan bukan pilihan tepat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, Maci memilih caranya dengan melihat sedikit peluang. Jika harus kalah, jangan terlalu telak. Minimal dengan menunjukkan usaha bahwa pintu rezeki tidak berakhir dengan pandemi.

Sepertinya, pandemi Covid-19 datang untuk memaksa manusia melakukan penyesuaian. Ada banyak hal yang akhirnya berubah dengan Corona. Meski gerak terbatas tapi terbukti orang bisa tetap berinteraksi dengan bantuan teknologi. Efisiensi terjadi, birokrasi dipaksa berbenah dan kita sebagai entitas manusia berusaha memikirkan cara lain untuk menjaga eksistensi. Bahwa manusia dan pergulatannya melawan wabah bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu ada banyak kematian yang disebabkan oleh wabah, kali ini jangan sampai kecolongan lagi. Kebijakan dikeluarkan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya kita sebagai bangsa dan negara, harus menang melawan Corona.

Memang, di sisi lain, bahkan sebelum Covid-19 mendera, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sudah terjadi. Resesi ekonomi sudah dimulai, sejak bergulirnya perang dagang Amerika-Cina, Indonesia mendapat imbas yang tidak menguntungkan dari semua itu. Ditambah mewabahnya Covid-19 justru memperparah keadaan. PHK kembali bergulir dan gelombangnya makin besar. Banyak yang terjatuh akhirnya tertimpa tangga. Pilihan makin sulit dan terbatas, resiko paling berat, nyawa jadi taruhan.

Bahwa pada periode kuartal kedua April-Juni, Indonesia tentu tak terlalu berharap banyak. Ini masa-masa sulit. Tentu diperlukan pertimbangan yang matang agar perlambatan ekonomi tidak terjadi terlalu lama. Sebab, bisa dipastikan pihak yang paling rentan adalah masyarakat menengah ke bawah. Meninjau rentetan kebijakan yang berimbas pada kelompok rentan ini perlu dilakukan. Termasuk menunda diberlakukannya kenaikan tarif dan menekan kenaikan harga-harga. Jika itu terjadi, merosotnya daya beli masyarakat bisa sedikit terbantu dengan hadirnya pemerintah dengan kebijakannya yang berpihak. Itu berarti, dapur masih bisa mengepul meski dengan kepulan yang sayu.

Kita bersyukur sebab, ragam spekulasi horor tentang Corona yang menyerang Indonesia tidak terbukti. Politico, media asal Amerika dalam risetnya terhadap 30 negara berkaitan dengan penanganan Covid-19 dari segi kinerja kesehatan dan ekonomi, seperti yang dikutip cnnindonesia.com, walau Indonesia termasuk kacau dalam hal penanganan pandemi ini, tapi diprediksi bisa keluar dari resesi. Hal ini dikuatkan oleh Fithra Faisal Hastiadi Ekonom Universitas Indonesia dan dikuatkan oleh Pieter Abdullah dari Center of Reform on Economicsangin sega (CORE) masih dari sumber CNN Indonesia. Artinya kita masih bisa bertahan meski terlihat kewalahan dan ngos-ngosan. Ini tentu angin segar di tengah limbungnya beberapa negara maju karena Covid-19, termasuk Amerika.
***
https://www.cnbcindonesia.com

Adakah badai pasti berlalu?

Di beberapa keadaan, terbukti ada yang bertahan dan ada yang kalah. Masa-masa sulit membutuhkan penyesuaian ekstra-cepat dan menuntut manusia menjadi pembelajar aktif supersonik. Lambat bisa jadi berarti tertinggal dan kalah!? Apakah itu sepenuhnya benar? Mari melirik kehidupan nelayan yang saya sambangi tempo hari, berdekatan dengan kediaman Maci Upa penjual panganan itu. Para praktisi digital bisa saja menyebut bahwa Covid-19 telah mempercepat laju revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bekerja. Hanya saja itu berlaku bagi sebagian kalangan yang dihantui ragam teror tentang Corona.

“Tidak ada Corona di sini! Jadi santaimaki Nak!”

Ucap Maci Upa kemudian dengan memamerkan giginya disertai suara gelak tawa. Di kediaman Maci, orang-orang tetap pergi melaut dan masih bebas saling mengunjungi. Rumah ibadah masih tetap dibuka dan orang tetap lalu-lalang datang dan pergi. Benar, ada pembatasan hanya bagi orang-orang yang datang.

Tampaknya, masyarakat kalangan menengah ke bawah ini sudah sangat terbiasa dengan beragam ancaman. Covid-19 adalah horor, tapi ada yang lebih menakutkan dari sekadar Corona, yaitu matinya api di dapur-dapur mereka. Maka jangan heran jika, di tengah seruan untuk pembatasan aktivitas berkaitan dengan pandemi kalangan ini masih saja aktif dan wara-wiri mendatangi perkumpulan manusia. Mereka santai ke pasar, menggelar jualan, menarik pembeli. Jika ditanya kenapa begitu? Mereka akan menjawab: kami lebih takut tidak makan.

Agar dapur tetap mengepul di tengah kepungan pandemi, perlu untuk melihat celah yang bisa digunakan dalam rangka membalikkan keadaan. Saya rasa, pemerintah telah melihat celah itu, bahkan jauh hari sebelumnya, para pengusaha mendesak agar pembatasan segera diakhiri. Para pengusaha sudah tidak kuat, bayang-bayang kebangkrutan mengancam di depan mata.

Lembaran “New Normal” sudah tersiar ke mana-mana. Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) yang menyiarkan lembaran ‘New Normal” itu sebagai tafsir dari pernyataan Presiden Jokowi tentang: bersahabat dengan Corona. Maksud Presiden sepertinya bisa dijelaskan dari deretan peribahasa bugis: Itau i’ balimmu ekke seddi si esso, iyanekkia itau i sibawammu ekke sisabbu si essoe. Artinya, kita perlu menanamkan kewaspadaan seribu kali kepada kawan atau sahabat dibanding kepada musuh. Kepada musuh kita cukup waspada sekali dalam sehari.

Bahwa yang berpeluang menjadi musuh dalam selimut dan menggunting dalam lipatan itu adalah kawan atau sahabat. Bersahabat bagi Presiden adalah berkawan dengan menerapkan seribu kewaspadaan. Ke depan Covid-19 tidak akan lenyap dan semoga vaksinnya lekas ditemukan. Kita tidak ingin menangisi keadaan dan merutuki kondisi tapi mempersiapkan mental untuk kelaziman baru yang disebut “New Normal” tampak semuah keniscayaan. Ucapkan “Selamat Datang!” (*)
Simak Juga: