8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19

8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19

Pelaksanaan Rapid Tes.

SultanSulaiman.Id., Angka positif Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan dan menuju fase mengkhawatirkan. Kita nyaris ingin mengakhiri pandemi, namun nyatanya jumlah positif kembali melonjak. Bukan salah bunda mengandung, hanya saja penegakan aturan yang bablas dan tidak konsisten, di tengah terpuruknya ekonomi membuat ragam skenario yang diberlakukan pemerintah mental di tengah jalan. Ada ragam muataan kepentingan yang menyebabkan Covid-19 pada satu kesempatan di kesampingkan, padahal pandemi ini nyata memakan korban. Lantas apa yang akan kita lakukan?

Ada angin segar setelah pemerintah mengumumkan bahwa vaksin covid-19 sudah ada. Hanya perdebatan makin sengit sebab, suara tentang vaksin pun terbelah. Pro kontra mencuat, banyak yang menolak sebab menganggap vaksin tak ubahnya lahan bisnis baru menggemukkan kantong-kantong kaum oportunis. Faktanya, kita sedang amat berduka sebab bantuan sosial yang harusnya digunakan untuk stimulus pemulihan ekonomi masyarakat justru digasak koruptor. Disunat per paketnya untuk keperluan entah.

Makin ke sini, varian baru Covid-19 kini muncul dan memaksa banyak negara menutup akses bagi warga negara asing. Kita patut mengapresiasi langkah Menteri Luar Negeri yang menerapkan kebijakan yang sama bagi Warna Negara Asing. Selain mawas diri, kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan segala yang menyangkut pencegahan penularan covid-19 harus dan mesti dilakukan. Lantas, jika semua usaha itu sudah dilaksanakan dan ternyata kemudian hari terkonfirmasi positif covid-19, harus menjalani isolasi mandiri di rumah sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) misalnya, apa yang harus dilakukan? Pastikan Anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang Positif Covid-19. Berikut 8 Formula Anti Baper Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19.
Dok. Pribadi. Persiapan Petugas Swab Test di Puskesmas Pekkabata.

1. Ikhlas Menerima Kenyataan
Sebagai mantan positif Covid-19, saya pernah merasakan betapa hari-hari isolasi mandiri itu berubah mencekam jika tak ada formula khusus. Saat pertama dinyatakan reaktif rapid tes, saya enteng saja, hingga diminta menjalani isolasi mandiri dan mengikuti swab test di Pusat Kesehatan Masyarakat dekat domisili. Dua kali pengambilan sampel lendir dari hidung dan tenggorokan yang melelahkan air mata. Dua hari berselang, Tim Dokter menyatakan bahwa saya positif Covid-19.

Saya sudah menduga bakal positif, semacam firasat saja. Saat dinyatakan positif istri luar biasa paniknya, orang tua saya (ibu) tak kalah cemasnya. Langkah pertama yang kami ambil adalah segera melakukan isolasi terpisah. Semestinya, istri dan anak-anak juga diswab test, hanya saja rentang waktu swab masih agak lama sementara saya sudah dinyatakan positif. Jadilah saya isolasi di tempat domisili sementara istri dan anak-anak diungsikan di tempat yang lain sembari terus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 jika kemudian hari istri dan anak-anak saya mengalami gejala mirip covid-19.

Sejatinya, inilah masa paling berat, harus berpisah dengan keluarga. Istri sudah menyiapkan segala kebutuhan sandang-pangan selama Isolasi. Sembari memberikan pengertian ke anak-anak, kami akhirnya menjalani isolasi terpisah. Ikhlas berarti mengjak diri berkompromi dengan keadaan. Meski merasa baik-baik saja, namun hasil tes menunjukkan saya terkonfirmasi positif covid-19. Maka ditetapkanlah sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berpotensi menularkan virus ke orang lain. Saya amat mencemaskan istri dan anak-anak, namun alhamdulillah semua bisa dilewati dengan mulus hingga masa isolasi berakhir dan hasil swab test negatif.

2. Sembahyang Mengaji 
Ingat kerjaan Si Doel kan? Bagi muslim, ini adalah formula yang lumrah. Ibu saya menyarankan agar bisa khataman quran dalam masa isolasi. Termasuk pula, menjaga sembahyang tepat waktu. Ada perubahan yang berarti, utamanya dari segi keteraturan waktu. Tiba-tiba momen isolasi menjadikan saya dekat dengan Pemilik Segala, setelah sekian lama terjebak dalam kubangan lupa. Maka isolasi menjadi semacam jalan untuk menemukan diri dan mengeratkan jiwa kepada Pemiliknya. Jadi ingat, sembahyanglah sebelum disembahyangi, mengajilah sebelum kembali terjebak bejibun kesibukan. Mumpung masih ada waktu.

3. Memasak
Isolasi mengharuskan segala sesuatu dilakukan mandiri. Jika tak memiliki keterampilan dapur memadai, tak apa mencobanya. Dari pada harus nelangsa karena tidak mengasup apa-apa toh. Berharap dari makanan kiriman tentu tak terlalu baik, utamanya bagi isi dompet. Beruntung, karena istri sudah menyiapkan segalanya. Bahan mentah dan instan cukup selama masa isolasi. Minimal pandai bakar, goreng, dan rebus. Itu sudah sangat memadai Bakar ikan, goreng tempe, rebus telur atau mie instan. Simple bukan? Bahkan beberapa kesempatan, saya mencukupkan diri hanya dengan rebusan telur, nasi, dan sedikit kecap. Toh itu tetap nikmat. Jika butuh dipadupadankan dengan yang lain, setiap pagi puluhan penjual sayur lewat dan bisa disetop kapan saja. Dengan uang Rp. 10.000, sudah sangat longgar buat makan 1-2 hari, intinya masak sendiri.

Soal memasak ini, ada banyak tutorial yang bisa diikuti. Keterempalinan mencampur bahan dan mengeksekusinya tak jadi masalah. Toh yang makan kita sendiri, jadi tak akan ada protes dari orang ketiga. Nikmati sendiri meski akhirnya rasa yang digubah jadi unik atau bahkan aneh.
Dok. Pribadi

4. Memiliki Peliharaan
Untungnya memiliki peliharaan berupa hewan atau ternak menjadi jalan hiburan di masa isolasi. Anak saya senang ikan hias jenis guppy, molly, komet, dan ikan konsumsi. Isolasi menjadi jalan hubungan intens dengan peliharaan itu. selain sebagai pelarian kejumudan, setidaknya mereka menjadi teman yang baik di kala sendiri. Ada banyak manfaat kesehatan dari memiliki hewan peliharaan. Selain tentunya, merupakan formula penambah imun yang sangat baik. Apalagi jika peliharaan sudah diarahkan untuk bisnis, formula imunnya bisa kuadrat. Anda bisa cek sendiri.
Dok. Pribadi

Hanya berbekal foto dan video, trasaksi bisa saja terjadi. saya menjual koleksi ikan hias itu dari rumah, dengan memanfaatkan kurir.

5. Bercocok Tanam
Efeknya tentu sama, tanaman bisa menjadi pelampiasan kebosanan dan pengusir segala derita. Apalagi bunga? Ga percaya, tanyakan pada emak-emak. Ada efek mistis yang terjadi pada tubuh ketika melihat tanaman. Mungkin karena memang kita asalnya dari tanah, bermain tanah dengan bercocok tanam sensasinya luar biasa. Anda bisa coba.

6. Membaca Buku
Selain sudah jungkirbalik dengan lima formula di atas, membaca buku bisa jadi pertimbangan baik. Saya punya beberapa daftar buku terbeli yang belum dibaca. Buku bisa mendekatkan yang jauh dan merekatkan yang dekat. Buku dari dulu jendela bagi dunia. Banyak yang rumit dalam hidup kita asalnya karena ketidaktahuan dan kefakiran pikir dan ilmu. Buku hadir sebagai peta, menjadi penunjuk jalan, sebagai cahaya bagi gelap, sekaligus pengusir kesuraman. Carilah jenis bacaan yang menyenangkan. Novel bisa salah satunya. 
Dok. Pribadi

7. Menonton Film
Saat menjalani isolasi, menonton film salah satu aktivitas yang mendobrak imunitas. Saya menamatkan serial drama Korea Start-Up tanpa harus berkutat dengan kebisingan jelang akhir tahun. Menonton menjadi jalan mereguk inspirasi dan menemukan ragam makna yang terserak. Film Alone yang disutradarai Johny Martin menjadi salah satu tontonan inspiratif. Film yang mengisahkan bagaimana Aidan (Tyler Posey) menghadapi masa isolasi dalam gempuran wabah di sekelilingnya. Aidan baru saja ingin mengakhiri hidupnya ketika tanpa sengaja bertemu dengan Eva (Summer Spiro). Pertemua yang melahirkan semangat baru untuk tetap hidup dan bertahan di tengan kiamat zombie itu. film Alone terasa menjadi penghubung kondisi saat ini dengan pandemi. 
Dok. Pribadi Drakor Start-Up

8. Menulis
Saat positif, saya memang berencana merilis diari dan menyampaikan pengalaman lewat tulisan. Urung saya lakukan sebab, ada banyak penghakiman yang berseliweran. Mereka yang positif masih dipandang membawa “aib” dan kerap diperlakukan diskriminatif. Saat petugas kesehatan melakukan kontrol ke rumah dan hanya berdiri bergerombol di depan pagar, hebohlah satu kompleks. Ditambah, para petugas ini hanya lebih penasaran memotret dibanding lebih dalam mengorek kondisi pasien positif Covid-19.

Menulis aktivitas yang merdeka. Tentu ada banyak hal yang bisa disampaikan lewat tulisan. Tulisan menjadi jembatan ekspresi sekaligus saran berkirim makna dengan orang lain. Dari tulisan kita bisa lebih mengerti dan memahami.

Itulah 8 Formula Penambah Imun Jalani Isolasi Mandiri di Rumah Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19. Apapun itu, jangan pernah kehilangan rasa bahagia dan berusahalah melakukan hal-hal menyenangkan. Mereka yang positif Covid-19 lalu akhirnya sembuh adalah anugerah tak terkira. Ada banyak orang yang masih berjuang melawan Covid-19, di tengah bejibun yang masih tidak percaya jika Covid-19 benar-benar ada.(*)
 

Baca Juga:


Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19

Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19

Obat dan Suplemen Covid-19 dari Puskesman
SultanSulaiman.Id, Sudah jelang tutup buku tahun 2020, namun kita masih berkutat dengan penanganan Covid-19. Ada banyak harapan yang bersemayam di dada kita. Salah satunya tentu, tahun depan semoga Covid-19 telah sirna di negeri kita. Data Covid-19 di Indonesisa menunjukkan bahwa angka positif nyaris meyentuh 700 ribu jiwa dengan 500-san ribu sekian yang sudah sembuh dan sekira 20 ribu orang meninggal. Persoalannya, apakah data ini memiliki presisi yang memadai? Sementara hanya sebagian kecil saja rakyat negeri ini yang melakukan Swab Test. Pemerintah tampak tidak berdaya untuk melakukan Swab Test massal. Memang harus dites seuruhnya, agar kita dapat menemukan angka tepat Covid-19 di Indonesia. 
Sejak awal kemunculannya, dari desas-desus Wuhan hingga sampai juga di negeri kita. Covid-19 tampak diremehkan. Hingga muncul kasus yang menyebabkan banyak tenaga medis tumbang dan rumah sakit mulai kewalahan. Tidak serumpunnya suara pemerintah menelorkan kebijakan sporadis dan cenderung amatiran. Covid-19 gagal dibelenggu akibat tarik ulur kebijakan dan penerapan aturan yang sepertinya memang masih sarat kepentingan. Pada satu titik kerumunan dilarang, pada titik yang lain dibiarkan bahkan dibablaskan. Hasilnya kluster baru bermunculan dan kita benar-benar nyaris kalah oleh Covid-19. Mau tidak mau prediksi tentang herd immunity telah terjadi. Hari ini, Covid-19 menjadi sangat samar dan setiap orang sudah berpotensi menularkan virus ke orang lain. Tak ada jalan, selain menguatkan imunitas dan tetap disiplin pada protokol kesehatan. Nampaknya euphoria Wuhan tidak akan terjadi di negara kita, sebab kita benar-benar bebal.

Pada akhirnya, kita hanya menunggu giliran. Jika menemui gejala yang mengarah kepada ciri penderita covid-19, segera melaporkan diri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Melaporkan diri sebagai jalan konfirmasi agar jelas apakah Anda terpapar atau tidak.

Bagaimana jika Anda akhirnya dinyatakan positif Covid-19 meski merasa tidak apa-apa alias Orang Tanpa Gejala (OTG)? Anda bisa melakukan 5 hal ini sebagai bekal perang melawan Covid-19.

1. Memastikan Kesehatan Mental Terjaga
Kesehatan mental itu penting, OTG akan menjalani masa “berat” selama 14 hari tanpa siapa-siapa. Maksudnya, karena berstatus OTG, keluarga tentu diungsikan sementara waktu sebab tinggal serumah jelas berisiko. Kecuali Anda OTG satu keluarga maka tentu, masa isolasi akan dijalani secara bersama-sama. Memastikan kesehatan mental tetap terjaga harus dan mesti, karena jika itu bermasalah, maka akan menyebabkan kekacauan pikiran yang berujung pada menurunnya kondisi fisik. Di sini, mereka yang OTG berpotensi mengalami degradasi imunitas yang bisa berujung masalah. Agar itu tidak terjadi, berpikiran positif dan menerima diri sebagai orang yang positif meski OTG dengan selapang-lapangnya akan membantu setiap diri menjalani hari-hari isolasi meski sendiri.

2. Berdoa
Sebagai insan beragama, tentu kita mengetahui bahwa diri tak bisa sepenuhnya diandalkan dalam kondisi-kondisi sulit. Hampir setiap orang berharap pada satu kekuatan dan itu diantarkan lewat doa. Jika kita tak mampu menyelesaikannya, biarlah Sang Maha yang menunjukkan jalan keluar dengan cara-Nya. Atau biarlah Dia yang memberi sembuh dengan jalan-Nya, tanpa obat jika Tuhan mengizinkan seseorang bisa sembuh dari segala jenis penyakit, termasuk covid-19. Maka masa isolasi itu sejatinya adalah ruang membangun keintiman dengan Sang Pemilik Hidup, Sang Pemberi Sehat. Selama ini mungkin kita banyak lupa, cara mengingat paling ampuh dengan membiarkan seseorang sendiri agar dia tahu batas kemampuan dirinya. Agar ia mulai bergantung kepada Tuhan-Nya.

3. Melakukan Kegiatan Positif
Kegiatan positif penuh faedah tentu banyak macamnya. Bisa membaca buku, menulis, menonton, memasak, mengaji, berzikir, atau aktivitas fisik yang memastikan anda tetap bergerak dan bugar. Sehat mentalnya, bugar fisiknya, dan cemerlang pikirannya. Membagi porsi makanan untuk kesehatan fisik, pikiran, dan mental sangat penting. Dengan begitu kita akan merasakan keseimbangan dalam menjalani hidup. Memulai pagi dengan ibadah, olahraga, sarapan, dan berjemur akan memberikan sentuhan kebugaran jasmani dan rohani. Hiruplah udara pagi perawan itu, rasai sengatan metahari, dan jalani hari-hari seperti biasa. Meski tentu, ada banyak gunjingan yang tiba-tiba menguar, entah dari tetangga atau siapa saja. Ada sesuatu yang lebih berat dan berbahaya dari covid-19 yaitu gunjingan dan omongan orang lain. Jangan biarkan itu merusakan suasana hatimu sebab akan berujung bahaya. Anda bisa saja kehilangan banyak hal, termasuk kesempatan sembuh dari Covid-19.

4. Bangun Suasana Nyaman
Menjalani isolasi mandiri bagi OTG itu berat apalagi sendiri. Anda bisa bayangkan, selama 14 hari hanya berkutat di rumah atau di lokasi isolasi, tanpa siapapun yang menjenguk. Kalaupun ada yang menjenguk tentu jarak dan akses terbatas. Anda akan merasa sangat dihindari. Intinya, kita tak bisa menikmati kebebasan dan keleluasaan saat diisolasi. Cara mengatasi itu dengan membangun suasana nayaman. Penting ikhlas menerima keadaan dan kenyataan. Bahwa yang terjadi tentu sudah suratan Tuhan. Dengan begitu,, kita telah mengajak diri berdamai, yang perlu dilakukan menemukan suasana nyaman. Jika merindukan pertemuan, bisa dilakukan dengan bertemu daring dengan memanfaatkan perangkat yang ada. Gawai bisa membantu mewujudkan itu, yang jelas Anda bisa menjalani masa isolasi dengan segenap rencana. Itu berguna untuk mengusir rasa bosan.

5. Mengkonsumsi Makanan Sehat Penambah Imun
Bagi sebagian OTG, Covid-19 justru menambah nafsu makan. Itu amat baik dengan mengasup makanan penambah imun. Bisa dengan mengikuti pola makan empat sehat lima sempurna, diimbangi dengan konsumsi vitamin yang direkomendasikan dokter. Dengan memperhatikan asupan makanan secara ketat, proses pemulihan menuju negatif bisa lebih cepat. Sarapan utama, makan siang jangan terlambat, dan makan malam jangan terlalu larut lalu sempurnakan dengan istrahat yang cukup.

Jadi, Lakukan 5 Hal Ini Saat Anda Positif Covid-19 agar memiliki amunisi memadai. Sebagai mantan positif covid-19, tentu hal tersebut saya rekomendasikan karena memang telah saya lakukan. Tambahan sebagai penutup, saat terkonfirmasi covid-19 Anda wajib menghubungi setiap orang yang melakukan kontak 7 terakhir dengan Anda. Itu untuk memudahkan penanganan agar penularan tidak semakin meluas. Semoga kita terjaga dan terhindar dari keburukan Covid-19. Tetap sadar, sehat, produktif, dan bahagia.
Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir

Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir



SultanSulaiman.Id, Helmy Fauzy, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir menyebut kasus Covid-19 di Mesir terus mengalami peningkatan. Sejak dua bulan lalu, ada sekira 17 ribuan warga Mesir yang sudah terinfeksi. Jumlah itu makin melambung sejak Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini. Fauzy membeberkan, dari seluruh total positif saat itu, belum ada satu pun Warga Negara Indonesia (WNI).


Memasuki Juli, data (19/07), angka positif Mesir sudah di posisi 87 ribu dari total 101,49 juta warga Mesir. Dari jumlah yang positif itu, ada 10 orang WNI. Sepuluh orang itu, menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir diketahui saat hendak mengurus kepulangan ke Indonesia. Karena positif, mereka harus tertahan. Mereka menjalani isolasi mandiri di asramanya masing-masing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Mesir, belum menyiapkan ruang Isolasi khusus bagi WNI positif.

Dari sepuluh, empat orang positif nekat pulang ke Indonesia. Dua orang dinyatakan sembuh, bersisa empat orang lagi yang masih dinyatakan reaktif oleh pihak KBRI.

Bagaimana nasib WNI di tengah terjang badai Covid-19 di Negeri Firaun itu?

Nyatanya, angka empat orang itu sangat meragukan. Mereka yang dinyatakan positif baru diketahui karena hendak pulang ke tanah air. Persyaratan pemeriksaan Covid harus dengan PCR. WNI yang hasil PCRnya positif tak mendapat izin pulang.

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Ada 9.407 WNI di Mesir, 6.896 orang merupakan pelajar/mahasiswa. Karena ketiadaan ruang isolasi mandiri, mereka yang terdeteksi positif tetap tinggal di asramanya masing-masing. Tinggal, tapi tidak berdiam. Kebutuhan harian selalu memaksa mereka keluar asrama, karena bantuan dari pemerintah tidak cukup buat bertahan. Dalam kondisi sakit, lapar, jalan mudahnya keluar asrama, mencari penghiduan. Jika masih ada uang, kebutuhan pokok bisa dibeli, jika tidak tentu akan meminta belas kasih kawan setanah air untuk bertahan hidup. Alasan karena terlalu “sulit” itu yang menjadikan mereka yang harusnya bertahan nekat pulang ke tanah air karena sudah terlanjut beli tiket pesawat.

Ada frase yang berkembang tentang “memfasilitasi” dan menginisiasi wadah “isolasi”. Nyatanya, KBRI dalam Bahasa memfasilitasi itu tetap memungut bayaran untuk pemeriksaan PCR. Salah seorang mahasiswa menyebut angkanya pada kisaran 70 dolar. Jika memilih memeriksakan diri secara mandiri di Rumah Sakit Mesir pungutannya mencapai tiga ripu pound. Bagi mahasiswa tunggal, apalagi yang berkeluarga dengan satu, dua, tiga bahkan lebih anak, itu memberatkan. Belum untuk tiket kepulangan yang juga harus ditanggung sepenuhnya. Dari Mesir ke Jakarta, jika dirupiahkan sekitar Rp. 7 juta per orang. Butuh setidaknya Rp. 13-14 juta untuk tiket pulang-pergi Mesir-Jakarta

Pihak KBRI telah menyalurkan paket bantuan sosial berupa bahan pokok yang nilainya Rp. 300 ribu per orang. Sejauh ini, KBRI sudah dua kali menggelar paket bantuan. Hanya tak semua WNI dapat dari total sembilan ribuan orang sejagat Mesir.
Melalui laman resmi KBRI, ada siaran tentang Menjawab Isu yang Berkembang di Kalangan Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir Mengenai Penanganan COVID-19





KBRI mencoba mengelak dan menggunakan hak jawabnya berkaitan ragam isu yang diserbukan oleh WNI, khususnya mereka yang berstatus sebagai mahasiswa dan pelajar. Ada selentingan suara nyaring tentang: kami butuh makan dan uang, bukan masker. Suara-suara nyaring semacam itu jelas bisa dipahami, hidup di negeri orang dalam kondisi serba tidak pasti akan memancing banyak persoalan yang lebih runyam. Muhammad Rizal Fachriyan, mahasiswa Hukum dan Syariah Al-Ahzar pada laman PPMI Mesir menulis tentang beberapa soalan yang rabun: dana bantuan sosial, alat pelindung diri, dan tempat isolasi WNI yang mestinya bisa dipenuhi oleh KBRI Mesir. Bahkan lebih jauh, M. Rizal menuding pihak KBRI Mesir seolah menyepelekan pandemi Covid-19 yang sudah meneror ribuan WNI Mesir.

Sebagai upaya pencegahan, ada juga pertanyaan tentang: mengapa KBRI tidak melakukan tes PCR gratis kepada seluruh WNI? Seperti yang dilakukan oleh KBRI Iran. Setidaknya hal tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah simpang-siurnya kondisi Mesir paska kudeta Militer beberapa tahun lalu. KBRI Mesir justru beranggapan bahwa yang paling berhak melakukan proteksi dan penanggulangan Covid-19 di Mesir adalah Pemerintah Mesir itu sendiri. Pernyataan seperti itu jelas bentuk abai terhadap tanggung jawab. Masa iya tugas KBRI hanya update status Covid-19 setiap hari? Semetara ribuan WNI Mahasiswa terancam hidupnya akibat asupan makanan minim gizi di tengah kepungan teror pandemi.
Simak Juga:
Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

Saat Covid-19 Mengubrak-Abrik Dapur Kita

https://www.mainmain.id

SultanSulaiman.Id. Saat ini, di seluruh dunia. Kasus Covid-19 semakin bertambah. Data (22/07) Covid-19 sudah menjangkiti 15 juta orang menurut laman Worldometers yang dikutip kompas.com.

Sejak diumumkan Desember tahun lalu, Covid-19 menjadi momok yang (banyak) menciutkan nyali. Covid-19 menjadi teror baru bagi kehidupan manusia abad modern. Dari Negeri Tirai Bambu, di kota kecil bernama Wuhan, sejak diumumkan kasus pertama, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, Corona memaksa dilazimkannya pola hidup baru yang membatasi akses antar-manusia.

Namun demikian, di negeri kita, sejak diumumkan kasus pertama pada Februari lalu, sikap sebagian besar masyarakat Indonesia setidaknya terbagi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang merespon Corona sangat berlebihan alias hiperaktif. Kelompok ini yang mendesak lebih awal penutupan seluruh akses perjumpaan manusia. Bahwa lockdown harus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek lain, termasuk perlambatan ekonomi yang berujung pada timbulnya masalah sosial lainnya.

Kedua, kelompok penganut teori konspirasi. Bahwa Corona tak lebih dari sekadar akal-akalan yang memiliki muatan bisnis belaka. Virus ini hadir dalam rangka melanggengkan motif ekonomi di belakangnya. Ada virus pasti ada vaksin. Virus sengaja disebar agar vaksin bisa dijual. Kelompok ini mengaminkan pernyataan Bossman Mardigu dan Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Ketiga, kelompok santai euy alias santuy. Kelompok ini, baik sebelum pandemi Covid-19 menyerang hingga saat ini Corona sudah memakan korban, masih tetap menjalani aktivitas semau dia. Seolah tak terjadi apa-apa. Mereka menolak apa yang disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan tetap berpegang pada kebebasan dan kemerdekaan ekspresi yang di anut. Bukan tidak percaya tentang Covid-19, mereka tahu dan bahkan memiliki informasi memadai, hanya saja seruan #dirumahaja bagi mereka tak menarik. Mereka memilih mengabaikan segala hal yang menakutkan tentang Corona dan memilih bersikap tak acuh. Kelompok ini paling mengaminkan pernyataan “Sekolah sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah diatur Sang Pencipta. Bersikap biasa saja adalah bagian dari upaya mempercayai takdir.”

Adapun kelompok terakhir adalah mereka yang waspada. Mereka mengindahkan seluruh himbauan pemerintah tentang pembatasan akses, menjaga jarak, melaksanakan protokol kebersihan sebagai bagian dari pencegahan, memilih di rumah aja sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Atau jika harus beraktivitas di luar rumah, tetap berusaha maksimal untuk membekali diri dengan pelindung, minimal masker. Mereka memilih membantu pemerintah dengan segenap usaha. Meski dari mereka kadang banyak dicibir karena dianggap amat “penakut” oleh kelompok yang lain. Kelompok ini melihat bahwa Corona virus adalah pandemi yang nyata, bukan akal-akalan. Sebab korbannya saat ini ada di mana-mana. Tenaga kesehatan sudah berusaha sungguh menjadi garda terdepan, dan sebagian dari bahkan menjadi korban. Bagi kelompok ini, menganggap Corona sekadar basa-basi jelas keterlaluan.
***
Data terakhir kasus Corona di Indonesia menyebut ada 27,5 ribu orang yang sudah terinfeksi dengan korban meninggal mencapai 1.6 ribu jiwa. Walau angka ini masih lebih kecil dari besaran angka yang diprediksi oleh beberapa pihak yang menyebut korban bisa sampai jutaan, tapi tak bisa dinafikan bahwa rangkaian kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak April lalu dapat dikatakan “agak berhasil”, karena memang terbukti tak semua masyarakat patuh. Dahlan Iskan, dalam kolomnya menyebut bahwa angka kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan Corona berada di kisaran 70%. Dengan angka itu, laju penyebaran virus ini bisa sedikit dieliminasi.

Nufransa Wira Sakti, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak di laman kompas.com menyebut bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2020. Angka pertumbuhannya terjun bebas jika dibanding kuartal 4 tahun 2019, dari 4,97 turun ke 2,97. Jika tren terjun bebas ini terus berlanjut, maka tentu akan semakin menyulitkan di masa datang. Sejak Maret hingga saat ini, bisa dipastikan ada kemandegan dari roda perekonomian kita yang menciptakan ceruk dalam, dari angka 2,97 itu bisa lebih menukik lebih rendah lagi.

Angin segarnya, memasuki bulan Juni Pemerintah sudah mulai membuka beberapa akses penting dalam upaya penormalan kembali. Sarana transportasi dibuka, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sudah dipertimbangkan dibuka kembali dengan mempertimbangkan protokol Covid-19. Tentu kita berharap bahwa, kurva Covid-19 sudah mereda, sesuai analisis dari The Singapore University of Technology and Design yang disebut Nufransa bahwa puncak Covid-19 di Indonesia berada di bulan April 2020. Jika demikian maka masa puncak itu sudah berlalu. Kita tentu sangat berharap, bahwa masa-masa setelah April adalah masa kelaziman baru, yang diharapkan dapat memperbaiki ragam hal yang babak-belur akibat Covid-19.
***
Mas Muliadi seorang pedagang kecil, kehilangan tempat bekerja. Sehari-hari menjual “makanan jadi” di beberapa kantor dan sekolah. Corona menyebabkan kantor ditutup dan sekolah diliburkan. Mas Mul pasrah ditinggal pelanggan dan penghasilan. Pria paruh baya ini tak kehabisan akal, pantang kalah dengan Corona. Dia tetap berjualan berkeliling, dari satu kompleks perumahan ke kompleks yang lain. Masa-masa orang di rumah tentu butuh makan, Mas Mul memilih mendatangi dan menawarkan jualannya. Tak jarang dia menjajakannya lewat media sosial, walau pengetahuannya terbatas. Mas Mul tak menyerah. Membekali diri dengan masker, Mas Mul menyambangi banyak tempat. Sehari dia berjualan dua kali, pagi dan sore. Dia mengaku pendapatnnya justru meningkat di masa pandemi,

Beda cerita dengan Pung Fitrah. Seorang sopir antar kabupaten yang mengaku penghasilannya banyak tergerus di masa pandemi. Agar dapur tetap mengepul, Pung Fitra tetap memilih keluar rumah, mengemudikan mobil angkutan agar tetap mendapatkan penghasilan untuk makan keluarganya.

“Jarang orang mau keluar sekarang, tapi banyak yang mau kirim-kirim barang. Jadi barang lagi yang dimuat!” Kata Puang Fitra dengan logat Bugis Makassar yang khas kala bertemu saat mengantar barang kiriman dari seorang kawan.

Ada lagi, cerita tentang Maci Upa, yang memilih memutar otak mengamankan agar dapurnya tetap mengepul. Perempuan janda ini membuat panganan setiap pagi dan sore. Momen puasa kemarin dia berjualan sore hingga malam dibantu oleh anaknya yang baru menikah.

“Semua orang takut. Tapi takut saja tidak cukup. Kita butuh makan, berharap bantuan pemerintah jelas kurang. Ya, mau tidak mau harus jualan. Semua saya suruh jualan daripada hanya tidur. Alhamdulillah hasilnya lumayan.”

Maci Upa memang agak diuntungkan, hanya dia satu-satunya penjualan panganan di tempat tinggalnya yang membatasi akses masuk. Di rumahnya, di pinggiran pantai di Kab. Polewali Mandar Maci Upa menggelorakan perlawanan. Seolah ia hendak mengaminkan tentang adagium: pertahanan paling baik adalah menyerang. Musuh kali ini terbilang tangguh, karena menyerang tanpa terlihat. Memilih berpangku tangan bukan pilihan tepat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, Maci memilih caranya dengan melihat sedikit peluang. Jika harus kalah, jangan terlalu telak. Minimal dengan menunjukkan usaha bahwa pintu rezeki tidak berakhir dengan pandemi.

Sepertinya, pandemi Covid-19 datang untuk memaksa manusia melakukan penyesuaian. Ada banyak hal yang akhirnya berubah dengan Corona. Meski gerak terbatas tapi terbukti orang bisa tetap berinteraksi dengan bantuan teknologi. Efisiensi terjadi, birokrasi dipaksa berbenah dan kita sebagai entitas manusia berusaha memikirkan cara lain untuk menjaga eksistensi. Bahwa manusia dan pergulatannya melawan wabah bukan kali ini saja terjadi. Di masa lalu ada banyak kematian yang disebabkan oleh wabah, kali ini jangan sampai kecolongan lagi. Kebijakan dikeluarkan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darahnya kita sebagai bangsa dan negara, harus menang melawan Corona.

Memang, di sisi lain, bahkan sebelum Covid-19 mendera, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sudah terjadi. Resesi ekonomi sudah dimulai, sejak bergulirnya perang dagang Amerika-Cina, Indonesia mendapat imbas yang tidak menguntungkan dari semua itu. Ditambah mewabahnya Covid-19 justru memperparah keadaan. PHK kembali bergulir dan gelombangnya makin besar. Banyak yang terjatuh akhirnya tertimpa tangga. Pilihan makin sulit dan terbatas, resiko paling berat, nyawa jadi taruhan.

Bahwa pada periode kuartal kedua April-Juni, Indonesia tentu tak terlalu berharap banyak. Ini masa-masa sulit. Tentu diperlukan pertimbangan yang matang agar perlambatan ekonomi tidak terjadi terlalu lama. Sebab, bisa dipastikan pihak yang paling rentan adalah masyarakat menengah ke bawah. Meninjau rentetan kebijakan yang berimbas pada kelompok rentan ini perlu dilakukan. Termasuk menunda diberlakukannya kenaikan tarif dan menekan kenaikan harga-harga. Jika itu terjadi, merosotnya daya beli masyarakat bisa sedikit terbantu dengan hadirnya pemerintah dengan kebijakannya yang berpihak. Itu berarti, dapur masih bisa mengepul meski dengan kepulan yang sayu.

Kita bersyukur sebab, ragam spekulasi horor tentang Corona yang menyerang Indonesia tidak terbukti. Politico, media asal Amerika dalam risetnya terhadap 30 negara berkaitan dengan penanganan Covid-19 dari segi kinerja kesehatan dan ekonomi, seperti yang dikutip cnnindonesia.com, walau Indonesia termasuk kacau dalam hal penanganan pandemi ini, tapi diprediksi bisa keluar dari resesi. Hal ini dikuatkan oleh Fithra Faisal Hastiadi Ekonom Universitas Indonesia dan dikuatkan oleh Pieter Abdullah dari Center of Reform on Economicsangin sega (CORE) masih dari sumber CNN Indonesia. Artinya kita masih bisa bertahan meski terlihat kewalahan dan ngos-ngosan. Ini tentu angin segar di tengah limbungnya beberapa negara maju karena Covid-19, termasuk Amerika.
***
https://www.cnbcindonesia.com

Adakah badai pasti berlalu?

Di beberapa keadaan, terbukti ada yang bertahan dan ada yang kalah. Masa-masa sulit membutuhkan penyesuaian ekstra-cepat dan menuntut manusia menjadi pembelajar aktif supersonik. Lambat bisa jadi berarti tertinggal dan kalah!? Apakah itu sepenuhnya benar? Mari melirik kehidupan nelayan yang saya sambangi tempo hari, berdekatan dengan kediaman Maci Upa penjual panganan itu. Para praktisi digital bisa saja menyebut bahwa Covid-19 telah mempercepat laju revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bekerja. Hanya saja itu berlaku bagi sebagian kalangan yang dihantui ragam teror tentang Corona.

“Tidak ada Corona di sini! Jadi santaimaki Nak!”

Ucap Maci Upa kemudian dengan memamerkan giginya disertai suara gelak tawa. Di kediaman Maci, orang-orang tetap pergi melaut dan masih bebas saling mengunjungi. Rumah ibadah masih tetap dibuka dan orang tetap lalu-lalang datang dan pergi. Benar, ada pembatasan hanya bagi orang-orang yang datang.

Tampaknya, masyarakat kalangan menengah ke bawah ini sudah sangat terbiasa dengan beragam ancaman. Covid-19 adalah horor, tapi ada yang lebih menakutkan dari sekadar Corona, yaitu matinya api di dapur-dapur mereka. Maka jangan heran jika, di tengah seruan untuk pembatasan aktivitas berkaitan dengan pandemi kalangan ini masih saja aktif dan wara-wiri mendatangi perkumpulan manusia. Mereka santai ke pasar, menggelar jualan, menarik pembeli. Jika ditanya kenapa begitu? Mereka akan menjawab: kami lebih takut tidak makan.

Agar dapur tetap mengepul di tengah kepungan pandemi, perlu untuk melihat celah yang bisa digunakan dalam rangka membalikkan keadaan. Saya rasa, pemerintah telah melihat celah itu, bahkan jauh hari sebelumnya, para pengusaha mendesak agar pembatasan segera diakhiri. Para pengusaha sudah tidak kuat, bayang-bayang kebangkrutan mengancam di depan mata.

Lembaran “New Normal” sudah tersiar ke mana-mana. Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) yang menyiarkan lembaran ‘New Normal” itu sebagai tafsir dari pernyataan Presiden Jokowi tentang: bersahabat dengan Corona. Maksud Presiden sepertinya bisa dijelaskan dari deretan peribahasa bugis: Itau i’ balimmu ekke seddi si esso, iyanekkia itau i sibawammu ekke sisabbu si essoe. Artinya, kita perlu menanamkan kewaspadaan seribu kali kepada kawan atau sahabat dibanding kepada musuh. Kepada musuh kita cukup waspada sekali dalam sehari.

Bahwa yang berpeluang menjadi musuh dalam selimut dan menggunting dalam lipatan itu adalah kawan atau sahabat. Bersahabat bagi Presiden adalah berkawan dengan menerapkan seribu kewaspadaan. Ke depan Covid-19 tidak akan lenyap dan semoga vaksinnya lekas ditemukan. Kita tidak ingin menangisi keadaan dan merutuki kondisi tapi mempersiapkan mental untuk kelaziman baru yang disebut “New Normal” tampak semuah keniscayaan. Ucapkan “Selamat Datang!” (*)
Simak Juga:
Cerpen: Bara Ibu

Cerpen: Bara Ibu


Genggam Bara Api

SultanSulaiman.Id, Setiap pukul 05.00 pagi, ibu terjaga. Gelap masih tergantung di cakrawala. Kantuk memelukmu, erat sekali. Tapi bangunnya ibu pertanda jika hari akan lekas bergegas. Keriuhan dan kesibukan, plus teriakan menggema. Kau tak kuasa meringkuk, tak bisa memanjangkan tidur, tak kuat memanjakan mata yang masih ingin terpejam. Jika itu kau lakukan, berarti cari masalah. Cari masalah dengan ibu di pagi buta berarti merintis jalan ke neraka. Sangat mengerikan.


“Kak…Bangun! Salat, mandi, entar lagi mobil jemputan tiba!”

Kalimat itu selalu kau dengar setiap pagi. Sampai jelas, segala lekuk intonasinya telah kau pahami di luar kepala. Ah! Kau masih ingin memeluk guling. Melampiaskan rasa kantuk yang menyerangmu.

“Kaaak…! Banguunnn….!”

Kali ini suara ibu terdengar mengerikan, serupa singa betina siaga menerkam mangsa. Kau sudah bisa membayangkan raut muka pemilik suara itu. Melanjutkan tidur bukan pilihan tepat. Jika kau lakukan, tentu jadi bulan-bulanan. Kau akan ditertawakan sang fajar yang sebentar lagi terbit. Ah pagi penuh nelangsa. Muntahan amarah ibu pagi ini pembukaan yang tragis.

“Iya Ibu…!”

Kau melangkah. Tentu masih malas. Tatapanmu redup, belum menguasai suasana. Langkah kaki berat yang jelas amat dipaksakan. Di dalam hati, kau mengutuk. Kenapa harus ada makhluk bernama ibu? Bagimu, ibu adalah sumber kekacauan setiap hari.

“Eh…Eh…Masih berdiri. Sana cepat…!!!”

Kali ini kesadaranmu pulih. Tatapan matamu seketika benderang. Kakimu melangkah cepat. Bayangan dinginnya air kamar mandi kini sirna. Di kepalamu hanya ada wajah ibu penuh taring.

“Sikat gigi jangan lupa…! Malu kalo mulutmu bau… Mandi jangan lama-lama…!”

Ibu lagi. Kau membayangkan di dalam tubuh bernama “ibu” ada pabrik yang terus berjalan. Pabrik kata-kata. Membuat ibu tak pernah kehabisan kata-kata. Pabrik itu yang membuat ibu selalu mengoceh. Ocehan yang membuat telingamu perlahan menebal. Lalu menganggap ocehan ibu serupa angin lalu, walau lebih sering membadai.

Kau abai dengan ocehan itu. Air di kamar mandi membuatmu selalu tergoda berlama-lama. Apalagi, dari saku celana kau sudah menyiapkan lego. Sudah kegemaranmu, mandi, bermain air bersama lego. Membuat kamar mandi semacam pelampiasan rindumu pada kolam renang atau laut.

“Kaaaaak….Kakak….!”

Melengking lagi suara ibu. Kau bergegas. Lengkingan itu alamat, jika tak digubris maka ibu akan muncul secepat kilat di depan pintu kamar mandi. Kau tergesa.

“Ah….Selesai!” Lirihmu

“Ibu…Handuk…!” Kau balas berteriak. Tapi itu jelas keliru karena…

“Itu kebiasaan. Mandi ga bawa handuk. Eh, kamu ini sudah besar. Masih mau diurus-urus. Harusnya kamu malu sama adik-adikmu…!” Rentetan kata-kata ibu.

Kau sudah menduga jawaban sederas apa yang dimuntahkan ibu. Akhirnya menyesal bukan? Perkara handuk telah melebar ke mana-mana. Kau berdiri mematung dalam kondisi kuyup. Lalu pikiranmu terbang. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah.

“Eh…Eeeee…! Masih berdiri di situ, belum salat kamu. Sudah hampir datang mobil jemputan! Belum sarapan, bisa telat loh ya!”

Ibu berhasil membuatmu menginjak bumi lagi. Ah ibu, bukannya langsung ambilin handuk ini malah ngoceh aja…!

Kau melihat sosok ayah hanya bisa tersenyum. Ah Ayah, belain kek. Tapi kau sepertinya tahu. Tak ada yang bisa membantah ibu. Termasuk ayah! Lalu, meski amarah ibu sudah tumpah sepagi ini, adik-adikmu tetap tidur, pulas sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Kau sepertinya ingin kembali ke masa sebelum sekolah. Seperti adik-adikmu
***
Pulang sekolah. Kau sedang merencanakan kekacauan itu lagi. Melepas sepatu semaunya. Masuk rumah sesukanya. Menaruh tas sembarang dan melepas pakaian sekolah secara brutal. Kau sedang ingin memancing amarah ibu agar siang itu tak perlu ada tidur siang. Amarah ibu bisa jadi alasan kau lekas hengkang. Berkunjung ke rumah temanmu, membawa serta lego, main sepuasnya hingga sore tiba.

Hening!

Kau mulai bertanya ibu ke mana. Tapi pagar dan rumah tak terkunci. Tak mungkin tak ada orang. Tapi ibu benar-benar tak ada. Keramaian adik-adikmu juga sirna. Ada apa, kau lagi-lagi bertanya.

“Oh sudah pulang?”

Kau terkejut dengan suara ayah dari balik pintu.

“Ayo berpakaian. Ikut ayah ke kantor!”

Kau makin penasaran. Namun lekas terjawab saat ayahmu kembali bertutur.

“Ibu, Abang, dan Lena harus jenguk Bapu!”

“Ke Gorontalo?” Selamu penasaran

“Iya…Kalau ga ke sana ke mana lagi?”

Tiba-tiba ada mendung yang hinggap di matamu. Kenapa ibu ga tunggu aku pulang sekolah dulu baru pergi? Apakah saking marahnya ibu?

“Ibu buru-buru. jika harus menunggu Kakak pulang sekolah, akan ketinggalan pesawat!”

Sepertinya ayahmu tahu sangka yang tumbuh di dadamu. Namun begitu, kau melayangkan prasangka baru. Ibu tidak sayang padaku!
***
Malam berlalu tanpa ibu. Hari belum berganti. Detik ke menit serasa hitungan ratusan hari. Kau lebih sering bertanya dalam hati. Sembari merutuki rasa kehilangan yang amat tiba-tiba. Bukankah bisa menghubungi ibu dengan panggilan video? Urung kau lakukan. Tepatnya enggan karena kau tak ingin jika ibu tahu pasal rindu. Kau tak ingin membocorkan perihal di balik kebandelanmu itu ada rapuh bersemayam di ragamu. Rapuh yang hanya bisa diusir oleh makhluk bernama ibu. Meski begitu, ibu selalu tahu. Akan selalu tahu.

Panggilan masuk di ponsel ayah. Saat melihat nama ibu di sana, kau melonjak. Kau buru-buru mengangkat.

“Halo…Ibu kapan pulang?” Kau tergesa menyerang Ibu bahkan sebelum ia mengucapkan salam.

“Ayah di mana Kak?” Suara ibu lembut.

Kau buru-buru mencari ayah. Lalu menyerahkan ponsel panggilan dari ibu. Ayah berhenti dari urusan dapurnya. Terlihat ayah terlibat pembicaraan serius. Tumben ibu tidak video call?

“Kak…! Ini ibu mau bicara!”

Ayah menyerahkan ponselnya kepadamu. Suara ibu mengalun lembut, menyampaikan beberapa petuah yang telah kau khatamkan sejak lama. Ibu meski jauh, tapi kehadirannya tetap terasa. Ibu juga berkabar jika kepergiannya mendadak, seperti yang disampaikan ayah kepadamu. Kamu berusaha maklum.

“Kenapa nda video call Bu?” kamu menggugat.

“Di sini jaringan jelek Nak!” Jawab ibu. Lalu melanjutkan pesan-pesan panjangnya tentang apa yang harus kau lakukan bersama ayah, selama ibu tidak ada. Tak lupa ibu berucap, kepergiannya bakal lama. Bapu sakit parah. Ada yang tampaknya akan tumpah dari balik kelopakmu. Setengah mati kau menahannya, namun ia menyembul hangat. Kau menangis. Berusaha kau sembunyikan dari ayah, tapi tak bisa. Ayah melihatmu, seraya menggoda. Kau makin berkabung.
***
Pagi yang damai. Tak ada kegaduhan seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, kau otomatis bisa terbangun. Bisa melakukan segala instruksi ibu secara tepat. Tak ada amarah, tak ada keributan, namun tingkahmu seperti disulap. Kau melakukan perintah ibu cekatan, meski ia tidak di rumah. Kau merasa aneh saja.

Setiap rumah butuh ibu. Itu kau simpulkan sejak melihat ayah yang wara-wiri di dapur namun belum terlalu sukses mengeksekusi apapun sesuai gubahan tangan ibu. Itu bahasa lebih halus sebenarnya. Bahasa kasarnya: gagal total. Tapi tetap saja, yang tersaji di meja makan berusaha kau nikmati. Terpaksa. Lalu kau akan mengucap syukur jika jemputan tiba. Itu berarti siksaan di meja makan berakhir. Kau pamit, menuju jemputan yang akan membawamu ke sekolah. Ayah berdiri di depan rumah, melepasmu dengan senyum yang selalu rekah.

Di atas mobil jemputan, kau menikmati canda, tawa, dan kata-kata yang berbenturan di udara dengan bisu. Udara pagi masih sangat dingin. Kau menahan gigil di balik jaket yang kau kenakan. Sepanjang jalan menuju sekolah, ingatan memaksamu menghadirkan wajah ibu. Ada yang mulai menyusup di balik dadamu. Merembes hingga begitu dalam, memaksa hatimu berucap lirih: ibu aku rindu.

Sesampainya di sekolah, keriuhan menguar di mana-mana. Anak-anak saling berkejaran, segala tingkah tumpah merayakan masa bersekolah. Kau melangkah gontai, beranjak menuju kelas. Memang tak biasa, kau dihinggapi rasa kehilangan yang menjadi-jadi. Ah! Betapa kepergian ibu benar-benar telah membawa suasana riangmu. Kau melepas tas dan duduk beku sendirian di kelas hingga bel masuk berbunyi.

Jam pertama akan diisi Pak Umar. Guru Agama sepuh itu membawamu menjejaki pelajaran berbakti kepada orang tua. Kenapa harus tentang itu sih? Pak Umar tentu tak mendengar protes batinmu. Dia terus membahanakan suara. Mengajakmu berkenalan dengan beberapa sosok di masa lalu yang menunjukkan bakti terbaiknya kepada orang tua. Terutama ibu, diperkenalkan sosok Uwais Al-Qarni yang memanggul ibunya menuju tanah suci. Berpeluh ia dan melepuh punggungnya, namun tetap tak sebanding sebagai balas budi. Kau jatuh dalam ingatan yang panjang, lalu sosok ibu kembali hadir di hadapanmu. Untungnya pelajaran lekas berlalu, berganti dengan kehadiran guru muda yang memesona: Ibu Yusmira.

Jika setiap pelajaran Bu Yusmira kau antusias, kali ini tidak. Kau kehilangan selera, seperti raibnya nafsu makan. Bu Yusmira menyampaikan pengajaran dengan gayanya yang khas.

“El…Bisa diulangi apa yang barusan ibu jelaskan?!” Ibu Yusmira sepertinya menguji konsentrasimu.

“Ya Bu…?!” Kau terkejut.

Ada jeda lama. Kau berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin Aini bisa bantu?!”

Bu Yusmira sudah paham kondsimu. Ia melempar kesempatan. Seketika kelas riuh. Aini, nama itu sering dilekatkan padamu. Beberapa temanmu yang jahil bahkan telah menjodohkan kalian berdua. Meski, kau jelas menolak, tidak terima sebab bagimu itu memalukan. Maksudnya, memalukan bagi naka-anak seusiamu yang sudah main jodoh-jodohan.

Ibu Yus jelas paham, ada sesuatu yang berkejaran di benakmu. Seorang guru bisa dengan mudah menerka isi kepada muridnya, hanya dengan memperhatikan gerik. Kau tak bisa bersembunyi.

Jam pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Enggan dan malas. Seseorang mendekat.

“El…Yuk ke kantin…” Aini mengajak. Ajakan yang memelas.

“Nggak ah…Kamu duluan aja!” Kau menolak.

“Ayo…!”

Aini kini menarik tanganmu. Tapi buru-buru kau tepis. Kali ini kau benar-benar tak ingin memenuhi ajakan siapa pun, termasuk Aini.

“Cie…Ada yang lagi marahan nih ye…!”

Tiba-tiba suara Abi menggoda. Si bocah jahil itu nampak berulah.

“Atau jangan-jangan sudah cerai ya…?”

Bocah tengik itu makin menyebalkan. Tak butuh waktu lama, kau merangsek maju, hendak menggapai Abi yang sempurna meledekmu. Keributan di ruang kelas. Anak-anak lain bersorak. Aini mencoba menahanmu. Ibu Yusmira yang sudah beranjak menjauh kini mendekat lagi. Keributan itu tak berlangsung lama karena kehadiran Bu Yus. Wajahmu sempurna berubah warna. Mirip warna nasi goreng khas Makassar: Nasi Goreng Merah.

Kau digelandang Ibu Yusmira bersama Abi ke ruangannya. Di sana, kalian berdua mendapat petuah. Guru berhati teduh itu mengulik beberapa hal terkait keributan itu. Kau menjelaskan. Abi membela diri. Ibu Yus menengahi. Perbincangan itu menemui akhir. Titik damai disepakati. Ada perjanjian yang terikrar antara kau dan Abi. Masing-masing berjanji akan lebih memperhatikan sikap dan belajar lebih giat mengendalikan amarah. Kalian bersalaman disaksikan Bu Yus.

Abi berlalu lebih dulu, kau hendak menyusul tapi masih diminta bertahan.

“El…Sebenarnya kamu kenapa? Tadi ibu perhatikan kamu sepertinya ada masalah ya?” serang Bu Yus.

Serangan yang kau balas gelengan lalu buru-buru beranjak setelah pamit secara paksa. Sebenarnya, Ibu Yus masih ingin mengomongkan sesuatu. Tapi ia mengerti, kau tak ingin diganggu kali ini.
***
Kabar keributan itu sampai juga di telinga ibu. Di Negeri Serambi Madinah, saat sedang sibuk mengurus keperluan bapu: kakek, Ibu Yus mengabarkan kejadian di sekolah. Ibumu terlihat menahan sesuatu. Lekas ia menghubungi ayahmu dan membeberkan kejadian sekolah itu. Ayah, seperti biasa selalu tampak tenang dengan segala jenis cuaca.

Di rumah, ayah mendapatimu tak seperti biasa. Saat diajak ke kantor pun, kau tak berselera. Kau tentu sudah tahu, ayahmu pasti akan mengulik masalah di sekolah. Hanya, ayah menahan diri. Ayah membiarkanmu yang memang ingin sendiri. Momen istirahat siang itu membuat ayah tak lagi balik ke kantor. Lelaki itu ingin menemanimu, melewati masa sunyi yang ingin kau akrabi. Kalian akhirnya jatuh tertidur, hingga senja muncul di balik cakrawala.

Ponsel berdering. Panggilan dari ibu. Ayah terbangun dengan bunyi nada dering yang makin nyaring. Sepertinya ada yang genting.

“Yah…! Suara ibu berat! Bapu Yah!”

Suara ibu yang terbata-bata telah membuat ayah mengerti. Ayah bergegas membangunkanmu. Menyuruhmu berbenah, cuci muka, lalu menyalin pakaian seadanya. Kalian tergesa mencari tumpangan menuju Makassar. Ada sesuatu yang harus lekas ditunaikan.

“Yah…Ada apa? Kita mau kemana? Ibu kenapa yah?”

Rentetan pertanyaan kau hamburkan. Ayah masih mencoba mengatur irama napasnya, hingga telepon genggamnya kembali berdering. Panggilan dari ibu lagi.

“Ayah sama El sudah di jalan. Acara persemayamannya kapan?”

Dari ptongan pembicaraan itu, kau tentu sudah bisa menyimpulkan.

“El…Bapu meninggal!” Ucapan ayah lirih kemudian.

Ingatanmu tentang bapu kembali melayang. Sesosok ringkih yang selalu baik. Memberikan uang jajan tanpa diminta dan juga sepeda baru hadiah ulang tahunmu kala itu. Rasanya, baru sekejab kau sekeluarga meninggalkan Gorontalo, kini takdir membawamu kembali beserta suasana berkabung itu.
***
Suasana berkabung sudah tertinggal agak jauh. Luka selalu butuh jarak agar kelak bisa dilupakan. Bukan dilupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Kau masih bisa melukis sosok ibu saat hari berkabung itu. Kau menderma rasa iba. Ibu yang sejak kecilnya telah piatu, kini sempurna statusnya menjadi yatim piatu. Hanya kau, ayah, dan kedua adikmu yang menjadi keluarga terdekat ibu sekarang.

Sebenarnya, beberapa pekan sepeninggalan bapu, kau sekeluarga harusnya sudah meninggalkan Negeri Serambi Madinah. Tapi kabar telah meneror di mana-mana. Sedang ada pandemik. Kau akhirnya sedikit memahami, kabar-kabar mengerikan tersiar. Akses vital mulai diketatkan. Pergerakan manusia terbatas. Memilih pulang atau bepergian di tengah merebaknya wabah jelas sangat berisiko. Apalagi, dua adikmu masih balita, tentu sangat rentan.

Di banyak tempat, sekolah sudah diliburkan. Sekolahmu juga, itu kau tahu karena beberapa orang menghubungimu, termasuk Bu Yus dan seorang yang sulit lepas dari ingatnmu: Aini. Tempo hari, gadis manis itu menelepon, berkabar seadanya dan menanyakan kabarmu. Kau tentu tersanjung dan ayah usil menggodamu,

Makin ke sini, pandemi makin menakutkan. Pembatasan gerak manusia sudah dilakukan. Kebijakan agar semua orang berdiam diri di rumah berlaku. Atas dasar itulah ibu memproteksimu sangat ketat. Ada aturan-aturan baru yang mulai berlaku.

“Kalau masuk rumah cuci kaki, cuci tangan, pakai sabun!”

“Ke luar rumah pakai masker!”

“Adik-adikmu jangan dibawa ke mana-mana. Sekarang rawan, virus korona ada di mana-mana!”

Ada banyak lagi jejalan aturan yang sering diulang-ulangi ibu. Sama persis dengan petunjuk pencegahan Covid-19 yang disebar pemerintah. Bahkan ibu bisa menjelaskan seluruh istilah terkait pandemi di luar kepala. ODP, PDP, Covid-19, dan banyak lagi istilah yang sudah dikhatamkan ibu. Di matamu, ibu bahkan lebih mahir menjelaskan dari Ketua Tim Satuan Tugas Covid-19 mana pun. Ditambah dengan angka-angka jumlah korban, dari yang positif, sembuh, dan meninggal. Bukan hanya itu, informasi kasus di seluruh dunia ibu tahu. Dahsyat bukan?

Tapi, beberapa kesempatan kau melihat ibu amat berlebihan. Sikap itu makin nampak, setelah ibu tahu kabar soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mendera ayahmu. Apakah itu berarti kalian akan mendekam di Gorontalo lebih lama? Entahlah! Berita PHK ayah alamat duka di benak ibu, dan keluargamu.

‘Sudah dibilangin kalau ke luar pake masker. Ini malah bawa adik-adiknya lagi!” Sungut ibu dengan wajah yang selalu sangar.

“Kamu tidak takut korona?” Tambah ibu dengan wajah yang jauh lebih menggidikkan.

“Itu…Sudah dibilangin kalau masuk rumah cuci tangan, cuci kaki, pake sabun. Ini…Kakak…cuci tangan…!” Lengkingan nyaris lima oktaf. Hampir memecah rekor suara Mariah Carey.

Kau bergegas mengikuti instruksi ibu, lalu berlalu, masuk ke kamar dan mengunci diri. Di sudut lain kau dapati ayah menerawang. Baru kali ini ayah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tetap saja berlalu. Di kamar, ada bayang berkelebat, sesungging senyum milik gadis rambut ekor kuda. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah. Tiba-tiba kau rindu sekolah.(*)
Simak juga:
Mampus Kau Dikoyak Sepi di Hari Raya

Mampus Kau Dikoyak Sepi di Hari Raya

https://konfirmasitimes.com
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
(Sia-sia, Chairil Anwar Februari 1943)

sultansulaiman.id, Idulfitri kali ini, tak ada perayaan di rumah. Tak ada kesibukan di dapur seperti Hari Raya sebelumnya. Burasa, nasu manu, nasu likkua, dan ragam varian hidangan hari raya khas bugis masih bisa dinikmati. Beruntung punya kerabat yang dengan murah hati memasok segala jenis makanan itu.

“Yah, apa tidak digelar di tikar, seperti tetangga sebelah?”

“Buat apa? Kalau makan sisa ambil saja di meja! Kita juga bakalan tidak terima tamu. Pagar dan pintu dikunci!”
PNS di Masa Pandemi, Amankah?

PNS di Masa Pandemi, Amankah?

Dok. Pribadi. Pelantikan Pejabat Struktural 16 Maret 2018
sultansulaiman.id, Kita tinggalkan sejanak perbincangan Drama Korea yang gegap-gempita itu. Saat ini mari meneropong satu satu profesi hit: PNS. Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau berubah nama Aparat Sipil Negara (ASN) menurut undang-undang terbaru, satu dari sekian banyak profesi yang penuh kontroversi. Pergunjingan tentang profesi ini setajam silet, segemuruh ombak di lautan, bahkan seriuh angin membadai. Mau ditambah lagi? Segelegar petir dan sesilau kilat di langit yang gerimis.
Begitulah, pandemi telah menumbangkan banyak profesi, di masa-masa sekarang ini, kita akan mudah menemukan kawan setanah air yang kehilangan harapan, raib pekerjaan sirna penghasilan. Banyak yang jatuh, terkapar, tidak berdaya.
Mengomentari Reaksi Peduli, Emoticon Baru Facebook

Mengomentari Reaksi Peduli, Emoticon Baru Facebook

sultansulaiman.id, Saya sudah menggunakan reaksi peduli facebook sejak resmi diluncurkan: Bagaimana dengan Anda para facebookers? Wajah memeluk hati: emoticon baru ini hadir dalam suasana pandemi sekarang, maksudnya agar kita bisa saling peduli. Ya! Semua tentu merasakan kesedihan, betapa hari-hari kita tak lagi sama. Akhir-akhir ini, kita akan lebih banyak menemukan wajah penuh luka. Tatapan kosong melompong. Covid-19 telah merebut kehidupan normal kita.

Hikmahnya, biarkan bumi beristirahat sementara. Lalu kita semua, berbenah, dengan membenamkan diri, mengintimkan jiwa raga dengan orang-orang terkasih. Orang yang begitu dekat namun sering dilupakan. Ayah, ibu, suami, istri, saudara, anak, paman, tante, sepupu, semua jalinan dekat yang dulunya renggang, disatukan lagi. Agar kita bisa memupuk kepedulian dari lingkungan paling dekat itu: keluarga. Kalau pun tak bisa bersama, biarkan hati bertaut kembali. Jauh dekat itu bukan soalan jarak, tapi seberapa lengket hati kita satu sama lain.