Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir

Teror Covid-19 Mengintai WNI Mesir



SultanSulaiman.Id, Helmy Fauzy, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir menyebut kasus Covid-19 di Mesir terus mengalami peningkatan. Sejak dua bulan lalu, ada sekira 17 ribuan warga Mesir yang sudah terinfeksi. Jumlah itu makin melambung sejak Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini. Fauzy membeberkan, dari seluruh total positif saat itu, belum ada satu pun Warga Negara Indonesia (WNI).


Memasuki Juli, data (19/07), angka positif Mesir sudah di posisi 87 ribu dari total 101,49 juta warga Mesir. Dari jumlah yang positif itu, ada 10 orang WNI. Sepuluh orang itu, menurut informasi yang diperoleh dari salah seorang Mahasiswa Indonesia di Mesir diketahui saat hendak mengurus kepulangan ke Indonesia. Karena positif, mereka harus tertahan. Mereka menjalani isolasi mandiri di asramanya masing-masing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Mesir, belum menyiapkan ruang Isolasi khusus bagi WNI positif.

Dari sepuluh, empat orang positif nekat pulang ke Indonesia. Dua orang dinyatakan sembuh, bersisa empat orang lagi yang masih dinyatakan reaktif oleh pihak KBRI.

Bagaimana nasib WNI di tengah terjang badai Covid-19 di Negeri Firaun itu?

Nyatanya, angka empat orang itu sangat meragukan. Mereka yang dinyatakan positif baru diketahui karena hendak pulang ke tanah air. Persyaratan pemeriksaan Covid harus dengan PCR. WNI yang hasil PCRnya positif tak mendapat izin pulang.

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Ada 9.407 WNI di Mesir, 6.896 orang merupakan pelajar/mahasiswa. Karena ketiadaan ruang isolasi mandiri, mereka yang terdeteksi positif tetap tinggal di asramanya masing-masing. Tinggal, tapi tidak berdiam. Kebutuhan harian selalu memaksa mereka keluar asrama, karena bantuan dari pemerintah tidak cukup buat bertahan. Dalam kondisi sakit, lapar, jalan mudahnya keluar asrama, mencari penghiduan. Jika masih ada uang, kebutuhan pokok bisa dibeli, jika tidak tentu akan meminta belas kasih kawan setanah air untuk bertahan hidup. Alasan karena terlalu “sulit” itu yang menjadikan mereka yang harusnya bertahan nekat pulang ke tanah air karena sudah terlanjut beli tiket pesawat.

Ada frase yang berkembang tentang “memfasilitasi” dan menginisiasi wadah “isolasi”. Nyatanya, KBRI dalam Bahasa memfasilitasi itu tetap memungut bayaran untuk pemeriksaan PCR. Salah seorang mahasiswa menyebut angkanya pada kisaran 70 dolar. Jika memilih memeriksakan diri secara mandiri di Rumah Sakit Mesir pungutannya mencapai tiga ripu pound. Bagi mahasiswa tunggal, apalagi yang berkeluarga dengan satu, dua, tiga bahkan lebih anak, itu memberatkan. Belum untuk tiket kepulangan yang juga harus ditanggung sepenuhnya. Dari Mesir ke Jakarta, jika dirupiahkan sekitar Rp. 7 juta per orang. Butuh setidaknya Rp. 13-14 juta untuk tiket pulang-pergi Mesir-Jakarta

Pihak KBRI telah menyalurkan paket bantuan sosial berupa bahan pokok yang nilainya Rp. 300 ribu per orang. Sejauh ini, KBRI sudah dua kali menggelar paket bantuan. Hanya tak semua WNI dapat dari total sembilan ribuan orang sejagat Mesir.
Melalui laman resmi KBRI, ada siaran tentang Menjawab Isu yang Berkembang di Kalangan Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir Mengenai Penanganan COVID-19





KBRI mencoba mengelak dan menggunakan hak jawabnya berkaitan ragam isu yang diserbukan oleh WNI, khususnya mereka yang berstatus sebagai mahasiswa dan pelajar. Ada selentingan suara nyaring tentang: kami butuh makan dan uang, bukan masker. Suara-suara nyaring semacam itu jelas bisa dipahami, hidup di negeri orang dalam kondisi serba tidak pasti akan memancing banyak persoalan yang lebih runyam. Muhammad Rizal Fachriyan, mahasiswa Hukum dan Syariah Al-Ahzar pada laman PPMI Mesir menulis tentang beberapa soalan yang rabun: dana bantuan sosial, alat pelindung diri, dan tempat isolasi WNI yang mestinya bisa dipenuhi oleh KBRI Mesir. Bahkan lebih jauh, M. Rizal menuding pihak KBRI Mesir seolah menyepelekan pandemi Covid-19 yang sudah meneror ribuan WNI Mesir.

Sebagai upaya pencegahan, ada juga pertanyaan tentang: mengapa KBRI tidak melakukan tes PCR gratis kepada seluruh WNI? Seperti yang dilakukan oleh KBRI Iran. Setidaknya hal tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah simpang-siurnya kondisi Mesir paska kudeta Militer beberapa tahun lalu. KBRI Mesir justru beranggapan bahwa yang paling berhak melakukan proteksi dan penanggulangan Covid-19 di Mesir adalah Pemerintah Mesir itu sendiri. Pernyataan seperti itu jelas bentuk abai terhadap tanggung jawab. Masa iya tugas KBRI hanya update status Covid-19 setiap hari? Semetara ribuan WNI Mahasiswa terancam hidupnya akibat asupan makanan minim gizi di tengah kepungan teror pandemi.
Simak Juga: