Mampus Kau Dikoyak Sepi di Hari Raya

Mampus Kau Dikoyak Sepi di Hari Raya

https://konfirmasitimes.com
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
(Sia-sia, Chairil Anwar Februari 1943)

sultansulaiman.id, Idulfitri kali ini, tak ada perayaan di rumah. Tak ada kesibukan di dapur seperti Hari Raya sebelumnya. Burasa, nasu manu, nasu likkua, dan ragam varian hidangan hari raya khas bugis masih bisa dinikmati. Beruntung punya kerabat yang dengan murah hati memasok segala jenis makanan itu.

“Yah, apa tidak digelar di tikar, seperti tetangga sebelah?”

“Buat apa? Kalau makan sisa ambil saja di meja! Kita juga bakalan tidak terima tamu. Pagar dan pintu dikunci!”
Hari Sendu dan Malam Seribu Bulan yang Terlewatkan

Hari Sendu dan Malam Seribu Bulan yang Terlewatkan

https://alfahmu.id/
sultansulaiman.id, Saat tiba di kantor, saya mengontak istri, adakah ia merasakan sesuatu yang beda? Katanya, semalam itu rada aneh, ada yang ganjil, beda dari malam-malam sebelumnya. Sore kemarin, langit mendung, usai magrib hujan turun amat deras, berhenti, lalu hening. Aroma tanah yang baru dibaluri hujan meruak. Tak ada ceracau yang mengacau, serasa ada yeng sedang mentakzimi keadaan. Malam inikah?

Lalu pagi, semburat mentari terhalang awan tipis di langit. Cahayanya sendu, tak menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Tergelarlah beberapa tanda yang diungkapkan para ahli hikmah. Malam seribu bulan jika telah bertandang, akan meninggalkan ragam jejak yang bisa dikenali. Sebiji sesal buncah, mengapa tak merapal doa-doa panjang, tak menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah: baca quran, salat, zikir, sedekah, apa saja kebaikan. Oh, sebiji sesal berubah gumpalan. Kami hamba-hamba yang lalai.