Cerpen: Bara Ibu

Cerpen: Bara Ibu


Genggam Bara Api

SultanSulaiman.Id, Setiap pukul 05.00 pagi, ibu terjaga. Gelap masih tergantung di cakrawala. Kantuk memelukmu, erat sekali. Tapi bangunnya ibu pertanda jika hari akan lekas bergegas. Keriuhan dan kesibukan, plus teriakan menggema. Kau tak kuasa meringkuk, tak bisa memanjangkan tidur, tak kuat memanjakan mata yang masih ingin terpejam. Jika itu kau lakukan, berarti cari masalah. Cari masalah dengan ibu di pagi buta berarti merintis jalan ke neraka. Sangat mengerikan.


“Kak…Bangun! Salat, mandi, entar lagi mobil jemputan tiba!”

Kalimat itu selalu kau dengar setiap pagi. Sampai jelas, segala lekuk intonasinya telah kau pahami di luar kepala. Ah! Kau masih ingin memeluk guling. Melampiaskan rasa kantuk yang menyerangmu.

“Kaaak…! Banguunnn….!”

Kali ini suara ibu terdengar mengerikan, serupa singa betina siaga menerkam mangsa. Kau sudah bisa membayangkan raut muka pemilik suara itu. Melanjutkan tidur bukan pilihan tepat. Jika kau lakukan, tentu jadi bulan-bulanan. Kau akan ditertawakan sang fajar yang sebentar lagi terbit. Ah pagi penuh nelangsa. Muntahan amarah ibu pagi ini pembukaan yang tragis.

“Iya Ibu…!”

Kau melangkah. Tentu masih malas. Tatapanmu redup, belum menguasai suasana. Langkah kaki berat yang jelas amat dipaksakan. Di dalam hati, kau mengutuk. Kenapa harus ada makhluk bernama ibu? Bagimu, ibu adalah sumber kekacauan setiap hari.

“Eh…Eh…Masih berdiri. Sana cepat…!!!”

Kali ini kesadaranmu pulih. Tatapan matamu seketika benderang. Kakimu melangkah cepat. Bayangan dinginnya air kamar mandi kini sirna. Di kepalamu hanya ada wajah ibu penuh taring.

“Sikat gigi jangan lupa…! Malu kalo mulutmu bau… Mandi jangan lama-lama…!”

Ibu lagi. Kau membayangkan di dalam tubuh bernama “ibu” ada pabrik yang terus berjalan. Pabrik kata-kata. Membuat ibu tak pernah kehabisan kata-kata. Pabrik itu yang membuat ibu selalu mengoceh. Ocehan yang membuat telingamu perlahan menebal. Lalu menganggap ocehan ibu serupa angin lalu, walau lebih sering membadai.

Kau abai dengan ocehan itu. Air di kamar mandi membuatmu selalu tergoda berlama-lama. Apalagi, dari saku celana kau sudah menyiapkan lego. Sudah kegemaranmu, mandi, bermain air bersama lego. Membuat kamar mandi semacam pelampiasan rindumu pada kolam renang atau laut.

“Kaaaaak….Kakak….!”

Melengking lagi suara ibu. Kau bergegas. Lengkingan itu alamat, jika tak digubris maka ibu akan muncul secepat kilat di depan pintu kamar mandi. Kau tergesa.

“Ah….Selesai!” Lirihmu

“Ibu…Handuk…!” Kau balas berteriak. Tapi itu jelas keliru karena…

“Itu kebiasaan. Mandi ga bawa handuk. Eh, kamu ini sudah besar. Masih mau diurus-urus. Harusnya kamu malu sama adik-adikmu…!” Rentetan kata-kata ibu.

Kau sudah menduga jawaban sederas apa yang dimuntahkan ibu. Akhirnya menyesal bukan? Perkara handuk telah melebar ke mana-mana. Kau berdiri mematung dalam kondisi kuyup. Lalu pikiranmu terbang. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah.

“Eh…Eeeee…! Masih berdiri di situ, belum salat kamu. Sudah hampir datang mobil jemputan! Belum sarapan, bisa telat loh ya!”

Ibu berhasil membuatmu menginjak bumi lagi. Ah ibu, bukannya langsung ambilin handuk ini malah ngoceh aja…!

Kau melihat sosok ayah hanya bisa tersenyum. Ah Ayah, belain kek. Tapi kau sepertinya tahu. Tak ada yang bisa membantah ibu. Termasuk ayah! Lalu, meski amarah ibu sudah tumpah sepagi ini, adik-adikmu tetap tidur, pulas sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Kau sepertinya ingin kembali ke masa sebelum sekolah. Seperti adik-adikmu
***
Pulang sekolah. Kau sedang merencanakan kekacauan itu lagi. Melepas sepatu semaunya. Masuk rumah sesukanya. Menaruh tas sembarang dan melepas pakaian sekolah secara brutal. Kau sedang ingin memancing amarah ibu agar siang itu tak perlu ada tidur siang. Amarah ibu bisa jadi alasan kau lekas hengkang. Berkunjung ke rumah temanmu, membawa serta lego, main sepuasnya hingga sore tiba.

Hening!

Kau mulai bertanya ibu ke mana. Tapi pagar dan rumah tak terkunci. Tak mungkin tak ada orang. Tapi ibu benar-benar tak ada. Keramaian adik-adikmu juga sirna. Ada apa, kau lagi-lagi bertanya.

“Oh sudah pulang?”

Kau terkejut dengan suara ayah dari balik pintu.

“Ayo berpakaian. Ikut ayah ke kantor!”

Kau makin penasaran. Namun lekas terjawab saat ayahmu kembali bertutur.

“Ibu, Abang, dan Lena harus jenguk Bapu!”

“Ke Gorontalo?” Selamu penasaran

“Iya…Kalau ga ke sana ke mana lagi?”

Tiba-tiba ada mendung yang hinggap di matamu. Kenapa ibu ga tunggu aku pulang sekolah dulu baru pergi? Apakah saking marahnya ibu?

“Ibu buru-buru. jika harus menunggu Kakak pulang sekolah, akan ketinggalan pesawat!”

Sepertinya ayahmu tahu sangka yang tumbuh di dadamu. Namun begitu, kau melayangkan prasangka baru. Ibu tidak sayang padaku!
***
Malam berlalu tanpa ibu. Hari belum berganti. Detik ke menit serasa hitungan ratusan hari. Kau lebih sering bertanya dalam hati. Sembari merutuki rasa kehilangan yang amat tiba-tiba. Bukankah bisa menghubungi ibu dengan panggilan video? Urung kau lakukan. Tepatnya enggan karena kau tak ingin jika ibu tahu pasal rindu. Kau tak ingin membocorkan perihal di balik kebandelanmu itu ada rapuh bersemayam di ragamu. Rapuh yang hanya bisa diusir oleh makhluk bernama ibu. Meski begitu, ibu selalu tahu. Akan selalu tahu.

Panggilan masuk di ponsel ayah. Saat melihat nama ibu di sana, kau melonjak. Kau buru-buru mengangkat.

“Halo…Ibu kapan pulang?” Kau tergesa menyerang Ibu bahkan sebelum ia mengucapkan salam.

“Ayah di mana Kak?” Suara ibu lembut.

Kau buru-buru mencari ayah. Lalu menyerahkan ponsel panggilan dari ibu. Ayah berhenti dari urusan dapurnya. Terlihat ayah terlibat pembicaraan serius. Tumben ibu tidak video call?

“Kak…! Ini ibu mau bicara!”

Ayah menyerahkan ponselnya kepadamu. Suara ibu mengalun lembut, menyampaikan beberapa petuah yang telah kau khatamkan sejak lama. Ibu meski jauh, tapi kehadirannya tetap terasa. Ibu juga berkabar jika kepergiannya mendadak, seperti yang disampaikan ayah kepadamu. Kamu berusaha maklum.

“Kenapa nda video call Bu?” kamu menggugat.

“Di sini jaringan jelek Nak!” Jawab ibu. Lalu melanjutkan pesan-pesan panjangnya tentang apa yang harus kau lakukan bersama ayah, selama ibu tidak ada. Tak lupa ibu berucap, kepergiannya bakal lama. Bapu sakit parah. Ada yang tampaknya akan tumpah dari balik kelopakmu. Setengah mati kau menahannya, namun ia menyembul hangat. Kau menangis. Berusaha kau sembunyikan dari ayah, tapi tak bisa. Ayah melihatmu, seraya menggoda. Kau makin berkabung.
***
Pagi yang damai. Tak ada kegaduhan seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, kau otomatis bisa terbangun. Bisa melakukan segala instruksi ibu secara tepat. Tak ada amarah, tak ada keributan, namun tingkahmu seperti disulap. Kau melakukan perintah ibu cekatan, meski ia tidak di rumah. Kau merasa aneh saja.

Setiap rumah butuh ibu. Itu kau simpulkan sejak melihat ayah yang wara-wiri di dapur namun belum terlalu sukses mengeksekusi apapun sesuai gubahan tangan ibu. Itu bahasa lebih halus sebenarnya. Bahasa kasarnya: gagal total. Tapi tetap saja, yang tersaji di meja makan berusaha kau nikmati. Terpaksa. Lalu kau akan mengucap syukur jika jemputan tiba. Itu berarti siksaan di meja makan berakhir. Kau pamit, menuju jemputan yang akan membawamu ke sekolah. Ayah berdiri di depan rumah, melepasmu dengan senyum yang selalu rekah.

Di atas mobil jemputan, kau menikmati canda, tawa, dan kata-kata yang berbenturan di udara dengan bisu. Udara pagi masih sangat dingin. Kau menahan gigil di balik jaket yang kau kenakan. Sepanjang jalan menuju sekolah, ingatan memaksamu menghadirkan wajah ibu. Ada yang mulai menyusup di balik dadamu. Merembes hingga begitu dalam, memaksa hatimu berucap lirih: ibu aku rindu.

Sesampainya di sekolah, keriuhan menguar di mana-mana. Anak-anak saling berkejaran, segala tingkah tumpah merayakan masa bersekolah. Kau melangkah gontai, beranjak menuju kelas. Memang tak biasa, kau dihinggapi rasa kehilangan yang menjadi-jadi. Ah! Betapa kepergian ibu benar-benar telah membawa suasana riangmu. Kau melepas tas dan duduk beku sendirian di kelas hingga bel masuk berbunyi.

Jam pertama akan diisi Pak Umar. Guru Agama sepuh itu membawamu menjejaki pelajaran berbakti kepada orang tua. Kenapa harus tentang itu sih? Pak Umar tentu tak mendengar protes batinmu. Dia terus membahanakan suara. Mengajakmu berkenalan dengan beberapa sosok di masa lalu yang menunjukkan bakti terbaiknya kepada orang tua. Terutama ibu, diperkenalkan sosok Uwais Al-Qarni yang memanggul ibunya menuju tanah suci. Berpeluh ia dan melepuh punggungnya, namun tetap tak sebanding sebagai balas budi. Kau jatuh dalam ingatan yang panjang, lalu sosok ibu kembali hadir di hadapanmu. Untungnya pelajaran lekas berlalu, berganti dengan kehadiran guru muda yang memesona: Ibu Yusmira.

Jika setiap pelajaran Bu Yusmira kau antusias, kali ini tidak. Kau kehilangan selera, seperti raibnya nafsu makan. Bu Yusmira menyampaikan pengajaran dengan gayanya yang khas.

“El…Bisa diulangi apa yang barusan ibu jelaskan?!” Ibu Yusmira sepertinya menguji konsentrasimu.

“Ya Bu…?!” Kau terkejut.

Ada jeda lama. Kau berusaha mengingat-ingat.

“Mungkin Aini bisa bantu?!”

Bu Yusmira sudah paham kondsimu. Ia melempar kesempatan. Seketika kelas riuh. Aini, nama itu sering dilekatkan padamu. Beberapa temanmu yang jahil bahkan telah menjodohkan kalian berdua. Meski, kau jelas menolak, tidak terima sebab bagimu itu memalukan. Maksudnya, memalukan bagi naka-anak seusiamu yang sudah main jodoh-jodohan.

Ibu Yus jelas paham, ada sesuatu yang berkejaran di benakmu. Seorang guru bisa dengan mudah menerka isi kepada muridnya, hanya dengan memperhatikan gerik. Kau tak bisa bersembunyi.

Jam pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Enggan dan malas. Seseorang mendekat.

“El…Yuk ke kantin…” Aini mengajak. Ajakan yang memelas.

“Nggak ah…Kamu duluan aja!” Kau menolak.

“Ayo…!”

Aini kini menarik tanganmu. Tapi buru-buru kau tepis. Kali ini kau benar-benar tak ingin memenuhi ajakan siapa pun, termasuk Aini.

“Cie…Ada yang lagi marahan nih ye…!”

Tiba-tiba suara Abi menggoda. Si bocah jahil itu nampak berulah.

“Atau jangan-jangan sudah cerai ya…?”

Bocah tengik itu makin menyebalkan. Tak butuh waktu lama, kau merangsek maju, hendak menggapai Abi yang sempurna meledekmu. Keributan di ruang kelas. Anak-anak lain bersorak. Aini mencoba menahanmu. Ibu Yusmira yang sudah beranjak menjauh kini mendekat lagi. Keributan itu tak berlangsung lama karena kehadiran Bu Yus. Wajahmu sempurna berubah warna. Mirip warna nasi goreng khas Makassar: Nasi Goreng Merah.

Kau digelandang Ibu Yusmira bersama Abi ke ruangannya. Di sana, kalian berdua mendapat petuah. Guru berhati teduh itu mengulik beberapa hal terkait keributan itu. Kau menjelaskan. Abi membela diri. Ibu Yus menengahi. Perbincangan itu menemui akhir. Titik damai disepakati. Ada perjanjian yang terikrar antara kau dan Abi. Masing-masing berjanji akan lebih memperhatikan sikap dan belajar lebih giat mengendalikan amarah. Kalian bersalaman disaksikan Bu Yus.

Abi berlalu lebih dulu, kau hendak menyusul tapi masih diminta bertahan.

“El…Sebenarnya kamu kenapa? Tadi ibu perhatikan kamu sepertinya ada masalah ya?” serang Bu Yus.

Serangan yang kau balas gelengan lalu buru-buru beranjak setelah pamit secara paksa. Sebenarnya, Ibu Yus masih ingin mengomongkan sesuatu. Tapi ia mengerti, kau tak ingin diganggu kali ini.
***
Kabar keributan itu sampai juga di telinga ibu. Di Negeri Serambi Madinah, saat sedang sibuk mengurus keperluan bapu: kakek, Ibu Yus mengabarkan kejadian di sekolah. Ibumu terlihat menahan sesuatu. Lekas ia menghubungi ayahmu dan membeberkan kejadian sekolah itu. Ayah, seperti biasa selalu tampak tenang dengan segala jenis cuaca.

Di rumah, ayah mendapatimu tak seperti biasa. Saat diajak ke kantor pun, kau tak berselera. Kau tentu sudah tahu, ayahmu pasti akan mengulik masalah di sekolah. Hanya, ayah menahan diri. Ayah membiarkanmu yang memang ingin sendiri. Momen istirahat siang itu membuat ayah tak lagi balik ke kantor. Lelaki itu ingin menemanimu, melewati masa sunyi yang ingin kau akrabi. Kalian akhirnya jatuh tertidur, hingga senja muncul di balik cakrawala.

Ponsel berdering. Panggilan dari ibu. Ayah terbangun dengan bunyi nada dering yang makin nyaring. Sepertinya ada yang genting.

“Yah…! Suara ibu berat! Bapu Yah!”

Suara ibu yang terbata-bata telah membuat ayah mengerti. Ayah bergegas membangunkanmu. Menyuruhmu berbenah, cuci muka, lalu menyalin pakaian seadanya. Kalian tergesa mencari tumpangan menuju Makassar. Ada sesuatu yang harus lekas ditunaikan.

“Yah…Ada apa? Kita mau kemana? Ibu kenapa yah?”

Rentetan pertanyaan kau hamburkan. Ayah masih mencoba mengatur irama napasnya, hingga telepon genggamnya kembali berdering. Panggilan dari ibu lagi.

“Ayah sama El sudah di jalan. Acara persemayamannya kapan?”

Dari ptongan pembicaraan itu, kau tentu sudah bisa menyimpulkan.

“El…Bapu meninggal!” Ucapan ayah lirih kemudian.

Ingatanmu tentang bapu kembali melayang. Sesosok ringkih yang selalu baik. Memberikan uang jajan tanpa diminta dan juga sepeda baru hadiah ulang tahunmu kala itu. Rasanya, baru sekejab kau sekeluarga meninggalkan Gorontalo, kini takdir membawamu kembali beserta suasana berkabung itu.
***
Suasana berkabung sudah tertinggal agak jauh. Luka selalu butuh jarak agar kelak bisa dilupakan. Bukan dilupakan, tapi berdamai dengan keadaan. Kau masih bisa melukis sosok ibu saat hari berkabung itu. Kau menderma rasa iba. Ibu yang sejak kecilnya telah piatu, kini sempurna statusnya menjadi yatim piatu. Hanya kau, ayah, dan kedua adikmu yang menjadi keluarga terdekat ibu sekarang.

Sebenarnya, beberapa pekan sepeninggalan bapu, kau sekeluarga harusnya sudah meninggalkan Negeri Serambi Madinah. Tapi kabar telah meneror di mana-mana. Sedang ada pandemik. Kau akhirnya sedikit memahami, kabar-kabar mengerikan tersiar. Akses vital mulai diketatkan. Pergerakan manusia terbatas. Memilih pulang atau bepergian di tengah merebaknya wabah jelas sangat berisiko. Apalagi, dua adikmu masih balita, tentu sangat rentan.

Di banyak tempat, sekolah sudah diliburkan. Sekolahmu juga, itu kau tahu karena beberapa orang menghubungimu, termasuk Bu Yus dan seorang yang sulit lepas dari ingatnmu: Aini. Tempo hari, gadis manis itu menelepon, berkabar seadanya dan menanyakan kabarmu. Kau tentu tersanjung dan ayah usil menggodamu,

Makin ke sini, pandemi makin menakutkan. Pembatasan gerak manusia sudah dilakukan. Kebijakan agar semua orang berdiam diri di rumah berlaku. Atas dasar itulah ibu memproteksimu sangat ketat. Ada aturan-aturan baru yang mulai berlaku.

“Kalau masuk rumah cuci kaki, cuci tangan, pakai sabun!”

“Ke luar rumah pakai masker!”

“Adik-adikmu jangan dibawa ke mana-mana. Sekarang rawan, virus korona ada di mana-mana!”

Ada banyak lagi jejalan aturan yang sering diulang-ulangi ibu. Sama persis dengan petunjuk pencegahan Covid-19 yang disebar pemerintah. Bahkan ibu bisa menjelaskan seluruh istilah terkait pandemi di luar kepala. ODP, PDP, Covid-19, dan banyak lagi istilah yang sudah dikhatamkan ibu. Di matamu, ibu bahkan lebih mahir menjelaskan dari Ketua Tim Satuan Tugas Covid-19 mana pun. Ditambah dengan angka-angka jumlah korban, dari yang positif, sembuh, dan meninggal. Bukan hanya itu, informasi kasus di seluruh dunia ibu tahu. Dahsyat bukan?

Tapi, beberapa kesempatan kau melihat ibu amat berlebihan. Sikap itu makin nampak, setelah ibu tahu kabar soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mendera ayahmu. Apakah itu berarti kalian akan mendekam di Gorontalo lebih lama? Entahlah! Berita PHK ayah alamat duka di benak ibu, dan keluargamu.

‘Sudah dibilangin kalau ke luar pake masker. Ini malah bawa adik-adiknya lagi!” Sungut ibu dengan wajah yang selalu sangar.

“Kamu tidak takut korona?” Tambah ibu dengan wajah yang jauh lebih menggidikkan.

“Itu…Sudah dibilangin kalau masuk rumah cuci tangan, cuci kaki, pake sabun. Ini…Kakak…cuci tangan…!” Lengkingan nyaris lima oktaf. Hampir memecah rekor suara Mariah Carey.

Kau bergegas mengikuti instruksi ibu, lalu berlalu, masuk ke kamar dan mengunci diri. Di sudut lain kau dapati ayah menerawang. Baru kali ini ayah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau tetap saja berlalu. Di kamar, ada bayang berkelebat, sesungging senyum milik gadis rambut ekor kuda. Bagaimana dunia tanpa ibu? Pasti aman damai. Tak perlu ada yang marah-marah. Tiba-tiba kau rindu sekolah.(*)
Simak juga:
Resensi Novel: Dulu Lontara Rindu, Kini Sajak Rindu

Resensi Novel: Dulu Lontara Rindu, Kini Sajak Rindu

Tapi tak ada yang bisa menampik takdir, Halimah? Mengapa kau tak bersabar saja? Dulu saat kebun jambu metemu terbakar, kamu bersabar bahkan bersyukur karena Vito masih bersamamu, Allah langsung membalik keadaan dengan menyelamatkan bagian tengah kebun jambu metemu? Harusnya sekarang kamu berperan seperti dulu, Halimah! Bersabar! Karena selalu ada buah ranum nan lezat yang menggantung di pohon kesabaran. Silakan bersedih, tapi apa gunanya kamu merutuki takdir?(Lontara Rindu, hal. 303)

SultanSulaiman.id, S. Gegge Mappangewa, nama itu kembali menjadi ”raja” setelah memenangi Lomba Menulis Novel Republika tahun 2011. Sebelumnya, S. Gegge Mappangewa pernah berjaya dengan ratusan cerpennya yang pernah nangkring di media remaja nasional. Bukan hanya cerpen, bahkan 12 judul bukunya pernah menghiasi banyak toko buku di tanah air. Tapi itu dulu, sebelum seluruh waktunya tersita dengan aktivitas baru, menjadi Oemar Bakrie, mengurusi ratusan siswa hingga mengubur namanya lamat-lamat sebagai penulis beken yang pernah punya banyak pembaca.

Tapi, seolah takdir tak ingin menjauhkan dirinya dari bintang. Menulis masih terus digeluti meski harus mencuri-curi waktu dari kerjaan utamanya sebagai guru. Gegge, begitu panggilan akrabnya, meski mengaku hanya menggunakan waktu sisa untuk menulis, namun waktu sisa itu justru kembali mengudarakan namanya. Gegge kembali menggema, mengubur kutukan penulis “tak produktif” yang melekati namanya beberapa tahun. Gegge membuktikan, jika pilihannya banting setir jadi guru bukan alasan tepat untuk memutuskan benar-benar berhenti menulis.

Lontara Rindu, judul novel yang mengantarkan namanya kembali mengudara. Gegge yang redup kembali bersinar. Kemarau telah berganti musim, langit menyingkap tabir harapan, mematenkan satu kepastian pada asa yang tak lagi pudar. Karena apa yang dialaminya adalah buah ranum dari jalan panjang berdarah-darah. Gegge butuh belasan tahun untuk bisa seperti dirinya yang sekarang. Karena resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata!

Gegge benar-benar telah memanah bintang, bukan hanya sampai tapi juga tepat sasaran. Ada 458 naskah yang masuk ke meja panitia. 393 naskah lulus seleksi administratif dan akhirnya bersaing menuju 25 besar. Selanjutnya diseleksi hingga menyisakan sepuluh naskah terbaik. Dari sepuluh besar menuju tiga besar. Lontara Rindu akhirnya dipilih menjadi naskah terbaik, mengalahkan ratusan naskah lain yang dirakit oleh ratusan model tangan dengan latarbelakang kultur, strata, profesi, dan usia yang berbeda.

Lokalitas yang Sempurna

Takkan mati kejujuran itu,
Takkan runtuh yang datar,
Takkan putus yang kendur,
Takkan patah yang lentur (Nenek Mallomo).

Membaca Lontara Rindu bukan hanya menemukan pesan tokoh legendaris cendikiawan muslim dari Sidenreng Rappang yakni Nenek Mallomo, tapi juga memaksa naluri meletup-letup dengan terus menyelami eksotisme kisah tentang awal munculnya agama Hindu Tolotang di Sidenreng Rappang, kisah tentang ‘manusia reptil’ yang beberapa orang Bugis mengakui keberadaannya, dan beberapa kisah lain yang pernah terjadi di tanah Bugis kemudian dipermak dengan konflik fiktif yang endingnya susah ditebak. Dugaan saya, ini menjadi salah satu takaran pemberat yang mengantarkan Lontara Rindu berada di tahta tertinggi Lomba Novel Republika 2011.

Selain itu, suguhan awal sejarah yang ditampilkan justru hadir sebagai bagian yang memendam ragam tanda tanya. Ragam tanda tanya itu yang menimbulkan rasa “penasaran kronik” yang terus memaksa pembaca menyelami kisah Lontara Rindu sampai akhir ceritanya. Pembaca dipaksa mengambil kesimpulan setelah menyudahi seluruh isi cerita. Penulis menggunakan jurus piawainya sebagai penulis dengan tidak meletakkan daya tarik Lontara Rindu hanya pada ending, namun sukses menjadikan seluruh bagian ceritanya sebagai daya penarik yang sempurna. Penulis benar-benar sukses mengaduk-aduk perasaan bening pembaca dalam ragam artikulasi konflik yang disuguhkan. Konflik dalam konflik mem-posisikan Lontara Rindu bukan sekadar cerita fiktif biasa.

Priyantono Oemar dalam tulisannya Mencari Karya-karya yang Tidak “Cerewet” berpendapat bahwa dalam cerita, yang penting bukan pada bagian akhirnya, melainkan kisah kejadian yang diceritakan. Penulis berhasil menyuguhkan kisah kejadian yang akhirnya mengajak pembaca menyelami seluruh nuansa lokalitas Bugis-Makassar secara utuh. Pembaca bukan sekadar dihidangkan menu yang lezat, namun sekaligus ditunjukkan cara memasak yang tepat, hingga memeroleh hasil sempurna yang benar-benar nikmat.

Isu-isu lokalitas, termasuk adat-kebiasaan, lengkap dengan mitos-mitos budaya Bugis telah dipotret penulis dalam angle yang sangat apik yang membuat pembaca mengerti tentang keluhuran tradisi Bugis yang kadang banyak dicibir karena hanya mengumbar sesuatu yang berbau “onar”. Pembaca justru akan mengerti bahwa “onar” adalah buah dari keluhuran menjaga martabat dan harga diri. Kisah ini akan ditemukan pada bagian “Mempelai Sunyi”.

Lalu pilihan menjadikan kata “Lontara” sebagai judul yang disandingkan dengan kata “Rindu” nampaknya memang ingin menegaskan bahwa cerita ini akan megeksploitasi sisi unik terhadap banyak hal yang masih menimbun tanya tentang orang-orang Bugis. Kata Lontara mewakili seluruh batang-tubuh Bugis yang ingin diselami, bukan hanya menampilkan sisi manusia bugisnya, tetapi juga menyuguhkan tentang karakter, adat-kebiasaan, dan segala hal tentang Bugis. Dan kata “rindu” melengkapi bahasan cinta yang ingin ditampilkan penulis, bukan sekadar menampilkan sisi intim antara lelaki dan perempuan, namun lebih luas, rindu menjadi penegas cinta yang universal, antara anak dan orang tua, cucu dan kakek, adik dan kakak, guru dan murid, manusia dalam interaksi lingkungan (alam dan segala isinya), bahkan antara hamba dan Tuhannya.

Kemiripan tak Berarti Mengekor

Sekilas, kisah Lontara Rindu mungkin akan terasa sama dan dianggap mengekor pada Laskar Pelangi. Dugaan itu bisa ditelusuri dalam suguhan sembilan tokoh anak dengan ragam karakternya yang juga jadi siswa paten sekolah yang diceritakan. Vito, Anugerah, Adnan, Bimo, Alauddin, Irfan, Alif, Sarah, dan Mawaddah mengajak kita menghadirkan sosok Lintang, Ikal, Kucay, Harun, dan teman-teman Laskar Pelanginya. Ya! Sekilas penulis akan tampak mengekor karya besutan Andrea Hirata, lalu menambahinya dengan ragam pendekatan kreatif yang membuat cerita Lontara Rindu makin menarik. Sekali lagi hanya sekilas, karena sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam mungkin tokoh atau kisahnya serupa namun jelas tetap tidak sama. Lontara Rindu benar-benar berbeda.

Dugaan itu bisa ditampik dengan menelusuri aktivitas penulis beberapa tahun terakhir dan memang pernah menjadi wali kelas yang jumlah siswanya hanya sembilan. Kesembilan siswa itulah kemudian menginspirasinya untuk menulis Lontara Rindu. Interaksi intens dengan ratusan siswa di tempat penulis mengabdi tentu menghadirkan pengalaman otentik yang beragam. Penulis bisa secara bebas mengonstruksi karakter yang didapatkan secara rill di tempatnya bekerja. Ini sekaligus sebagai bantahan bahwa “mengekor” seolah tak dikenal dalam kamus S. Gegge Mappangewa!

https://cf.shopee.co.id
Jawaban-Jawaban

Setelah rampung menampik tentang isu mengekor, rasanya menarik mengapresiasi Lontara Rindu sebagai cerita yang tega membiarkan pembaca memendam penasaran terlalu lama. Hal ini wajar sebagai satu pendekatan kreatif penulis dalam bercerita, di sini sisi unggul dari penulis. Jawaban atas banyak dugaan-dugaan pembaca terhadap kisah awal yang kesannya berserakan akhirnya bisa di temukan di bagian “Hadiah Terindah”. Akhirnya bukan hanya Vito yang berbahagia karena mendapat hadiah ulang tahun spesial dari mamanya, namun pembaca juga turut mengulum senyum karena telah menemukan simpul cerita yang telah terlanjur dibuat berserakan.

Guru sebagai profesi pelarian juga merupakan jawaban yang paling pasti bagi banyak pencari kerja yang tak juga mendapat tempat. Lagi-lagi sekilas, hal ini terlihat sederhana. Namun penulis menghadirkan penggalan ini bukan sekadar pengingat tapi juga kritik terhadap banyak “anak muda” yang buta tentang pilihan profesi prestisius yang hendak dipilihnya, yang bisa dipastikan bahwa “menjadi guru” tak pernah jadi pilihan yang sungguh diinginkan, seperti yang terjadi pada tokoh Ibu Guru Maulindah.

Juga jawaban lain tersibak, tentang bagaimana ketatnya orang tua Bugis menjaga anak perempuannya. Karena lebih baik menggembalai seribu ekor kerbau, daripada menjaga satu anak gadis. Jawaban lainnya akhirnya mesti dinikmati laiknya buah ranum yang mesti dipetik. Seperti I Cinnong yang menikmati jerih-payah kesabaran dari ladangnya emasnya yang terjual murah. Meski sempat melayangkan nota protes membatin pada suratan takdirnya, namun I Cinnong memilih lapang dan melakoni kembali profesi menjual dan membagikan jadde gratis.

Akhirnya, saya yakin, setelah jutaan penikmat sastra menoleh ke Belitong karena Laskar Pelangi, maka Lontara Rindu akan membuat orang mengalihkan pandangannya ke Desa Cenrana, sebuah perkampungan Bugis di daerah pegunungan di Panca Lautang- Sidenreng Rappang, yang menjadi latar novel yang insyaallah akan Best Seller ini. Amiin.(*)

Simak juga:

Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

Resensi Buku: Ketika Saatnya Makan Nasu Likku

dok. pribadi www.sultansulaiman.id

Anakku, hidup ini tidak bisa kau kendalikan sepenuhnya hanya karena perasaan!

SultanSulaiman.id, Saya menghabiskan kisah kumpulan cerita pendek Ketika Saatnya dan Nasu Likku sembari mendengar lagu Ziana Zain. Dua buku ini terasa pas ditakzimi dengan menyetel alunan patah hati penyanyi Negeri Jiran itu.

Banyak yang bergentayangan di kepala, rentetan kejadian masa lalu. Di sisi lain, kerinduan kepada Gorontalo membuncah. Seorang lelaki senja seperti menuntun tanganku. Mengajakku menjenguk kolam belakang rumahnya sambil memancing di air bening itu. Lelaki yang suara paraunya masih terus terngiang di hampir setiap pagi atau di ujung sore. Lelaki itu telah berpulang. Ia yang kupanggil Papa, ayah dari istriku.

Adakah yang menandingi sedihnya orang terkasih berpulang sedang kau tak mampu merengkuh mendekapnya? Di negeri rantau, kau hanya bisa membahanakan tangis, meluruhkan air mata, karena kepulangan sudah terlambat bagi pertemuan. Begitulah.

***

Kak Sulaiman

Sebelum dihimpun jadi buku, cerita Kak Sulaiman sudah mencuri perhatian sejak dulu. Penulisnya, Darmawati Madjid seperti telah meramunya pada ruang renung yang mistis lalu menyuntikkan suara kerinduan yang mengajak menepi, menikmati luruhan air mata, dari hati yang kadung lara. Kisah Kak Sulaiman seperti merampas paksa sebagian ruang jiwa, tergulung bersama deru ombak membadai yang telah melumatnya. Makanya ia membekas luka, sejauh mana pun kenangan dilarikan, ia akan tetap menyembul tiba-tiba tanpa harus dipanggil. Ada banyak pemantik yang bisa dengan mudah membuat kenangan kembali bertakhta.

“…Untuk lupa, dibutuhkan tahun-tahun yang berat, karena yang kau lawan adalah dirimu sendiri.” (Kumcer Nasu Likku Hal. 3)

Tokoh aku, walau telah jauh merantau, tak bisa mengusir bayang Kak Sulaiman. Masa kecil yang tergelar itu, bermain bola-bola dan kenangan masakan yang berpancikan kaleng mentega. Aroma tubuh, lekuk wajah saat tersenyum dan tertawa, semuanya akan hadir sebab hippocampus akan setia menyimpannya. Adegan di depan warung itu penegas tentang yang lekang adalah kenangan.

***

Bagi orang-orang bugis, Nasu Likku atau Nasu Likkua dalam penyebutan bugis Pinrang merupakan jenis makanan yang dinantikan. Ada masa-masa tertentu, makanan itu akan murah hati tersaji di banyak rumah. Saat lebaran misalnya, atau perayaan besar lainnya. Ia akan hadir sebagai bagian dari salah satu menu utama sekaligus pengusir rasa rindu. Nasu likkua selalu pas diasup dengan buras, atau sepiring nasi hangat. Mengasupnya, akan melupakan besaran uang panaik yang kerap mengandaskan banyak pasangan Bugis sebelum tiba di pelaminan. Alasan itulah yang membuat Nurma ingin berpayah menyuguhkan Nasu Likku untuk Danu lelakinya. Di perantauan, ada yang selalu ingin hadir secara tiba-tiba, salah satunya aroma masakan ibu. Celakanya, bagi banyak perantau, resep dari masakan itu kadang gagal diturunkan.

Di Losari

Di Losari, ingatan dan hubungan dengan mudah terempas. Seolah Losari memang meneguhkan diri sebagai tempat untuk mengenang sekaligus berkabung lalu memanggil ingatan-ingatan yang luka. Anto kepada Ida, perjanjian yang saling memunggungi. Cinta pecah bersama empasan ombak, yang berusaha memoles wajah Losari seperti dulu. Ah Losari, perkakas beton telah menyulapnya menjadi palsu. Tak ada aroma laut, hanya sehimpun kolam raksasa berair pekat menguarkan bau comberan.

Keberanian macam apa yang dimiliki Anto? Ia meniti rumah panggung Puang Massaniga untuk mendengar langsung kabar penghianatan itu. Ida, yang membuatnya pergi menyabung hidup di tanah rantau, kini memaksanya kembali. Kepulangan itu semestinya dirayakan, namun hatinya berkabung dengan kenyataan Ida dipersunting orang lain.
Di beberapa keluarga Bugis, warna darah masih kerap menjadi pertimbangan ikatan pernikahan. Jika dulu warna darah harus berarti ningrat, kini ketebalan isi kantong juga menjadi penegas. Semakin tebal isi kantongnya, semakin jelas pula kastanya. Pernah santer istilah: sikola sibawa sikola’.

Sebuah lamaran tak pernah benar-benar ditolak, caranya dengan memberatkan syarat. Bisa dengan angka uang panaik yang melambung tinggi, atau ragam permintaan lain yang dianggap sulit dipenuhi si pelamar. Sayangnya, angka uang panaik itu tak membuat Anto surut langkah. Padahal, itu sinyal penolakan secara halus dari keluarga Puang Massaniga.

***

Darmawati Majid

Darmawati Majid, seperti pernyataan dari Mother of Makassar Lily Yulianti Farid telah memotret “beban sosial dan kultural yang melekat pada perempuan Bugis-Makassar yang menjadi bahan utama kumpulan cerpen ini!” Si Anak Ajaib Faisal Oddang menyebut “…saya menjumpai keragaman gagasan dan peristiwa sederhana, yang lekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi dengan kemasan yang menarik.”

Ada beragam tentang Bugis-Makassar yang bisa dengan mudah dipahami dengan membaca dua buku Kumpulan Cerpen penulis yang kini menetap di Gorontalo ini. Seperti banyak pembaca, dalam sehimpun cerita tentu ada beberapa cerita yang menjadi unggulan. Kak Sulaiman, Nasi Likku, dan Losari yang saya unggulkan. Ketiganya memiliki ruang keintiman yang khas. Mungkin alasan itu pula yang menyebabkan penulis memunculkan tiga cerita tersebut dalam dua kumcernya. Ditambah satu judul lagi yang jelas dijagokannya: Pelahap Telinga.

Bagi saya, Daster Berkibar adalah pembuka yang mengesankan. Itu semacam teriakan khas ibu-ibu, atau emak-emak dengan Bahasa kekinian. Seperti kata penulis, daster tak pernah disebutkan dalam cerita tapi ia menjadi saksi seluruh pergulatan ekspresif ibu dengan empat bocah ini. Anda penasaran?(*)

Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

Cerpen: Senyum Kotak-Kotak

SultanSulaiman.Id, Senyum itu selalu kutemukan kala menyusuri setiap ruang kota. Di sudut jalan, di emperan toko, di angkot, seolah semua ruang telah disesakinya. Namun seperti musim hujan ataupun kemarau, senyum-senyum itu juga punya musim. Setelah musimnya selesai, senyum itu akan pudar sendiri dimakan hari. Bahkan lusuh tak terurus hingga musim berganti jubah.


Setiap hari, kota semakin disesaki dengan senyum-senyum itu. Bertambah rupa juga berganti sketsa dengan kostum warna-warni. Senyum-senyum itu berjejer rapi dalam kotak-kotak. Menjadi ikon semarak bersama iklan rokok dan iklan seluler. Seperti hari ini, ketemukan berpuluh senyum menghias elegan di ruas-ruas jalan. Dan oho...? Senyum itu juga menempel anggun di ransel kawan kampusku.

Bukan hanya senyum yang dijajakan. Berbagai tagline retoris juga turut menyertai. Ada senyum yang dibubuhi dengan kalimat “Melanjutkan Pembangunan”. Yang lain memakai “Mohon Dukunganta Sayang!”. Ada yang pake “Mantap Mentong”. Yang lain lagi...? Huwah...! Terlalu banyak.

Miris. Bahkan membuat hati perih. Kala rupa-rupa itu berlomba menjual senyum, di sana, di sebuah ruas jalan ibu kota. Kutemukan Indo Tija masih saja setia mengipasi jagung jajanannya. Berharap dagangannya laku untuk bekal hidup diri juga anak cucu. Tubuhnya yang ringkih dipaksa bertarung melawan biadab zaman. Indo Tija, seorang korban gusur penjual senyum yang kini kembali menjajakan senyumnya.

Di tengah maraknya senyum gombal itu, amat jelas gurat kemiskinan membingkai wajah kota. Orang-orang lapar bergentayangan. Pengemis makin sesak. Rakyat jelata harus menyabung nyawa di pintu-pintu rumah sakit. Parade pengangguran menampakkan wajah miris mengoyak batin. Lalu aku bertanya. Apa arti senyum dalam kotak itu? Ah...! betul gombal!

***

Ya...! Seperti musim penghujan maupun kemarau, senyum itu juga punya musim. Puncak musim ada dalam bingkai “pemilu”. Para pemilik senyum itu akan dipilih di sana. Setelah terpilih, seperti lakon lumrah yang pernah ada, pemilik senyum itu akan menyembunyikan senyumnya lantaran telah duduk di kursi empuk yang diincarnya. Butuh lima tahun waktu untuk bisa melihat kembali senyumya bertengger di seluruh ruang-ruang kota.

Ada pemilik senyum yang pandai membual. Mungkin juga semua pemilik senyum itu pembual. Bualannya nampak pada tagline pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Semua terdengar gratis. Mulai lahir hingga mati semua gratis. Aku lagi-lagi bertanya. Apa iya? Rakyat banyak tertipu oleh para penipu pemilik senyum dalam kotak. Lagi-lagi jelata jadi tumbal tipuan senyum yang sedikit dibubuhi kata “gratis” itu. Indo Tija, masih juga seorang penjual jagung bakar yang ditikam rintih lantaran hidup tak memihak rezeki mumpuni. Harusnya, orang seperti Indo Tija yang menjual senyum dalam kotak itu, sembari mengipasi jagung bakarnya. Itung-itung promosi. Aku yakin, dagangannya bakal banyak yang laku. Mungkin bisa menembus rekor MURI juga.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini kutemukan lagi Indo Tija mengipasi jagung bakarnya. Kuhampiri. Memperhatikan setiap geraknya. Kutangkap aroma letih tatapannya. Matanya yang senja memendam gurat luka. Tubuh ringkihnya telah cukup memberi definisi jika Indo Tija adalah puing melarat kota ini. Tapi siapa yang peduli?

Dalam sibuknya. Kucaba membuka percakapan. Aku penasaran, ingin menanyakan kenapa ada senyum kotak-kotak yang tertempel di kipas anyaman bambunya. Setengah keheranan sambil memamerkan gigi tanggalnya, Indo Tija membuka percakapan.

“Anakku...! Sengaja Indo membiarkan senyum itu tertempel di sini. Dari banyak pemilik senyum hanya dia yang sudi menjenguk Indo. Bahkan sebelum dia memutuskan menempel senyumnya di mana-mana”
Aku terperangah.

Debaran Bulan Juni


“Jadi ceritanya, Indo jadi tim suksesnya?”
Bukannya menjawab. Indo Tija malah terkekeh. Keras sekali. Hingga mengusik beberapa pembeli yang asyik menikmati jagung bakarnya. Indo Tija menyembunyikan kedua matanya lantaran tawanya yang dahsyat.

“Apa katamu tadi anakku? Nakke tim sukses?” Mengulang tanya lalu tertawa lebar.
“Apa Indo tidak takut dibohongi? Pemilik senyum itu rata-rata pembual Indo...!”

“Anakku! Percuma membohongi orang tua bau tanah sepertiku. Percuma anakku! Tapi Indo tetap percaya! Puang Allah Ta’ala akan menyelamatkan hidup kita dengan mendatangkan pemimpin yang mapaccing na malempu. Setidaknya begitu kearifan Bugis mengajarkan.

“Saya tahu anakku! Kita memang jelata yang sering ditipu. Kita teramat sering dikibuli. Tapi apa daya kita? Apa kuasa kita? Selain berharap doa dari setiap rintih yang kita ukir dari tetesan air mata. Bukankah orang seperti kita doanya mudah terkabul?”

“Ehh....haaaaaaaaaaa....”
Aku mengembuskan napas panjang. Kutemukan ketegaran dari tubuh ringkih ini. Aku menengadah. Menatap bulan. Kerlip bintang-gemintang menebar panorama malam. Kuarahkan tatap di sekelilingku. Sudah hampir larut. Namun sketsa kota yang lain masih menampakkan kesibukannya. Sangat sibuk. Selain Indo Tija, ada banyak pekerja malam yang selalu tegar mengumpulkan mimpi-mimpi. Saat semua terlelap, kala pemimpin terempas dalam alam tidur yang panjang, saat para pemilik senyum nyenyak bersama alunan dengkurnya. Masih ada. Masih ada yang mengumpulkan puing kehidupan. Mengumpulkan harapan yang berserakan. Di antara rintih, di antara resah, mungkin juga di antara tangis kering air mata.

“Haaaa...!”
Kuempaskan lagi napas itu. Agak sesak. Namun kencang menabrak udara jalan. Debu-debu kota terkaget-kaget dengan derasnya empasan itu. Cuma seketika, lalu kembali menari di tengah ketimpangan hidup alam kota. Mereka tak pernah peduli, seperti tak pedulinya pemilik senyum yang senang mengumbar janji masa depan. Utopis!

***

Seperti kataku, mirip musim penghujan dan kemarau. Senyum itu punya musim. Tinggal menunggu hari menjejaki bulan. Seyum itu akan berjejer rapi dalam surat suara yang akan dilukai dalam bilik suara. Tapi luka yang mengenai pemilik senyum itu tanda baik dan bahagia. Semakin banyak luka yang mengoyak senyum, maka pemilik senyum makin melebarkan senyum yang sesungguhnya. Merekah. Sumringah. Bahkan sampai kuluman senyum berubah tawa. Berisik dan terbahak tentunya.

Ya...! Tinggal menghitung hari.
Entah kenapa. Aku dijajaki jengkel luar biasa. Sudah berpuluh tahun aku berdiam di kota ini, tapi tak juga menemukan berkas perubahan. Hingga sistem berganti karena konsekuensi demokrasi. Tetap saja. Wajah manis kota memendam tangis luar biasa. Tangis Indo Tija, bocah-bocah jalanan, para ibu dan lelaki renta yang terpasung karena biadab modernitas yang melumat tempat tinggalnya. Ah...! Terlalu banyak yang membuat hati berdarah-darah. Belum lagi ketika menemukan adik kecil yang tercekat karena lapar dan dahaga. Para orang tua yang merintih karena tingginya biaya pendidikan. Rakyat jelata yang ditikam mahalnya tuntutan hidup. Huwaaaah...!

Kutatap lagi senyum dalam kotak itu. Masih seperti biasa, senyum kotak itu tetap asyik dengan dirinya. Cuek. Sama cueknya ketika sudah terpilih nanti. Aku kini menyalakan bara. Menggenggam amarah. Minyak tanah. Kulumuri senyum kotak itu dengan guyuran minyak. Bara yang kugenggam tertiup angin. Api kecil menjalar dari tanganku hingga menjilati senyum kotak itu. Berubah kobaran. Seketika. Sekejap. Kota benderang. “Kebakaran....!” Orang-orang berteriak.

“Nnnn....iuuuung....nnn..uuuuung”
Aku masih menangkap serine mobil saat tubuhku juga ikut terbakar. Gelap. Hitam. Cahaya. Mungkinkah?(*)
Mengenang Cekgu Zaki, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Aceh

Mengenang Cekgu Zaki, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Aceh

https://cdn2.tstatic.net/aceh/foto/bank/images

SultanSulaiman.Id, Tak ada yang bisa mengukur, sedalam apa luka dialami Dahniar. Anaknya, Muhammad Zaki meninggal di Tanah Papua. Kabar kematian Cekgu Zaki menyebar sesaat setelah kepergiannya. Adalah T Syahrurrazi disapa Shahroel Undock yang membagikannya lewat grup WhatsApp di Komunitas Awak Droe Only (ADO) Aceh for Papua. Sebuah komunitas berangggotakan perantauan Aceh di Papua.


Bagi yang mengenalnya, Zaki adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Tanah Rencong. Ia memilih mengabdikan diri di Nabire Papua, meninggalkan kampung halamannya Krueng Mane, Aceh Utara. Setelah sepekan dilarikan ke rumah sakit, Senin (29/06) Zaki mengembuskan napas terakhir. Dia kembali dalam pangkuan Tuhan dengan penuh penghormatan. Zaki dielukan sebagai pahlawan masa kini.

Dahniar sudah hendak menjenguk anaknya ke Papua, saat awal dikabarkan masuk rumah sakit. Apalah daya, jarak tempuh yang jauh dan kondisi pandemi kian meraja. Papua sulit ditembus, dengan pembatasan ketat, orang non-Papua tidak mendapatkan izin masuk. Zaki, sejak dikabarkan masuk rumah sakit sepekan lalu. Dia mendekam tanpa keluarga, di RSUD Kabupaten Nabire.

Di negeri rantau, kesepian adalah karib paling setia. Rindu makin merdu jika kemalangan bertamu. Wajah keluarga akan muncul tiba-tiba. Di tengah sakitnya, Zaki tentu terkenang wajah Dahniar. Alasan itu pula mungkin yang mendorong Zaki ingin pulang ke Aceh. Berkali-kali ingin pulang, apa daya, ada banyak yang tiba-tiba tidak bisa dengan kepungan halang rintang. Dari kerusuhan hingga pandemi, Zaki melawan sakitnya di tengah tikaman rindu yang membiru. Mungkin ada lebam di hatinya yang suci mengabdi bagi pertiwi di Timur Indonesia.

Zaki guru honor di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kab. Intan Jaya, Papua. Lelaki Kreung Mane ini mengabdikan diri di tanah yang jauh dari halamannya. Entah apa di benaknya, yang jelas semangat pengabdiannya tiada dua. Sepertinya ia terlalu dalam mencintai Papua, menyayangi murid-muridnya yang bahkan belum terlalu fasih berbahasa Indonesia.

Dari keterangan Rahmat Idris dari Aceh, dapat diketahui jika Zaki mestinya sudah menuntaskan pengabdiannya sejak 2018 silam. Hanya dia tak pulang. Setahun berikutnya, Zaki tetap bertahan. Sebenarnya konflik berdarah 2019 sudah cukup kuat jadi alasan untuk meninggalkan Papua yang diamuk amarah. Ya! Zaki memilih bertahan. Rahmad Idris menulis: Zaki memilih bertahan mengabdikan diri bagi saudara jauh sesama Indonesia. Ia begitu dalam mencintai Papua. Ia menggenggam amanah delapan kelapa suku di Mbiandoga untuk menunjukkan jalan cahaya bagi bocah-bocah polos, anak kandung ibu pertiwi di negeri jauh itu.
https://aceh.tribunnews.com

Pulang

Muhammad Zaki akhirnya pulang. Kepulangannya tidak disertai raga, tapi nama yang semerbak. Amukan sakitnya memaksa tubuhnya kalah, lalu ia pergi dengan ragam kenangan manis bagi orang-orang yang mengenalnya. Dahniar, patutlah meredam perihnya. Anaknya, gugur di medan pengabdian yang semoga mengantarnya pada amal jariah tanpa batas. Ya, tak banyak yang bisa mengikuti jejak Zaki.

Tentulah, bukan sebab materi yang menuntunnya menjenguk saudara jauh sesama Indonesia di Papua. Bukan, Zaki tentu bisa memilih, ada banyak sekolah di kota-kota, atau di kampung halamannya sendiri yang membutuhkan guru. Pula ia bisa dibayar dengan nilai yang lumayan, tapi nuraninya seperti tak bisa menolak, ia kadung memilih jalan terjal untuk kemanusian. Ia seperti menunaikan janji yang banyak diselisihi negara. Papua dan wilayah lain Indonesia selain Jawa, telah lama menjadi anak tiri bagi bumi pertiwi kita.

Lahir di Cok Kruet pada 22 Maret 1984, Zaki barulah usai merayakan hari lahirnya yang ke-36 tahun. Dia masih muda, namun ajal telah menjemputnya. Rahmat Idris menulis lebih lanjut sekaligus sebagai penutup bagi goresannya tentang Cekgu Zaki.

Debaran Bulan Juni

Kepada ureung syik kamoe ban mandum, Bu Dahniar, jangan bersedih hati. Ibu berhasil melahirkan dan mendidik seorang pahlawan di saat negeri ini dipenuhi pemuda pecundang yang memilih menghabiskan waktunya di kedai kopi sambil main game online

Selamat jalan adoe Zaki, selamat jalan pahlawan muda tanpa tanda jasa. Kami bangga memilikimu di barisan sejarah bangsa Aceh nan mulia.

Ah Aceh, memang sejak dulu telah menjadi pahala-wan. Para pendahulunya, sudah jauh hari menyerahkan bongkah emas bagi kemerdekaan negeri ini tanpa pamrih. Di Negeri Serambi itu, orang-orang seperti ditempa untuk merasai kemalangan, mengamalkan pepatah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Indonesia tetap saudara, walau jarak membentang jauh, dari rawa, lembah, gunung, laut, di segala penjuru. Aceh, Negeri Serambi Mekah yang selalu meredeka itu, telah lebih dulu paham arti berbagi

Guru Honorer

Yang disebut guru honorer di negeri ini adalah pekerjaan tanpa kejelasan. Mereka hanya bisa menerima honorarium, bukan gaji tetap laiknya Pegawai Negeri Sipil atau pekerja kantoran lainnya. Meski, ada kehormatan dari profesi guru itu, faktanya banyak guru honorer yang menderita. Besaran honor yang diterima tak sebanding dengan peluh yang dikeluarkan. Semasa masih di Gorontalo, saya pernah menanyakan besaran honor yang diterima para guru itu saat menggelar demonstrasi di kantor DPRD. Ada yang dibayar Rp. 150.000 per bulan, dan diberikan per tiga bulan. Anda bisa bayangkan, dengan kemurahan hati mereka untuk mengabdi, mereka diganjar dengan besarapan pendapatan yang jauh dari harapan, bahkan sangat minim.

Sementara…

Sementara, ada banyak anggaran negara yang dihamburkan untuk urusan yang sepele. Menggaji staf khusus milinial di lingkaran istana itu yang muasalnya memang sudah kaya raya. Menghamburkan triliunan rupiah untuk pembelian video pelatihan yang bahkan bisa didapatkan gratis di platform media sosial. Anggaran lain menguap digasak para bedebah. Kemana alokasi anggaran 20% itu untuk pendidikan, sebagaimana undang-undang sudah mengamanatkan. Negeriku, serupa anak yang kehilangan orang tua. Negeri para yatim piatu. Ah sudahlah!(*)
Debaran di Bulan Juni

Debaran di Bulan Juni

Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Adalah cinta mulai tumbuh, dari Makassar ke Serambi Madinah. Aku menyeret langkah itu, tertatih mendatangi kotamu yang tak pernah terlintas dalam imaji. Lalu, sebiji rindu mulai mencari muara dari deretan kemalangan.

Di Jakarta, aku nyaris lenyap dimakan deru ganas ibu kota. Tiba dini hari, menumpang pesawat yang sering telat waktu keberangkatannya, lalu hujan deras membuat ruas-ruas jalan tergenang parah. Aku yang buta jalan, tak tahu harus ke mana. Satu-satunya harapan, deretan angka-angka dari ponsel yang mulai sekarat. Ponsel itu benar-benar payah…

Ke mana aku? Satu-satunya cara, sekaligus langkah penghematan kelas wahid, menumpang ojek mencari alamat rabun. Kampung Makassar, ya, akhirnya sampai juga dengan meraba-raba disertai banyak bertanya. Sepasang sepuh menyambut, seorang keluarga bugis Bone yang luar biasa baik. Seorang kawan pondokan, Imran namanya. Lulusan Fakultas Ekonomi yang sedang magang di Bank ternama yang mengajakku menyabung hidup di Jakarta. Beberapa hari, makan-minum, tidur gratis di rumah seseorang yang disapa Puang, tante kawan kami Imran.

Hanya bilangan hari saja. Mengikuti rangkaian seleksi di intansi pemerintah pusat. Sambil terkantuk-kantuk mengisi lembar jawaban di Gelora Bung Karno. Hujan masih awet, namun ribuan butir peluh memasungku di antara ribuan orang yang meniti jalan masa depannya.
***
Parepare selalu menjadi tempat kembali yang dirindukan. Jalan-jalan beraspal meliuk hingga ke perbukitan. Dari ketinggian, menatap jauh hamparan laut biru. Kapal-kapal raksasa melepas sauh. Pertemuan dan perpisahan tergelar dari Pelabuhan Tua Kota kelahiran Habibie. Ah…Di sini aku dilahirkan.

Cerpen: Seikat Satu

Di Serambi Madinah seorang kawan (pernah) satu pondokan mengabarkan peluang. Ke sanalah akhirnya langkah diseret. Peluang bertepuk, meski ada ragu. Dari negeri Fadel Muhamad, bergeser ke Utara di tanah Nyiur Melambai. Manado selalu pemurah dan gadis-gadisnya ramah dengan paha dan dada yang nyaris selalu terbuka. Seperti namanya, stereotype tentang Manado: Mana doi. Asal ada uang, seketika yang terlarang bisa dengan mudah dinikmati. Ada banyak wajah mirip Luna Maya di sana, mereka bisa menyerahkan apa saja asal ada uang.
Dok. Pribadi. www.sultansulaiman.id

“Di Gorontalo saja, jangan di Manado. Bahaya!” Petuah Tante, saudara ibu.

Terbukti, Manado memang amat menggiurkan bagi mata yang kelaparan dan selangkangan yang kehausan. Manado adalah surga cadeko dan intelek. (Silakan cari apa, kepanjangan dari dua akronim itu. Nyatanya begitu.)

Beruntung bisa mengendara ke Tomohon, merasai sejuknya udara pagi dan menikmati rimbunnya bunga-bunga yang bermekaran.

Dari kejauhan Gunung Lokon selalu angkuh, dengan semburan asapnya yang seperti sedang merokok saja. Aku menyapanya sembari meruahkan segala yang tertinggal. Di Kota Daeng, di beberapa tempat yang telah kudatangi. Akhirnya luruh bersama panorama Tomohon yang membawanya menemui Gunung Lokon yang perkasa itu. Jika perjalananku harus berhenti di Tomohon atau Manado, mungkin kita tak akan bertemu.

***

Pesawat baling-baling membawaku kembali ke kotamu. Ada perasaan campur aduk, saat menumpang pesawat mini. Ada puluhan penumpang, dengan wajah-wajah cemas. Pesawat ini mirip bus yang dipasangi baling-baling. Benar, saat mulai lepas landas, kecemasan berubah ketakutan. Beberapa kali pesawat oleng, mengalami turbulensi, ditampar angin berkali-kali. Seingatku, ada dua kali kesempatan pesawat itu seperti terjun bebas. Dan aku mulai sangat memahi bahwa tutorial doa di buku petunjuk keselamatan yang disimpan di kantong kursi sangat berguna. Di belakang kursi dudukku, ada suara yang mulai sesenggukan sembari melirihkan doa-doa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Ah! Jika tiba masanya, mungkin kita benar-benar tidak akan bertemu. Namun pertemuan laiknya perpisahan adalah rahasia Tuhan. Pesawat mini itu tiba dengan selamat di Bandara Jalaluddin.

***

Juni menjadi mendebarkan sebab ianya penanda penyatuan kita kemudian. Berbekal modal pas-pasan, lamaran ditunaikan dan aku akhirnya punya teman. Dalam artian, teman yang menggenapkan bagi perantau yang kesepian. Dua Puluh Sembilan Juni Dua Ribu Sebelas, tepat di momen Isra Mikraj kala itu, kita benar-benar bertemu. Debaran di dadaku lebur dengan getar di hatimu. Adakah getar itu benar adanya?

Bagi perantau, mendapatkan keluarga tentu amat menggembirakan. Merantau seperti menuntun pada pengembaraan lain, bahwa sesuatu yang tertinggal akan terbayar dengan sesuatu yang ditemukan kemudian. Malam-malam kita mafhumi sebagai ikhtiar merekatkan penyatuan.

Pada sepi yang menikam, kau hadir membawa bingar, pada hati yang memilukan, kau menyuguhkan penawar. Adalah tawa menggema yang sesekali mengibas-ngibaskan air mata di rumah mungil itu. Hawa kemarau yang dingin dan hujan-hujan gerimis mengukir kisah-kisah yang jauh lebih mendebarkan.

Dua Puluh Tujuh Juni, Dua Ribu Dua Belas, ia yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (memasung) itu telah hadir. Lelaki mungil yang lucu. Beragam warna kuak bersamaan dan kita mencernanya dengan terus belajar. Lelaki yang kemudian dipanggil Kakak. Dia yang penyayang, yang sudah bisa membuatkan adiknya susu, merebus dan menggoreng telur, membuatkanmu secangkir teh hangat, atau menyuguhkan teh hijau dingin. Dia yang sudah bisa disuruh-suruh, kini.

Lima tahun setelahnya, lelaki lain, tepat di perayaan tujuh tahun pernikahan menambah skuad kita. Lelaki yang saban hari membuatmu memanjangkan tangis. Lelaki itu, dengan rasa penasaran yang buncah, seperti kehilangaan rasa takut, melukis pengembaraan dengan langkah-langkah kecilnya. Hingga dua orang asing mengantarnya kembali ke rumah kita. Dia Abang kita.

Inilah rentetan perkara Juni yang selalu membuat mentakziminya. Selamat sembilan tahun, semoga betah dan seikat satu selamanya, menyertai perjalanan rantau yang entah akan berakhir di mana! Asal ada kau di sampingku bukan?(*)
Ruang Kosong di Hati Bapak

Ruang Kosong di Hati Bapak

dok. pribadi. www.sultansulaiman.id

SultanSulaiman.Id, Rabu pekan kemarin, bapak dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya melemah setelah lima hari sebelumnya dirawat. Mendapat kabar itu, perasaan menjadi tak karuan. Ada banyak bayangan pekat berkelebat. Saya mengontak Pimpinan, izin pulang lebih awal.

Setelah menyiapkan segala keperluan, saya, istri, dan anak-anak menumpang becak motor mencari angkutan. Tak butuh lama, angkutan membawa kami menuju Parepare.

Gerimis turun, membasahi Tanah Mandar, mini bus meliuk membelah rintik hujan itu. Drama sudah terjadi sejak tadi. Abang, anak kedua kami mabuk angkutan. Saat menaiki becak motor, dia sudah muntah duluan. Di mobil, mabuknya tambah parah. Untung, ibunya sudah menyiapkan kantong plastik, jadi bisa leluasa memuntahkan isi perutnya. Gerimis berubah hujan deras, mau tidak mau kaca mobil ditutup rapat. Abang berontak dan muntahnya menjadi-jadi.

Memasuki perbatasan antara provinsi, dari Pinrang ke Parepare, hanya butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam, sudah dengan waktu rehat di perjalanan. Kami tiba di Parepare, jelang sore. Tak ada senja sebab hujan masih awet mengguyur kota.

Kedatangan kami mengagetkan, memang tak ada kabar kepulangan. Hanya, berita bapak kembali ke RS jelas mengkhawatirkan. Pulang pilihan terbaik sebagai hadiah, agar di tengah rasa sakitnya, bapak masih bisa mengulum senyum dan tawa, meski itu getir. Ada adik perempuan bersama suaminya di rumah, Nenek Ambo (Bapaknya mama), dan keponakan kami.

Saya bertemu bapak saat malam, membawakan air doa dari Nenek Ambo. Saya bertukar jaga dengan adik. Malam itu, saya menemani mama menunggui bapak di rumah sakit. Pertemuan meluruhkan rindu, setelah terbentang jarak amat jauh karena pandemi. Lebaran kemarin, kami hanya bisa merayakannya sambil bercakap virtual. Bapak berkisah, saya menjadi pendengar setia. Ada setitik bening menyembul di sudut matanya. Cerita tentang perawatan sepekan lalu.

“Sesak napasnya, jd harus dibawa lagi ke Rumah Sakit Nak!”

“Waktu itu, bapak mengira sudah waktunya…!”

Seperti yang dikatakan Mama, saat perawat itu bapak menghabiskan empat tabung (besar) oksigen: sebagai bantuan pernapasan. Sebenarnya, bapak masih butuh perawatan kala itu, tapi ada instruksi agar segera keluar. Menurut keterangan dokter, pasien sudah bisa pulang. Walau enggan, bapak menurut saja. Hanya lima hari di rumah, bapak kembali dirawat. Tak bisa mengasup makanan sama sekali, muntah berulangkali. Kondisi fisik makin lemah. Mama menerakan segalanya penuh khawatir.

“Ada sesuatu yang lain dialami bapak!”Kata Mama kemudian.

Sesuatu itu diceritakan Mama. Tentang malam-malam ganjil di rumah. Sosok aneh yang datang membawa teror.

“Apa itu Ma?” Saya mempertegas.

“Entahlah…Serangan dari luar…!” Mama berucap samar.

Mama melanjutkan kisahnya. Jika sosok-sosok itu datang, bapak diliputi takut. Mama hanya bisa merapal doa-doa panjang, menggemakan ayat-ayat Quran, sembari menenangkan bapak sambil menekan rasa takut yang juga dialaminya.

***

Malam merambat pelan, tapi mata bapak belum juga terpejam. Beberapa kali bapak mencoba tidur, berulang-ulang pula gagal. Hingga malam menemui dini hari. Saya menghitung, lima kali bapak meminta dibangunkan, mengambil posisi duduk, dan mengatur posisi paling nyaman, atau meminta bantuan karena hendak buang air kecil. Bapak masih saja gagal terpejam. Ada gelisah yang menerkam bapak. Dua kali bapak meminta dipapah ke toilet, mengambil wudhu dan kembali ke posisi baringnya. Masih juga gagal. Dua kali bapak meminta saya menghubungi perawat untuk mengecek apa gerangan yang terjadi. Dini hari itu, sambil menahan kantuk, perawat menghampiri bapak.

“Kami hanya menyuntikkan anti mual. Selebihnya tidak ada. Jika harus diberikan obat tidur, jam segini sudah tidak bisa!” Perawat menjelaskan.

“Mungkin karena ruangan terlalu terang…!” Perawat mematikan lampu.

“Atau karena ruangan terlalu padat. Iya terlalu banyak yang di ruangan!” Perawat lebih lanjut. Menyapu pandangan pada siapa saja. Hingga tatapan itu jatuh pada salah satu bangsal.

Di ruang rawat, ada tiga pasien. Salah seorang pasien adalah siswa Latsar Brimob yang baru selesai operasi usus buntu. Ada banyak rekannya yang datang lalu-lalang, bahkan hingga larut. Para pembesuk berseragam tiada henti memenuhi ruangan. Yang menungguinya di ruangan ada lima orang. Jadilah ruang rawat itu benar-benar sesak. Ah! Kadang aturan memang selalu kalah dengan seragam. Padahal, saat datang, saya diminta menunggu, yang diperkenankan menemani pasien hanya dua orang. Tapi sepertinya itu tak berlaku bagi pemilik bangsal itu.

Satu pasien yang lain seorang renta. Baru sekali menjalani hemodialisis. Efek HD sering membuatnya mual, lalu muntah berkali-kali. Jadilah ruang perawatan itu seperti camp pengungsian. Ada banyak penunggu bagi pesakitan yang menderita.

***

Malam makin larut, ada pesan masuk dari paman, saudara bapak. Kabar dari Tanah Lasinrang. Nenek Amma dilarikan ke rumah sakit. Dada saya bergemuruh. Lama nian, tak pernah bertemu nenek. Bapak dua hari lalu, masih sempat bertegur sapa dengan ibunya.

“Illau doangakka Indo…!” Kata bapak.

“Iya Nak…Iya malasa to…!” Balas Nenek Amma.

Perbincangan itu memaksa air mata harus jatuh. Ibu dan anak saling berkirim kabar ketidakberdayaan. Pekat bersama bulir hujan malam itu, menemui dini hari yang dingin. Panggilan telepon masuk di antara gelisah yang memasung bapak. Saya sudah menduga, ini alamat perih.

“Nenek Amma telah pergi Nak!”

Ya. Di Kamis dini hari, pukul 01.42 paman mengabarkan itu. Saya keluar dari ruang perawatan, mencoba memastikan jika yang terkabar hanya igauan. Tidak, nenek telah pergi. Lalu bapak, tepat saat kabar itu disampaikan, akhirnya jatuh tertidur. Pulas sekali! Satu beban berat sepertinya telah lepas dari raganya. Menatap itu, saya berlinang air mata. Terkenang masa-masa bersama Nenek Amma. Bagaimana menyampaikan ke bapak?

Pertanyaan itu menjadi teror baru. Saya menyampaikan kabar kepergian nenek ke saudara. Pertanyaan kemudian masih sama, di antara tangis yang pecah. Bagaimana menyampaikannya ke bapak?

Beberapa kali, saya mondar-mandir dari ruang perawatan ke lorong rumah sakit. Hingga pilihan menepi jauh lebih baik. Saya menunggui mama yang sudah pulas. Sembari terus memantau kondisi bapak.

Sekira pukul 03.00, saya setengah berbisik di telinga mama.

“Ma…Nenek Amma meninggal!” Biskku.

“Astaghfirullah…Innalillahi…Baru bagaimanami ini kasian?” Pertanyaan yang tidak butuh jawaban.

Kami hanya bisa saling tatap. Menenangkan diri dan memikirkan jalan terbaik.

“Kabarkan cepat ke adekmu Nak. Suruh datang cepat-cepat ke rumah sakit!” Mama menginstruksi lalu berlalu mengambil wudu dan menunaikan salat sunah. Saya mencoba menyelami suratan itu dan tetap siaga mengawasi bapak yang masih tertidur.

***

Ada beberapa pilihan pasal bagaimana selanjutnya. Hasil visit bapak baik, tekanan darahnya di angka normal. Kami berusaha tersambung dengan keluarga, memikirkan jalan terbaik. Nenek Amma akan segera dikebumikan. Ada beberapa pilihan:

Pertama: Bapak tetap dirawat di rumah sakit, dan sebagian kami pulang mengikuti persemayaman nenek. Biarkan kondisi bapak benar-benar pulih hingga bisa menerima kenyataan nenek telah tiada.

Atau,

Kedua: Bapak tetap mengikuti hemodialisis tapi dipercepat. Kabar kepergian nenek disampaikan kemudian.

Alternatifnya jatuh pada pilihan kedua. Setelah adik kami berkonsultasi dengan dokter melalui perawat, pilihan kedua itu bisa dijalankan. Awalnya ada rasa was-wasa, tapi kepulangan bapak dari rumah sakit bukan pemulangan paksa. Kondisinya memang memadai.

*)
Saya tiba di rumah duka, saat berjibun pelayat sudah hadir. Rumah dengan gempuran kenangan masa kecil itu menyeret saya menghadirkan wajah teduh Nenek Amma. Beberapa pelayat yang masih keluarga, saya hampiri, menyalami dan meladeni beberapa pertanyaan tentang bapak. Saya melangkah mendaki anak tangga, lalu menghamburkan peluk pada paman dan bibi yang amat berduka.

Saya terus mengecek kondisi bapak yang sedang menjalani cuci darah. Ya, rencananya, kabar kepergian Nenek Amma akan disampaikan usai HD. Mama yang akan menyampaikannya.

“Bagaimana kabar nenekmu? Kenapa Bapak selalu teringat…!” Tanya Bapak

“Iye…Doakan nenek Pak. Tadi malam masuk rumah sakit juga! Sakit dadanya, poso i juga!” Jawab adik saya.

Untungnya pertanyaan bapak hanya sampai di situ. Cuci darah tetap berlangsung, selesai jelang salat duhur. Saat Bapak sudah meninggalkan ruang HD, mama meberanikan diri, mengecek bapak dengan pertanyaan yang diikuti pernyataan,

“Bagaimana mi perasaanta? Baik-baikji kita rasa?” Ucap mama agak lirih.

Bapak mencoba mencerna pertanyaan itu, lalu memberi jawaban. Benar, tensi bapak sejak pagi dan usai HD masih di angka normal. Insyaallah akan lekas pulih.

“Eh sabarki. Pergimi Indo!” Mama melanjutkan…

“Pergi kemana i?” Balas bapak.

Pertanyaan bapak tak lagi menemui jawab, sampai mini bus membawanya menyusuri jalan berbukit, dari kota kelahiran Habibie ke Tanah Lasinrang.

***

Ada haru yang menggelinding saat bapak telah tiba. Sambil dipapah, bapak menaiki anak tangga. Saya menyambut dan mengekor dari belakang. Ratusan pasang mata menyaksikan penuh prihatin. Momen luka itu, kala bapak duduk sejajar dengan kepala Nenek Amma. Ada mama di sampingnya. Bapak menumpahkan seluruh kesedihannya. Mama mengalirkan air matanya. Saya dan hampir semua yang menyaksikan ikut menitikkan air mata. Begitulah…

Prosesi jenazah dimulai, dimandikan, dikafani, lalu disalatkan. Bapak tidak bisa ikut sampai ke kuburan.

***

Setelah kepergian Nenek Amma. Saya banyak memperhatikan bapak. Ada lebam bersulam sesal di hatinya. Dari sejak sakit, rutin cuci darah, lalu pandemi, jarak ibu dan anak menjadi amat jauh. Sesekali, ada pertemuan virtual bapak dengan ibunya, tapi itu tak sebanding dengan perjumpaan yang saling merengkuh. Entah sejak kapan, bapak dan kami sekeluarga akhirnya bisa kembali ke rumah panggung ini. Seingat saya, dulu, hampir setiap akhir pekan, kami akan selalu berkumpul, meluruhkan rindu, bertukar cerita, dan menikmati hidangan-hidangan istimewa di rumah panggung ini. Waktu membuat kami dewasa lalu menumbuhkan rasa enggan bersamaan. Jadilah rumah panggung ini berkarib sepi terlalu lama.

Namun kali ini kembali ramai, setelah duka datang mengetuk pintunya. Bapak, saya masih terus memperhatikan geriknya, lalu tatapan itu…(*)

Simak juga:
I Am Geprek Bensu

I Am Geprek Bensu

https://coconuts.co/wp-content/uploads/
SultanSulaiman.Id-Ruben Onsu harus pasrah dan menyerahkan kepemilikan nama Bensu pada Benny Sujono. Setelah perjuangan panjang yang dilakukan Ruben Onsu, Mahkamah Agung menolak kasasi dan memerintahkan penghapusan beberapa nama Bensu pada brand yang digunakan usaha kuliner Ruben Onsu. Bensu memang cocok untuk singkatan dua pemilik nama Benny Sujono dan Ruben Onsu.

Bensu makin populer sebagai merek dagang, sehingga perlu untuk diputuskan siapa sebenarnya yang paling berhak memilikinya. Di sisi lain masyarakat sebagai konsumen kerap dibuat bingung, mengakunya mengasup ayam geprek milik Ruben Onsu, eh ternyata yang dicicipinya justru punya Benny Sujono.

Pelik. Kita sering dengar soal apalah arti sebuah nama bukan? Nyatanya, nama bisa membuat orang terlibat perang serius. Karena berebut label Bensu ini, Ruben Onsu dan pihak Benny Sujono harus terlibat konflik panjang yang melelahkan. Dari sejak 2017, hingga akhirnya putusan penolakan kasasi Ruben Onsu dari Mahkamah Agung RI, Kamis (11/6). Tentu banyak yang dikorbankan. Tenaga, waktu, dan dana tentu saja. Nama menjadi rebutan sebab ia memiliki esensi dari sesuatu, apalagi ia merujuk ke produk jualan. Tentu nama memiliki nilai jual yang berbarengan dengan nilai produk yang dijual. Nama bisa menjamin kualitas.

Kronologi perebutan Bensu ini bermula ketika Ruben Onsu merintis bisnis kuliner Ayam Geprek Bensu pada periode Agustus 2017. Nama Bensu sebelumnya sudah digunakan untuk merek dagang PT Ayam Geprek Benny Sujono dengan nama I Am Geprek Bensu Sedep Bener/Beneerr. Nama Bensu sendiri adalah penghargaan yang diberikan oleh tiga orang yang merintis usaha kuliner: Yangcent, Kurniawan, dan Stefani Livinus kepada sang pengusul usaha, yaitu Benny Sujono yang juga orang tua dari Yangcent. Badan hukum usaha kuliner tiga sekawan itu akhirnya terbit berdasarkan Akta Perseroan Terbatas PT Ayam Geprek Benny Sujono Nomor 130 tanggal 15 Maret 2017, sesuai yang diterakan megapolitan.kompas.com.

Sebelum Ruben Onsu mendirikan usaha kulinernya, Jordi Onsu adik sang artis pernah bergabung sebagai manajer operasional PT. Ayam Geprek Benny Sujono, Karena memiliki keakraban dengan owner PT. Ayam Geprek Benny Sujono tentu Jordi tak punya kendala apa-apa. Penuturan lebih lanjut mengungkap bahwa bergabungnya Jordi Onsu hanya sebatas kerja sama pengelolaan bisnis semata, bukan pengalihan merk dagang I Am Geprek Bensu.

Usaha I Am Geprek Bensu makin berkembang. Outlet dibuka di mana-mana. Oleh Jordi Onsu, ditawarkanlah nama Ruben Onsu sebagai ikon promosi. Alasannya, Ruben artis tentu sudah dikenal banyak khalayak. Posisi Ruben sebagai ikon promosi tentu dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Pada Mei 2017, Ruben Onsu menjadi Brand Ambasador I Am Geprek Bensu Sedep Bener/Beneerr. 
Hadirnya Ruben sebagai ikon promosi sudah diganjar dengan kompensasi yang layak. Hingga pihak Jordi akhirnya meminta seorang karyawannya dipekerjakan di bagian dapur. Permintaan ini sudah dicurigai sebagai upaya untuk mengintip resep dan hal teknis lain yang berkaitan dengan isi dapur I Am Geprek Bensu Sedep Bener/Beneerr. Dugaan ini dibenarkan, saat Jordi pada periode Juli 2017 menarik karyawannya tersebut lalu bersama-sama mendirikan Ayam Geprek Bensu bersama Ruben Onsu. Tahun berikutnya (2018), Ruben melayangkan permohonan penetapan merek Bensu sebagai akronim dari namanya Ruben Samuel Onsu.

Ketegangan dua pebisnis ayam ini kembali memanas saat Ruben melayangkan protes kepada owner I Am Geprek Bensu Sedep Bini ener/Beneerr, Yancent untuk tidak lagi menggunakan nama Bensu pada usaha kulinernya. Praktis kondisi digunakan oleh PT Ayam Geprek Benny Sujono untuk melakukan gugatan balik. Hasilnya? Ruben Onsu harus pasrah dan kalah hingga kasasi tertolak di Mahkamah Agung. Dengan ditolaknya kasasi, pihak Ruben Onsu harus menghapus nama Bensu dari seluruh produk kuliner yang dia jual. Ribet ya?(*)
Baca juga:
Cina Melawan Amerika

Cina Melawan Amerika

https://statik.tempo.co/data/2018

(Artikel ini ditulis Tahun 2012. Semoga masih relevan dengan kondisi terkini)

sultansulaiman.id, Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina kembali bergemuruh. Hal ini dipicu dengan munculnya kebijakan pembatasan ekspor mineral langka yang diberlakukan oleh Pemerintahanan Republik Rakyat Cina terhadap beberapa negara, termasuk AS. Melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Amerika mendesak agar Cina membuka keran ekspor bahan baku mineral langka untuk keperluan industri mereka. Dengan begitu, kelesuan industri strategis dalam negeri AS akibat krisis global bisa diatasi.

Kebijakan yang mulai diberlakukan Cina September tahun lalu (2011) itu memang cukup membuat AS keteteran. Pasalnya, pasokan mineral langka atau sering disebut Logam Tanah Jarang (LTJ) berupa lanthanum, cerium, neodymium, dan dysprosium menyebabkan industri AS mengalami kemandegan. Jika kondisi ini terus berlanjut, industri perminyakan, industri otomotif, industri elektronik, industri persenjataan, hingga sektor indutri strategis lain yang dipunyai Amerika akan kehilangan daya saing bahkan bisa gulung tikar.
Dominasi Cina terhadap 93 persen LTJ yang dibutuhkan dunia menyebabkan Cina bisa lebih luasa melakukan monopoli ekspor. Namun beredar asumsi, jika kebijakan pembatasan tersebut adalah bentuk aksi balas dendam atas hal serupa yang pernah dilakukan AS. Amerika Serikat pernah memberlakukan kenaikan tarif impor ban karet Cina pada 2009 hingga 35 persen.

Namun Menteri Luar Negeri Cina, melalui juru bicaranya Liu Weimin menampik dugaan tersebut. Liu menyebut bahwa munculnya kebijakan pembatasan ekspor LTJ merupakan langkah antisipatif untuk mencegah kerusakan lingkungan sekaligus melestarikan sumberdaya langka yang tidak bisa diperbaharui.

Konfrontasi Sosialisme (pasar) Komunisme Versus Kapitalisme Liberal

Rivalitas Cina dengan Amerika Serikat merupakan bentuk konfrontasi baru perang ideologi dunia. Pasca runtuhnya Uni Soviet, AS hampir tak memiliki pesaing berarti. Hal ini yang membuat AS seolah di atas angin. Namun dominasi ini nampaknya akan mengalami mimpi buruk setelah munculnya berbagai kekuatan baru dunia. Kemunculan beberapa negara yang mengalami lompatan kemajuan yang sangat pesat mengindikasikan akan adanya rivalitas era baru.

Cina tampil gagah, melanggengkan dominasi kekuatan baru di Asia. Keberhasilan Cina dalam menobatkan diri sebagai negara maju membuatnya tak bisa dipandang sebelah mata. Kemajuan dalam berbagai sektor, termasuk sektor ekonomi dan industri menjadikan Cina memiliki peran strategis dalam percaturan global. Apalagi, ekplorasi dalam bidang pertahanan semakin mengokohkan martabat Cina sebagai negara yang disegani.

Mungkin, Soviet telah runtuh, namun sistem ideologinya telah diadopsi oleh Cina, bahkan digunakan sebagai ideologi negara. Namun Cina telah belajar dari keruntuhan Soviet. Komunisme dalam terminologi Cina berusaha dikawinkan dengan kapitaslisme. Hasilnya, Komunisme menjadi nafas ideologi negara, sementara Sosialisme Kapitalis (sosialisme pasar) mengakar praktis dalam sistem ekonominya. Cina akhirnya tampil sebagai kekuatan Komunisme baru di dunia.

Keunikan dari sistem ideologi ganda ini nampaknya ingin mendobrak hegemoni Liberalisme Kapitalisme Amerika. Juga hadir sebagai penanda bahwa rezim Liberalisme-Kapitalisme mendekati keruntuhannya. Dalam kasus pembatasan ekspor LTJ, AS tak bisa berbuat banyak. Ketergantungan AS terhadap komoditi LTJ Cina justru menjadi indikasi kuat, bahwa Cina telah menggempur AS dalam bentuk “perang dagang”.

AS dan Gejala Ketergantungan

Amerika Serikat sebagai negara adidaya tak bisa menampik jika gejala “ketergantungan” telah menjalar di hampir seluruh sektor industri dalam negerinya. Pasokan bahan baku yang bergantung pada ekspor negara lain justru menjadi bumerang terhadap posisi AS sebagai adidaya. Kemunculan berbagai embrio kekuatan baru dengan ragam ideologi yang dibawanya seolah menabuh genderang perang abad baru. Embrio kekuatan baru ini lahir sebagai indikasi kejenuhan terhadap monopoli kebijakan internasional yang banyak dimainkan oleh AS yang dianggap merugikan banyak negara pemasok bahan baku.

Tapi AS tak bisa berbuat banyak. Biasanya, gejala ketergantungan AS selalu dibawa dalam dua logika yang umum dilakukan. Dua logika itu adalah perang dan pendudukan, penguasaan dan pencaplokan. Namun kebijakan politik luar negeri ini terkesan sangat arogan, justru mematenkan ragam antipati yang menyebabkan banyak negara justru meneriakkan perlawanan. Cina, sedang melawan, meski membungkus perlawanannya dengan cara halus namun tetap frontal.


Cina saat ini berada pada posisi “aman”. Jika kepada Iran, AS berani menabuh genderang perang, tetapi untuk Cina tidak. Meski AS melakukan tekanan politik melalui WTO atas kebijakan LTJ, Cina tetap melanggengkan diri sebagai negara yang memiliki kedaulatan, termasuk menetapkan kebijakan luar negerinya. Cina memiliki sikap sendiri. Serupa Iran, Cina tak pernah takut terhadap ragam intervensi AS.

Perbedaan Sikap terhadap Penetapan Sanksi Iran

Penolakan Cina untuk ikut-ikutan melakukan embargo terhadap minyak Iran yang diserukan AS jelas mementahkan tekanan AS terhadap negara lain dalam melanggengkan kepentingannya. Wakil Menteri Luar Negeri Cina, Cui Tiankai mengatakan secara gamblang bahwa kerjasama Cina-Iran murni kerjasama perdagangan dan energi, tidak ada hubungannya dengan nuklir.Cui berkomentar tentang proyek pengembangan nuklir Iran harusnya sesuatu yang dihormati sebagai bentuk kebijakan dalam negeri negara yang berdaulat. Pernyataan itu disampaikan Cui saat menerima Menteri Keuangan AS Timothy Geither yang berkunjung ke Beijing untuk mendapatkan dukungan terkait sanksi anti-minyak Iran.

Sikap yang ditunjukkan Cina bentuk gaya elitis diplomasi negara papan atas. Hendaknya ini menjadi “pesan” bagi AS bahwa posisinya saat ini berada dalam wilayah yang gamang. Cina mampu menampik ragam pergolakan wacana internasional yang dimainkan AS dengan memeroduksi wacana tandingan. Cina yang memihak ke Iran terbaca sebagai gerakan membentuk klan kekuatan baru dunia untuk mematahkan hegemoni AS. Amerika Serikat harus semakin hati-hati karena Cina telah mengirim “pesan perang dagang”.

Penulis meyakini, cepat atau lambat dominasi AS akan runtuh seperti runtuhnya Soviet di masa lalu, dan Cina nampaknya akan menjadi salah satu kandidat kuat super power baru dunia. Meminjam teori peradaban Ibnu Khaldun yang termaktub dalam Mukadimahnya, peradaban seperti siklus yang memiliki masanya sendiri, peradaban pasti akan menemui kejayaan dan keruntuhannya. Cina membawa gerbong Komunisme baru dan melanggeng penuh percaya diri, menantang keangkuhan Kapitalisme yang kini bak telur di ujung tanduk.

*Penulis adalah Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo 2011-2013.

Simak juga: