Ruang Kosong di Hati Bapak

Ruang Kosong di Hati Bapak

dok. pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Rabu pekan kemarin, bapak dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya melemah setelah lima hari sebelumnya dirawat. Mendapat kabar itu, perasaan menjadi tak karuan. Ada banyak bayangan pekat berkelebat. Saya mengontak Pimpinan, izin pulang lebih awal.

Setelah menyiapkan segala keperluan, saya, istri, dan anak-anak menumpang becak motor mencari angkutan. Tak butuh lama, angkutan membawa kami menuju Parepare.

Gerimis turun, membasahi Tanah Mandar, mini bus meliuk membelah rintik hujan itu. Drama sudah terjadi sejak tadi. Abang, anak kedua kami mabuk angkutan. Saat menaiki becak motor, dia sudah muntah duluan. Di mobil, mabuknya tambah parah. Untung, ibunya sudah menyiapkan kantong plastik, jadi bisa leluasa memuntahkan isi perutnya. Gerimis berubah hujan deras, mau tidak mau kaca mobil ditutup rapat. Abang berontak dan muntahnya menjadi-jadi.

Memasuki perbatasan antara provinsi, dari Pinrang ke Parepare, hanya butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam, sudah dengan waktu rehat di perjalanan. Kami tiba di Parepare, jelang sore. Tak ada senja sebab hujan masih awet mengguyur kota.

Kedatangan kami mengagetkan, memang tak ada kabar kepulangan. Hanya, berita bapak kembali ke RS jelas mengkhawatirkan. Pulang pilihan terbaik sebagai hadiah, agar di tengah rasa sakitnya, bapak masih bisa mengulum senyum dan tawa, meski itu getir. Ada adik perempuan bersama suaminya di rumah, Nenek Ambo (Bapaknya mama), dan keponakan kami.

Saya bertemu bapak saat malam, membawakan air doa dari Nenek Ambo. Saya bertukar jaga dengan adik. Malam itu, saya menemani mama menunggui bapak di rumah sakit. Pertemuan meluruhkan rindu, setelah terbentang jarak amat jauh karena pandemi. Lebaran kemarin, kami hanya bisa merayakannya sambil bercakap virtual. Bapak berkisah, saya menjadi pendengar setia. Ada setitik bening menyembul di sudut matanya. Cerita tentang perawatan sepekan lalu.

“Sesak napasnya, jd harus dibawa lagi ke Rumah Sakit Nak!”

“Waktu itu, bapak mengira sudah waktunya…!”

Seperti yang dikatakan Mama, saat perawat itu bapak menghabiskan empat tabung (besar) oksigen: sebagai bantuan pernapasan. Sebenarnya, bapak masih butuh perawatan kala itu, tapi ada instruksi agar segera keluar. Menurut keterangan dokter, pasien sudah bisa pulang. Walau enggan, bapak menurut saja. Hanya lima hari di rumah, bapak kembali dirawat. Tak bisa mengasup makanan sama sekali, muntah berulangkali. Kondisi fisik makin lemah. Mama menerakan segalanya penuh khawatir.

“Ada sesuatu yang lain dialami bapak!”Kata Mama kemudian.

Sesuatu itu diceritakan Mama. Tentang malam-malam ganjil di rumah. Sosok aneh yang datang membawa teror.

“Apa itu Ma?” Saya mempertegas.

“Entahlah…Serangan dari luar…!” Mama berucap samar.

Mama melanjutkan kisahnya. Jika sosok-sosok itu datang, bapak diliputi takut. Mama hanya bisa merapal doa-doa panjang, menggemakan ayat-ayat Quran, sembari menenangkan bapak sambil menekan rasa takut yang juga dialaminya.

***

Malam merambat pelan, tapi mata bapak belum juga terpejam. Beberapa kali bapak mencoba tidur, berulang-ulang pula gagal. Hingga malam menemui dini hari. Saya menghitung, lima kali bapak meminta dibangunkan, mengambil posisi duduk, dan mengatur posisi paling nyaman, atau meminta bantuan karena hendak buang air kecil. Bapak masih saja gagal terpejam. Ada gelisah yang menerkam bapak. Dua kali bapak meminta dipapah ke toilet, mengambil wudhu dan kembali ke posisi baringnya. Masih juga gagal. Dua kali bapak meminta saya menghubungi perawat untuk mengecek apa gerangan yang terjadi. Dini hari itu, sambil menahan kantuk, perawat menghampiri bapak.

“Kami hanya menyuntikkan anti mual. Selebihnya tidak ada. Jika harus diberikan obat tidur, jam segini sudah tidak bisa!” Perawat menjelaskan.

“Mungkin karena ruangan terlalu terang…!” Perawat mematikan lampu.

“Atau karena ruangan terlalu padat. Iya terlalu banyak yang di ruangan!” Perawat lebih lanjut. Menyapu pandangan pada siapa saja. Hingga tatapan itu jatuh pada salah satu bangsal.

Di ruang rawat, ada tiga pasien. Salah seorang pasien adalah siswa Latsar Brimob yang baru selesai operasi usus buntu. Ada banyak rekannya yang datang lalu-lalang, bahkan hingga larut. Para pembesuk berseragam tiada henti memenuhi ruangan. Yang menungguinya di ruangan ada lima orang. Jadilah ruang rawat itu benar-benar sesak. Ah! Kadang aturan memang selalu kalah dengan seragam. Padahal, saat datang, saya diminta menunggu, yang diperkenankan menemani pasien hanya dua orang. Tapi sepertinya itu tak berlaku bagi pemilik bangsal itu.

Satu pasien yang lain seorang renta. Baru sekali menjalani hemodialisis. Efek HD sering membuatnya mual, lalu muntah berkali-kali. Jadilah ruang perawatan itu seperti camp pengungsian. Ada banyak penunggu bagi pesakitan yang menderita.

***

Malam makin larut, ada pesan masuk dari paman, saudara bapak. Kabar dari Tanah Lasinrang. Nenek Amma dilarikan ke rumah sakit. Dada saya bergemuruh. Lama nian, tak pernah bertemu nenek. Bapak dua hari lalu, masih sempat bertegur sapa dengan ibunya.

“Illau doangakka Indo…!” Kata bapak.

“Iya Nak…Iya malasa to…!” Balas Nenek Amma.

Perbincangan itu memaksa air mata harus jatuh. Ibu dan anak saling berkirim kabar ketidakberdayaan. Pekat bersama bulir hujan malam itu, menemui dini hari yang dingin. Panggilan telepon masuk di antara gelisah yang memasung bapak. Saya sudah menduga, ini alamat perih.

“Nenek Amma telah pergi Nak!”

Ya. Di Kamis dini hari, pukul 01.42 paman mengabarkan itu. Saya keluar dari ruang perawatan, mencoba memastikan jika yang terkabar hanya igauan. Tidak, nenek telah pergi. Lalu bapak, tepat saat kabar itu disampaikan, akhirnya jatuh tertidur. Pulas sekali! Satu beban berat sepertinya telah lepas dari raganya. Menatap itu, saya berlinang air mata. Terkenang masa-masa bersama Nenek Amma. Bagaimana menyampaikan ke bapak?

Pertanyaan itu menjadi teror baru. Saya menyampaikan kabar kepergian nenek ke saudara. Pertanyaan kemudian masih sama, di antara tangis yang pecah. Bagaimana menyampaikannya ke bapak?

Beberapa kali, saya mondar-mandir dari ruang perawatan ke lorong rumah sakit. Hingga pilihan menepi jauh lebih baik. Saya menunggui mama yang sudah pulas. Sembari terus memantau kondisi bapak.

Sekira pukul 03.00, saya setengah berbisik di telinga mama.

“Ma…Nenek Amma meninggal!” Biskku.

“Astaghfirullah…Innalillahi…Baru bagaimanami ini kasian?” Pertanyaan yang tidak butuh jawaban.

Kami hanya bisa saling tatap. Menenangkan diri dan memikirkan jalan terbaik.

“Kabarkan cepat ke adekmu Nak. Suruh datang cepat-cepat ke rumah sakit!” Mama menginstruksi lalu berlalu mengambil wudu dan menunaikan salat sunah. Saya mencoba menyelami suratan itu dan tetap siaga mengawasi bapak yang masih tertidur.

***

Ada beberapa pilihan pasal bagaimana selanjutnya. Hasil visit bapak baik, tekanan darahnya di angka normal. Kami berusaha tersambung dengan keluarga, memikirkan jalan terbaik. Nenek Amma akan segera dikebumikan. Ada beberapa pilihan:

Pertama: Bapak tetap dirawat di rumah sakit, dan sebagian kami pulang mengikuti persemayaman nenek. Biarkan kondisi bapak benar-benar pulih hingga bisa menerima kenyataan nenek telah tiada.

Atau,

Kedua: Bapak tetap mengikuti hemodialisis tapi dipercepat. Kabar kepergian nenek disampaikan kemudian.

Alternatifnya jatuh pada pilihan kedua. Setelah adik kami berkonsultasi dengan dokter melalui perawat, pilihan kedua itu bisa dijalankan. Awalnya ada rasa was-wasa, tapi kepulangan bapak dari rumah sakit bukan pemulangan paksa. Kondisinya memang memadai.

*)
Saya tiba di rumah duka, saat berjibun pelayat sudah hadir. Rumah dengan gempuran kenangan masa kecil itu menyeret saya menghadirkan wajah teduh Nenek Amma. Beberapa pelayat yang masih keluarga, saya hampiri, menyalami dan meladeni beberapa pertanyaan tentang bapak. Saya melangkah mendaki anak tangga, lalu menghamburkan peluk pada paman dan bibi yang amat berduka.

Saya terus mengecek kondisi bapak yang sedang menjalani cuci darah. Ya, rencananya, kabar kepergian Nenek Amma akan disampaikan usai HD. Mama yang akan menyampaikannya.

“Bagaimana kabar nenekmu? Kenapa Bapak selalu teringat…!” Tanya Bapak

“Iye…Doakan nenek Pak. Tadi malam masuk rumah sakit juga! Sakit dadanya, poso i juga!” Jawab adik saya.

Untungnya pertanyaan bapak hanya sampai di situ. Cuci darah tetap berlangsung, selesai jelang salat duhur. Saat Bapak sudah meninggalkan ruang HD, mama meberanikan diri, mengecek bapak dengan pertanyaan yang diikuti pernyataan,

“Bagaimana mi perasaanta? Baik-baikji kita rasa?” Ucap mama agak lirih.

Bapak mencoba mencerna pertanyaan itu, lalu memberi jawaban. Benar, tensi bapak sejak pagi dan usai HD masih di angka normal. Insyaallah akan lekas pulih.

“Eh sabarki. Pergimi Indo!” Mama melanjutkan…

“Pergi kemana i?” Balas bapak.

Pertanyaan bapak tak lagi menemui jawab, sampai mini bus membawanya menyusuri jalan berbukit, dari kota kelahiran Habibie ke Tanah Lasinrang.

***

Ada haru yang menggelinding saat bapak telah tiba. Sambil dipapah, bapak menaiki anak tangga. Saya menyambut dan mengekor dari belakang. Ratusan pasang mata menyaksikan penuh prihatin. Momen luka itu, kala bapak duduk sejajar dengan kepala Nenek Amma. Ada mama di sampingnya. Bapak menumpahkan seluruh kesedihannya. Mama mengalirkan air matanya. Saya dan hampir semua yang menyaksikan ikut menitikkan air mata. Begitulah…

Prosesi jenazah dimulai, dimandikan, dikafani, lalu disalatkan. Bapak tidak bisa ikut sampai ke kuburan.

***

Setelah kepergian Nenek Amma. Saya banyak memperhatikan bapak. Ada lebam bersulam sesal di hatinya. Dari sejak sakit, rutin cuci darah, lalu pandemi, jarak ibu dan anak menjadi amat jauh. Sesekali, ada pertemuan virtual bapak dengan ibunya, tapi itu tak sebanding dengan perjumpaan yang saling merengkuh. Entah sejak kapan, bapak dan kami sekeluarga akhirnya bisa kembali ke rumah panggung ini. Seingat saya, dulu, hampir setiap akhir pekan, kami akan selalu berkumpul, meluruhkan rindu, bertukar cerita, dan menikmati hidangan-hidangan istimewa di rumah panggung ini. Waktu membuat kami dewasa lalu menumbuhkan rasa enggan bersamaan. Jadilah rumah panggung ini berkarib sepi terlalu lama.

Namun kali ini kembali ramai, setelah duka datang mengetuk pintunya. Bapak, saya masih terus memperhatikan geriknya, lalu tatapan itu…(*)

Simak juga: